Pengakuan Farhan (Fov author)

2299 Kata
Sudah tiga hari Farhan dan Key menginap di tempat Mama Indar. Selama itu pula mereka tidur di kamar yang sama bahkan tidak jarang Farhan juga ikut tidur di ranjang bersama Key. Kebersamaaan yang singkat itu jelas membuat perasaan mereka semakin besar di tambah perhatian kecil yang sering Farhan tunjukkan untuk Key membuat perasaan Key semakin menghangat. Begitupun sebaliknya sikap Key yang mulai menerima kehadiran Farhan disisinya membuat Farhan semakin gencar dengan tekadnya untuk mendekati istrinya secara perlahan tapi pasti. Seperti hari ini, Key menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya. Saat Farhan masuk ke kamar mandi kemudian melangkahkan kakinya menuju lantai bawah melihat apa sarapan yang sudah disiapkan. Karna hari ini suaminya akan mulai masuk bekerja lagi setelah mengambil cuti selama tiga hari belakangan ini. "Pagi Ma, bagaimana hari Mama?" Key menyapa mamanya yang ia temui sedang duduk di ruang keluarga. Mamanya hanya tersenyum sambil membuka tangan meminta agar Key segera memeluknya. "Key tahu kita kehilangan Papa. Key juga merasakan hal yang sama Ma, tapi kita harus ikhlas agar disana Papa bisa tenang. Mama nggak mau kan Papa disana gelisah karna kita semua yang tidak mengikhlaskannya" "Mama minta maaf Nak, Mama merasa masih syock dengan situasi ini. Mama selalu menganggap Papa masih ada, Mama fikir ini masih mimpi Nak. Perasaan Mama baru saja mengantar kepergian Papa hingga depan pintu, memastikan kendaraannya hilang dari pandangan Mama, baru Mama beranjak. Tiba- tiba Mama mendapat kabar Papa kecelakaan, dan sekarang dia benar-benar pergi dan tidak akan pernah kembali. Bagaimana Mama tidak terkejut nak?" "Mama harus kuat, masih ada aku, Mba priya, dan cucu cantik Mama yang akan menemani Mama. Aku gak mau liat Mama bersedih lagi setelah hari ini. Mama masih punya kami untuk berkeluh kesah, dan aku pastikan aku akan selalu ada buat Mama". Mama Indar tersenyum "anak Mama sekarang sudah dewasa. Mama akan belajar mengikhlaskan Papa, apa kamu tidak keberatan tinggal disini untuk sementara saja? Biar Mama merasa tidak kesepian sementara ini" "Iya Ma, sebentar aku akan bilang sama Kak Farhan supaya dia mengijinkan aku tinggal sama Mama sampai Mama benar-benar merasa nyaman" "Bukan hanya kamu Nak, tapi suamimu juga. Kalian bisakan tinggal disini ??" "Iya Mama, kami akan disini sampai mama merasa baikan" Itu suara Farhan. Key segera menoleh ke sumber suara. Dia melihat suaminya sudah rapi dengan setelan kemeja kerja yang sudah ia siapkan tadi. Key mengahampiri suaminya merapikan kerah baju yang terlipat di belakang leher suaminya. "Terimakasih" Ucap Farhan dengan senyum lebarnya. Mama Indar yang melihat perlakuan anak dan menantunya tersenyum dalam hati mengucap syukur karena melihat hubungan mereka tidak seperti yang ada dalam bayanganya selama ini. "Ma kita sarapan bareng yuk dengan Kak Farhan juga" ajak Key pada suami dan dan mamanya. Mereka kemudian berjalan menghampiri meja makan dan sarapan dengan tenang. "Ngomong-ngomong apa kalian menunda punya anak?" Pertanyaan yang dilontarkan Mama Indar sungguh membuat mereka terkejut. Tidak pernah terlintas dalam fikiran mereka membahas tentang persoalan anak. Segera mata mereka beradu pandang, memastikan siapa yang akan berbicara lebih dulu. "Kami tidak menundanya Ma, mungkin belum dikasi rezeki aja sama Allah" Farhan menjawab segera sebelum Key semakin bingung memikirkan jawaban yang harus ia lontarkan. "Baguslah kalau begitu, kalian jangan berputus asa. Mama juga dulunya lama baru dikaruniai anak. Tapi setelah dikasih langsung dua. Jadi Mama sangat bersyukur, Key adalah hadiah plus dari Allah". "Mama doakan saja. Mama tidak usah khawatir kalaupun Key belum ngasih Mama cucu, kan sudah ada si centil Keyla yang akan menemani Mama" Key menyahut asal, ekspresi Farhan langsung berubah mendengar ucapan istrinya, dia sedikit kecewa dengan sikap Key yang seolah tidak menginginkan kehadiran anak diantara mereka . 'Mungkinkah dia memang sangat tidak menginginkan pernikahan ini? Bahkan aku sudah berniat ingin memulai semuanya dari awal, tapi kenapa seolah hanya aku sekarang yang berjuang. Tidak kah dia merasa bahwa aku berubah belakangan ini, karena aku sudah mulai menyayanginya'. "Husst.. Nggak boleh ngomong gitu nak. Pokoknya mama menunggu cucu dari kalian juga. Hmm.. Kenapa kalian tidak memeriksakan diri aja dulu, supaya kalau ada apa-apa bisa cepat ditangani" "Makasih atas usulan Mama, akan kami pertimbangkan Ma" Farhan segera melihat jam di pergelangan tangannya. "Ma, Aku pamit dulu. Sudah hampir jam delapan takut terjebak macet di jalan" Segera Farhan menghampiri mertunya menyalim dan mencium tangan mertuanya. Tidak lupa ia mengulurkan tangan juga kearah istrinya. Key yang merasa canggung meraih tangan tersebut kemudian menciumnya. Farhan mengacak rambut Key dengan perasaaan sayang. "Aku berangkat dulu" pamitnya "Kak jangan lupa pulang nanti kesini aja yah, Mama meminta kita untuk tinggal disini sementara. Kakak tidak masalahkan?" " Tidak masalah. Baiklah, aku berangkat yah. Jaga mama baik-baik" "Iya dong" Key memberi senyuman yang paling indah dimata Farhan. Farhan berangkat ke kantor dengan semangat penuh, tidak pernah ia bersemangat seperti ini dalam bekerja. Sekertarisnya Yuni sampai heran melihat ekspresi murah senyum yang di tunjukkan oleh bossnya sepanjang hari. 'Dia tidak sedang sakit kan?' "Permisi pak" Yuni meminta ijin masuk "Silahkan Yun ada apa?" "Pak hari ini jadwal bapak meeting sekaligus makan siang dengan klien di Resto Cafe" "Makasih Yun, saya akan kesana setelah lima belas menit". Farhan kemudian melanjutkan kegiatannya di Laptop yang terbuka di depannya, setelah pekerjaannya selesai dia masih melihat Yuni yang duduk di sofa yang terletak di sudut ruangannya. "Ada apa yun, apa masih ada yang ingin kamu sampaikan?" "Maafkan saya pak, ini mengenai Ibu Livia. Dia menunggu bapak setelah meeting Bapak selesai di tempat yang sama". Raut wajah Farhan tiba-tiba berubah, membuat Yuni merasa ketar-ketir. "Baiklah pak saya hanya mau menyampaikan itu. Saya pamit permisi" Secepat kilat Yuni segera menghilang di balik pintu ruangan bosnya. Dia takut kalau masih berlama lama disana maka dia akan mendapatkan murka dari sang boss. Apa lagi tadi sangat jelas ekspresi dan mimik muak sang boss yang merah menahan amarah. *** "Kamu dimana?" "Aku udah sampai sayang, sabar dong." "Cepatlah aku masih banyak pekerjaan" Farhan mematikan sambungan telepon dengan Livi. Dia memutuskan akan berbicara baik baik pada Livi hari ini. Dia melihat Livi memasuki resto, Farhan segera memberinya kode agar mengikutinya masuk ke ruang khusus yang biasa digunakan oleh kalangan tertentu untuk menjaga privasi mereka. "Katakan kenapa kamu ingin bertemu aku??" Livia tentu saja kaget mendengar ucapan Farhan yang baru saja iya dengar. "Kok kamu kasar sih yang" "Vi aku banyak kerjaan, mengerti lah" Air mata Livia seketika jatuh, baru kali ini kekasihnya berbicara kasar kepadanya setelah lama mereka bersama. Dan iya merasa hatinya sakit diperlakukan seperti itu. "Apa yang terjadi sayang, kenapa kamu berubah dalam tiga hari ini? Sejak kamu meninggalkanku dan membiarkan aku sendirian di hotel kemarin. Apa aku membuatmu kecewa?" Tanya Livia di sela isakan tangisnya. Farhan memegang kepalanya dengan prustasi jujur, dia bingung mau memulai dari mana. Dia merasa bersalah pada Livia tapi dia juga sudah bertekad akan meraih hati istrinya, itu artinya iya harus melepaskan Livia. "Maafkan aku Vi, aku hanya pusing. Akhir-akhir ini ada banyak pekerjaan yang mendesak" "Apa sekedar mengangkat telepon atau membaca chat dariku, kamu juga sudah tidak punya waktu?" "Aku benar-benar sibuk Vi, kamu harusnya mengerti" "Aku kurang mengerti apa Han, kamu yang berubah akhir akhir ini" Farhan meraih tubuh Livi lalu memeluknya. "Aku minta maaf" bisiknya. Melihat situasi Livia membuat Farhan mengurungkan niatnya untuk membicarakan keputusan yang diaambilnya. *** Setelah mengantarkan Livia kembali kerumahnya, Farhan langsung menuju kediaman mertuanya. Dia mencari keberadaan istrinya di kamar tapi dia tidak menemukan siapapun disana. Karna lelah dia berbaring di ranjang sambil memejamkan matanya. Di tempat lain Livia mulai menaruh curiga yang teramat besar terhadap perubahan sikap Farhan. Dia semakin yakin Farhan menyembunyikan sesuatu darinya. Tekadnya semakin kuat untuk mengetahui fakta dibalik berubahnya sikap sang kekasih. "Hai kakak sudah bangun" sapa Key pada suaminya. "Sekarang jam berapa Key?" "Jam delapan malam Kak" "Kenapa tidak membangungkanku" "Aku melihat kakak nyaman tertidur dan Mama juga bilang agar kakak tetap istirahat." "Key kesini" Farhan menepuk kasur disamping tempatnya berbaring. Key mendekatinya lalu membaringkan tubuhnya di tempat yang tadi di tepuk oleh suaminya. Sudah biasa mereka tidur bersama jadi mereka sudah tidak merasa canggung lagi. "Ada apa kak, apa ada masalah di kantor?" "Tidak ada, aku hanya ingin membahas sesuatu denganmu" "Apa itu?" "Aku kefikiran ucapan mama tadi pagi". Key segera menatap wajah suaminya "Ucapan mama tidak usah di hiraukan kak, Mama hanya takut kita tidak bisa memiliki anak" ucap Key dengan gugup. Farhan meraih pinggang istrinya memeluknya dari samping, ada banyak ketenangan yang dia dapatkan hanya memeluk tubuh istrinya. Key tentu merasa risih dengan sikap Farhan. Ia mencoba melepas pelukan Farhan dengan berdalih akan mengambil sesuatu di luar. "Begini saja dulu Key, aku merasa nyaman disini. Jangan menolakku!Untuk saat ini saja" Pinta Farhan. Key akhirnya membiarkan suaminya berlama-lama memeluknya. "Key, apa kamu pernah punya bayangan tentang pernikahan kita sebelumnya?" "Kalau bermimpi tentang pernikahan, setiap wanita memimpikannya tidak terkecuali aku. Menikah adalah impian setiap perempuan apalagi jika menikah dengan pria yang dicintainya. Menikah lalu punya anak dan berbahagia, menikmati hari bersama sampai tua bahkan sampai maut memisahkan. Itu salah satu impianku sebelum menikah". "Apa mimpimu terwujud" Key membisu dengan pertanyaan Farhan. "Aku tau jawabannya, mimpi kita sama Key. Menikah dengan orang yang kita cintai sekali seumur hidup. Tapi takdir membawa kita terikat dalam perjodohan. Betul ucapanmu dulu bahwa bukan pernikahan kita yang salah tapi tujuannya yang salah. Maafkan aku yang selalu bersikap egois." "Tidak ada yang salah kak, kita berada pada posisi yang sulit. Saat itu aku bisa memakluminya". "Kamu sangat baik Key. Kalau aku meminta kesempatan menjadi suami yang benar-benar bisa menjadi suami yang sesungguhnya untukmu, apa kamu bersedia memberiku kesempatan itu?" "Apa maksud kakak, bukankah pernikahan kita..., maksudku kamu akan menerima atau bagaimana. Aku takut salah menanggapi ucapan kakak" Farhan menganggukan kepalanya, Key melihat mata Farhan tidak ada binar kebohongan disana. Dia memang tulus mau memperbaiki semuanya karna dia sadar dia sudah sangat jatuh pada pesona istrinya. "Lalu bagaimana dengan kekasihmu?!Bukannya dia sebentar lagi akan kembali?" Farhan kembali memeluk istrinya tidak ingin rasanya melepaskan pelukan itu. Rasa takut mulai menjalar di fikirannya, manakala Key memilih untuk tetap berada pada kesepakatan yang pernah dirinya tawarkan sebelumnya. "Dia sudah kembali" sahutnya tidka ingin lagi menutupi. "Terus?" "Aku akan mengatakan yang sejujurnya kepadanya." "Apa yang akan kakak katakan padanya" Farhan menatap mata istrinya, menyelam semakin dalam bola mata bening itu. "Aku merasa bahwa aku sudah sangat mencintaimu Key, bahkan pada saat pertama kali kita bertemu. Aku membangun dinding dalam hubungan kita, karena aku tidak mengerti perasaanku. Aku takut kamu menolakku mengingat kamu sangat acuh padaku. Beberapa bulan yang lalu aku semakin merasakan ketakutan jika kamu semakin menjauh dariku. Dan aku semakin mendapatkan ketenangan saat berdamai denganmu. Perasaanku kian subur bahkan semakin bertambah setiap hari bersamamu. Selama kita tidur bersama, menghabiskan waktu disini. Aku tidak peduli kamu yang belum bisa menerima pernikahan ini, biarkan aku berjuang merebut hatimu". Key terpana mendengar pengakuan suaminya, jadi selama ini suaminya juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Key tidak ingin dia bermasalah dengan Livia pada akhirnya, jadi sebisa mungkin dia menahan perasaanya yang bergejolak dia ingin melihat usaha suaminya. "Kalau kakak ingin bersamaku, aku akan belajar menerima kakak. Tapi sebelum itu kakak harus melakukan sesuatu". "katakan apa yang harus kulakukan untuk membuatmu datang kepadaku?" "Selesaikan hubungan kakak dengan dia, aku juga akan berusaha membuka hati untuk menerima pernikahan kita." jawab Key kemudian melepaskan pelukan Suaminya dan beranjak dari tempat tidur. Raut merona di wajahnya membuat Farhan terkesima. 'Aku tidak sedang bermimpi kan? Key memberiku kesempatan, aku akan melakukan sesuai dengan permintaanya.' *** Seperti hari kemarin, Farhan memulai harinya dengan penuh semangat. Kebersamaannya dengan istri tercinta semakin hangat, meskipun dirinya masih berusaha untuk meluluhkan hati Chaira. Farhan terus berpegang teguh oada ucapan mendiang ayah mertuanya, jika Key hanya butuh kasih sayang. Sebisa mungkin dirinya terus meluangkan waktu untuk bercerita dengan Key. Niatnya tidak tanggung-tanggung. Ia pun sudah mengatur pertemuan dengan Livia untuk membahas hubungan mereka yang harus berakhir. Mungkin terdengar dirinya jahat karena telah melukai hati Livia, tapi jujur lebih baik, walaupun sedikit terlambat. "Hai sayang" Seperti biasa ketika mereka bertemu Livi akan langsung mencium dan memeluk Farhan dengan erat. Namun perubahan sangat terlihat jelas dari sosok Farhan, ketika ia tidka merespon semua perlakuan Livia. "Ada apa sayang?" tanya Livia heran menyadari bagaimana sikap Farhan terhadapnya. "Vi, aku akan membicarakan sesuatu padamu tapi sebelumnya aku minta maaf terlebih dulu. Aku tau ini salahku tapi kamu harus tau yang sebenarnya" "Bicara saja, aku akan mendengarkannya" "Aku mau hubungan kita berakhir sampai disini Vi...." belum selesai ucapan Farhan, Livi sudah menggembrak meja. "Apaan sih kamu Han, kenapa kamu ingin mengakhiri hubungan kita? Apa kurangnya aku Han.. ?? Katakan kalau semua ini tidak benar, kamu hanya bercanda kan, kamu ingin memberiku kejutan kan? Katakan padaku!" Air mata livia sudah seperti air hujan yang mengalir di pipinya. Suara isakannya membuat Farhan merasa bersalah menjadi pria yang sangat tidak berpendirian. Tapi sebelum dirinya menyesal terlalu dalam, ia akan tetap bertindak sesuai dengan tujuan awalnya meminta Livia datang. Meskipun sedikit terlambat setidaknya dirinya sudah berusaha untuk memperbaiki, daripada tidak berusaha smaa sekali dan berujung penyesalan mendalam esok harinya. "Dengar aku Vi, semua bukan salahmu. Aku yang salah telah memberimu harapan yang besar pada hubungan kita. Aku berharap kamu berbesar hati menerima keputusan sepihak ini". "Jelaskan padaku Han, apa yang aku tidak ketahui?" Livia menguspa wajahnya yang sudah sembab, beruntung ia sudah bisa menguasai dirinya. Tampak, wanita tersebut tidak lagi meledak seperti dipembicaraan tahap awal keduanya. "Aku sudah menikah, tepatnya 1 tahun yang lalu..." "Kenapa kamu tega melakukan ini padaku Han, selama setahun ini aku bolak balik Jogja Makassar, dan kamu tidak mengatakan apapun. Malah kamu sering mengahabiskan waktu bersamaku tiap kali aku pulang" "Kami di jodohkan, awalnya kami sepakat menyudahi hubungan ini.. Tapi lambat laun kebersamaan kami menumbuhkan rasa di hatiku, bahkan aku sudah berusaha menolak perasaanku dengan sikap aku yang terbilang kasar padanya. Itu semua kulakukan agar aku bisa menekan perasaanku padanya. Dan semakin kesini, aku semakin takut kehilangan dia. aku akan menebus kesalahanku padanya dengan menjadi suami yang baik untuknya" "Terus aku mendapatkan apa dari hubungan kita yang seperti ini, Han?Kenapa harus aku yang mendapat sakitnya?" "Aku minta maaf Vi, semua salahku. Kalau saja dari awal aku bisa mengambil langkah tepat, kita tidak akan seperti ini. Aku bukan pria yang baik untukmu, tapi aku ingin belajar menjadi suami yang baik untuk istriku saat ini. Sudah terlalu banyak waktu terbuang, aku ingin terlihat layak menjadi pemimpin dalam keluargaku. aku berharap kamu bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku" Farhan segera beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Livi dan tangisannya. Katakanlah Farhan memang pria kurang ajar yang melupakan janji-janjinya dalam sekejap. Ketika hati sudah memilih maka tidak ada yang bisa menentangnya lagi termasuk masa lalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN