Kesungguhan Farhan akan niatnya memperbaiki rumah tangganya dengan Key patut diacungi jempol. Key melihat sendiri bagaimana gigihnya suaminya merebut hatinya. Key memang sudah mencintai Farhan. Tapi dia tidak ingin menunjukkan perasaannya di depan Farhan, karna dia ingin melihat seberapa besar suaminya berjuang. Dan sampai pada hari ini dia sudah menerima suaminya lahir dan batin.
"Terimakasih Key semua yang telah kamu berikan untukku, sudah sabar menghadapiku selama kita menikah. Aku berjanji tidak akan memberimu luka. Bantu aku untuk menjadi suami yang baik untukmu mulai hari ini, besok dan seterusnya".
Key membenamkan wajahnya di d**a polos suaminya. Menghirup aroma khas mint dari nafas suaminya sudah menjadi rutinitasnya. Key sangat menikmati perannya sekarang menjadi istri untuk suaminya.
"aku juga kak, tegur aku jika aku keluar dari garisku. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik juga untukmu".
Farhan mencium puncak
kepala istrinya, dalam hati dia berdoa semoga ini langkah awal dari keharmonisan rumah tangganya.
"kamu bukan hanya akan jadi istri yang baik tapi juga ibu yang baik untuk anak kita kelak" Ucap Farhan menatap istrinya dengan penuh cinta.
"aku kan belum hamil kak, sekarang aku mau jadi istri yang baik aja dulu".
"jadi nggak pengen punya anak dari aku nih ceritanya" Farhan pura pura merajuk, mukanya dibuat-buat sekacau mungkin.
"bukan begitu suamiku, sekarang aku akan menikmati hariku sebagai istri yang baik sebelum aku mengandung. Saat hari itu tiba maka aku juga akan jadi ibu yang baik juga untuknya".
"manis banget sih istriku ini" Menangkup pipi Key lalu mencubitnya.
"sakit kak" Key balik mencubit suaminya.
"siapa suruh bikin gemeshh pagi- pagi".
Mari kita tinggalkan pasangan pengantin lama yang baru menikmati masa pengantin barunya.
*****
Livia melemparkan semua barang barang yang berada di dalam kamarnya, raungan dan teriakan menggema diruang tertutup ukuran 5x6 tersebut.
'ini tidak adil untukku, kenapa kamu meninggalkanku disaat aku sudah memberikan segalanya padamu'.
Livia menjambak rambutnya frustasi. Dia tidak pernah menyangka hari ini akan tiba, Farhan benar benar meninggalkannya. Sungguh ini adalah rasa sakit yang teramat sakit yang pernah dia rasakan. Sekelebat bayangan Farhan memberinya janji akan setia menunggunya dan menghabiskan waktu bersamanya menari nari di depan matanya.
"Aaaaaaaaaaa......"
Teriakan Livia membuat penghuni dirumahnya segera berlari menghampiri kamarnya. Suara ketukan dari luar silih berganti tidak iya hiraukan. Livia larut dalam perasaan sakitnya.
"dobrak aja pintunya kak".
Saat pintu terbuka mereka dikejutkan dengan kondisi kamar Livia yang berantakan. Sungguh pemandangan di tempat ini seperti kapal pecah. Kakak Via segera menghampiri adiknya yang tetap terisak sambil memeluk lututnya, wajahnya dia benamkan dilutut dan ditutupi oleh rambut panjangnya.
"Vi kamu kenapa dek" kakaknya yang bernama Gio mencoba bertanya kepadanya, namun Livia tetap tidak menjawabnya.
istri Gino menghampiri dua kakak beradik yang masih saling berpelukan itu.
"kak biar Via sama aku, mungkin dia segan jika bercerita denganmu. Aku bisa mengatasinya, percayalah! Kakak liat mama aja di kamarnya, tadi dia yang memintaku kemari karna mama mengkhawatirkan keadaan Livi"
"baiklah, tenangkan dia dulu " Gio melangkahkan kakinya menuju kamar mamanya.
"bagaimana adikmu Gio?"
"dia belum berbicara ma, mama tidak usah khawatir Meli bersamanya".
Mama Livia sudah tau kalau hari ini akan tiba. Sebelumnya dia sudah melihat kebersamaan Farhan dengan seorang perempuan, awalnya dia mengira kalau itu hanya rekan kerja kekasih anaknya melihat hubungan mereka yang canggung saat bersama. Tapi setelah dia menyelidiki alangkah terkejutnya disaat dia mengetahui bahwa perempuan tersebut adalah istri dari Farhan.
Seketika dia marah tapi tidak mampu berbuat apa apa, selama ini dia banyak menerima kebaikan dari Farhan. Suntikan dana yang disumbangkan Farhan saat usahanya hampir bangkrut, dan masih banyak lagi kebaikan Farhan yang keluarga mereka terima. Dan Livia sama sekali tidak tahu mengenai pertolongan Farhan dalam bisnis keluarganya.
Saat Ibu Livia menentang hubungan Farhan dan Livi karna sudah mengetahui bahwa Farhan sudah dijodohkan justru ayah Livi menolak keinginan istrinya.
"biarkan saja lah Ma, yang penting Farhan tetap menanam modal di usaha kita" Ia masih ingat betul kalimat penolakan suaminya tersebut. Lagi-lagi iya merasa gagal menjadi ibu yang baik untuk anak gadisnya. Sekarang anaknya mengalami patah hati dan semua terjadi karna kesalahannya yang tetap bungkam meski mengetahui segalanya.
'semoga saja anakku bisa ikhlas menerima semuanya dan tidak mengambil tindakan yang merugikan dirinya sendiri'.
*****
"Key kita ke Labuan Bajo yuk akhir pekan ini. Aku akan mengajukan cuti selama satu minggu. Kita berangkat jum'at sore aku sudah pesan tiket dan hotel untuk kita disana dan tidak boleh ada penolakan".
"oke aku akan ikut"
"jangan terlalu banyak membawa barang, kita disana bisa membeli perlengkapan kita dan kebutuhan kita disana."
Mereka sudah tiba di Labuan bajo, dua hari yang lalu. Keindahan pantai sangat mempesona, Key menmandangi senja dengan wajah ceria berbeda saat dia menatap senja terakhir kali di panlos pusat kota Makassar. Senja yang membawa luka tapi senja yang dia nikmati saat ini adalah senja yang indah seindah suasana hatinya.
Untuk pertama kalinya Farhan memposting foto kebersamaannya dengan sang istri. Perasaan bahagianya dia ungkapkan lewat caption romantis dan tidak lupa pula ia mentag akun sang istri. Sejak mereka berdamai mereka sudah saling memfollow akun sosmed masing masing.
Tidak segan lagi Farhan memberi tanda bahwa mereka sudah menikah. Key hanya bisa menggeleng kepala melihat sikap posesif suaminya.
****
Livia yang melihat postingan Farhan kembali berteriak tidak terima kenyataan pahit yang harus ia telan sendiri.
'kenapa bukan istrimu yang merasakan luka ini, kenapa harus aku? Dia yang telah merebutmu dariku Farhan'
'Aku tidak boleh kalah, aku akan merebut apa yang memang telah menjadi hakku. Akan aku tunjukkan bahwa Farhan memang milikku'. Senyum miring menghiasi wajah pucat Livia. Entah apa yang dia rencanakan saat ini tapi yang jelas dia merencanakan kehancuran hubungan Farhan dan Isterinya.
'kalau kamu bisa menyakitiku maka aku pun bisa melakukan hal yang sama, kamu salah jika menganggapku akan melepasmu dengan semudah itu Farhan. 'nikmati lah harimu bersamanya.. sebentar lagi kamu akan kembali menjadi milikku.'
Bola matanya membulat kala sesuatu tiba tiba muncul di fikirannya. Yah selama pulang ke Makassar dia belum pernah datang bulan, padahal sudah hampur dua bulan sejak kedatangannya. Segera dia keluar rumah membeli beberapa buah testpack.
Senyum penuh makna melengkung dari sudut bibir Livia ketika melihat garis dua muncul di alat tes kehamilan yang tadi dia beli. Untuk lebih meyakinkan dirinya dia mencoba beberapa kali dan hasilnya tetap sama.
"hahahhahaha..."
"terima kasih sayangku, kamu hadir di saat yang tepat. Aku akan memperjuangkanmu kita akan berkumpul kembali"
Livi mengusap perutnya yang masih rata. Dia menatap kaca yang tergantung dihadapannya.
'aku tidak boleh lemah aku harus kuat untuk anakku. Anak ini adalah cara yang akan menyatukanku kembali dengan Farhan'
'sejauh manapun kamu melangkah, jika takdirmu memang bersamaku maka kakimu akan membawamu kembali kesisiku'.
Livia menyimpan sejumlah terpack yang tadi dia pakai setelah sebelumnya mengikatnya dengan sebuah pita berwarna Pink. Rencananya iya akan memberi sedikit kejutan untuk Farhan tapi tidak sekarang, menunggu waktu yang tepat.
'untuk menjadi sang pemenang maka aku butuh jatuh, dan yang terpenting jangan sampai lupa untuk bangkit. Aku menganggap sekarang aku sudah terjatuh tapi aku harus bangkit untuk membawa Farhan kembali kesisiku lagi'. Tidak henti tangannya mengelus perutnya yang masih sangat rata.
***
Waktu terus berlalu, sudah satu bulan lebih masa liburan mereka berakhir. Farhan menjadi suami posesif dan super romantis untuk istrinya. Setiap pulang dari kantor maka dia akan mampir ke toko bunga membeli bunga mawar merah untuk istri tercintanya. Semua dia lakukan bukan sekedar agar Key bisa membalas cintanya, tapi dia melakukan tulus dan tidak mengharapkan apa-apa lagi. Cukup Key bersedia tetap di sampingnya sampai maut memisahkannya sudah membuatnya sangat bersyukur. Tugasnya sekarang menebus hari yang telah berlalu untuk selalu membuat istrinya bahagia.