Seperti biasa Key akan mengantar suaminya sampai batas pintu, mencium tangan suaminya sudah menjadi rutinitas wajib baginya setiap pagi. Farhan akan mencium keningnya lalu mengacak rambut istrinya penuh sayang.
"baik baik dirumah yah istriku" pamitnya pada istri tercintanya.
"kak, aku mau ijin hari ini mau kerumah mama. "
Farhan sedikit melongo iya lupa kalau kemarin dia sudah mengatur rencana dengan mama mertuanya.
' Key ga boleh tau tentang semua ini' Farhan membatin dalam hati.
"kak, boleh kan?"
"haa... Boleh dong tapi sebelum berangkat kamu bisa telpon mama dulu siapa tau mama lagi pergi" Jawab Farhan dengan gugupnya. Sungguh iya merasa seolah sedang ketahuan berbohong.
"makasih kak, aku akan bersiap dulu Hati-hati di jalan".
"kamu juga hati-hati sayang, I love you ".
Farhan memasuki mobilnya lalu meraih handphone dan menyambungkan headset blutoothnya.
" Assalamu alaikum, mama apa saya mengganggu mama??"
"tidak nak, ada apa??"
"Ma, tadi key pamit mau ke rumah mama. Gimana yah ma, jangan sampai Key tau ma.. "pinta Farhan pada mertuanya.
"tenang aja, Mama sudah tau apa yang harus Mama lakukan. Kamu fokus aja dan jangan mengkhawatirkan apapun"
"terimakasih Ma"
"ok Mama urus Key dulu yah, dia menelpon mama".
"iya ma, Wassalamu alaikum".
"Waalaikum mussalam warahmatullah wabarakatu".
****
"Assalamu alaikum ma".
"Waalaikum salam warahmatullah, ada apa sayang pagi-pagi amat nelponnya"
"jadi key ga boleh nelpon mama maksudnya" Key pura pura merajuk diseberang sana.
"bukan begitu sayang, maksud Mama apa Key butuh bantuan Mama?"
"Key becanda Mamaku sayang, Key cuman kangen sama mama. Key sekarang siap-siap mau kerumah Mama nih tadi udah ijin sama kak Farhan".
"Oh iya Key, mama minta maaf. Untung kamu nelpon duluan. Mama lupa kasi tau, Mama sekarang di perjalanan mau ke rumah mbakmu"
"hah Mama ke Jakarta?"
"iya nak Mama rindu sama cucu, jadi berangkat langsung "
"mendadak banget yah ma"
"iya sayang, kamu sih ga kasih Mama cucu jadinya mama kalo kepengen main sama cucu musti jauh-jauh ke tanah Jawa dulu".
"do'akan yah ma.. tapi mama harus janji bakalan ikut merawat nantinya".
"Aamiin dengan senang hati kalau begitu".
"mama hati-hati yah, aku tutup dulu.Titip salam sama si centil Qila yah ma".
Key akhinya melangkahkan kakinya menuju taman yang terletak disamping rumahnya.Dia sedikit merapikan bunga yang sudah dia tata. Setelah puas memandangi bunganya dia bergegas masuk kerumahnya. Menuju ruang keluarga sambil duduk bersandar disofa.
Saat pertama kali dia menginjakkan kaki dirumah ini dia tidak pernah menyangka bahwa saat ini akan tiba. Farhan yang dingin dan tak tersentuh bisa berubah perhatian, manis dan penyayang padanya. Pernyataan Farhan saat itu yang akan menceraikannya setelah dua tahun pernikahan mereka sungguh membuat dadanya sesak akan rasa sakit. Bahkan dengan lantang ia mengikrarkan didepan mata dan telinga Key bahwa dia memiliki kekasih. Dengan begitu egonya menuduh Key memperdayainya karena keluarganya memiliki segalanya.Sungguh kata-kata yang sangat menyakitkan.
Key memang tidak menyetujui pernikahan ini, pernyataan Farhan melecehkan harga dirinya. Dia tidak pernah ada niatan bermain main tentang pernikahan yang mereka jalani. Meskipun dia menolak bukan berarti dia akan mengabaikan suaminya.
Key tetap menjalankan perannya sebagai istri seperti menyiapkan makanan atau sarapan untuk suaminya setiap hari. Meskipun yang memasak itu bibi Sum, karna soal masak dia sama sekali tidak ahli. Tugasnya hanya menata di meja makan dan memanggil Farhan untuk menikmatinya.
"saya sudah berapa kali mengingatkanmu, stop melakukan semua ini. Kamu tidak usah berperan menjadi istri yang baik nyatanya aku tidak akan tergoda olehmu".
"aku bukan ingin menarik perhatianmu, aku hanya ingin menjadi istri yang baik agar aku mendaptkan ridho dari Tuhanku. Apa kamu tau kalau surga seorang istri berada di tangan suaminya".
"kalau kamu menginginkan menjadi istri yang baik, maka stop melakukan semua ini. Kamu tau aku muak melihat kekacauan yang telah kalian lakukan padaku".
'kalian siapa yang dia maksud, kenapa Aku yang terlalu di persalahkan dalam hubungan ini ya Allah. Aku juga tidak ingin memiliki hubungan apa pun dengannya.'
bukan hanya itu, Key bahkan pernah memergoki Farhan sedang berjalan dengan seorang wanita sambil berangkulan mesra. Aku melihatnya secara kebetulan, mereka menghabiskan waktu di Mall. Sakit tapi aku tetap berusaha menahan gejolak dalam hatiku. Aku melihat Farhan menjadi sosok yang sangat berbeda ketika dia berada di rumahnya.
Aku tidak tau sejak kapan mulai memiliki perasaan terhadap Farhan, sikap egois yang dia tunjukkan setiap kali bersamaku tidak menyurutkan hatiku tetap bergetar untuknya. Aku mengingat betapa terpukulnya aku setiap dia mendeklarasikan bahwa pernikahan kami akan selesai dalam dua tahun.
"bi tunjukkan padanya kamar yang akan dia tempati" aku mendengar Farhan berbicara dengan asisten rumah tangganya saat aku pertama kali menginjakkan kaki dirumah ini.
Aku pun mengikuti langkah bibi memasuki kamar yang tidak terlalu jauh dari pintu kamar yang di buka oleh Farhan tadi.
"nyonya bibi minta maaf sebelumnya, ini kamar yang ditunjuk sama den Farhan untuk nyonya tempati. Semua sudah bibi siapkan kalau ada yang nyonya butuhkan silahkan panggil bibi di ruang belakang Nya."
"baiklah bi tapi jangan memanggilku nyonya, aku merasa terlalu tua"
aku mencoba membuat bibi santai denganku.
"bibi tidak enak harus panggil nama Nya, bibi tau batasan apalagi kalau aden mendengar"
"panggil anak aja bi, dirumahku aku dipanggil anak juga oleh bibi kami"
"baiklah nak, bibi pamit dulu. silahkan beristrahat. Kalau butuh sesuatu panggil bibi saja yah nak"
"iya bi"
Aku segera merilekskan badanku diranjang yang sudah disiapkan tuan rumah. Ranjang size tengah yangcukup empuk dan bisa membuat tidur nyaman.
'YA allah tidak pernah terlintas di benak hamba mempermainkan pernikahan ini. Ampuni hamba. Berikan hamba kekuatan'
"kamu masih ingat kan aku punya kekasih, dan hanya dia yang berhak memilikik. Hubungan kita akan berakhir dua tahun kedepan saat kekasihku kembali.Kita akan bercerai dengan alasan kamu tidak bisa memberiku anak"
seperti itulah pernyataan yang selalu dia klaim di hadapanku setiap hari.
"kenapa harus alasan itu, aku tidak menyetujuinya. Sama saja kamu ingin menghancurkanku dalam ambisimu untuk kembali dengan kekasihmu"
"aku tidak peduli. Lagian kalau seperti itu, maka nantinya kamu akan bertemu dengan pria yang ikhlas menerima kekuranganmu. Seharusnya kamu berterima kasih padaku"
"pria mana yang akan menerima jika sebelumnya sudah di klaim tidak bisa memberi keturunan, kenapa bukan kamu saja yang berkorban disini. Kamu kan yang sangat ingin bersama kekasihmu maka aku bisa mengatakan bahwa kamu pria impoten"
"jangan coba-coba melakukan hal yang kamu katakan itu"
"baiklah mulai sekarang, aku tidak akan menyiapkan apapun untukmu dan satu tahun dua bulan lagi kita akan bercerai. Itukan yang kamu inginkan" dasar pria impoten batinku dalam hati tentu saja.
"bagus pandai-pandailah jadi istriku"
Sejak saat itulah aku sering merasa tidak percaya diri dengan keadaanku. Farhan sangat pandai memainkan perannya sebagi suami yang baik dihadpan orang tua kami. Tapi di luar dari itu di akan menjadi pria egois yang tidak tersentuh. Entah apa yang kukagumi saat itu darinya, aku membenci setiap rasa yamg Allah hadirkan untuknya.
Sampai beberapa bulan yang lalu dia mengatakan akan memperbaiki segalanya. Tentu saja aku tidak menolaknya karna bagiku tidak ada permainan dalam pernikahan kecuali yng dilaksanakan di film. Pernikahan itu sakral janji di hadapan pencipta dan aku sangat takut jika Tuhanku akan murka karna menolak niat suamiku.
Sampai saat ini Farhan sangat baik padaku bahkan satu bulan yang lalu rumah yang kami tempati sebelumnya
dijual agar segala kenangan pahit yang kami pernah lalui terkubur disana. Rumah baru yang kami beli sekarang, Farhan konsep sesuai dengan kesukaanku termasuk cat warna ungu yang menjadi warna favoritku.Farhan sisa mengkombinasikan warna lain agar warna ungunya terlihat lebih hidup.
Sampai hari ini aku bahagia bersamanya, Semoga kami tetap bersama hingga maut datang memisahkan.