"Selamat pagi semuanya," teriakan membahana dari laki-laki paling berbahagia dirumah itu terasa sedikit memekakkan telinga. Alena sudah siap dengan garpu dan pisaunya. Tujuannya tentu saja untuk melempar Abiyan. Abiyan yang menyadari tatapan horor kakaknya segera menutup mulut dan terkekeh setelahnya. Apalagi tatapan Alena pagi itu bisa dibilang lebih tajam dari pada pisau yang bertengger di tangan kanannya. "Peace, Kak," kata Abiyan seraya mengacungkan dua jarinya tanda damai. Lalu mengambil posisi duduk berhadapan dengan sang kakak. Kepalanya sibuk menoleh ke segala arah, matanya menginterupsi seluruh penjuru ruangan merasa seperti ada yang kurang pagi ini. "Kok tumben sepi? Papa sama Mama dimana, Kak?" Abiyan segera meraih pancake dipiring Alena. Ia tahu betul kalau pancake itu meman

