20 – PESTA PERPISAHAN ANAK MAGANG

1081 Kata
Satu minggu kemudian, hari ini bertepatan dengan pesta perpisahan yang sempat Joseph bicarakan bersama Rinka minggu lalu. Rinka sebenarnya tidak ingin pergi, selain takut akan diinterogasi teman-temannya perkara Dominic, Rinka juga tidak punya pakaian yang cocok untuk datang ke pesta. “Apa aku pakai dress yang dibelikan kak Christy saja ya?” Rinka bergeming menatap dress tersebut sampai kemunculan Dominic di ruang kerjanya mengejutkan Rinka. “Kamu akan kemana?” tanya Dominic sambil memandang ke sekeliling ruang kerja Rinka yang berantakan dipenuhi pakaian-pakaiannya. Rinka bergegas memunguti satu persatu bajunya yang tercecer dimana-mana, lalu menoleh ke Dominic sambil membawa tumpukan bajunya, “Nanti malam ada pesta perpisahan untuk anak magang karena kurang seminggu lagi kami selesai magang.” Dominic terdiam teringat ucapan Rinka minggu lalu saat mengatakan jadwal operasinya bertepatan dengan hari terakhirnya magang di John Hopkins. “Ternyata waktu berjalan cepat,” sahut Dominic. Setelah merapikan pakaiannya ke dalam koper lagi, Rinka berjalan menghampiri pria itu. “Anda benar, tidak terasa kurang seminggu lagi aku selesai magang. Anda juga akan sembuh dan keluar dari rumah sakit ini, Anda pasti menantikannya juga kan?” “Apa menurutmu aku bisa bertahan hidup?” Dominic tiba-tiba melontarkan serangan pertanyaan tidak terduga. “Tentu saja! Anda ditangani anggota medis profesional, saat rapat pun dokter Paul dan dokter Miller sangat yakin dengan hasil operasi Anda karena dokter Charles terkenal tidak pernah gagal,” jawab Rinka tegas, meyakinkan Dominic. “Sekarang biar saya antar Anda ke kamar. Anda tidak boleh berdiri terlalu lama diluar, kondisi Anda harus tetap stabil karena sebentar lagi akan menjalani operasi.” Rinka mendorong punggung tegap pria itu dari belakang agar kembali ke kamarnya di seberang. “Daripada mendorongku, bukankah lebih baik menggandeng tanganku?” Dominic menolehkan kepalanya ke belakang, melirik tubuh mungil Rinka yang mendorong tubuh besar Dominic dari belakang. “Tidak-tidak, cara ini lebih aman supaya Anda tidak memangku saya sembarangan lagi,” tolak Rinka masih dengan usaha mendorong tubuh Dominic yang besar dan berat. Rinka sampai bertanya-tanya apa yang pria itu makan hingga ia selalu merasa seperti kecoak kecil apabila berdiri di dekatnya. “Sebentar lagi kamu akan kembali kuliah, yakin tidak ingin merasakan pangkuanku lagi?” godaan itu terdengar menggiurkan, tapi melihat lirikan jenaka dari mata Dominic membuat Rinka segera sadar pria itu hanya iseng. “Stop membahas itu! Sekarang saya ingin memastikan apakah dapat izin pergi ke pesta atau tidak?” Rinka bertanya setelah berhasil mengantar pria itu kembali ke ranjangnya dengan aman. “Untuk apa kamu bertanya? Tentu saja aku mengizinkanmu,” jawab Edward sambil tersenyum geli melihat jarak tubuh Rinka yang beberapa hari ini memilih tiga langkah menjauhinya karena takut akan terkena serangan mendadak lagi. “Saya bertanya untuk berjaga-jaga supaya Anda tidak mencariku. Pestanya dimulai pukul sembilan, Anda bisa pergi tidur lebih awal.” “Tadi kamu mengeluarkan semua pakaianmu dari koper karena bingung akan memakai baju apa ya?” Melihat jiwa miskin gadis itu sepertinya tebakannya benar. Rinka mencebik, “Saya sudah menemukan pakaian yang cocok untuk malam ini.” “Jangan bilang kamu akan memakai dress babypink yang dibelikan temanmu itu?” Lagi-lagi tebakan Edward tepat. Rinka jadi kesal karena pria itu mendadak bisa membaca pikirannya. “Memangnya kenapa? Pakaian itu cocok untuk ke pesta.” “Kamu akan menghadiri pesta perpisahan anak magang, bukan pesta ulang tahun. Ganti dressmu jika tidak ingin ditertawakan teman-teman. Pilihlah dress dengan warna gelap dan lebih elegant. Aku pernah menjadi mahasiswa dan anak magang, pesta perpisahan dengan anak seumuran kalian biasanya lebih bebas dan terbuka. Ingatlah agar tidak banyak-banyak minum saat dipesta!” Entah kenapa Edward berubah bawel hari ini. Dia bahkan mengomentari pakaian Rinka dan menasehatinya. “Baik Mr.Dom, terima kasih atas sarannya.” “Oh ya Mr.Dom, nanti saya tidak akan pamit lagi menemui Anda. Saya akan langsung pergi, jadi Anda pergi tidur saja,” imbuh Rinka, ia tidak mau ketahuan tidak punya pakaian yang pantas untuk datang ke pesta, atau pria itu akan berulah lagi dengan membelikannya pakaian. “Kenapa? Padahal aku ingin melihatmu sebelum pergi,” keluh Edward. “Penampilan saya bukan hal yang seharusnya saya laporkan pada Anda,” dengus Rinka, ia tidak mau terlibat cekcok hanya karena masalah pakaian. Standart fashion Dominic pasti lebih tinggi dari pemahaman Rinka, beruntungnya ia selalu pede mengenakan baju apa saja, jadi ia tidak memerlukan penilaian dari pria itu untuk pergi ke pesta. ◄••❀••► “SERRA!” Rupanya bukan Dominic saja yang harus Rinka waspadai tentang cara berpakaiannya, melainkan juga Alina dan Tania yang terlihat sudah menunggunya di lantai dasar rumah sakit sambil membawa satu dress ketat berwarna hitam dengan banyak glitter berkilau yang tidak jauh berbeda dengan pakaian yang mereka kenakan saat ini. “Oh ayolah Serra! Kamu tidak mungkin pergi ke pesta menggunakan cardigan dan celana jeans itukan?” decak Tania seraya menatap ngeri penampilan Rinka yang lebih cocok pergi ke kampus daripada ke pesta. “Apa salahnya? Inikan hanya pesta perpisahan?” Rinka mengedikkan bahu cuek, lagi pula hanya ini stok pakaian yang ia punya dan paling cocok digunakan malam ini ketimbang dress babypink Christy yang mencolok mata. “Bukan hanya pesta perpisahan Serra, ini pesta malam untuk kita semua bersenang-senang, melepas penat sejenak dari proposal dan tanggung-jawab di rumah sakit!” sahut Tania, yang berharap bisa menemukan teman pria yang cocok dari kampus lain di pesta. “Aku sudah menduga ini akan terjadi, jangan khawatir Tania. Karena itu aku sudah menyiapkan dress untuk Serra!” Alina kembali memamerkan dress hitam yang dibawanya. “Aku setuju! Dress itu seratus kali lipat lebih baik daripada yang Serra kenakan sekarang.” Tania mengangguk, sependapat dengan Alina. “Tapi menurut pengalamanku berteman dengannya, anak itu perlu sedikit paksaan agar mau memakai ini, kamu paham kan?” Alina membentu aliansi bersama Tania yang sontak mengerti dan kini mereka berdua menyasarkan pandangan ke arah Rinka yang menelan ludah. Tamatlah riwayatnya! Ia pasti akan dipaksa memakai dress itu lagi seperti dulu. “Tidak-tidak! Kalian tidak akan bisa menangkapku!” Rinka berlari kabur lebih dulu meninggalkan Tania dan Alina yang kesusahan menangkapnya karena terhalang dress dan highheels yang mereka kenakan. Duugkkk! Alina dan Tania terkejut begitu melihat Rinka bertabrakan dengan seorang pria yang baru datang dari arah lobi. Namun berkat kejadian itu juga Alina dan Tania berhasil menangkap tangannya. “Kau?” Rinka menunjuk wajah pria itu dengan kaget, ia sampai lupa dengan rencana kabur sebelumnya. “Ternyata benar kamu bekerja di sini,” sahut pria itu, menyita perhatian Alina dan Tania yang turut menyasarkan pandangan ke wajah pria yang seumuran dengan Alina. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN