“Memangnya kenapa dengan senyumanku?” tanya Edward.
Rinka menceletuk, “Tidak baik untuk kesehatan.” Kedua tangannya lalu menyilang didepan dadda sembari menambahkan, “Dan saya sangat membencinya.”
“Seharusnya kamu bangga karena aku jarang memberi senyuman ke orang lain,” tanggap Edward.
Ngomong-ngomong soal senyuman, Rinka baru sadar sejak tadi mereka mengobrol masih dalam posisi berpangkuan. “Anda juga harus menghilangkan kebiasaan mengangkat dan memangku saya tiba-tiba! Sekarang bisakah Anda menurunkan saya?” pinta Rinka, ia ingin turun sendiri tanpa izin tapi tangan Edward yang melilit pinggangnya membuat Rinka tak semudah itu turun dari atas pangkuannya.
“Ini hobby baruku,” celetuk Edward.
Rinka melempar tatapan kesal. “Hobby macam apa itu?!” protesnya, berpikir pria di depannya sangat c***l.
“Hobby yang hanya kuberlakukan padamu,” Edward menjawab santai diiringi senyuman maut yang Rinka benci karena berhasil membuat jantungnya berdebar lagi.
“Saya menolak.” Rinka menjawab tegas, sementara senyuman Edward berubah menjadi seringaian menggoda, “Karena kamu gugup?”
“Tidak!” Rinka masih saja menyangkalnya padahal wajahnya sedang memerah sekarang menahan malu.
“Ini sama saja pelecehan seperti yang Mr.Frederic lakukan. Anda mau saya tendang juga?” ancam Rinka, terpaksa mengatakannya walau terkesan tidak sopan karena mau bagaimanapun status Edward masih lebih tinggi darinya di rumah sakit.
“Tunggu, biarkan aku mengambil keuntungan dulu sebelum kamu menendangku,” jawaban Edward membuat Rinka terbengong heran.
Tidak lama kemudian pria itu menangkup pipi Rinka menggunakan sebelah tangannya, sementara tangan lain yang berada di pinggangnya menarik tubuh gadis itu mendekat hingga bibir mereka menempel satu sama lain.
Entah apa tujuan Edward mencium gadis lain padahal dirinya sadar telah beristri, mungkin karena perasaan asing tiba-tiba muncul yang mendorong hatinya berani melakukan itu pada Rinka. Perasaan samar dan kuat, namun Edward tidak dapat mendefinisikannya.
Pertahanan diri Rinka muncul, melepas pagutan mereka sembari bertanya, “Mr.Dom sadar, apa yang sudah Anda perbuat?” Tatapannya cemas saat lanjut berkata, “Saya bisa saja menaruh hati karena sikap Anda.”
“Kalau begitu, jatuh cintalah sesukamu,” jawab Edward lalu kembali merenggut bibir Rinka. Bahkan kali ini tak tanggung-tanggung menyelipkan lidahnya masuk, menggoda lidah Rinka yang akhirnya menyerah membalas ciumannya.
Gadis itu memejamkan mata, menikmati cumbuan Edward di bibirnya. Ciumannya manis dan tidak agresif, Edward benar-benar tahu bagaimana caranya berciuman dengan lembut namun memabukkan.
Mata Rinka terbuka perlahan menatap iris biru Edward yang tersenyum disela ciuman mereka yang belum selesai. Tubuh mereka saling menempel hingga Edward dapat merasakan dadda Rinka yang menggesek pakaiannya.
Milik Edward sontak menegang sementara Rinka yang duduk dipangkuannya terkejut menyadari hal itu kemudian melepas ciumannya dan menunduk ke bawah tonjolan tersebut.
Ini tidak benar.
Akal sehat Edward memperingatkan, namun dorongan nafsunya lebih kuat menginginkan Rinka—diranjangnya, sekarang juga!
Dibaliknya posisi mereka dengan cepat dan hati-hati karena kendala selang infus, lalu di sanalah Rinka akhirnya berada, berbaring di ranjang rumah sakit tempat Edward sementara pria itu mengurung tubuhnya di atas.
“Mr.Dom,” Rinka terlihat ketakutan. Bukan karena Rinka tidak ingin melakukannya, siapa juga yang tidak mau bercinta dengan pria tampan sepertinya? Rinka sangat ingin, ia ingin melihat tubuh atletis Dominic dibalik pakaian pasien yang selalu dikenakannya setiap hari, ia ingin menyentuh otot-otot kekar itu secara langsung, ingin memohon dipuaskan dan banyak sekali keinginannya pada Dominic Rykerth!
Tapi Rinka merasa situasi ini tidak tepat.
Hubungan mereka belum sejauh itu hingga Rinka harus menyerahkan keperawanannya, walaupun sebenarnya ini waktu yang pas jika ingin menjebak Dominic tidur untuk menjalin ikatan seperti yang pernah Christy sarankan padanya saat seminar.
“Tolong lepaskan saya,” pintanya, dengan perasaan kecewa sekaligus tidak rela.
Rinka tidak bisa melakukan itu, yah… ia tidak mungkin mempertaruhkan hidupnya dengan memberi kehormatannya demi masa depan yang belum jelas. Hubungan Rinka dengan pria itu hanya sebatas suster dan pasien, dan mungkin saja akan begitu seterusnya.
Terdengar helaan napas berat dari Edward sebelum pria itu memutuskan melepas Rinka. “Maaf,” kata Edward, tanpa ekspresi seperti sebelumnya.
“Tidak, ini salah saya karena tidak bersikap tegas sejak awal. Seharusnya saya menghentikan Anda, tapi saya malah…” Rinka tidak sanggup meneruskan jawabannya dan memilih tak melanjutkannya karena berpikir lebih baik ia segera pergi dari sana.
“Saya izin kembali ke ruangan, jika Anda butuh apa-apa, silahkan tekan tombolnya lagi.”
Edward mengangguk mengizinkannya pergi. Pria itupun seolah kehabisan kata-kata dan hanya membisu sampai tubuh Rinka menghilang keluar ruangan.
“God!” Edward kembali berbaring di ranjangnya dengan satu tangan menutup wajah. “Aku harus segera sembuh dan kembali ke Lusi jika tidak ingin perasaan ini tumbuh semakin besar,” ujarnya sambil menatap kosong langit-langit kamar.
“Lusi, maafkan aku…” Edward menyesal teringat istrinya di rumah.
Walaupun Lusi mungkin saja tidak memikirkannya saat ini karena masih ada Ferro di sampingnya, tetap saja Edward seharusnya tidak main wanita di belakangnya.
◄••❀••►
Joseph menemui Rinka di ruangannya lantai lima, kepala perawat itu menyerahkan jadwal operasi Dominic pada Rinka yang terkejut membacanya. “Operasinya bertepatan dengan hari terakhirku magang di rumah sakit?!”
“Iya, dokter Charles memilih hari itu sambil mempertimbangkan keadaanmu juga. Kamu akan lebih fokus melanjutkan studimu setelah operasi Tuan Dominic dilakukan, kami semua tahu kamu berharap besar akan kesembuhannya,” jelas Joseph, mereka pasti salah paham pada hubungannya dan Dominic karena insiden dirapat sebelumnya.
“Tentu saja, sebagai suster yang merawatnya saya pasti berharap dia sembuh dari penyakitnya. Bukan hanya saya, tapi kita semua anggota medis yang terlibat dengannya juga pasti berharap Mr.Dom bisa sehat lagi,” sahut Rinka, ingin menegaskan pada Joseph bahwa statusnya bagi pria itu hanya sebatas suster pribadi.
“Tapi hanya kamu yang kelihatannya sedih karena sebentar lagi akan berpisah dengan Tuan Dominic,” goda Joseph dengan tawa kecil di bibirnya.
Rinka menatap kepala perawatnya kesal, “Saya hanya sedih karena sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan di sini. Berhenti menjadi suster untuk sementara waktu untuk lanjut belajar menjadi mahasiswa, entah kenapa rasanya menyedihkan,” alibinya.
Yang ternyata tak mempan mengelabui Joseph. “Ayolah suster Serra, kalian jelas-jelas tertarik satu sama lain. Kenapa harus ditutup-tutupi? Tuan Dominic juga belum menikah, tidak salah kalau memang kalian ada hubungan.”
“Mr.Jos…” Rinka tiba-tiba memanggil namanya dan membuat Joseph mengerutkan kening, “Ya, kenapa?”
“Saya dan Mr.Dom tidak memiliki hubungan apa-apa,” ujar Rinka penuh penekanan, menegaskannya sekali lagi agar Joseph percaya.
“Ya, ya, ya. Lagi pula, aku memang tidak seharusnya ikut campur. Kalau begitu, aku akan kembali ke ruanganku,” pamit Joseph.
Rinka menunduk hormat, “Terima kasih sudah mengantar jadwal operasinya padaku Mr.Jos!”
“Sama-sama, oh ya… jangan lupa minggu depan hadir di pesta perpisahan anak magang. Karena pestanya diadakan malam, jadi sepertinya akan aman-aman saja karena itu waktu tidur Tuan Dominic. Tapi lebih baik kamu minta izin padanya untuk jaga-jaga.”
“Apa aku wajib datang juga?” Rinka takut ia akan jadi bahan interogasi teman-teman dan kakak seniornya yang penasaran tentang Dominic jika ikut pesta.
“Tentu saja, kehadiranmu dipesta sudah jadi syarat mutlak bagi anak magang sebelum kembali masuk kuliah. Jadi jangan sampai kamu tidak datang! Mengerti?” Joseph memperingatkan, karena acara itu juga termasuk cara menghormati senior yang sudah membantu mereka belajar selama beberapa bulan magang di rumah sakit.
“Saya mengerti Mr.Jos!”
BERSAMBUNG...