Rinka berpaling dari rasa senangnya mendapat handphone baru. Ia lantas teringat suasana obrolannya bersama Frederic tadi pagi, kemudian meringis membayangkan perbuatannya ketika balas dendam ke Frederic sebelum pamit pulang.
“Sebaiknya kita tidak membahas itu.” Rinka mengibaskan tangan, tidak ingin mengingat wajah kesakitan Frederic ketika ia menendang selangkangannya.
Rinka lalu mencoba kabur sebelum Dominic menyelidikinya lebih lanjut. “Anda tampak baik-baik saja, jadi saya akan kembali ke ruang kerja. Saya harus menambahkan nomor Mr.Frederic dan nomor teman-teman juga ke handphone. Jadi, saya izin pergi dulu.”
Rinka sudah akan berbalik namun tangan Dominic menangkap pinggangnya lalu mengangkatnya hingga lagi-lagi Rinka berakhir di pangkuannya. “Katakan padaku, apa yang Frederic lakukan padamu?” tanya Edward, perhatiannya mengobrak-abrik perasaan Rinka yang tersipu lalu membuang wajah enggan menatap Edward.
“Dia melakukan hal yang sama seperti yang Anda lakukan pada saya saat ini,” sindirnya meski dalam hati menangis karena takut Dominic berpikir dirinya murahan.
Pria itu menatapnya tajam, “Aku tidak pernah ada pikiran melecehkanmu.”
Dominic memang pengecualian karena Rinka menyukainya, berbeda dengan Frederic yang melakukannya atas paksaan dan mengancam tidak mau membantu jika Rinka tidak menurutinya.
Alhasil Rinka hanya bisa pasrah saat pria itu meminta mengobrol sambil menyuruh Rinka duduk dipangkuannya dan sesekali mengusap pahanya yang terlapisi celana jeans panjang.
“Jadi dia menyuruhmu duduk dipangkuannya?”
Rinka mengangguk tanpa banyak bicara.
“Apa lagi yang dia lakukan? Dia tidak berusaha menidurimu kan?”
Rinka memberinya tatapan tajam, “Anda pikir aku p*****r yang pasrah saat akan ditiduri tanpa cinta?” protesnya.
“Akupun terpaksa saat Mr.Frederic menyuruhku duduk dipangkuannya. Jika aku tidak menurutinya, dia tidak mau membantuku mendapatkan organ. Anda terlihat sangat mengharapkan donor itu, jadi aku berusaha tidak mengecewakan Anda,” kata Rinka, lalu merasakan cengkeraman tangan Dominic di pingganggnya mengerat serta rahangnya mengeras menahan emosi.
Edward menjatuhkan kepalanya ke pundak Rinka yang terkesiap. Pria itu merasa bersalah pada Rinka karena telah menjerumuskannya ke dalam bahaya demi membantu Lusi bisa melihat lagi.
“Maaf,” gumamnya, masih di posisi menyandarkan kepala di pundak Rinka.
“Anda tidak perlu merasa bersalah, saya juga bersalah karena sudah memanfaatkan Anda untuk menghentikan Mr.Frederic,” sahut Rinka, memancing Edward kembali menatapnya dengan sebelah alis terangkat.
“Maksudmu?” Edward menatapnya penasaran.
Sedangkan bola mata Rinka berlarian tak sanggup memandang Edward secara langsung.
“Ekhm… saya mengaku sebagai kekasih Anda, dan balas mengancam jika Mr.Frederic berani melecehkanku lebih jauh maka Anda akan memasukkannya ke penjara. Cara itu berhasil membuat Mr.Frederic menyerah dan bersikap lebih sopan padaku.” Usai menceritakan hal memalukan tersebut Rinka kemudian memejamkan mata, siap kena semprot kemarahan Edward.
Namun yang ia dengar berikutnya malah suara tertawa Edward.
“Hahaha! Kau mengaku sebagai kekasihku?”
Rinka kembali membuka mata dengan wajah tertekuk kesal. Memang benar kata Christy, pria ini tidak mungkin memarahinya.
“Anda juga mengatakan hal yang sama pada suster Tania,” Rinka membalas ledekan Edward yang seketika berhenti tertawa dan menatapnya serius. “Dia menceritakannya padamu?”
“Iya, saat itu saya yang tidur di kamar ini. Anda sembarangan menyebut saya sebagai kekasih untuk menyelamatkan Anda dari pertanyaan Tania, maka saya pun menggunakan cara yang sama ke Mr.Frederic untuk menyelamatkan diri saya juga. Jadi sekarang kita impas!” Rinka berhasil membuat Edward bungkam.
Namun tidak lama kemudian pria itu mengulas senyum. Senyum yang selalu Rinka benci karena berefek buruk ke jantungnya yang sekarang tidak aman.
Tangan Rinka refleks menutup mulut Dominic hingga membuat pria itu menautkan alis bingung. Rinka segera melepaskan tangannya lalu meringis meminta-maaf.
“Suster Rinka.” Edward tiba-tiba berubah serius dan memanggilnya.
“Ya Mr.Dom?” Rinka meremang dibawah tatapan intensnya.
“Apa kamu mengizinkanku mendatangi Frederic dan memenjarakannya karena sudah berani melecehkanmu?”
Rinka tertegun sesaat, kemudian menggeleng. “Tidak perlu repot-repot Mr.Dom, saya sudah membalasnya memakai cara saya sendiri.”
Edward terkejut, “Bagaimana caranya?”
“Setelah tanda-tangan transaksi perjanjian dan pembicaraan kami selesai, saya menendang selangkangannya dengan sekuat tenaga… buaagk!” Rinka mengepalkan tangan lalu menonjok angin, memperagakan gayanya menendang Frederic.
Edward sampai melongo melihat cara berceritanya yang heboh sendiri, sementara Rinka mengabaikan ekspresi pria itu dengan lanjut bercerita, “lalu Mr.Frederic kesakitan sambil memegang burungnya. Saya pun minta-maaf dan buru-buru meninggalkannya.”
Tawa Edward seketika pecah.
Ia jarang sekali tertawa kencang dan tipikal pria yang condong menanggapi sesuatu dengan serius, tapi entah kenapa Edward selalu bisa tersenyum dan tertawa berada di sisi Rinka hingga membuatnya merasa menjadi orang lain yang bukan dirinya sendiri.
Dan hanya Rinka yang mampu mengubahnya, bahkan di depan istrinya pun Edward belum pernah tertawa bebas seperti sekarang.
“Kamu sangat menghibur sekali, aku mungkin kesepian jika memilih suster yang lain.” Edward berangsur memeluk Rinka, sebisa mungkin tidak terlihat sedih di depan gadis itu.
Namun usapan lembut Rinka dipunggung Edward seolah memberitahu jika gadis itu tahu semuanya. Seperti yang pernah dia katakan dahulu, Rinka bisa merasakan hatinya hanya dengan melihat sorot mata lawan bicaranya.
“Boleh saya bertanya sesuatu?” tanya Rinka, menyerupai gumaman.
“Hmm.” Edward berdehem yang entah sebuah persetujuan atau penolakan, Rinka tetap mengajukan pertanyaannya. “Kenapa tidak ada satupun keluarga atau teman Anda yang menjenguk ke sini?”
Edward tidak menjawabnya secara langsung, terdapat jeda dua menit hingga pria itu bicara, “Karena aku sengaja menyembunyikan diriku dari mereka.”
Masih dalam posisi memeluk, Rinka tidak bisa melihat mata pria itu sehingga tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan saat ini. “Seharusnya Mr.Dom memberitahu keluarga Anda, mereka pasti khawatir dan mencari-cari Anda,” kata Rinka.
“Tidak akan ada yang mencari karena sudah ada penggantiku di keluarga.”
Rinka mendorong dadda Dominic mencoba melepas pelukan mereka hingga sepasang mata biru milik pria itu kini menatapnya dingin. Sepertinya sedang ada masalah di keluarga Dominic hingga posisinya digantikan orang lain.
Melihat wajah simpati Rinka, Edward pikir gadis itu akan menanggapinya dengan panjang-lebar, tapi ternyata tidak—Rinka malah mengulurkan tangan mencubit pipinya. Seumur hidupnya tidak pernah ada yang melakukan itu padanya karena sangat kekanakan.
“Jangan sok dingin begitu, wajah Anda jadi terlihat seram!” ledeknya setelah puas membuat Edward terkejut akibat perbuatannya mencubit pipinya.
“Apa sudah pernah ada yang bilang kalau wajah Mr.Dom saat marah itu menakutkan?” Rinka tiba-tiba bertanya.
Edward mengerutkan kening, “Memangnya aku pernah marah padamu?”
”Tidak sih… tapi Mr.Dom sering memasang wajah arogan dan tatapan tajam Anda itu benar-benar bisa membuat orang berlari ketakutan,” jawab Rinka.
Edward sontak mengingat pengalamannya selama memimpin Ed Enterprise. Ia memang sering kali menjumpai raut ketakutan dari para pegawainya, namun tidak sesering wajah kagum mereka terutama kaum hawa.
“Tapi menurut saya wajah arogan Anda lebih baik untuk dilihat daripada saat Anda tersenyum pada saya,” imbuh Rinka disertai dengusan miris karena alasan ia jatuh cinta pada Dominic pun berawal karena senyum memesona yang pria itu tebar kepadanya.
BERSAMBUNG...