17 – HASIL KERJA KERAS

1097 Kata
Tiga hari kemudian, setelah berdebat cukup lama Rinka akhirnya mengalah dan terpaksa meninggalkan Edward di rumah sakit karena pria itu sendiri yang memintanya mencari donor kornea untuk keluarganya. Tapi Rinka tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Dominic lagi karena ia sudah mendapat izin dari Mrs.Ella dan kepala perawat Joseph akan menggantikan tugasnya menjaga Dominic untuk sementara. Rinka pergi ke gedung yang sama tempat seminar kemarin sabtu, namun kali ini bukan untuk mengikuti seminar melainkan menemui Frederic yang lebih mengetahui tentang transaksi organ transplantasi. “Lusiana, siapa wanita ini di keluarga Mr.Dom? Umurnya masih 25 tahun, lebih muda 5 tahun dari Mr.Dom, mungkinkah dia adik kandungnya? Atau keponakan?” Rinka menggerutu sendirian disepanjang lorong menuju ruangan Frederic. “Kasihan juga wanita ini, masih muda tapi harus kehilangan penglihatannya,” Rinka mendadak bersimpati pada wanita asing tersebut. Padahal di foto, Lusi memiliki paras cantik, selaras dengan ketampanan Dominic. Atau jangan-jangan semua anggota keluarganya memiliki keturunan good looking? “Aku juga tidak kalah cantik, kak Christy bilang aku punya pesona tersembunyi.” Rinka menyibak rambutnya, merasa pede karena punya paras cantik juga. “Hai Serra.” “Hai, selamat pagi Mr.Frederic. Maaf jika saya mengganggu waktu Anda. Tapi saya membutuhkan Anda karena ada seseorang yang membutuhkan bantuan saya mendapatkan donor kornea untuk keluarganya.” “Tentu, silahkan duduk. Kita bisa membahasnya sambil minum teh.” Frederic menaik-turunkan alisnya genit kemudian menyuruh Rinka duduk di sampingnya. Rinka menurut meski merasa tidak nyaman duduk berdekatan dengan Frederic. Frederic kemudian menyuruh sekretarisnya pergi menyiapkan teh, dan Rinka semakin dibuat gusar karena hanya ditinggal berdua dengan Frederic yang gosipnya seorang pria mesuum yang suka meminta keuntungan dari orang-orang yang membutuhkan bantuannya mencarikan pendonor. Rinka pikir itu hanya gosip, tapi sepertinya gosip itu benar. ◄••❀••► “Mr.Dom saya sudah kembali!” Rinka berteriak setelah membuka pintu kamar inap. Edward yang sejak tadi menunggunya sontak tersenyum semringah melihat kemunculan gadis itu. “Bagaimana hasilnya?” “Mr.Frederic bilang ada organ yang cocok untuk Nona Lusi, dia akan menghubungiku jika korneanya sudah tersedia. Tapi karena handphoneku rusak, jadi aku menyuruhnya meninggalkan nomor. Ini nomor Mr.Frederic, Anda bisa menghubunginya langsung!” Rinka memperlihatkan pergelangan tangannya yang terdapat tinta bulpoint bertuliskan nomor ponsel Frederic. “Kau menulis nomornya di kulit tanganmu? Lalu apa gunanya kertas di dunia ini?” Edward tersenyum geli, merasa cara Rinka ketinggalan jaman. “Aku hanya membawa bulpoint dan tidak membawa buku catatan. Cara ini lebih praktis dan instan.” “Baiklah, sekarang tambahkan kontaknya di Hp itu.” Edward memerintah seraya menunjuk benda pipih yang tergeletak di atas meja dekat ranjangnya. Rinka menurut tanpa banyak bertanya lalu mengambil ponselnya yang berwarna babypink mirip warna dress yang dipilihkan Alina untuknya tiga hari lalu. Rinka menatap aneh benda tersebut, kemudian memasang ekspresi jijik ke arah Edward, “Anda suka warna pink?” Ia tidak menyangka Dominic yang dominan cuek, dingin dan pendiam ke orang lain selain Rinka ternyata menyukai hal-hal yang feminim. “Itu bukan milikku.” Rinka mengerutkan kening, “Lalu kenapa Anda menyuruhku menambahkan nomor Mr.Frederic di sini?” tanyanya. “Karena mulai sekarang, handphone itu milikmu.” Bola mata Rinka membeliak kaget. “Kenapa Anda memberiku handphone?” “Kamu bilang tidak punya handphone kan? Jadi pakai saja, aku memang membelikannya untukmu,” jawab Edward. “Tidak! Aku tidak bisa menerimanya.” Rinka meletakkan kembali ponselnya ke atas meja lalu menghampiri Dominic untuk menanyakan sesuatu. “Anda juga yang membayar kuliahku sampai lulus, ‘kan?” Rinka akhirnya bertanya setelah 3 hari memendam pertanyaannya. “Iya.” Lagi-lagi jawaban singkat. Rinka sama sekali tidak mengerti dengan sikapnya yang terkadang manis dan menyebalkan, namun ada kalanya Dominic juga bersikap cuek dan dingin dengan menjawabnya singkat. Beruntungnya Rinka memahami pria itu, yang meskipun terkadang dingin dan sok tidak peduli tapi sebenarnya diam-diam menaruh perhatian padanya. Seperti saat pria itu menyelamatkannya dari bullyan pegawai rumah sakit karena foto ciuman mereka tersebar di grup chat, memindahkan Rinka yang tidur di lantai ke ranjangnya secara diam-diam bahkan bersikap seakan tidak terjadi apapun hingga Rinka berpikir ia melakukan sleepwalking, lalu fakta yang baru Rinka ketahui beberapa hari ini dari Mrs.Ella ternyata pria itu sudah membayar lunas kuliahnya sampai lulus. “Mr.Dom disaat saya bertanya serius Anda seharusnya menjelaskan, bukannya hanya menjawab iya,” omel Rinka. “Kamu hanya bertanya apakah aku membayar kuliahmu, tidak ada unsur kalimat yang menyuruhku menjelaskan,” balas Edward. Rinka menepuk dahinya, bukan sekali atau dua kali tapi pria itu sering sekali mengoreksi kalimat pertanyaannya yang kurang tepat hingga membuatnya merasa bodoh. “Baiklah, izinkan saya meminta penjelasan mengapa Anda yang notabenya bukan siapa-siapa saya, bersedia membayar kuliah saya sampai lulus bahkan sekarang memberiku handphone baru?” Rinka bertanya dengan sabar seraya memaksakan senyum. Edward terkekeh melihat ekspresinya, lalu menjawab, “Sudah sepantasnya seorang pasien membayar jasa perawatan. Kamu sudah merawatku selama ini, aku juga tahu keseriusanmu membuatku sembuh. Jadi semua yang kuberikan padamu itu adalah hasil jerih payahmu selama bekerja denganku di rumah sakit ini.” Rinka mengusap dadanya lega, “Jadi semua yang Anda berikan padaku murni karena kerja kerasku kan?” “Yup.” Edward mengangguk. “Bukan karena Anda memberinya secara cuma-cuma?” tanya Rinka lagi, karena ia tipikal yang tidak bisa menerima uang pemberian begitu saja. Karena itu ia menolak uang pemberian Christy tempo hari, dan meskipun wanita itu menggunakannya untuk membayar seminar tapi Rinka akan menganggapnya hutang dan akan membayarnya suatu hari nanti ketika sudah punya uang. “Tidak, itu gajimu karena sudah menjadi suster pribadiku.” “Baiklah, karena itu hasil kerja-kerasku jadi aku tidak akan menganggapnya sebagai hutang atau balas budi.” Rinka tersenyum semringah seakan beban berat hidupnya terangkat. “Kamu memang gadis pekerja keras,” puji Edward, kemudian lanjut berkata, “Kalau begitu cepat masukkan nomor Frederic ke handphonemu sebelum nomornya hilang.” Rinka menggeleng, “Tidak! Handphone itu tidak masuk hitungan.” Edward mendengus karena gadis itu masih saja keras kepala. “Handphone itu juga kuberikan tidak secara cuma-cuma, tapi sebagai hadiah karena kamu sudah membantuku mendapat donor kornea untuk Lusi,” katanya, karena dengan begitu Rinka akan mau menerimanya. Rinka bukan gadis yang bisa menerima apapun tanpa alasan jelas, sehingga Edward harus pintar-pintar membujuknya untuk bisa memfasilitasi gadis itu demi kebaikannya sendiri. Rinka berpikir sejenak mencerna perkataan Edward. “Memang benar sih, aku jauh-jauh menemui Mr.Frederic dan terjebak pembicaraan panjang lebar dengan pria mesuum sepertinya hal yang patut diapresiasi.” “Baiklah, akan kuanggap ini hadiah karena saya sudah bekerja-keras membantu Anda bahkan rela menahan pelecehan,” imbuhnya kemudian mengambil handphone babypink itu lagi dengan senyuman lebar. Sementara Edward tampak syok mendengar perkataannya barusan. “Dia melecehkanmu?” BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN