“Kamu memang masih mahasiswa magang, tapi kamu sudah dibekali banyak pembelajaran selama bekerja di sini. Kamu bisa menjadi asisten perawat anestesi, kamu pernah mempelajarinya saat kuliah kan?” tanya dokter Charles.
Rinka mengangguk antusias, “Pernah!”
“Kamu tahu apa itu tugas asisten perawat anestesi?” Kali ini Joseph melayangkan pertanyaan untuk mengetesnya.
“Asisten perawat anestesi tidak akan melakukan anestesi secara langsung. Tugasku hanya membantu dokter Paul mengevaluasi pasien, melakukan tindakan praanestesi seperti memeriksa pasien sebelum operasi dan mengambil riwayat medis dan juga melakukan tindakan intranestesi dengan menginduksi dan membangunkan pasien di bawah pengawasan dokter anestesi.” Rinka menjawab lancar, terlalu excited karena diizinkan melakukan operasi pertamanya.
Dan pasien operasi pertamanya adalah Dominic Rykerth. Rinka senang menjadi bagian yang memastikan pria itu keluar ruang operasi dalam keadaan hidup-hidup dan sembuh dari Neuroblastoma.
“Good! Memang tidak salah Tuan Dominic memilihmu sebagai suster pribadinya,” puji Paul.
“Terima kasih dokter Paul,” jawab Rinka dengan wajah semringah.
Kringgg…
Tiba-tiba bell tanda panggilan dari Dominic berbunyi dan menjeda diskusi rapat yang sedang berlangsung. Rinka menekan tombol berwarna putih untuk melakukan panggilan suara jarak jauh.
“Anda baik-baik saja Mr.Dom?” Rinka berbicara sambil mengkode para dokter agar melanjutkan rapat dan menghiraukannya.
Dokter Charles mengangguk kemudian melanjutkan pembahasan mereka, sedangkan suara Dominic menyahut, “Kamu kemana saja suster Rinka? Kukira kamu belum kembali menemui Mrs.Ella.”
“Saya sudah kembali ke ruang kerja sejak tadi. Maaf karena tidak memberitahu Anda, sekarang saya sedang virtual meeting bersama anggota rumah sakit. Ada yang Anda butuhkan?” Rinka bertanya sambil menatap ke layar laptop di mana dokter Charles sedang menunjukkan diagram persentase kemungkinan operasi mereka berhasil.
“Aku bosan, bisa kamu datang kemari? Tiba-tiba saja aku merindukanmu.”
Damn!
Berkat itu kini semua anggota rapat menoleh menatap Rinka kaget. Sedangkan Rinka memejamkan mata meringis, bisa-bisanya dia menyuruh Rinka datang dengan alasan merindukannya. Tidak bisakah Dominic membaca situasi sekarang?
Oh god! Setelah ini mereka pasti berpikir hubungannya dengan Dominic lebih dari sekadar pasien dan perawat.
“Hahaha…” Rinka menutupi kepanikannya dengan tertawa getir, kemudian berbicara lagi untuk meyakinkan anggota rapat, “Mr.Dom memang suka bercanda. Dia tidak hanya merindukanku, tapi dia juga pernah bilang merindukan dokter Charles,” alibinya.
Dokter Charles sampai melongo mendengarnya, sementara suara Dominic terdengar lagi, “Kapan aku mengatakan rindu dokter Charles?”
Sialan!
Sepertinya Dominic memang sengaja ingin membuat orang-orang salah paham pada hubungan mereka. Rinka cepat-cepat mematikan panggilan suara dengan Dominic lalu pamit ke anggota rapat, “Maaf, saya akan menemuinya sebentar dan segera kembali.”
“Ya, kau bisa pergi suster.” Dokter Charles mengizinkan masih dengan raut syok.
Sementara Rinka berjalan ke kamar Dominic dengan gemuruh emosi di dadanya. “Mr.Dom!” teriaknya yang sudah mirip seperti raungan macan.
Edward menyambutnya dengan senyuman tanpa dosa. Mau bagaimana lagi? Suasana hatinya sedang kacau karena merindukan Lusi, dan Edward perlu hiburan dengan menumbalkan Rinka yang selalu mampu mengubah moodnya menjadi lebih baik.
“Akhirnya kamu datang,” katanya.
Rinka menunjuknya dengan geram, “Anda tidak boleh mengatakan itu lagi di depan banyak orang!” makinya, yang sudah hilang kesabaran.
Senyum di bibir pria itu perlahan lenyap, lalu bertanya tanpa ekspresi, “Artinya aku boleh mengatakannya tanpa sepengetahuan orang lain?” Edward sengaja memancing Rinka kesal.
“TIDAK! Pokoknya tidak boleh mengatakan itu lagi karena kita tidak punya hubungan apapun jadi stop membuatku dan orang lain salah paham!” jawabnya lagi dengan meledak-ledak karena lelah dijadikan bahan candaan pria itu.
“Apa maksudmu? Kita kan memang punya hubungan,” jawaban santai Edward membuat wajah Rinka melunak dan berganti bingung. “Ha?”
“Hubungan antara suster dan pasien,” imbuhnya, memperjelas status mereka yang sejak dulu dan sampai kapanpun memang hanya akan sebatas suster yang merawat pasien.
“Terserah Anda saja! Intinya jangan mengganggu saya sekarang, rapat ini penting demi kelancaran operasi Anda,” jawab Rinka, sudah muak berdebat dengan pria tidak waras tersebut.
“Baiklah-baiklah, aku tidak akan mengganggumu.”
Rinka tertegun melihat sorot mata Edward meredup. Dia pasti sedih karena tahu akan dioperasi.
“Ini, baca saja novel kalau Anda bosan selagi menunggu saya selesai rapat.” Rinka menyodorkan novel baru yang dibelikan Christy hari ini.
“Kamu menyuruh pria sepertiku membaca novel romantis?” Edward terkekeh.
“Apa salahnya? Anda juga sudah pernah membaca novelku sebelumnya,” sahut Rinka, teringat percakapan mereka tempo hari ketika membahas seperti apa cinta itu.
“Berbeda, saat itu aku membacanya karena penasaran dengan novel yang sering kamu baca itu. Sekarang aku sudah tahu, semua isi novelmu hanya tentang cinta, cinta dan cinta!” gerutu Edward.
“Semua wanita menyukai kisah romantis! Aku juga berharap bisa mendapatkan suami romantis seperti karakter favoritku di dalam novel.” Kalau sudah membahas novel, Rinka selalu berakhir dengan angan-angan fantasinya.
Melihat wajah berkhayal gadis itu sontak membuat Edward meledeknya, “Romantis yang kamu maksud yaitu dengan membebaskan dan memberikan semua yang wanita suka, bukan?”
Imajinasi indah Rinka seketika buyar mendengar ucapan Dominic. “Serius hanya itu yang Anda pikirkan tentang hubungan romantis?”
Edward mengedikkan bahu tidak yakin, sedangkan Rinka memberi gambaran romantis menurut versinya, “Romantis tidak hanya dengan membebaskan dan memberikan semua yang wanita suka. Tapi memahami keinginan hati mereka tanpa perlu diberitahu itu lebih romantis!”
“Maksudmu sebagai pria aku harus menebak isi pikiran mereka, begitu? Kamu kira aku peramal?” sahut Edward, ia lantas berpikir apakah caranya mencintai Lusi selama ini salah?
Edward tidak pernah menebak-nebak karena Lusi langsung yang memilih dan merencanakan momen romantis untuk mereka. Semuanya tetap lancar karena Lusi pun selalu bahagia bersamanya.
Perkataan Rinka membuyarkan lamunan Edward. “Itulah kenapa saya pernah katakan pada Anda bahwa ikatan cinta itu penting!” ujarnya.
“Ikatan yang kau bilang sesuatu yang tidak bisa dilihat melainkan hanya dapat dirasakan?”
Rinka mengangguk, seperti yang dirasakannya saat ini. Meskipun Edward tidak mengatakan apapun dan tampak baik-baik saja, tapi Rinka tahu pria itu sedang menyembunyikan kesedihannya, karena itu tadi Rinka memberinya novel—setidaknya dengan membaca bisa mengalihkan pikirannya sejenak.
“Kenapa kamu jadi sok mengajariku teori cinta?” protes Edward.
“Saya tidak mengajari Anda, Anda sendiri yang mulai bertanya. Melihat gelagat Anda yang tidak tahu apa-apa soal cinta, jangan-jangan…” Rinka memicingkan mata, lalu menyuarakan pikirannya, “Anda belum pernah jatuh cinta ya?”
Edward tergelak, bisa-bisanya Rinka memiliki pikiran seperti itu padahal dirinya sudah lima tahun menjalin pernikahan dengan wanita yang dicintainya. Edward tentu saja tahu rasanya jatuh cinta, hanya saja ia tidak benar-benar mengerti artinya.
BERSAMBUNG...