15 – RAPAT

1057 Kata
Melihat ekspresi terkejut Rinka membuat Mrs.Ella sontak takut salah bicara, “Kamu tidak tahu tentang itu?” “Tidak,” jawab Rinka dengan raut kebingungan. Mrs.Ella meringis dalam hati, ia tidak ingat direktur menyuruhnya merahasiakan informasi itu. Mrs.Ella berpikir Rinka sudah mengetahuinya dari Dominic secara langsung. “Aku seharusnya tidak mengatakan itu padamu, maaf. Jangan bilang kau mengetahuinya dariku,” ujar Mrs.Ella agak panik karena takut dimarahi direktur karena keceplosan membeberkan rahasia itu pada Rinka. “Saya baru membayar uang semester bulan lalu, dan admin keuangan tidak mengatakan apa-apa saat itu,” sahut Rinka dengan wajah berpikir. “Karena Tuan Dominic membayarnya baru-baru ini. Dia mendatangiku dan direktur bertanya seputar kehidupanmu, lalu sepakat membiayai pendidikanmu sebagai pengganti upah karena sudah merawatnya,” cerita Mrs.Ella, entah kenapa ia malah seterbuka ini pada Rinka. Mungkin karena ia penasaran akan satu hal, “Kalian benar-benar tidak ada hubungan spesial?” “Aku tahu gosip yang menimpamu soal foto kalian berciuman tersebar di grup chat pegawai rumah sakit kita.” Mrs.Ella teringat skandal yang pernah menimpa Rinka dan Dominic, bahkan karena masalah itu JH Hospital hampir kehilangan sebagian karyawan karena ancaman dipecat. Beruntung Dominic tidak meneruskan tuntutannya ke jalur hukum dan semua itu berkat kemurahan hati Rinka memaafkan padahal mereka sudah mencemarkan nama baiknya dengan Dominic. “Anda sudah menanyakan itu dua kali pada saya diawal saat Mr.Dom merekrut saya sebagai suster pribadinya, dan sekarang Mrs.Ella menanyakannya lagi.” Rinka benar-benar risih dengan pertanyaan itu karena kenyataannya hubungan Rinka dengan pria itu hanya sebatas pasien dan perawat. “Yasudahlah kalau kamu tidak mau menjawab, sekarang cepat kembali mengurusnya!” Mrs.Ella mengibas-ngibaskan tangan menyuruhnya keluar. Rinka merengut mendapati pengusirannya, kemudian menunduk hormat sembari pamit, “Baik Mrs, saya izin kembali bekerja.” Rinka akhirnya melangkah keluar dan merasa lega sudah pergi dari sana. Setidaknya Rinka tidak mendapat ancaman nilai C atau dikeluarkan dari tempat magangnya, posisinya masih aman. Fyuhhh…. Baru saja Rinka menghela napas, tiba-tiba kepala perawatnya berlari menghampiri Rinka yang hendak masuk ke lift. “Suster Serra!” teriak Joseph atau kepala perawatnya. “Ada apa Mr.Jos?” tanya Rinka, mungkinkah Joseph akan menceramahinya juga seperti Mrs.Ella? Tapi kepala perawatnya orang yang baik, dia tidak pernah memarahi Rinka dan malah selalu sabar mengajari Rinka banyak hal seputar dunia keperawatan. “Setelah insiden hari ini, dokter Charles mengajakku rapat membahas langkah penanganan selanjutnya untuk Tuan Dominic. Aku ingin mengajakmu juga supaya tahu perkembangan pasienmu,” ujar Joseph. “Tapi saya baru saja menghadap Mrs.Ella, saya tidak mau terlalu lama meninggalkan Mr.Dom karena dia baru saja siuman.” Rinka sudah berjanji pada Mrs.Ella akan lebih bertanggung-jawab merawat Dominic karena hanya Rinka satu-satunya suster yang pria itu pilih dan percayai. “Ya, aku juga sudah memikirkan itu jadi aku akan mengajakmu secara virtual lewat googlemeet. Kudengar dari Alina handphonemu rusak jadi aku menemuimu untuk meminjamkan handphoneku.” Joseph menyodorkan handphonenya tanpa pikir panjang. Rinka menggeleng, tidak menyangka kepala perawatnya akan sebaik ini. “Tidak perlu Mr.Jos! Saya masih punya laptop, jadi Anda kirim saja alamat googlemeetnya ke email, nanti saya akan bergabung,” jawabnya, yang untung saja masih memiliki laptop. Tidak sia-sia Rinka bekerja keras demi membeli laptop diawal masuk kuliah, selain untuk membuat dokumen laporan dan proposalnya, ternyata laptopnya juga sangat berguna disaat-saat genting seperti sekarang. “Baguslah kalau begitu, aku khawatir pekerjaanmu terhambat karena tidak ada handphone. Kusarankan lebih baik kamu segera membeli handphone yang baru,” kata Joseph. Kalau ada uang pun, dia pasti sudah membelinya sejak lama, Rinka hanya bisa mengatakan itu dalam hati. “Baik Mr.Jos, terima kasih karena sudah memerhatikanku,” sahut Rinka dengan wajah meringis, sepertinya mustahil ia membeli HP baru dalam waktu dekat. ◄••❀••► Rinka sedang fokus mendengarkan penjelasan Dokter Charles melalui layar laptopnya yang membahas mengenai metode operasi yang akan dilakukan pada Dominic untuk pengangkatan tumor ganasnya. “Suster Serra, efek samping seperti apa yang sering Tuan Dominic alami?” Seorang pharmacist senior bertanya ke arah layar yang terhubung virtual meeting dengan Rinka. “Mr.Dom sering batuk, sesekali sampai berdarah lalu pingsan seperti yang terjadi hari ini. Dia juga sempat mengalami ruam kulit diawal pengobatan imunoterapinya, dokter Charles sudah memeriksanya,” Rinka menjawab agak gugup sebab tidak menyangka akan mengikuti rapat penting bersama para tenaga medis terbaik yang sudah mengabdi lama di rumah sakit Johns Hopkins. “Iya, suster Serra melaporkan lagi padaku jika ruamnya menghilang dalam waktu tiga hari setelah kita memberinya antihistamin. Setelah observasi lebih lanjut, kamipun menurunkan dosisnya menjadi setengah untuk mengurangi efek samping lain timbul,” dokter Charles melanjutkan penjelasan berdasarkan jawaban Rinka. “Jadi apakah kita sepakat menggunakan metode operasi yang dijelaskan dokter Charles sebelumnya?” Dokter anestesi yang tergabung dalam rapat bernama Paul bertanya, memastikan sekali lagi metode yang mereka gunakan berpotensi lebih besar menyelamatkan nyawa Dominic. Miller Earth, dokter spesialis bedah paling muda dan jenius yang terpilih menjadi asisten dokter Charles dalam operasi Dominic ikut menyahut menyuarakan kekhawatirannya, “Sebenarnya operasi ini agak berisiko karena tumor berada dekat di pembuluh darah yang memasok darah ke organ vital. Jika tumor terlilit pembuluh darah besar atau menekan organ vital, sebagian tumor mungkin bisa saja tertinggal.” “Karena itulah kita membutuhkan dokter Charles, dia dokter bedah onkologi terbaik kebanggaan Amerika. Tidak ada operasi yang tidak berhasil di tanganinya.” Paul tersenyum sopan ke arah dokter Charles yang berumur lebih tua sekitar 45 tahunan. “Aku akan berusaha dan meminimalisir kesalahan dengan mengangkat kelenjar getah bening untuk memeriksa apakah ada sel kanker lain yang terinfeksi. Akan tetapi jangan lupa kita juga tetap harus waspada akan adanya pendarahan hebat, faktor itu bisa jadi pemicu utama gagalnya tindakan operasi,” kata dokter Charles kemudian menunjuk ke arah Joseph. “Josehp! Sebagai perawat sirkuler sudah tugas utamamu memonitoring pasien. Tapi tetap menjadi tugas utama kita semua juga untuk menyelamatkan nyawa pasien. Jadi aku harap kita semua bisa bekerja sama dengan baik demi kelancaran operasi Tuan Dominic,” imbuhnya. “Suster Serra, kurasa kamu juga harus masuk ke ruang operasi karena kamu satu-satunya suster yang mengetahui keseharian kondisi Tuan Dominic” celetukan dokter Miller dijawab anggukan kepala setuju dokter Charles. Mata Rinka seketika berbinar, impian terbesarnya adalah mendampingi dokter menyelamatkan nyawa pasien. Kesempatan yang sangat menguntungkan jika memang Rinka diperkenankan ikut ke operasi tersebut. Namun Rinka tidak yakin keberadaannya di sana akan berguna, Rinka justru takut ia akan menghancurkan jalannya operasi. “Tapi saya hanya anak magang.” BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN