“Anda butuh donor kornea?” tanya Rinka. Masih tidak nyaman dengan posisi mengobrol mereka. Apa wajar bagi pasien dan suster berbicara sambil berpangkuan? Sepertinya tidak.
Hubungan mereka memang sangat tidak normal.
“Ya, aku sangat membutuhkannya untuk keluargaku.” Edward memilih menyebut Lusi keluarga daripada istri karena ia masih menyamar menggunakan nama Dominic.
Meskipun Edward percaya pada gadis itu dan Rinka pun sudah menandatangani perjanjian menjaga privasi, tetap saja Edward tidak mau ambil risiko dengan membongkar identitas aslinya sebagai keluarga Schmidt.
“Baiklah, saya akan membantu Anda.” Jawaban Rinka membuat Edward gembira hingga refleks menciumnya. Ciuman menuntut yang membuat Rinka engap hingga terpaksa mendorong bahu pria itu sambil melotot tajam ke arahnya.
“Mr.Dom! Berhenti mencium saya sembarangan!” makinya, tidak bersungguh-sungguh.
Wajah kesal disertai pipi memerah, ditambah dress babypink yang dikenakannya membuat gadis itu terlihat begitu menggemaskan membuat Edward tidak tahan hingga menciumnya.
“Kamu tidak suka?” Pertanyaan itu diucapkan dengan santai.
Rinka sampai tidak habis pikir karena Edward kelewat tenang setelah berhasil mengobrak-abrik perasaannya. “Suka sih,” cicitnya sambil menahan malu, namun tidak lama ekspresinya kembali menajam, “Tapi tetap saja Anda tidak boleh melakukan itu lagi!”
“Kenapa?”
Mulut Rinka melongo, kenapa pria itu bilang?!
Edward pun rasanya ingin menampar wajahnya sendiri. “Baiklah-baiklah, aku tahu kesalahanku. Maaf, aku sudah pernah bilang kan kalau bibirmu itu sangat menggoda?” Edward mengakui kesalahannya.
Ia sebisa mungkin bertahan untuk tidak mencium Rinka, tapi bibir gadis itu seolah memanggil dan mengajak Edward untuk berbuat khilaf.
“Apa Anda selalu mencium semua bibir wanita yang menurut Anda menggoda?” Rinka tidak percaya ia menanyakan itu disituasi sekarang. Secara tidak langsung menyuarakan pikirannya yang gelisah sebab takut dirinya adalah wanita kesekian yang pernah Dominic cium.
“Tidak, kamu perempuan pertama yang berhasil menggodaku,” jawab Edward, jujur.
Rinka adalah gadis pertama yang berhasil memancing sisi liarnya muncul hanya karena tergoda dengan bibir dan tingkahnya. Berbeda dengan Lusi yang secara alamiah memang diinginkan Edward.
Tergoda, dan keinginan adalah sesuatu yang berbeda. Simpelnya, ketertarikan Edward pada Rinka terjadi diluar kendalinya atas godaan yang tidak bisa Edward hindari, sedangkan ketertarikan Edward pada Lusi murni atas keinginan hatinya sendiri.
Ibarat Wine yang memabukkan, semua orang tahu jika meminumnya akan terkena efek hilang kesadaran tapi tetap saja orang-orang nekad meminumnya karena tergoda dengan sensasi rasa Wine-nya. Begitu juga Rinka bagi Edward, dia tahu bermain-main dengannya akan memunculkan ikatan di antara mereka berdua tapi tetap saja Edward tidak bisa mengabaikannya karena ia menyukainya.
Tok, tok, tok.
Ketukan di pintu kamar mengejutkan keduanya. Rinka buru-buru turun dari pangkuan Edward namun tangan pria itu menahannya. “Ada orang di luar!” Rinka berkata panik, sementara Edward malah tersenyum.
Pria ini benar-benar gila!
“Siapa?” Edward menyahut santai.
“Saya Andrew.” Ternyata hanya salah satu bodyguard Edward.
“Bicara saja dari situ, ada apa Andrew?” Edward berteriak dari jarak jauh sambil tak melepas tatapan dari Rinka yang menatap kesal dirinya.
“Apa suster Serra ada di dalam?”
“Ya, dia bersamaku di sini,” jawab Edward tanpa melunturkan senyum ke arah Rinka yang memutar bola mata. Sejak awal Rinka sudah membenci senyuman pria itu, karena senyuman Dominic adalah kelemahannya.
“Mrs.Ella memanggil suster Serra dan menyuruh menghadap ke ruangannya sekarang.”
“Baik, terima kasih informasinya.”
Rinka sontak gelisah. “Mrs.Ella pasti akan memarahiku karena ketahuan libur tanpa pemberitahuan.”
“Aku yang mengizinkanmu libur, dia tidak akan berani memarahimu.” Usapan tangan Edward di kepala Rinka memicu gadis itu menatapnya.
“Anda tidak boleh ikut campur, ini urusan pekerjaan saya,” kata Rinka, lebih baik dirinya dimarahi daripada sembunyi dibalik nama Dominic.
“Iya.” Jawaban singkatnya terkesan terpaksa. Pria itu kemudian membantu Rinka turun dari pangkuannya sebelum Rinka pamit, “Saya pergi sekarang.”
“Ganti pakaianmu dulu, kamu mau menghadap Mrs.Ella dengan penampilan seperti itu?”
Rinka menunduk melihat dress yang masih melekat di tubuhnya. “Tidak, aku akan ganti seragam!” Rinka kemudian lari menuju ruang kerjanya untuk mengambil seragam dan berganti pakaian.
Sedangkan Edward hanya tersenyum kecil melihat punggungnya berlari menjauh. Keberadaan gadis itu benar-benar menghibur hatinya yang sedang kacau setelah mengetahui hubungan Lusi dengan Ferro.
Edward tidak pernah lepas memantau perkembangan hubungan Lusi dan saudara kembarnya yang sekarang berpura-pura menjadi dirinya. Ia sengaja menyuruh Masphito memberitahu Ferro bahwa dirinya menghilang dan tidak bisa dihubungi supaya Ferro lebih fokus memainkan perannya sebagai suami pengganti Lusi.
Walaupun Edward cukup terkejut karena dokter Isaac pun turun tangan ikut mencarinya melalui koneksi teman dokternya yang tersebar di seluruh Amerika. Beruntung Edward sudah mengganti identitasnya sehingga dokter Isaac tidak akan bisa menemukannya di sini.
◄••❀••►
Mrs.Ella memberikan tatapan tajam di detik pertama melihat Rinka masuk ke dalam ruangannya. “Kamu tahu alasanmu dipanggil kemari karena apa?” tanya Mrs.Ella tanpa basa-basi.
Rinka menunduk dengan wajah takut, “Saya tahu Mrs,” sungutnya.
“Jika terjadi sesuatu yang buruk pada pasien naratetama bukan hanya kamu yang disalahkan, tapi pihak rumah sakit juga!” bentakan Mrs.Ella membuat Rinka terkejut hingga spontan menatap wajah murkanya.
“Mr.Dom sudah memberi saya izin libur untuk mengikuti seminar, tapi saya sadar seharusnya tidak meninggalkannya sendirian,” kata Rinka, menyesal.
“Dia hanya mengandalkanmu Rinka! Karena Tuan Dominic hanya memilih satu suster diantara puluhan suster di rumah sakit kita untuk merawatnya, seharusnya kamu lebih bertanggung-jawab pada pekerjaanmu!” gerutu Mrs.Ella, sedangkan Rinka memejamkan mata semakin merasa bersalah.
“Aku tahu pasti melelahkan bekerja selama 24 jam non stop, tapi kau masih diberi waktu istirahat dan pulang untuk tidur. Kau juga bebas dari tanggung-jawab pasien lain, seharusnya kamu bisa lebih fokus karena hanya merawat satu pasien. Dan lagi, dia bukan pasien biasa, dia pasien naratetama rumah sakit kita!”
Rasanya Mrs.Ella tidak akan berhenti mengomel sampai puas membuat Rinka terpuruk. Rinka tahu kesalahannya fatal karena meninggalkan pasien naratetama dengan penyakit parah tanpa pengawasan suster lain, Dominic pingsan hari inipun terjadi karena kelalaian Rinka tapi syukurnya pria itu masih bisa bertahan.
“Tolong maafkan saya Mrs, saya janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama,” Rinka meyakinkan Mrs.Ella karena ia sudah mengecamkan hal itu pada dirinya juga. Rinka tidak akan meninggalkan Dominic atau membahayakan pria itu lagi tanpa pengawasan suster lain.
“Aku berharap perkataanmu bisa dipercaya. Kau memang sudah seharusnya merawat Tuan Dominic dengan baik, berkat dia juga kamu tidak perlu repot-repot kerja parttime lagi karena pendidikanmu sudah dibayar lunas sampai lulus kuliah.”
Rinka terbelalak mendengar penjelasan Mrs.Ella barusan. Wanita itu tadi bilang apa? Apakah dirinya salah dengar?
BERSAMBUNG...