“Aku menyuruhmu membeli baju baru, tapi kamu malah minta dibelikan novell!” omel Christy setelah melihat Rinka keluar dari toko buku sambil memeluk totebag berisi 3 buah novell.
“Aku jarang jalan-jalan kak, baju tidak penting bagiku karena yang penting adalah dunia haluku ini!” Rinka menjerit kegirangan sambil memeluk totebagnya. “Terima kasih kak Christy, berkat kakak akhirnya aku bisa membeli novell incaranku sejak lama,” katanya lagi sambil memeluk Christy.
“Sama-sama. Kalau sudah ayo kita kembali ke Alina,” sahut Christy kemudian menarik tangan Rinka agar mengikutinya ke toko baju tempat ia meninggalkan Alina.
“Christy, kurasa yang ini cocok untuk Serra!” Alina berseru ketika dua temannya baru samapai.
“Ha… untukku? Tapi aku sudah beli buku novell, tidak perlu baju lagi!” tolak Rinka.
“Ayolah, membelikanmu satu dress tidak akan membuatku miskin Serra,” desak Christy seraya menyentuh kain dress yang dipilihkan Alina untuknya.
Dress feminim dengan warna babypink bercorak bunga dan model tali off-shoulder akan sangat cocok untuk Rinka yang imut-imut dan memiliki kepribadian ceria.
“Cobalah! Kamu pasti akan sangat cantik memakai dress ini.” Alina menyodorkan dress tersebut ke Rinka yang menatap dressnya ngeri, “Belahan dadanya terlalu terbuka! Aku tidak mau memakai dress itu!”
“Pakai saja adik manis.” Senyuman horor Christy terkesan memaksanya untuk menjawab iya, tapi Rinka masih bertahan pada pilihannya dan tetap kekeuh menggelengkan kepala, “TIDAK!”
Christy sontak melirik Alina yang mengangguk seolah mereka satu pemikiran. Rinka mengambil langkah mundur ketika merasakan firasat buruk.
“Tahan tangannya Al!” perintah Christy sedangkan Alina tiba-tiba sudah muncul di belakangnya dan menahan kedua tangan Rinka hingga totebag novelnya jatuh.
Alina mendorongnya masuk ke ruang ganti dibantu Christy yang menarik tangannya, secara paksa menyuruh Rinka ganti baju dengan dress pilihan mereka. Beberapa menit pasca insiden pemaksaan tersebut, Rinka keluar memakai dress dengan raut cemberut.
“Sudah kubilang kamu itu sangat cantik!” Christy bersorak menatap penampilan Rinka yang terlihat jauh lebih elegant saat memakai dress.
Kesan imut dari warna babypink dan seksi dari potongan dadanya yang terbuka memberi perpaduan yang menawan sehingga Christy yakin Dominic Rykerth akan langsung jatuh cinta melihat penampilan Rinka yang berbeda hari ini.
“Kalian sudah puas kan? Jadi kembalikan bajuku sebelumnya!” protes Rinka.
Alina dan Christy menggeleng serempak. “Bajumu aku sita, akan kuberikan besok senin saat kita bertemu di rumah sakit,” kata Alina yang sudah sekongkol dengan Christy sebelumnya.
“Aku membelikanmu pakaian untuk dipakai, jadi hari ini pakai dress itu dan pamerkan ke Tuan Dominic,” timpal Christy dengan senyuman puas.
Rinka memutar bola mata kesal. Jadi sejak awal kak Christy sudah merencanakannya, lagi pula penampilan Rinka tidak menjamin Dominic akan langsung tertarik padanya. “Ayolah kak… aku tidak mungkin kembali ke rumah sakit dengan pakaian ini,” Rinka memohon dengan wajah memelas.
Christy tetap menggeleng, sedangkan Alina mengeluarkan handphone hendak memfotonya. “Sini aku foto dulu.” Alina mengarahkan kameranya ke Rinka yang sontak menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Tidak mau! Jangan foto aku!”
Alina mendengus kesal, padanya Rinka terlihat cantik sekarang. Jemarinya kemudian iseng membuka fitur chat dan tubuhnya membeku seketika melihat grup chat anggota perawat rumah sakit Johns Hopkins.
“Rinka gawat! Kamu tidak cek ponselmu?” Alina berteriak sambil memandang Rinka panik.
“Handphoneku rusak sejak kemarin,” jawab Rinka.
“Kepala perawat mencarimu! Katanya dia tidak bisa menghubungimu dan menyuruh semua suster yang melihatmu agar memberitahu kau harus segera kembali ke kamar naratetama.” Ucapan Alina membuat pikiran Rinka langsung tertuju pada Dominic.
“Aku harus ke rumah sakit sekarang!” pekiknya lalu berlari keluar mall diikuti Christy dan Alina yang mengejar di belakang.
◄••❀••►
Kedua kaki Rinka tidak bisa diam sejak ia masuk lift menuju lantai lima setelah diantar Christy ke rumah sakit. “Semoga saja Mr.Dom baik-baik saja,” Rinka berdoa seraya menautkan jari-jemarinya dengan cemas.
Saat dalam perjalanan pulang, Alina menjelaskan keadaan Dominic yang pingsan setelah batuk darah terlalu lama, beruntungnya salah satu bodyguar langsung mengetahuinya setelah curiga mendengar suara gaduh di dalam kamar. Dokter Charles dan kepala perawat Joseph sudah menanganinya, keadaan Dominic kini sudah stabil meskipun ia belum bangun dari pingsan.
“Mr.Dom!” Rinka membuka pintu kamar dan berlari mendekati ranjang.
Melihat Dominic masih menutup mata membuat Rinka seketika merasa bersalah hingga tanpa sadar menangis. “Maafkan saya hiks…”
Rinka menelungkupkan wajahnya ke kasur hingga suara isak tangisnya terendam. “Seharusnya saya tidak meninggalkan Anda, padahal Mr.Dom memercayaiku sebagai satu-satunya suster yang merawat Anda, tapi saya malah bersenang-senang diluar.”
Puk… puk… puk…
Rinka berhenti terisak ketika merasakan sentuhan dikepalanya. Gadis itu mendongak dengan wajah sembabnya. “Aku baik-baik saja, jangan menangis… suaramu berisik sekali.” Suara lemah itu membuat Rinka mengusap air matanya.
“Anda serius sudah baik-baik saja? Apa perlu saya panggilkan dokter?” Rinka menatap wajah pucat Dominic, lalu mengambil alat tensi untuk mengecek tekanan darahnya.
“Tidak perlu, melihatmu ada di sini sudah membuatku lebih baik,” jawabnya, yang masih sempat saja menggoda Rinka padahal ia baru saja bangun dari pingsan.
Meskipun hasil tekanan darahnya menunjukkan angka normal, tapi Rinka masih belum yakin dengan kondisinya. “Jangan bercanda Mr.Dom! Tunggu di sini… saya panggilkan dokter dulu.”
Rinka sudah hendak pergi namun Dominic menahan pergelangan tangannya dan mengalihkan pikiran Rinka dengan bertanya, “Kenapa kamu baru pulang? Aku pikir kamu tersesat karena tidak ada kendaraan. Aku sudah menghubungimu tapi tidak bisa.”
“Maaf, handphoneku rusak sejak kemarin. Saya pulang terlambat karena…” Rinka menggigit bibirnya, takut Dominic akan marah setelah mendengar pengakuannya, “saya bertemu teman dan mereka mengajakku jalan-jalan ke mall.”
Dominic terkekeh sambil menatap penampilan Rinka dari atas sampai bawah, “Pantas saja kamu agak berbeda hari ini,” katanya, setengah meledek.
Wajah pucatnya sontak berubah lebih ceria, namun terlihat menyebalkan bagi Rinka yang terganggu dengan tatapan genitnya. “Sebenarnya aku terpaksa memakainya karena teman-temanku,” sungutnya dengan wajah cemberut.
“Selera temanmu bagus juga. Apa temanmu itu laki-laki?” Edward memicingkan mata.
“Tidak, mereka perempuan. Salah satunya suster senior yang bekerja di sini, satu lagi kak Christy alumni JH University yang aku kenal setelah menjadi anggota AOTA,” jawab Rinka.
“Kamu anggota American Organ Transplant Association?” Edward tersentak mengetahui fakta penting tersebut.
“Iya, aku sering ikut seminar dan kegiatan lembaga AOTA. Aaaakh!!” Rinka terkejut ketika Edward tiba-tiba mengangkat pinggangnya naik ke atas pangkuannya.
“Anda baru saja sadar, tidak boleh melakukan aktivitas berat!” gerutunya, agak heran sekaligus kagum karena Dominic masih punya kekuatan untuk mengangkat tubuhnya padahal sedang sakit, atau mungkin karena tubuh mungilnya yang terlalu ringan?
Tapi bukan itu yang seharusnya Rinka pikirkan saat ini melainkan posisi tubuh mereka yang sekarang saling menempel. Rinka menelan ludah merasakan tonjolan dibawah bokongnya.
“Boleh aku minta bantuanmu?” Pertanyaan Dominic mengalihkan pikiran Rinka yang sontak mengerutkan dahi, “Minta bantuan apa?” Semoga saja permintaan itu bukan hal mesuum seperti yang sedang Rinka pikirkan saat ini.
“Aku butuh bantuanmu mencarikan donor kornea untuk seorang tunanetra.” Edward sangat membutuhkan Rinka untuk mendapatkan donor mata Lusi. Ia rela melakukan apapun demi istrinya bisa melihat lagi, bahkan jika perlu Edward akan memohon asal gadis itu bisa menemukan pendonor yang cocok untuk istrinya.
BERSAMBUNG...