“Mana mungkin aku menyerahkan keperawanan pada pria yang belum tentu akan menjadi suamiku!” maki Rinka dengan bisik-bisik karena takut pembahasan mereka didengar peserta seminar yang lain karena sekarang mereka sudah berada di dalam ruangan dan mencari tempat duduk.
“Melihat dari sikap Tuan Dominic yang bermurah hati mengizinkanmu libur bahkan memberimu tumpangan di mobil mewahnya, sepertinya dia tertarik padamu.” Christy menjawab setelah mereka menemukan kursi di barisan ketiga.
Masih kurang 15 menit lagi sebelum acara dimulai, sementara panitia masih sibuk mengabsen peserta seminar yang sudah hadir. Christy pun melanjutkan obrolan mereka, “Apa kalian pernah terlibat momen romantis selama bersama?”
Pipi Rinka merona teringat ciuman mereka di rooftop. Tanpa menunggu jawabanpun, Christy sudah bisa menebak dengan melihat raut wajahnya. “Pasti sudah terjadi kan?”
Rinka memilih tidak menjawab melainkan hanya menatapnya malu.
“Kalau begitu, dia benar-benar tertarik padamu.”
“Kalaupun iya, kami tidak mungkin bisa bersama karena aku hanya gadis biasa,” sangkal Rinka, cukup sadar diri dia bukan orang yang pantas bersanding dengan pria seperti Dominic Rykerth.
“Siapa yang bilang? Buktinya aku dan suamiku bisa saling mencintai sampai sekarang.” Christy meyakinkan Rinka dengan memberi bukti contoh hidupnya. “Aku juga gadis biasa miskin sepertimu dahulu,” imbuh Christy.
“Tapi kau cantik kak,” sahutan Rinka membuat Christy mencengkeram dagunya. “Kau juga cantik Rinka! Apa kamu tidak pernah bercermin di rumah? Selain cantik, kamu juga pintar. Jadi jangan pernah berpikir perempuan seperti kita tidak pantas mendapatkan laki-laki kaya seperti Dominic Rykerth!”
Omelan panjang itu menggugah sedikit kepercayaan diri Rinka keluar.
“Baiklah, aku percaya padamu kak. Tapi menyerahkan keperawananku? Oh tentu tidak. Jika aku gagal, cara itu hanya akan merugikanku,” bantahnya seraya menggeleng ngeri.
Seringaian misterius terulas di bibir Christy. “Karena dia tertarik padamu, cara itu pasti berhasil mengikat kalian. Aku juga melakukan hal yang sama pada suamiku dahulu,” pengakuan Christy pun lagi-lagi membuat Rinka melongo mendengarnya.
“Kakak berbohong kan?”
Christy menggelengkan kepala kemudian mendekatkan bibir ke telinga Rinka. “Aku menjebaknya di hotel, menyerahkan keperawananku dan hamil. Karena itu kami langsung menikah.”
Setelah membisikkan cerita itu, Christy menjauhkan wajahnya seraya melempar senyuman bangga pada Rinka yang dibuat tidak bisa berkata-kata saking syoknya.
“Apa kamu ingin terus hidup seperti ini Rinka?!” bentak Christy seraya menggoyang kedua bahu Rinka.
“Kesempatan bertemu pria kaya-raya tidak datang dua kali. Kau harus menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin untuk memulai hubungan dengannya!” tutur Christy lagi.
Malaikat jahat muncul di kepalanya menyuruh Rinka mengikuti cara Christy, namun malaikat baik datang mencegah niat buruk itu dan mengingatkan Rinka tentang penyakit yang Dominic derita. Pria itu sudah kesulitan menghadapi Neuroblastoma, mana mungkin Rinka menambah kesulitannya lagi dengan menjebaknya tidur bersama.
“Kurasa saat ini aku akan fokus ke kesembuhan Mr.Dom saja, soal mendapatkan cinta atau tidak aku akan menyerahkannya pada Tuhan. Lagi pula aku masih 20 tahun, masih banyak yang harus aku pikirkan selain cinta.” Rinka menjawab mengikuti kata hatinya.
Christy mengusap kepalanya memperlakukan Rinka seperti anak kecil, “Aku tahu orang baik sepertimu tidak mungkin menempuh jalan licik sepertiku,” katanya, merasa lega karena Rinka masih memiliki hati murni yang polos.
Kebanyakan anak-anak yang kehilangan figur orang tua mudah terjerumus pergaulan buruk, apalagi mereka tinggal di Amerika yang memiliki kebebasan seksual sehingga sudah dianggap wajar menemukan banyak wanita tidak perawan di negara ini.
“Kamu tidak licik kak, kau kakak senior paling baik yang pernah aku temui setelah nomor dua ditempati kak Alina,” Rinka berkata jujur, ia merasa beruntung bisa bertemu Christy di AOTA dan mereka menjadi dekat selayaknya kakak dan adik kandung.
“Alina memang gadis yang baik, tapi dia cupu sepertimu. Dahulu pun dia sering dibully kakak kelas karena mudah disuruh-suruh, beruntungnya dia punya teman sepertiku yang selalu datang menjadi pahlawan!”
Rinka tertawa melihat ekspresi bangga Christy, mereka sudah pernah membahas tentang Alina sebelumnya. Christy dan Alina bersekolah di tempat yang sama sewaktu SMA atau highschool.
“Katanya, dia juga ikut seminar hari ini. Entah di mana dia sekarang?” Christy mengedarkan pandang mencari keberadaan Alina di antara kursi peserta seminar yang sudah hampir terisi penuh. Namun pencariannya terhenti ketika MC naik ke atas panggung membuka acara seminar hari ini.
“Selamat pagi, kepada yang terhormat para dokter spesialis mata dari Bascom Palmer Eye Institute yang telah bekerja sama dengan acara seminar AOTA hari ini, kepada peserta seminar dan anggota AOTA yang telah hadir serta secara tidak langsung telah mendonasikan uangnya untuk transplantasi kornea bagi penyandang tunanetra tidak mampu di Amerika. Saya ucapkan terima kasih atas partisipasi Anda semua dalam mengikuti seminar dan donasi yang diselenggarakan lembaga American Organ Transplant Association. Mari beri tepuk tangan untuk kita semua…”
Riuh suara tepuk tangan seketika menggema memenuhi ruangan. MC kemudian membacakan susunan acara seminar hari ini dan melanjutkan ke pemaparan materi terkait Transplantasi Kornea dan Teknik Eksisi Donor Kornea yang dijelaskan salah satu dokter senior di Bascom Palmer Eye Institute.
◄••❀••►
“Christy! Serra!” Alina menyapa ketika acara seminar sudah selesai dan mereka bertemu di luar gedung ketika hendak pulang.
“Kak Alina!” Rinka membalas seraya memeluknya. Sementara Christy menyahut di sampingnya, “Aku tadi mencarimu, kukira kamu tidak ikut seminar hari ini.”
“Aku terlambat karena bangun kesiangan hehe,” jawab Alina seraya membalas pelukan Rinka.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke mall? Aku traktir kalian shopping sepuasnya!” ajak Christy, sejak menikah ia sibuk belajar menjadi istri yang baik sehingga sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
“Tentu saja aku mau!” Alina menjerit tidak sabar.
“Tapi aku hanya dapat izin libur setengah hari, Mr.Dom nanti mencariku kalau tidak segera pulang,” kata Rinka dengan wajah cemberut. Ia sebenarnya ingin ikut jalan-jalan bersama Alina dan Christy tapi sadar ia masih punya tanggung-jawab untuk merawat Dominic.
“Sudahlah, dia tidak mungkin memarahimu. Lagi pula libur satu hari tidak akan membuatnya mati,” timpal Christy kemudian menarik paksa tangan Alina dan Rinka agar masuk ke dalam mobilnya.
Rinka akhirnya terpaksa mengikuti Christy pergi ke mall dan bersenang-senang di sana.
BERSAMBUNG...