11 – SEPERTI APA CINTA ITU?

1049 Kata
“Hahaha, aku bercanda. Wajahmu tegang sekali suster.” Edward terkekeh melihat ekspresi Rinka. Sedangkan Rinka nyaris saja tertipu rayuannya. Menjadi kekasihnya dia bilang? Dan dia bercanda saat mengatakan itu?! Holy Shiiit! Bisa-bisanya Dominic mengatakan itu dengan mudah, untung saja Rinka tidak terpancing untuk cepat-cepat menjawabnya. “Itu tidak lucu Tuan!” ketusnya, lalu berjalan menghentakkan kaki menuju kasur Dominic dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Persetan jika sikapnya tidak sopan, salah Mr.Dom sendiri sudah membuatnya kesal. “Hei-hei, kamu marah padaku?” Dominic menghampirinya dan menggoyang bahu Rinka dari balik selimut. “Maaf Mr.Dom besok saya ada seminar jadi izinkan saya beristirahat hari ini,” sahut Rinka masih di posisi dalam selimut, sengaja tidak ingin melihat wajah Dominic. “Oh iya, besok hari Sabtu.” Edward teringat percakapannya dengan Rinka beberapa hari lalu ketika gadis itu izin libur setengah hari untuk hadir di seminar. “Sebagai perminta-maafanku karena sudah membuatmu kesal hari ini, besok aku akan menyuruh supirku mengantarmu ke seminar.” Rinka menyibak selimut seraya menatap Edward tajam, “Tidak perlu! Saya bisa naik Taxi,” sergahnya. “Kamu tidak punya uang, sudah terima saja…” Edward mengibaskan tangan seraya berbalik mengambil novel yang tergeletak di atas meja. “Itukan milik saya!” protes Rinka saat Edward sembarangan membaca buku novel miliknya. “Kamu suka kisah percintaan sederhana seperti di novel ini?” Edward mencurinya sejak kemarin dan sudah membaca sampai setengah bab. “Anda tidak boleh menyebutnya sederhana! Eric adalah karakter pria paling romantis yang pernah saya temui dalam novel. Dia tidak pernah lelah mengejar cinta pertamanya,” sahut Rinka, membahas pemeran utama dalam novel tersebut. Edward duduk di sofa sambil menyilangkan kaki, ingin mendengar pendapat Rinka. “Menurutmu, seperti apa cinta itu?” Rinka agak heran karena Edward tiba-tiba berubah serius saat membahas cinta padanya. “Saya belum pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi yang saya tahu cinta itu ketika Anda bisa menerima dan memahami orang itu.” “Memahami?” Edward mengulang kata itu seraya berpikir, apakah istrinya memahaminya? Lusi bahkan tidak bisa membedakan antara dirinya dengan Ferro, tapi wajar saja karena mereka berdua kembar, selain itu Lusi juga buta yang mungkin menjadi salah satu penyebab kurangnya kepekaan sehingga mudah sekali dibohongi. “Iya, biasanya orang yang saling mencintai lebih tahu kondisi hati pasangannya. Orang-orang menyebutnya ikatan cinta, dan itu bukan sesuatu yang bisa dilihat melainkan hanya dapat dirasakan,” jelas Rinka, yang mendadak menjadi pakar cinta. “Yang kutahu tentang cinta adalah bagaimana caranya membuat orang yang kita cintai bahagia,” sahut Edward. “Tidak salah sih, tapi tidak sepenuhnya benar juga. Cinta itu saling memberi. Jika yang bahagia hanya satu orang saja, apa itu masih bisa disebut cinta?” Pertanyaan Rinka membuat Edward tertegun. “Bukankah mengikhlaskan juga bagian dari cinta?” Edward balas bertanya. Ekspresi jenaka yang beberapa saat lalu masih Rinka lihat, kini berubah digantikan ekspresi datar yang menyimpan luka di dalamnya. Dilihat dari ekspresi patah hatinya, apa mungkin sekelas pria tampan kaya-raya seperti Dominic Rykerth terjebak cinta bertepuk sebelah tangan? “Jika Anda merasa orang itu penting, kejarlah!” kata Rinka, seolah dapat membaca isi pikiran Edward. “Seperti Eric yang mengejar cinta Hanna.” Rinka menunjuk novel yang masih dibawa Edward. Edward menatapnya sembari tersenyum kecut, “Tidak semua cinta bisa diperjuangkan, keadaan terkadang membuatnya terlihat mustahil.” Seperti cinta Rinka padanya? Perbedaan status dan derajat yang terlalu jauh di antara mereka membuat Rinka mustahil mengejar cinta Dominic. “Anda benar.” Rinka menggumamkan jawabannya dengan ekspresi sama-sama kecewa. ◄••❀••► “Serra!” Christy berteriak seraya melambaikan tangan ketika melihat Rinka turun dari mobil mewah. “Kak Christy!” Rinka berlari menghampiri Christy yang sudah menunggu di depan gedung seminar, kemudian memeluknya. “Aku senang bertemu kakak lagi,” ujar Rinka setelah pelukan mereka terlepas. “Syukurlah kamu datang, aku khawatir kamu tidak bisa datang hari ini karena tidak punya uang untuk transportasi,” sahut Christy lalu menggandeng tangan Rinka memasuki gedung. “Mr.Dom mengizinkanku naik mobilnya dan diantar supir. Rasanya aku sangat beruntung karena pertama kali naik mobil mewah,” kata Rinka ketika mereka dalam perjalanan menuju ruang seminar yang berada di lantai dua. “Wow… kamu sudah seperti Cinderella saja. Apa dia single?” tanya Christy lalu memencet angka 2 di dalam lift yang kemudian tertutup dan membawa mereka naik ke atas. “Di data pasien tertulis belum menikah, dan anehnya tidak pernah ada satupun keluarga atau teman yang berkunjung menjenguknya selama ini. Setahuku orang kaya justru sering dikunjungi entah itu dari kerabat, rekan kerja ataupun bawahannya.” Rinka seharusnya tidak menceritakan itu pada Christy karena melanggar perjanjian privasi, tapi Rinka percaya Christy dapat menjaga rahasianya. “Mungkin saja dia menyembunyikan penyakitnya karena takut memengaruhi citra perusahaan. Kudengar dari suamiku, persaingan dalam dunia bisnis sangat gelap bahkan terkadang ada pertumpahan darah. Suamiku juga bilang, menjaga reputasi perusahaan sangat penting jika tidak ingin harga saham merosot dan kehilangan klien.” Rinka ingat suami Christy bekerja sebagai CEO di perusahaan terkenal di Asheville. Rinka pun baru mengetahuinya saat hadir di pernikahannya yang super mewah, berkat kak Christy juga Rinka bisa puas makan enak saat itu. “Kehidupan orang kaya ternyata rumit juga ya?” Rinka pikir hidup bergelimang harta sudah cukup membuat hidup seseorang berjalan lancar karena tidak perlu memikirkan biaya makan, uang sewa, uang semester kuliah dan lain-lain. “Tidak serumit ketika hidupku masih pas-pasan sih, hahaha…” Christy bergurau membandingkan masa lalunya yang masih miskin seperti hidup Rinka sekarang. Sesulit-sulitnya cobaan bagi orang kaya, setidaknya mereka tidak perlu takut kelaparan atau tidur di jalanan. Rinka mendengus memikirkan nasibnya yang jauh lebih mengenaskan. “Kau sekarang sudah beruntung kak, berbeda denganku yang masih harus mencari pekerjaan karena kalau tidak, aku benar-benar bisa tidur di lantai rumah sakit selamanya,” sungutnya, meskipun berkat Dominic juga ia terselamatkan dari tidur di lantai bulan ini karena mengizinkan Rinka tidur di kamarnya. “Itulah alasanku bertanya apakah pasien naratetamamu single atau tidak. Dan karena kamu bilang dia belum menikah, maka ini kesempatan besar untukmu bisa menggodanya. Cobalah buat anak bersamanya agar kalian terikat.” Rinka terbelalak mendengar ide gila Christy, di waktu yang sama pintu lift terbuka lalu mereka keluar melangkah ke lorong. “Kak, kau baru saja menyuruhku menyerahkan keperawananku ke Mr.Dom?” “Ya,” jawab Christy dengan yakin dan senyuman tanpa dosa. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN