10 – DIAM-DIAM PERHATIAN

1121 Kata
“Serra… Serra!” Tania memanggil seraya menghampirinya di kantin lalu menyusul duduk di sebelah kursi Rinka yang sedang sarapan. “Kamu tidak pulang? Kulihat kemarin jadwalmu masuk shift malam,” tanya Rinka sebelum menggigit sandwichnya. “Aku baru akan pulang, tapi menemuimu dulu karena ingin menanyakan sesuatu,” sahut Tania, mengundang penasaran dibenak Rinka. “Mau tanya apa?” “Kemarin malam saat kamu pulang, Tuan Dominic Rykerth turun ke lantai satu dan bertemu denganku,” cerita Tania. Kunyahan sandwich dimulut Rinka berhenti, “Lalu?” “Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi sampai kateter infusnya lepas, tangannya pun terluka jadi aku mengganti IV kateternya dengan yang baru.” Sesuai tebakan Rinka, ia sudah sadar sejak awal kalau infusnya berbeda tapi ketika Rinka bertanya tentang itu, Dominic berkata infusnya sama seperti kemarin dan malah menuduh Rinka yang pelupa. “Padahal tadi aku sudah menanyakan itu padanya, tapi Mr.Dom bilang jarum infusnya sama seperti yang ia pakai semalam. Kenapa dia berbohong padaku?” Kali ini giliran Rinka yang bertanya pada Tania. “Mungkin saja dia takut kamu bertanya macam-macam, karena asal kamu tahu saja kemarin malam saat aku masuk ke kamar inap Tuan Dominic…” Tania mendekatkan mulutnya ke samping telinga Rinka lalu berbisik, “aku melihat kekasihnya tidur di sana.” Rinka menatap Tania dengan mulut menganga kaget. “KAU BERCANDA?!” teriak Rinka, mustahil kekasih Dominic menginap semalam karena pagi ini Rinka kembali terbangun di ranjang pria itu seperti malam-malam sebelumnya. “Tidak, aku serius. Aku melihatnya sendiri dengan kedua mataku. Walaupun tidak bisa melihat wajah kekasihnya karena tertutup selimut, tapi Tuan Dominic sendiri bilang kalau yang tidur di ranjang sebelah tempat tidurnya adalah kekasihnya,” Tania berujar pelan agar ceritanya tidak terdengar ke pegawai lain karena dia bisa kena sanksi kalau ketahuan mengumbar privasi pasien VVIP. Tunggu dulu… Rinka berpikir sejenak, mencerna cerita Tania dari awal pertemuannya dengan Dominic sampai masuk ke kamar inapnya untuk mengganti jarum infus. “Pukul berapa kamu masuk ke sana?” tanya Rinka. “Aku tidak melihat jam saat itu, tapi sepertinya sekitar pukul sebelas malam.” Rinka sudah pergi tidur pukul setengah sebelas setelah memastikan Dominic tertidur di kamarnya. Jangan-jangan terjadi sesuatu yang tidak diketahuinya semalam? Mungkinkah saat Rinka melakukan sleepwalking ia tanpa sadar menyakiti Dominic hingga membuat jarum infusnya lepas? “Hai Serra. Tania, kamu tidak pulang?” Teman magang mereka yang lain menyapa dan mengajak Tania pulang bersama. Rinka tersenyum membalas sapaan teman-temannya sedangkan Tania berpamitan, “Kalau begitu, aku pulang dulu ya Serra. Bye-bye…” Rinka melambaikan tangan ke arah teman-temannya yang berjalan pergi, kemudian termenung sendirian di meja makannya. “Jadi selama ini Mr.Dom sudah tahu aku berjalan sambil tidur masuk ke kamarnya?” Rinka memanyunkan bibirnya cemberut. Hal yang paling tidak ia mengerti adalah kenapa pria itu menyebut Rinka kekasihnya? Pipi Rinka seketika merona lalu menelungkupkan wajahnya ke meja, “Apa dia benar-benar tertarik padaku?” ucapnya dengan hati berbunga-bunga. ◄••❀••► Entah kenapa malam ini Rinka tidak bisa tidur, ia berbaring telentang menatap langit-langit ruang kerjanya sembari memeluk buku novel seperti guling. Rinka masih memikirkan tentang obrolannya bersama Tania pagi ini, tapi ia tidak berani menanyakannya langsung pada Dominic karena pria itu bersikap seakan tidak terjadi apa-apa kemarin malam. Rinka menyentuh jantungnya yang berdebar saat membayangkan wajah tampan Dominic. “Aku tidak percaya akan mengalami semua ini. Jatuh cinta pada pria tampan kaya-raya? Kurasa aku harus berhenti membaca novel agar tidak mengkhayal terlalu jauh,” gumamnya dengan pandangan menerawang. Ceklek… Rinka mendengar pintu kamar inap Dominic terbuka dan suara derap langkah kaki mendekat ke tempatnya. Rinka sontak menutup mata pura-pura tidur, dan tidak lama kemudian pintu ruangannya terbuka. “Sampai kapan dia akan tidur di sini?” Rinka mendengar gerutuan pelan Dominic dengan jelas, lalu tiba-tiba ia merasakan tubuhnya diangkat. Rinka panik, namun aroma maskulin yang menguar dari tubuh Mr.Dom seakan menghipnotisnya agar tetap tenang dalam gendongannya. Ya Tuhan… apa ia sedang bermimpi? Rinka harus bangun sekarang menanyakan maksud Dominic, tapi posisinya terlalu nyaman dan ia tidak rela merusak momen romantis ini. Apa kau bodoh, Rinka?! Pikiran Rinka berteriak memperingatkan. Menyadarkan Rinka dari khayalannya lalu akhirnya membuka mata. Tatapan mereka bertemu dan keheningan mengambil alih keadaan untuk sesaat. “Kamu sudah bangun?” Rinka bisa melihat raut terkejut di sepasang mata biru Dominic yang ketahuan sedang menggendongnya. “Jadi beberapa hari ini saya bukannya sleepwalking tapi Anda yang memindahkanku ke ranjang?” Rinka sangat terkejut mengetahui fakta tersebut. Ia tidak berpikir Dominic akan seperhatian ini padanya. “Ya,” jawaban singkat Mr.Dom terdengar menyebalkan di telinga Rinka. “Tolong turunkan saya.” Edward menurunkan Rinka dari gendongannya sesuai permintaan gadis itu lalu mereka berdiri berhadapan dengan canggung. “Kenapa Anda tidak memberitahuku?” protes Rinka. “Kamu tidak bertanya,” jawab Edward. Rinka meringis, benar juga sih! “Saya tidak bertanya karena mengira Anda tidak tahu apa-apa!” decak Rinka, lalu membuang wajahnya ke arah lain karena terlalu malu menatap wajah Edward. “Saya terpaksa tidur di sini karena ada masalah dengan tempat tinggalku.” Rinka merasa perlu mengatakannya, berharap Dominic mengerti keadaannya. “Seharusnya kamu mengatakan itu sejak awal, aku tidak keberatan berbagi kamar denganmu,” katanya tanpa ekspresi. Sial! Bagaimana bisa Dominic setenang itu berbagi kamar dengan seorang perempuan? “Supaya bisa mengambil keuntungan dengan mencium saya lagi ?” Rinka menyindirnya dengan wajah sinis. Melihat Dominic sangat tenang menghadapi situasi ini kemungkinan dia sudah terbiasa sekamar dengan seorang wanita. Pria tampan kaya-raya biasanya sering melakukan one night stand. “Jujur saja, bibirmu memang menggoda. Tapi aku tidak seburuk itu memanfaatkan keadaan, aku melakukannya karena tidak ingin kamu sakit seperti saat terserang flu tempo hari karena kedinginan tidur di lantai.” Jawaban Edward terdengar masuk akal, tapi Rinka tetap tidak bisa mentolerir kesalahannya. “Meski begitu Anda seharusnya membangunkanku saja, bukannya malah menggendongku,” sergahnya. “Apa aku yang melukai tangan Anda kemarin malam?” Rinka menatap menyesal ke tangan Edward yang terinfus. “Bukan apa-apa, tidak sakit sama sekali.” Edward menunjukkan bekas lukanya yang sudah mengering. “Anda seharusnya membangunkanku! Bukannya malah mencari suster lain!” maki Rinka, yang malah terdengar seperti kecemburuan. Edward tersenyum geli seraya berkata, “Tenang saja suster Rinka, aku tidak akan menggantimu dengan suster lain.” Wajah Rinka memerah mendengar perkataan Edward yang berhasil membuatnya salah tingkah. “Bu-bukan itu maksudku!” bantahnya tanpa berani menatap mata Edward. Edward semakin gencar menggodanya setelah melihat sikap malu-malunya. Ia merasa gadis itu sangat lucu dan menggemaskan dengan ekspresi seperti itu. “Jika bukan itu, lalu apa maksudmu yang sebenarnya?” Edward menyentuh dagu Rinka seraya mendekatkan wajahnya hingga membuat gadis itu terkesiap. Edward sadar ia sudah bermain api, dan sebentar lagi akan terbakar. “Kamu ingin menjadi kekasihku?” bisiknya dengan sensual. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN