9 – TIDUR SATU RUANGAN

1180 Kata
Malam ini Rinka mengikat pergelangan kakinya ke kursi komputer jaga-jaga jika ia melakukan sleepwalking lagi. “Dengan begini aku pasti tidak akan masuk ke kamar inap Mr.Dom lagi,” kata Rinka, walau rasanya agak aneh karena ia mengikat dirinya sendiri seperti orang sakit jiwa. Tapi masa bodoh, toh tidak akan ada orang yang melihatnya tidur di sini juga. Rinka membaringkan tubuhnya ke lantai, mencari posisi ternyaman untuk tidur meski harus menahan keras dan dinginnya permukaan lantai. Tengah malam, Rinka dengan mata setengah terpejam samar-samar melihat wajah tampan Dominic. “Kamu manis sekali saat tidur seperti kucing kecil menggemaskan,” gumamnya yang masih dapat Rinka dengar. Apa ia sedang bermimpi? Rinka melihat wajah pria itu mendekat lalu mengecup singkat bibirnya sebelum kegelapan merenggut kesadaran Rinka yang kembali tidur nyenyak dalam mimpi. Tapi tunggu dulu, bukankah seharusnya ia tidur di ruang kerjanya saat ini? Kesadaran itu memicu Rinka membuka mata lebar-lebar dan lagi-lagi ia bangun di atas kasur empuk samping tempat tidur Dominic. “Kenapa aku masih tidur di sini?” Rinka memegang kepalanya panik lalu menatap ke tempat Dominic yang masih tertidur pulas sedangkan jam dinding menunjukkan pukul lima pagi. Rinka melihat ke bawah pergelangan kakinya yang masih melingkar tali bekas potongan. “Tidak bisa dibiarkan, aku benar-benar bisa ketahuan kalau tidur di sini sepanjang malam.” Rinka kemudian melakukan hal yang sama seperti kemarin yaitu merapikan kasurnya dan mengendap keluar ruangan. Saat berada di kamar mandi, Rinka berjalan mondar-mandir teringat bayangan Dominic mengecup bibirnya. “Aku memang sering memimpikan Mr.Dom akhir-akhir ini, tapi yang kemarin itu rasanya agak berbeda…” Rinka menyentuh bibirnya dan kembali berpikir, “Apa itu cuma halusinasiku karena berharap dicintainya?” Rinka bertanya pada angin. Lalu menepuk pipinya dengan kedua tangan. “Sadarlah Rinka! Kamu hanya bekerja menjadi susternya, orang miskin sepertimu tidak mungkin bisa bersanding dengan pria kaya sepertinya!” Rinka menasihati dirinya sendiri supaya berhenti berkhayal. Rinka sontak teringat novell yang dibacanya kemarin, si pemeran utama wanita miskin yang jatuh cinta pada laki-laki dari keluarga kaya namun cinta mereka tidak mendapat restu dari keluarga pihak laki-laki dan berakhir tragis karena mati dibunuh. “Aku masih ingin hidup,” Rinka menggeleng ngeri. Apapun yang terjadi, ia harus bisa membatasi perasaannya agar tidak berharap terlalu jauh. ◄••❀••► Dominic bersikap normal seperti biasanya, tidak ada tanda-tanda pria itu telah melakukan sesuatu padanya kemarin malam ataupun memergokinya tidur di kamarnya. Jadi sudah pasti yang Rinka lihat semalam hanyalah halusinasinya saja. “Sejak kapan tangan Anda memerah seperti ini?” Rinka terkejut ketika menemukan ruam kemerahan di lengan Dominic yang tertutup baju pasien. “Merah ya? Pantas saja terasa gatal di sana,” jawaban santai Dominic mengundang pelototan tajam Rinka. “Mr.Dom! Anda harus lebih peduli pada tubuh Anda, jika mengalami ruam kulit seharusnya Anda lapor karena bisa saja ini efek samping dari Imunoterapinya!” gerutu Rinka sambil berdecak pinggang marah. “Oke, maafkan aku.” Perminta-maafan Dominic melunturkan kekesalan Rinka yang sontak berubah menyesal. “Tidak apa, ini juga salah saya sebagai suster Anda karena tidak memerhatikan hal-hal sedetail ini,” sungutnya. Kemudian lanjut berkata, “Kalau begitu saya akan menghubungi dokter dan menyuruhnya datang memeriksa apakah efek samping itu berbahaya atau tidak.” “Terima kasih suster Rinka, tidak perlu menyalahkan dirimu. Kamu sudah merawatku dengan baik selama ini,” ujar Edward, tidak ingin Rinka menyalahkan dirinya sendiri karena keadaannya. Rinka tertegun lalu tidak lama tersenyum ke arahnya, “Sama-sama Tuan.” Jantung Edward berdebar setelah melihat senyuman gadis itu. Syukurnya Rinka pergi keluar setelah itu sehingga tidak akan melihat wajah kakunya yang terkena dampak senyuman darinya. Edward menopang kepalanya dengan satu tangan, “Ya Tuhan, aku pasti sudah gila karena memiliki perasaan pada susterku sendiri,” erangnya lalu teringat istrinya yang sedang hamil di rumah. “Lusi… kamu sedang apa sekarang?” Edward mendadak merindukan wanita itu, kemudian membuka email di Ipadnya untuk menanyakan kabar Lusi pada sekretarisnya Masphito. ◄••❀••► Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini Edward kembali mendatangi ruang kerja Rinka yang terletak di seberang kamar inapnya. Pria itu bersandar di kusen pintu seraya geleng-geleng kepala menatap Rinka yang tidur hanya beralaskan pakaian dan tumpukan novell sebagai bantal. “Kenapa dia tidak minta tidur di kamarku saja sih daripada menyusahkanku menggendongnya setiap malam?” gerutu Edward, lalu terkejut melihat tali rafia yang melilit tubuh Rinka dan dihubungkan ke kaki kursi. Setelah kemarin mengikat kakinya, sekarang gadis itu mengikat tubuhnya. Edward terkekeh, “Dia benar-benar berpikir sedang sleepwalking?” “Kalau kamu sleepwalking, aku pasti sudah mengetahuinya sejak awal,” kata Edward kemudian memotong tali rafia yang melilit tubuh Rinka dan menggendongnya secara hati-hati karena tangannya masih terinfus. “Aduh.” Edward meringis pelan ketika tangan Rinka tidak sengaja menyenggol selang infusnya yang kini lepas hingga tangan Edward berdarah. Tapi pria itu tidak marah dan dengan sabar memindahkan Rinka ke atas tempat tidur yang tidak digunakannya kemudian menyelimuti tubuh Rinka agar tidak kedinginan. Setelah memastikan gadis itu tidur dengan nyaman, Edward menyeka darahnya menggunakan tissu kemudian kebingungan bagaimana cara memasang infusnya lagi. Ia pun memutuskan turun ke lantai satu untuk mencari suster lain yang dapat membantunya. Kebetulan Edward bertemu suster magang yang ia lihat pernah mengobrol bersama Rinka di depan ruangannya. “Suster Tania, bisa tolong pasangkan infusku?” Edward memperlihatkan tangan bekas infusnya yang terluka. Tania yang melihatnya pun terkejut, “Astaga, kenapa bisa sampai lepas Tuan? Di mana kamar Anda? Biar saya bantu pasangkan.” “Ada di lantai lima.” Edward menjawab datar seraya menunjuk ke atap. Tania mengikuti arah telunjuknya yang mengarah ke atas dengan wajah berpikir, “Lantai lima?” Di detik berikutnya Tania langsung membelalakkan mata karena baru sadar itu lantai pasien naratetama rumah sakit mereka. “Bukankah Anda pasiennya suster Serra? Kemana dia pergi?” tanya Tania. “Sekarang sudah malam, suster Rinka sudah pulang.” “Baiklah kalau begitu, mari… saya antar Anda kembali ke ruangan dan bantu memasangkan infus.” Tania akhirnya turun tangan membantu Edward. Dan bodohnya Edward lupa kalau Rinka sedang tidur di kamar. “Emm… tunggu sebentar.” Edward menahan Tania di depan pintu kamar kemudian masuk lebih dulu menghampiri Rinka di ranjang. Pria itu menyelimuti Rinka sampai menutupi kepala supaya saat Tania masuk tidak melihat wajahnya. “Anda bisa masuk suster.” Edward kembali ke depan pintu dan menyilahkan Tania masuk ke dalam. Tania melihat kamar inapnya yang luas dan temaram karena hanya diterangi lampu tidur. “Tidak apa kan lampunya tidak aku nyalakan? Karena ada orang yang tidur di sini.” Edward menunjuk Rinka yang tertutup selimut di sebelah ranjangnya. Tania menoleh ke sana dengan dahi berkerut penasaran. “Keluarga Anda?” “Kekasihku.” Entah kenapa Edward malah mengenalkannya sebagai pacar. “Oh iya, tidak apa-apa Tuan,” jawab Tania lalu memasangkan infus ke tangan Edward seperti semula. “Lain kali jangan sampai infusnya terlepas lagi. Saya pamit dulu, selamat malam Tuan.” “Baik, terima kasih suster. Selamat malam…” “Huft…” Edward langsung lega setelah masalahnya selesai. Untung saja Rinka tidur tanpa bersuara sehingga Tania tidak curiga karena bisa gawat kalau mereka ketahuan tidur satu ruangan. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN