8 – MASALAH FINANSIAL

1083 Kata
“Serra!” panggilan Christy menyita perhatian Rinka yang sedang sarapan pagi di kantin rumah sakit sendirian. “Kak Christy?” Rinka terkejut melihat wanita berambut merah itu menghampirinya. “Serra, aku pergi ke apartemenmu tapi yang keluar malah seorang laki-laki. Apa kamu pindah?” Christy adalah senior Rinka di John Hopkins University yang sudah lulus sejak dua tahun lalu. “Ti-tidak,” Rinka bingung harus menjawab apa. “Lalu siapa laki-laki itu? Pacarmu?” tebak Christy. “Bukan!” bantahnya, sementara Christy duduk di sampingnya. “Aku menemuimu karena ingin memberitahumu ada jadwal seminar berikutnya, kita kan sesama anggota AOTA,” kata Christy. “Maaf kak, sepertinya kali ini aku tidak bisa ikut seminar dulu,” sungut Rinka, padahal ia tidak pernah absen mengikuti seminar yang diselenggarakan AOTA atau American Organ Transplant Association yang mana uang hasil seminarnya digunakan untuk penggalangan dana bagi penderita kurang mampu yang membutuhkan donor organ. “Tumben, kamu selalu ikut aktif di semua acara AOTA, apalagi seminarnya.” Christy mengerjap keheranan. Rinka merengut murung, “Aku sedang kesulitan finansial sejak berhenti bekerja parttime. Alasan kenapa ada laki-laki yang tinggal di apartemenku karena bulan ini aku hanya membayar setengah dari uang sewanya dan Nyonya Rachel seenaknya menyuruhku berbagi ruangan dengan seorang pria,” jelasnya, berharap Christy mengerti kondisi dompetnya yang hampir sekarat. “Wanita itu gila! Bagaimana mungkin dia menyatukan laki-laki dan perempuan asing di apartemen yang sama?” Christy menyahut tidak terima. “Aku juga marah, tapi aku tidak bisa apa-apa karena itu hak Nyonya Rachel sebagai pemilik apartemen,” keluh Rinka seraya menghela napas pasrah. “Dan kamu benar-benar tidur di sana dengan pria itu?” Rinka menggeleng, “Tidak, aku tidur di rumah sakit.” Christy mengerutkan kening, “Tapi asrama rumah sakit hanya diperuntuhkan untuk pegawai, lalu di mana kamu tidur?” “Di ruang kerjaku, di lantai.” Rinka memperjelas keadaannya yang semakin membuat Christy mengasihaninya. “Maaf, aku tidak bisa membantumu menyediakan tempat tinggal karena aku tinggal bersama suamiku. Tapi mungkin ini bisa sedikit membantumu.” Christy mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. Rinka terkejut, sedikit dia bilang?! Melihat dari jumlah uangnya, itu bukan nominal yang sedikit. Rinka tentu saja tidak bisa menerima uang pemberiannya. “Tidak perlu kak! Aku tidak suka menerima uang dari orang lain secara cuma-cuma.” Rinka mendorong uang itu kembali, tidak ingin menerima uang Christy. “Tapi kamu membutuhkannya untuk bertahan hidup,” kata Christy, wanita itu memang sangat baik sejak Rinka mengenalnya di AOTA. Mereka mulai berteman karena sering terlibat acara dan seminar yang sama sehingga memutuskan berteman baik sampai sekarang meskipun sejak Christy menikah dan pindah ke Asheville mereka sudah jarang bertemu. “Aku masih bisa bertahan hidup karena setiap hari mendapat makanan gratis.” Rinka menunjuk piring makanan kantin yang sudah habis. “Oh ya, aku dengar kamu naik pangkat karena jadi suster kesayangan naratetama. Beritamu bahkan masuk ke grup chatting alumni angkatanku di JH University.” Mata Rinka terbelalak mendengar cerita Christy, secepat itukah gosip tersebar bahkan ke angkatan alumni senior juga?! “Tenang saja, teman-temanku meresponnya dengan memberimu pujian. Mereka percaya kamu mendapat kesempatan itu karena kemampuanmu, kamu kan juga salah satu mahasiswa berprestasi di JH,” ujar Christy, meredakan kekhawatiran Rinka yang takut ia akan disebut wanita simpanan orang kaya seperti kejadian sebelumnya. “Aku juga tidak menyangka akan dipilih menjadi suster pribadi Mr.Dom,” sahut Rinka, bicara tentang Dominic, ia sontak melihat jam tangan dan hampir saja melewatkan jadwal pemeriksaan dokter pagi ini. “Oh astaga! Aku lupa sebentar lagi Mr.Dom ada pemeriksaan dokter. Maaf kak Christy, lain kali aku akan berkunjung ke rumahmu untuk mengobrol lebih banyak. Sekarang aku harus bekerja,” kata Rinka dengan panik. Christy mengangguk paham. “Karena kamu tidak mau menerima uang pemberianku, uangnya akan kupakai untuk mendaftarkanmu ke seminar. Kita bisa bertemu di seminar nanti, jadi jangan lupa datanglah di hari Sabtu!” Rinka tidak sempat membantah walau ia merasa sungkan karena menggunakan uang seniornya. “Baiklah kalau begitu, aku akan datang. Terima kasih kak Christy, setelah punya uang nanti aku akan mengembalikannya.” “Jangan pikirkan itu, sudah sana cepat pergi sebelum pasien naratetamamu marah,” gurau Christy. “He’em, bye-bye kak… terima kasih sudah datang untuk memberitahuku.” “Karena kamu tidak bisa dihubungi jadi aku datang ke sini.” Christy mengedikkan bahu, sedangkan Rinka meringis teringat ponselnya yang masih rusak, “Handphoneku rusak.” “Sudah ya, aku pergi kak…” Setelah berpamitan untuk yang kedua kalinya, Rinka akhirnya pergi terburu-buru menuju ruangan Dominic. ◄••❀••► Syukurlah Rinka datang tepat waktu bersamaan dengan dokter Charles. Pemeriksaan pun berjalan lancar seperti biasanya, dan setelah dokter Charles pergi Rinka menggunakan kesempatan itu untuk minta izin pergi ke seminar besok Sabtu karena Christy akan mendaftarkannya. “Mr.Dom apa boleh saya mengambil libur setengah hari besok Sabtu? Saya ada seminar yang harus diikuti,” izin Rinka. “Boleh,” jawab Edward. Semudah itukah? Rinka tidak percaya Dominic akan mengizinkannya libur tanpa syarat. Senyum di bibir Rinka perlahan muncul, ia senang karena belum mendapat libur sama sekali sejak menjadi suster pribadi Dominic, walaupun hanya setengah hari tapi Rinka sudah sangat bahagia. “Terima kasih Mr.Dom!” “Kamu naik apa ke sana?” Rinka terbengong ketika Dominic melayangkan pertanyaan tidak terduga. Rinka sontak ikut berpikir. Benar juga, ia naik apa ke sana? Lokasi seminarnya cukup jauh dan tidak bisa dijangkau hanya dengan naik bus umum, Rinka harus naik Taxi jika ingin sampai di depan gedung seminar tapi ia cukup sadar sisa uangnya tidak sebanyak itu dan bisa boros kalau dipakai membayar Taxi. Kenapa ia baru memikirkannya sekarang?! Christy pasti sudah mendaftarkannya dan Rinka juga bilang akan datang padahal uangnya sudah mepet dan akan terbuang sia-sia untuk membayar transportasi. “Pakai saja mobilku, biar supir yang mengantarmu ke sana.” Ucapan Dominic membuyarkan lamunan frustasi Rinka. Apa wajah tidak punya uangnya terlihat jelas hingga Dominic menawarkan bantuan? Rinka menunduk lemas, rasanya hidupnya sekarang selalu bergantung pada pria itu. “Tidak perlu Mr.Dom saya naik Taxi saja,” Rinka menolak dengan sopan. Dominic mengangkat sebelah alisnya, “Memangnya kamu punya uang?” Tentu saja tidak, Rinka tidak bisa mengambil parttime juga karena pria itu. Tapi Rinka tidak mungkin berbagi masalah keuangannya dengan Dominic. “Aku masih punya banyak tabungan.” Rinka tersenyum lebar agar kebohongannya lebih meyakinkan, padahal dompetnya sedang menjerit minta diisi. “Ya, kamu pasti punya banyak tabungan karena selalu bekerja-keras.” Dominic mengangguk-anggukan kepala dan berhasil tertipu alasan Rinka yang sombong sekali mengatakan banyak uang sedangkan kenyataan berkata sebaliknya. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN