7 – PINDAH TEMPAT TINGGAL

1006 Kata
Rinka memutuskan pindah membawa beberapa pakaian, buku pelajaran yang ia perlukan, laporan proposal, laptop beserta tiga novell kesayangan yang belum sempat ia baca karena akhir-akhir ini sibuk. Setidaknya sampai Rinka melunasi uang sewanya karena ia tidak mungkin tidur satu atap dengan pria asing. Ciuman pertamanya sudah direbut Dominic, Rinka tidak mau keperawanannya ikut direnggut pria yang bukan suaminya. “Maaf Serra, asramanya sudah penuh.” Jawaban kepala asrama membuat Rinka terganga kaget. Bahunya seketika lemas, lalu di mana ia akan tinggal? Rinka menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11.30 pm. Tania mungkin mau menampungnya, tapi sekarang sudah larut malam dan tidak sopan jika berkunjung ke rumah malam-malam begini ditambah Tania tidak tinggal sendirian melainkan bersama kedua orang tuanya. “Mungkin masih ada tempat di asrama rumah sakit,” kata Rinka, teringat rumah sakit tempatnya magang menyediakan fasilitas asrama untuk pegawai lembur yang butuh istirahat dan tidak bisa pulang ke rumah karena mepet dengan jadwal shift berikutnya. “Maaf suster Serra, asrama ini hanya diperuntuhkan untuk pegawai resmi rumah sakit. Kamu masih mahasiswa magang di sini, jadi aku tidak berani melanggar peraturan itu meskipun sepertinya kamu sangat membutuhkan tempat tinggal.” Lagi-lagi Rinka ditolak. Ia sudah kehabisan ide untuk tidur di mana, dan hanya bisa duduk termenung di kursi panjang rumah sakit, menelungkupkan kepala ke atas kopernya sebagai tumpuan. Ting. Suara pintu lift terbuka menyita perhatian Rinka dan memberinya sebuah ide baru. Hanya Rinka suster yang punya akses masuk ke ruang VVIP di lantai lima, Dominic juga sudah tidur saat Rinka pulang tadi sehingga ia bisa menggunakan kesempatan itu untuk mengendap masuk dan menumpang tidur di sana. Rinka menekan tombol password setelah sampai di depan dinding pembatas kaca gelap, dan betapa gembiranya gadis itu ketika ia akhirnya memiliki tempat untuk tidur malam ini. Meski lagi-lagi ia harus mengandalkan Dominic Rykerth. “Masa aku tidur di lantai?” Rinka merengut melihat ruangan tempatnya bekerja, baru sadar hanya ada meja-kursi komputer, rak-rak berisi obat beserta dokumen medis milik Dominic Rykerth. Dilihat-lihat ruangannya sangat sederhana, berbanding terbalik dengan kamar inap Dominic yang sudah mirip hotel bintang lima dengan fasilitas dua ranjang untuk pasien dan keluarga yang merawat, ada juga satu set meja dan sofa, bahkan dapur mini untuk membuat minuman. “Tempat tidur milik Mr.Dom yang lain selalu kosong karena tidak pernah ada keluarga yang mengunjunginya. Apa aku tidur disitu saja ya?” Rinka menimbang-nimbang keputusannya. Ia sudah jauh-jauh kesana-kemari agar tidak tidur seatap dengan pria asing, tapi jika ia tidur di kamar inap Dominic bukankah itu akan sama saja? “Tidak mungkin! Bisa gawat kalau Mr.Dom bangun duluan dan melihat aku tidur di kamarnya.” Rinka menggeleng membayangkan wajah syok Dominic ketika bangun tidur. “Lebih baik aku tidur di lantai.” Karena tidak membawa selimut, Rinka akhirnya menggunakan pakaiannya sebagai alas dan tumpukan novelnya sebagai bantal untuk tidur di lantai ruangannya bekerja yang bersebrangan dengan kamar inap Dominic. ◄••❀••► “Hachihhhh! Hachihhh!” Karena semalam tidur di lantai Rinka jadi terkena flu hingga paginya tidak berhenti bersin. “Kamu sakit?” tanya Edward saat melihat Rinka memakai masker medis hari ini. “Maaf Mr.Dom saya hanya sedikit flu karena itu memakai masker agar tidak menularkan pada Anda,” jawab Rinka setelah meletakkan pil obat di meja yang akan diminum Dominic sesudah sarapan. “Aku tidak takut tertular, aku bertanya karena mengkhawatirkan kesehatanmu.” Rinka terdiam sesaat mendengar kepedulian Dominic. Jantungnya sudah mulai berdebar tidak karuan lagi tapi Rinka berusaha menjawab senormal mungkin. “Terima kasih, tapi saya baik-baik saja.” “Kamu sudah minum obat?” Edward bertanya seraya menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Ini pertama kalinya Rinka memerhatikan pria itu makan. Gerakan bibir Dominic saat mengunyah makanan entah kenapa terlihat begitu seksi hingga Rinka tanpa sadar menelan ludah. “Sudah, tadi saya sekalian minta obat ke farmasi saat mengambil obat Anda,” jawab Rinka tanpa mengalihkan tatapannya dari mulut Dominic. Mendadak teringat tekstur lembut bibir Dominic yang menciumnya tempo hari ini. “Kamu mau?” Rinka tersentak ketika Dominic menawarinya. “Ha? Mau apa?” Rinka bertanya polos. “Makanannya, memangnya kamu mau apa lagi?” Senyuman geli dari pria itu seakan meledek pikiran kotor Rinka sebelumnya. Sialan. Rinka menjerit dalam hati, merutuk sikap bodohnya. “Ti-tidak, terima kasih Tuan.” Rinka meringis, lebih baik ia segera pergi dari ruangan ini sebelum menjadi gila. “Kalau begitu, saya pergi dulu untuk menginput data di komputer mengenai perkembangan Anda. Pukul delapan nanti saya akan kembali saat pemeriksaan dokter,” pamitnya yang dibalas anggukkan kepala Edward. ◄••❀••► Malamnya, Rinka menatap lesu ke bawah lantai tempat tidurnya yang sudah mirip seperti tunawisma yang tidur di jalanan. “Huft… mau bagaimana lagi?” Rinka mengembuskan napas berusaha tabah lalu membaringkan tubuhnya ke lantai keras yang masih dingin padahal sudah Rinka lapisi kain bajunya. Gadis itu memeluk tubuhnya sebagai pengganti selimut seraya memejamkan mata, membayangkan sedang tidur di kasur empuk yang nyaman sampai akhirnya terlelap dalam buaian mimpi. Mimpi indah yang membuat pagi hari Rinka terasa berbeda, badannya tidak pegal-pegal lagi karena tidur di lantai yang keras, ia juga dapat selimut yang menghangatkan tubuhnya. Selimut? Mata Rinka seketika terbuka menyadari tubuhnya benar-benar terbalut selimut. Bukan hanya selimut, tapi ia juga tidur di kasur empuk. “Ha?” Rinka bangun terduduk sambil menatap ke sekeliling ruangan yang mirip kamar inap Dominic Rykerth. Lalu pandangannya berhenti ke Dominic yang masih tertidur di ranjang yang terpisah samping ranjang yang ditempati Rinka. “Bagaimana bisa aku tidur di sini?” Rinka bertanya bisik-bisik pada dirinya sendiri, lalu ingat ia punya kebiasaan sleepwalking saat masih kecil. “Jangan-jangan aku berjalan sambil tidur masuk ke ruangan ini,” Rinka meringis merutuki kebiasaan buruknya. Semoga saja Mr.Dom tidak melihatnya dan tidur nyenyak sepanjang malam. Dengan hati-hati Rinka turun dari ranjang tanpa menimbulkan bunyi sedikitpun kemudian merapikan kasurnya seperti semula agar Dominic tidak curiga ia sudah tidur di sana semalam. Rinka melihat jam dinding yang menunjukkan pukul empat pagi, syukurlah ia bangun sebelum Dominic karena keadaan bisa menjadi rumit saat ia terpergok tidur satu kamar dengannya. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN