6 – MELEWATI BADAI

1017 Kata
Rinka tampak fokus menyuntikkan obat melalui infus yang masuk ke aliran darah dalam tubuh Edward. Sejak Rinka datang, mereka berdua belum terlibat obrolan apalagi mengungkit kejadian yang terjadi di rooftop kemarin. Rinka sudah cukup sadar dengan tidak adanya pembahasan tersebut membuktikan ciuman itu tidak berarti apa-apa bagi pria tersebut. Rinka sudah tahu Dominic hanya iseng, tidak mungkin pria tampan dan kaya-raya sepertinya tertarik pada suster biasa seperti Rinka. Walau sebenarnya Rinka ingin marah padanya karena ciuman itu mencemarkan nama baiknya di kalangan pegawai rumah sakit. Sekaligus marah karena Dominic merenggut ciuman pertama yang seharusnya Rinka berikan pada calon suaminya di masa depan. “Suster Rinka,” panggil Edward tanpa memindahkan tatapan dari layar Ipadnya. “Ya Mr.Dom?” “Kurasa ada yang menunggumu di depan.” Edward membalik layar Ipadnya yang menampilkan kamera CCTV. Kening Rinka berkerut melihat beberapa orang berkumpul di depan pintu kaca pembatas ke ruang privasi Dominic. “Untuk apa mereka ke sini?” tanya Rinka sambil menatap ke arah Dominic yang mengedikkan bahu berpura-pura tidak tahu. “Entahlah, temui saja mereka,” perintahnya, kemudian Rinka berjalan keluar menghampiri beberapa pegawai termasuk Yovita yang sudah menunggu. “Suster Serra, aku minta-maaf.” Kalimat pembuka yang dilontarkan Yovita setelah Rinka datang cukup membuatnya terkejut. Bukan hanya Yovita, Toby dan dua pegawai resepsionis yang tadi pagi sempat mencemoh Rinka juga mengatakan hal serupa. “Well… aku tidak serius saat mengatakannya tadi pagi. Tolong maafkan aku,” ucap Toby. “Aku juga minta-maaf karena sudah mengataimu pelacurr,” sesal Audrey. Tidak hanya mereka, beberapa pegawai yang sempat membicarakan dan menghinanya di grup chatting juga meminta-maaf. Rinka kebingungan sampai kehilangan kata-kata, tidak tahu harus merespon apa karena mereka tiba-tiba datang meminta maaf bahkan rela bersimpuh di depan Rinka. Apa Tania melakukan sesuatu untuk membantunya? Batin Rinka. Tapi Tania hanya anak magang sama seperti Rinka sehingga tidak mungkin dia punya kuasa menundukkan semua orang yang sudah menghinanya. Ataukah ini ulah Dominic? Baru saja Rinka memikirkannya dan Dominic tiba-tiba sudah muncul di belakangnya. “Aku mendengar percakapan dengan temanmu tadi pagi di sini. Terima kasih karena sudah mencoba menutupinya demi kesehatanku, tapi tentu saja aku tidak bisa tinggal diam saat mengetahui kamu kesulitan karena ulahku.” Penjelasan Dominic seakan menjawab kebingungan Rinka saat ini. Pria itu kemudian berpaling menatap para pegawai yang kini gelisah karena ancaman dipecat. “Kalian sudah mendengarnya dari direktur kan? Semua pegawai yang mengganggu kenyamanan pasien, terutama pasien naratetama… dia akan dipecat.” Rinka melongo mendengar pernyataan Dominic yang mirip dewa kematian. Ancaman itupun semakin membuat semua pegawai di sana resah dan kembali memohon maaf pada Rinka. “Mr.Dom saya sudah memaafkan semuanya. Jadi tolong jangan pecat mereka!” pinta Rinka, ia tidak mungkin membiarkan para pegawai dipecat hanya karena dirinya. “Kenapa kamu masih peduli pada mereka yang sudah menghinamu?” tanya Edward. “Karena saya tahu sulitnya mencari uang.” Semua orang tertegun mendengar jawaban Rinka. “Selama ini saya bekerja keras membiayai kebutuhan hidup serta kuliah sendiri. Anda mungkin tidak mengerti karena sudah terlahir kaya sejak lahir, tapi bagi orang seperti kami mempertahankan pekerjaan sangatlah penting karena itu satu-satunya sumber keuangan yang kami miliki untuk bisa bertahan hidup.” Edward tidak percaya Rinka akan semudah itu memaafkan orang-orang yang sudah menghinanya hanya karena mereka punya nasib yang sama. Tapi Edward jadi tahu satu hal baru tentang gadis itu. Hidup Rinka ternyata tidak semudah yang Edward bayangkan. “Baiklah, aku akan bilang direktur agar tidak memecat mereka. Tapi apa kalian bisa berjanji tidak akan mengusik suster Rinka lagi?” “Kami janji tidak akan mengusik suster Serra lagi,” ucap para pegawai yang masih bersimpuh di sana. “Terutama kamu! Aku dengar kamu senior paling kejam yang suka menindas suster lain, kamu juga orang yang sudah menyebarkan foto itu ke grup chatting.” Edward menunjuk wajah Yovita dengan berang. “Tolong maafkan saya Tuan. Saya berjanji akan bersikap lebih baik ke semua orang, terutama pada Serra. Saya juga berjanji tidak akan mengganggunya lagi.” Yovita bersujud ke lantai memohon belas kasihan agar tidak dipecat. “Bagaimana menurutmu suster Rinka?” Edward meminta pendapat pada Rinka. “Meskipun kak Vita sering marah dan memerintahku, tapi dia berhak diberi kesempatan,” jawab Rinka. Mereka akhirnya memutuskan menyelesaikan masalah ini secara baik-baik tanpa ada satupun pegawai yang dipecat, dan semua itu berkat kebaikan hati Rinka yang mau memaafkan mereka. ◄••❀••► Meskipun awal harinya buruk, tapi setidaknya masalahnya bisa selesai hari ini juga berkat bantuan Dominic. Rinka sontak merasa posisinya lebih spesial daripada pegawai lain karena memiliki bekingan pasien naratetama. Walau posisi spesial itu tak lantas menjadikannya orang beruntung, karena finansial Rinka bermasalah semenjak menjadi suster 24 jam Mr.Dom dan sekarang Rinka harus mengatur ulang jadwal magang dan bekerja agar keuangannya tetap stabil. “SIAPA KAMU?!” Rinka berjingkat kaget begitu melihat ada seorang pria di dalam apartemennya. “Pemilik apartemen belum memberitahumu?” Bukannya menjawab, pria itu malah balik bertanya pada Rinka. Rachel mungkin mengiriminya pesan tapi Rinka baru ingat kalau handphonenya rusak karena tadi pagi tidak sengaja jatuh ke lantai. “Ponselku rusak, jadi aku tidak bisa membaca pesannya.” Pria itu akhirnya menelepon Rachel menggunakan handphonenya, kemudian menyerahkan benda tersebut ke tangan Rinka setelah Rachel mengangkat telepon. “Nyonya Rachel, kenapa ada pria di apartemenku?” tanya Rinka seraya melirik ke pria asing yang tampak sibuk makan mie instan buatannya, terlihat cuek dan sama sekali tidak terganggu dengan keberadaan Rinka. “Dia butuh tempat tinggal, dan kebetulan kamu hanya membayar setengah dari uang sewa bulan ini jadi kamu harus berbagi tempat dengan pria itu sampai kamu bisa membayar lunas uang sewanya,” jawab Rachel yang langsung mematikan telepon untuk menghindari perdebatan dengan Rinka. Rinka melongo mendengar peraturan Rachel yang dibuat tanpa seizinnya. Wanita itu pasti sudah gila karena menyatukan seorang perempuan dan laki-laki asing di satu apartemen yang sama. Ya Tuhan… Rinka kira masalah hari ini sudah berakhir, tapi ternyata ia harus melewati satu badai lagi. Kali ini siapa yang bisa membantunya mengusir pria asing itu? Tidak ada. Rinka hanya punya bekingan saat bekerja di rumah sakit, di luar itu—seperti biasanya… ia harus menghadapi semuanya sendirian. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN