5 – KESAYANGAN NARATETAMA

1011 Kata
Rinka baru selesai mandi lalu berganti seragam, siap akan berangkat kerja dan berharap hari ini berjalan lebih baik daripada kemarin. Namun awal harinya sudah buruk ketika Rinka kedatangan Rachel atau pemilik apartemen tempat tinggal Rinka. “Maaf Nyonya, sepertinya bulan ini saya hanya bisa membayar setengah dulu.” Rinka menggigit bibir bawah gelisah, takut Rachel akan marah seperti tempo hari ketika menagihnya uang sewa. “Yasudah tidak apa, cepat transfer uangnya!” Meskipun terpaksa, tapi Rinka lega wanita itu bersedia meringankan sedikit bebannya. Rinka mengotak-atik ponselnya membuka m-banking untuk mentransfer uang sewa ke rekening atas nama Rachel Vivienne. “Sudah selesai.” Rinka menunjukkan bukti transfer pada Rachel yang mengangguk puas, kemudian pamit pergi. Setelah menutup aplikasi m-banking, jemari Rinka membuka aplikasi chat untuk mengecek info rumah sakit karena kemarin ia tidak sempat menyimak grup chat karena ketiduran setelah lelah bekerja seharian. Harapan tentang semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin pupus seketika membaca isi chat di grup. Rinka terkejut mereka membicarakannya secara terang-terangan, mengira Rinka tidak ada di grup yang hanya diperuntuhkan untuk pegawai resmi JH Hospital. Padahal sejak menjadi suster pribadi Dominic—Mrs.Ella sudah menambahkannya ke grup untuk memudahkan Rinka berkoordinasi dengan pegawai lain menyangkut perawatan kemoterapi Dominic. Pembicaraan itu bermulai dari foto yang Yovita kirim kemarin malam, foto Rinka sedang berciuman dengan Dominic. Wajah mereka tidak terlihat jelas karena foto itu diambil dari jarak jauh, namun Yovita memberi keterangan secara jelas di bawah foto tersebut. “Suster magang Serraphina Rinka Edelweis menggoda pasien VVIP Dominic Rykerth dan mereka melakukan ciuman di rooftop.” Ponsel digenggaman Rinka jatuh ke lantai dan terpisah dari baterainya yang melompat keluar, namun Rinka tidak memedulikan benda tersebut karena pikirannya sudah penuh dengan ketakutan akan masuk kerja. “Bagaimana reaksi mereka saat melihatku nanti? Mereka pasti berpikir aku seorang pelacurr yang sengaja mengambil keuntungan dari pria kaya,” Rinka bergumam resah. Ia belum pernah membuat kehebohan selama hidupnya karena Rinka tidak suka menjadi pusat perhatian. Lalu sekarang ia tiba-tiba saja terkenal sebagai suster kesayangan naratetama. “Wow… lihat siapa yang datang? Suster kesayangan naratetama rumah sakit kita!” teriak Toby. Rinka tidak tahu kenapa kesialan bertubi-tubi menimpanya hari ini. Padahal Rinka sudah mencari jalan yang jarang dilewati pegawai rumah sakit namun ia malah bertemu senior laki-lakinya yang suka iseng. Toby merangkul bahu Rinka dari samping, lalu menyeretnya agar berjalan bersama. “Dibalik wajah polos ini ternyata kamu cukup liar juga. Jadi bagaimana rasanya jadi suster kesayangan pasien VVIP kita? Rumornya dia sangat tampan, wajar saja sebagai wanita kamu mau memberikan tubuhmu.” Rinka menepis rangkulan Toby lalu melempar tatapan tajam. “Aku tidak memberikan tubuhku padanya!” Kemarahan Rinka sama sekali tidak berefek pada Toby yang semakin tersenyum lebar ke arahnya. “Oh ya? Mungkin sekarang belum, tidak tahu nanti,” jawabnya sambil mengedikkan bahu santai. Menjelaskan ke pria seperti Toby hanya akan berakhir sia-sia, maka Rinka memilih pergi menjauhinya. “Hei! Kau mau kemana? Fingerprint-nya ada di sebelah sini, kamu mau dihukum karena melewatkan absensi kehadiran?” Toby berteriak dan Rinka hampir saja lupa ia belum check log. Terpaksa Rinka memutar arah lagi, dan menempelkan sidik jarinya dengan cepat sebelum kembali berjalan menghindari Toby yang hanya terkekeh melihat kepergiannya. “Selamat pagi suster kesayangan naratetama.” Pegawai resepsionist yang bertugas di meja pelayanan menyapanya sarkas. Rekan resepsionis yang duduk di sebelahnya bernama Audrey ikut menimpal seraya menatap Rinka jijik, “Dasar anak tidak tahu diri! Tugasmu adalah merawat Mr.Dom bukan menjadi pelacurnya.” Rinka mengabaikan hinaan tersebut dengan berlalu tanpa repot-repot menoleh ke arah mereka yang samar-samar dapat Rinka dengar menghinanya ‘anak sombong’. Tidak hanya pegawai resepsionist, semua pegawai yang tidak sengaja berpapasan dengannya di lorong juga menatap dan mencemohnya dengan cara yang kurang lebih sama. Meski sakit hati, namun Rinka berusaha melupakan semua itu karena hanya dirinya sendiri yang tahu bahwa ia tidak seperti yang dipikirkan orang-orang. Saat Rinka sampai di lantai lima tempat Dominic dirawat, gadis itu terkejut melihat Tania berdiri di depan pintu kaca gelap yang hanya diperuntuhkan orang-orang tertentu untuk bisa mengakses masuk ke dalam karena ruangan itu sudah menjadi hak privasi Dominic Rykerth. “Tania, ada apa?” Rinka berdiri di hadapan Tania yang memandangnya khawatir. “Kamu baik-baik saja? Aku mendengar rumor yang buruk tentangmu.” Meskipun mereka bukan teman satu universitas, tapi Tania selalu peduli padanya sejak mereka masuk magang bersamaan. Rinka memeluk Tania dan menangis di bahunya. “Aku juga tidak tahu kenapa semua orang menuduhku yang tidak-tidak.” Rinka hanya bisa mengeluh ke Tania yang mengusap punggungnya. “Jadi foto itu tidak benar? Penampilannya memang mirip dirimu, tapi wajahnya tidak terlihat.” Rinka melepas pelukan lalu menatap Tania murung sebelum mengutarakan pembelaan, “Itu memang aku, tapi aku tidak pernah menggoda Mr.Dom. Dia yang mulai menciumku duluan.” “Kalau begitu, itu pelecehan! Kau harus melaporkannya ke Mrs.Ella!” Tania menarik pergelangan tangan Rinka membawanya ke ruangan Mrs.Ella. Akan tetap Rinka menahannya dan menggeleng. “Kurasa dia tidak berniat melecehkanku,” katanya, tidak berpikir Dominic sejahat itu sehingga memiliki niat buruk padanya. “Tapi dia menciummu tanpa izin,” Tania menjawab dengan ekspresi bingung. “Karena dia juga kamu menjadi bahan pembicaraan semua pegawai rumah sakit! Nama baikmu sudah tercemar karena foto yang disebarkan kak Vita,” imbuh Tania, meyakinkan Rinka agar melapor demi membersihkan nama baiknya. “Penyakit Mr.Dom sangat parah, aku tidak ingin menambah bebannya karena masalah ini. Bagi seorang suster sepertiku, kesehatan pasien adalah yang utama jadi biarlah orang-orang mau menganggapku apa.” Rinka tersenyum seraya menggenggam kedua tangan Tania. “Terima kasih karena sudah peduli padaku Tania, aku sangat senang masih ada orang yang tidak mengolok-olokku seperti yang lainnya.” “Meskipun kita baru kenal saat magang, tapi aku percaya kamu tidak seburuk yang mereka bicarakan. Semangat Serra! Kamu gadis yang kuat, aku yakin kamu bisa melewati semua ini.” Tania mensupportnya. Mata Rinka berkaca-kaca, dukungan Tania seolah memberi kekuatan besar pada Rinka yang kini kembali percaya diri. “Tentu saja, aku pasti bisa bertahan!” Rinka menyemangati dirinya sendiri, kemudian berpelukan lagi bersama Tania sebelum akhirnya mereka berpisah karena harus pergi bekerja ke ruangannya masing-masing. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN