+62811xxx : hai Ta
+62811xxx : pa kabar?
Tata mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirim pesan. Dari nomor yang tidak dikenal.
“Ish! ganggu aja!” Tata meletakkan kembali ponselnya di meja.
+62811xxx : kok pesanku cuma dibaca aja?
+62811xxx : lagi sibuk ya?
“Ih …, ini orang dari tadi ngeganggu aja!"
"Kenapa lo Ta?" tanya Anne yang sempat mendengar samar gerutuan Tata.
"Gapapa."
"Eh lagi sibuk nggak?" tanya Anne.
"Nggak terlalu. Kenapa gitu?" tanya Tata.
Anne menarik kursi di hadapan Tata dan duduk. Dia memandang Tata sambil menimbang-nimbang sesaat.
"Gue mau nanya."
"Sok aja. Mau nanya apaan?" sahut Tata.
"Gimana hubungan lo sama Ivan?" Anne akhirnya melontarkan juga pertanyaan yang sudah mengganggunya sejak kemarin.
"Hah? Maksud lo?"
"Gue dari kemaren denger gosip kalo elo sama Ivan sekarang udah jadian. Beneran Ta?"
"Kata siapa? Ngasal banget bikin gosip!" tukas Tata.
"Oh …, jadi boong toh."
"Ya iyalah," sahut Tata sedikit kesal.
"Nggak usah pake sewot gitu juga kali Ta."
"Nggak sewot Ne. Cuma nggak suka aja sama orang yang iseng banget bikin gosip kayak gitu."
"Iye. Marahnya jangan ke gue dong. Gue kan juga cuma denger," protes Anne.
Tata meringis mendengar protes Anne.
"Sori deh."
Anne menatap lama pada Tata. Dia merasa ada sesuatu pada sikap Tata yang selalu dingin terhadap lawan jenis.
"Eh tapi Ta, gue penasaran ma elo. Kenapa sih kok elo dingin amat ke Ivan? Elo nggak suka sama dia?"
"Nggak tau Ne."
"Elo pernah disakitin ma cowok ya Ta?" tembak Anne.
Tata terdiam. Dan Anne melihat Tata yang biasanya tenang menjadi sedikit gugup.
"Eh Ne, gimana perkembangan Rio di kelas? Ada perubahan nggak sejak konseling dan menjalani terapi?" Tata mengubah topik pembicaraan.
"Lumayan Ta. Sekarang udah nggak terlalu emosi dan udah mulai bersikap baik sama anak-anak yang lain, terutama ke Michael."
"Bagus dong. Berarti usaha Miss Maya dan Miss Becky nggak sia-sia."
"Itulah sebabnya kenapa gue suka kerja di sini. Para atasan nggak cuma diem aja kalo ada anak yang memiliki masalah," ujar Anne.
"Ne, gue mau ke ruang TU dulu. Elo gue tinggal di sini gapapa kan?"
Anne tidak mendesak Tata lagi. Dia mencoba memahami situasi temannya. Dan sedikit banyak menjadi iba dengan Tata. Ternyata di balik sikap tenang dan ceria yang selalu ditampilkan, temannya menyimpan sebuah luka yang tidak ingin orang lain tahu.
"Nggak ah. Mending gue balik ke kelas, ada tugas anak yang belum selesai gue koreksi."
"Kalo gitu gue keluar dulu ya."
Tanpa menunggu jawaban dari Anne, Tata beranjak dari kursi.
"Miss Silvi, saya tinggal dulu ya." Tata pamit pada Silvi yang mejanya agak jauh dari meja Tata.
"Iya Miss," sahut Silvi.
"Sori ya Ne," gumam Tata sambil berjalan meninggalkan perpustakaan.
Tata sebenarnya hanya ingin melarikan diri dari situasi yang tidak membuatnya nyaman berjalan tanpa arah di lorong kelas.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Tata mengeluarkan ponsel dari saku celana dan melihat siapa yang meneleponnya. Dari nomor tidak dikenal yang tadi mengirim pesan.
Karena penasaran, Tata menjawab juga telepon tersebut.
"Halo," ujar Tata.
"Akhirnya kamu angkat telepon aku juga Ta." Terdengar suara pria di seberang. Terdengar familiar, tetapi Tata tidak ingat.
"Ini siapa?"
"Aldi, Ta."
"Dapet nomor saya dari mana?" tanya Tata dengan nada suara kaku.
"Dari Tante Rita."
"Kok bisa?"
"Sori Ta. Aku minta tolong sama Mama buat minta nomor kamu ke Tante Rita."
"Mau apa telepon?"
"Kamu udah makan siang?"
"Saya tanya kamu mau apa telepon?"
"Mau denger suara kamu Ta. Jujur aku kangen sama kamu."
Tata terdiam sebentar sebelum menjawab.
"Maaf, saya lagi banyak kerjaan. Teleponnya udahan dulu ya."
"Oh sori kalo aku ganggu. Tapi tolong simpan nomor aku ya."
"Hm."
"Makasih Tata."
"Sama-sama."
"Ish!" gerutu Tata.
"Miss Tata!"
"Eh kamu Cath. Baru pulang?"
"Iya Miss."
"Gimana hari ini? Semua oke?"
"Oke dong," ujar Cathy sambil tersenyum manis.
"Kamu ngegemesin banget sih," ujar Tata sambil mengacak-acak rambut Cathy.
"Siapa dulu dong Miss nya?"
"Eh?"
"Kan aku anaknya Miss Tata."
Tata meringis mendengar jawaban polos Cathy.
"Kamu ada perlu sama Miss?"
"Iya Miss."
"Mau ngobrol?" tanya Tata. Cathy mengangguk.
"Di taman aja ya. Di perpustakaan kan ada Miss Silvi."
"Siap," ujar Cathy.
Tata menggandeng tangan Cathy. Mereka berjalan menuju taman melalui arah depan.
"Oke. Sekarang kamu mau ngomong apa?" tanya Tata setelah mereka duduk di kursi.
"Nggak ada sih," ujar Cathy ragu.
"Terus?"
"Cathy kangen aja sama Miss. Pengen duduk berduaan lagi kayak gini," ujar Cathy tanpa berani menatap mata Tata.
"Kamu ada masalah apa Cath?"
"Nggak ada Miss."
"Mulai nggak jujur sama Miss?"
"Nggak gitu Miss …." Perlahan mata Cathy mulai berkaca-kaca.
"Sini." Tata menarik Cathy agar mendekat padanya.
Tata memeluk Cathy sambil mengusap lembut rambut anak itu.
"Keluarin semuanya Cath. Nggak baik nyimpen masalah di hati. Kalau dengan menangis hati kamu jadi plong, menangislah."
Mendengar suara lembut Tata dan diperlakukan dengan penuh kasih, tangis yang sejak tadi ditahan oleh Cathy akhirnya bobol juga.
"Mama punya pacar baru Miss," ujar Cathy sambil terisak.
Tata terdiam mendengar jawaban Cathy. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara.
"Udah seminggu Mama nggak pulang Miss," ujar Cathy di sela isakannya.
"Terus kamu di rumah cuma sama Mbok?" tanya Tata. Cathy mengangguk.
“Ke sekolah sama siapa?” tanya Tata.
“Pak Atmo masih anter jemput Miss.”
"Papa kamu tau?" tanya Tata. Cathy menggeleng.
"Kenapa nggak bilang sama Papa?"
"Kalo bilang, nanti Cathy dibawa ke rumah Papa."
"Kenapa nggak mau di rumah Papa?" tanya Tata hati-hati.
"Aku nggak mau ninggalin Mama, Miss."
Deg! Jawaban yang sangat sederhana, tetapi sangat menyentuh hati. Tata teringat kembali pertemuannya dengan Cathy setahun yang lalu.
Akibat perceraian orang tuanya dan ibu yang selalu berganti pasangan membuat Cathy menjadi anak yang tertutup dan tidak percaya diri. Serta menganggap orang lain selalu membicarakan dirinya.
Bukan tugas yang mudah untuk menolong Cathy bangkit dari keterpurukannya. Namun dengan kesabaran, Tata perlahan dapat mendekati anak itu. Sedikit demi sedikit kepercayaan diri Cathy mulai tumbuh. Dan pada akhirnya anak itu dapat menerima kenyataan.
“Cath,” panggil Tata.
“Iya Miss.”
"Kalo Miss boleh tau, Cathy maunya gimana?”
“Cathy nggak tau Miss.”
Tata menarik Cathy ke dalam pelukannya.
“Kalo Miss jadi aku, Miss akan gimana?”
“Kamu mau jawaban jujur?” Cathy mengangguk dalam pelukan Tata.
“Kalo jadi kamu Miss akan memilih tinggal sama papa.”
Tata merasakan gerakan protes Cathy. Namun, Tata harus mengatakan semua, agar anak ini mengerti.
“Jangan bantah Miss dulu, bisa?”
“Iya Miss,” jawab Cathy.
“Kamu perlu ada orang tua yang mengawasi dan melindungi. Untuk saat ini mama kamu belum bisa ngasih itu. Pergi meninggalkan mama kamu kan bukan berarti kamu nggak bisa ketemu lagi. Ini demi kebaikan kamu.”
“Tapi aku nggak enak sama istri Papa Miss.”
“Miss paham. Tapi sejauh yang Miss tau, Tante Gina itu sayang dan peduli sama kamu.”
“Terus kalo aku tinggal sama Papa, Mama gimana?”
“Kenapa kamu nggak coba dulu tinggal sama Papa untuk beberapa waktu? Terus kita lihat reaksi Mama. Setelah itu baru kita tau mesti gimana.”
“Iya Miss.”
“Emang kamu nggak kangen sama papa?”
“Kangen sih. Sama Tante Gina juga kangen.”
‘Ya kalo gitu nggak masalah kan.”
“Tapi gimana kasih tau Papa? Miss mau tolongin?”
“Harus Miss?”
“Iya. Karena Papa percaya sama Miss.”
“Nggak enak buntutnya ih.” Tata pura-pura menggerutu.
Cathy terkekeh mendengar perkataan Tata. Hatinya sudah lebih lega sekarang.
“Terus kapan Miss mau bilang sama Papa?”
“Kamu mau kapan ke rumah papa?” Tata balik bertanya.
“Kalo boleh secepatnya. Aku kesepian di rumah cuma berdua sama Mbok.”
“Oke. Sekarang kamu pulang dulu. Tunggu kabar dari Miss atau papa ya.”
“Iya Miss.”
Tata duduk termenung sendirian di taman. Apa yang sempat dia takutkan akhirnya terjadi juga. Sejak awal Tata sudah ragu kalau Mieke akan mengurus Cathy dengan baik. Dan ternyata kekhawatirannya sekarang terbukti.
“Duh masa mesti gue sih yang ngubungin bokapnya Cathy,” gerutu Tata. “Tapi kalo gue nggak ngomong, kasian Cathy.”
Tata mengacak-acak rambutnya dengan gemas. Namun, pada akhirnya Tata menghubungi Rinto dan meminta untuk bertemu sekitar pukul lima sore.
***
Pukul setengah lima, Tata tiba di kafe yang menjadi tempat pertemuan dirinya dengan Rinto. Tata sengaja memilih meja di pojok supaya dapat berbicara dengan tenang. Tata juga sudah memberitahu Becky, dan sudah mendapat ijin dari Tantenya.
“Miss Tata,” sapa Rinto yang baru saja tiba.
Tata bergegas berdiri dan menerima jabatan tangan Rinto.
“Selamat sore Pak.”
Setelah saling bersalaman, mereka duduk di kursi masing-masing dan saling berhadapan.
“Saya terlambat ya?” ujar Rinto.
“Oh, nggak Pak. Saya yang datangnya terlalu cepat,” sanggah Tata.
Rinto tertawa mendengar bantahan Tata.
“Miss mau minum apa?” tanya Rinto sambil melihat-lihat buku menu.
“Strawberry Smoothies aja Pak.”
“Oke.”
“Boleh saya tau kenapa tiba-tiba Miss meminta bertemu?” tanya Rinto setelah selesai memesan.
“Sebelumnya saya minta maaf kalau dianggap lancang Pak,” ujar Tata membuka percakapan.
“Nggak masalah Miss. Karena saya tau Miss peduli dan sayang sama Cathy. Saya juga tau alasan Miss meminta bertemu pasti ada hubungannya dengan Cathy.”
“Kapan Bapak terakhir kali kontak sama Cathy?”
“Seminggu yang lalu dan semua baik-baik aja. Ada apa sebenarnya Miss?” Terdengar nada khawatir dalam suara Rinto.
“Apa Bapak tau keadaan Cathy sekarang?”
“Saya belum sempat telepon lagi Miss. Tapi di chat, dia selalu bilang semua baik-baik aja.”
“Berarti Bapak belum tau kalau mamanya sudah seminggu belum pulang ke rumah?”
Pelayan datang membawakan pesanan mereka. Dan itu memberi Tata cukup waktu untuk menilai Rinto.
“Nggak juga Miss,” jawab Rinto lesu.
Tata diam. Dia sengaja memberi waktu bagi Rinto untuk berbicara.
“Saya pernah ditelepon sama Mieke sekitar sepuluh hari yang lalu. Dia bilang sudah tidak mau lagi mengurus Cathy karena sudah menemukan belahan hatinya. Saat itu saya berpikir Mieke hanya sedang mabuk seperti yang biasa dia lakukan. Jadi saya tidak menanggapi ucapannya.”
Tata menarik napas panjang dan membuangnya dengan keras. Ingin membuang sesak di dadanya mendengar perkataan Rinto.
“Kalau saya boleh tau, kenapa Miss Tata bisa tau?”
“Tadi Cathy datang pada saya dan menceritakan mamanya sudah seminggu belum pulang. Dan sejujurnya saya yang menyarankan dia untuk sementara waktu tinggal dengan Bapak. Dan tujuan saya ingin bertemu ya untuk memberitahu Bapak kalau Cathy setuju untuk tinggal bersama Bapak.”
”Miss serius? Cathy setuju tinggal sama saya?” tanya Rinto tidak percaya.
“Iya Pak. Dan kalau bisa tolong secepatnya dijemput.”
“Baik Miss. Setelah ini saya akan langsung jemput dia,” ujar Rinto bersemangat.
“Saya titip Cathy Pak. Tolong jaga dan perhatikan dia dengan sungguh-sungguh. Karena kejadian ini pasti membuat dia sedikit terpukul. Dan saya tidak tahu akan seperti apa reaksinya jika mengetahui mamanya tidak akan kembali.”
“Baik Miss. Saya akan lakukan yang terbaik buat Cathy.”
“Saya percaya Pak,” ujar Tata tulus.
“Terima kasih banyak Miss. Terima kasih karena sudah sayang dan peduli pada anak saya.”
“Sama-sama Pak. Kalau begitu saya pamit dulu Pak. Ini sudah malam,” ujar Tata.
“Sekali lagi terima kasih banyak Miss.”
“Sama-sama Pak.”
Tata baru saja berdiri ketika dia melihat Jericho sedang menatapnya dengan tatapan tajam dan dingin. Namun, Tata tidak menghiraukan Jericho dan berjalan meninggalkan kafe dengan langkah kaki yang terasa ringan.
Tanpa Tata sadari, Jericho terus menatapnya dengan tajam dan tersenyum sinis sambil bergumam, “Dasar! Semua perempuan sama saja! Hanya mengejar harta! Tidak terkecuali kamu!”