Tidak terasa sekolah sudah berjalan selama dua bulan lebih. Miki juga mulai menunjukkan perubahan yang baik. Di kelas, Miki sudah mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Anne, juga mau untuk mengerjakan soal di papan tulis jika diminta oleh Anne.
"Heh tukang ngadu!" seru Rio pada Miki yang sedang berada di dalam toilet.
Miki yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihat Rio dan Jordan yang berdiri di depan toilet.
"Kamu mau apa?" tanya Miki.
"Suka-suka gue!" sahut Rio sambil mendekati Miki.
"Minggir! Aku mau keluar."
"Nggak akan gue ijinin sebelum gue bales semua perbuatan elo ke gue!"
"Emang aku ngapain?"
"Gara-gara elo, sekarang Dilan nggak mau temenan lagi ma gue!" Rio mendorong bahu Miki dengan keras.
"Kenapa jadi aku yang disalahin?!" bantah Miki
"Kan elo yang menghasut Dilan! Dan gue nggak suka liat dia sekarang deket sama elo!"
"Minggir!" ujar Miki berusaha melewati Rio.
Bukannya memberi jalan untuk Miki, Rio dengan sengaja malah mendorong Miki hingga membentur wastafel di belakangnya.
"ADUH!" seru Miki.
Rio menyeringai melihat Miki yang mengaduh kesakitan. Dia menghampiri Miki dan langsung melayangkan tinjunya ke wajah Miki.
"Rasain nih!"
Miki yang belum siap langsung terkena hantaman tinju Rio di wajahnya.
"AW!" teriak Miki.
"Rio!" ujar Becky dengan suara dingin.
Rio menoleh ke belakang dan terkejut melihat Becky yang berdiri di belakangnya bersama Dilan.
Rio menatap penuh kemarahan pada Dilan yang berdiri sedikit di belakang Becky.
Becky menatap Miki dan memeriksa sekilas keadaan anak itu.
"Michael kamu gapapa?" tanya Becky.
"Gapapa Miss," jawab Miki sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
Sambil terus menatap tajam kepada Rio, Becky mengeluarkan ponsel dari saku blazer dan menghubungi Tata.
"Miss Tata, tolong ke toilet anak-anak sekarang juga."
"Ya ampun!" seru Tata yang baru saja tiba di toilet.
"Maaf Miss," ujar Miki yang melihat kedatangan Tata.
"Kamu gapapa?" tanya Tata lembut sambil menghampiri Miki.
"Tolong bawa Michael ke UKS Miss. Saya akan ke kantor dengan Rio dan Jordan."
"Baik Miss."
"Ayo Mik kita ke UKS." Tata menggandeng tangan Miki dan membawanya keluar dari toilet.
"Kalian berdua, ikut Miss ke kantor!"
"Iya Miss," sahut Rio dan Jordan.
Becky berjalan di belakang Rio dan Jordan menuju ke ruang kepala sekolah.
"Duduk!" perintah Becky pada Rio dan Jordan setelah mereka tiba di kantor kepala sekolah.
Setelah itu Becky menghubungi Anne.
"Miss Anne, tolong ke kantor saya sekarang!"
"Baik Miss."
Anne yang sedang mempersiapkan kelas sebelum pelajaran dimulai, langsung meninggalkan kelas dan menuju ke ruang kepala sekolah. Anne mengetuk pintu ruangan.
"Silakan masuk Miss," ujar Becky.
Anne membuka pintu dan melangkah masuk. Namun, langkahnya langsung terhenti begitu melihat ada Rio dan Jordan yang sedang duduk di sofa.
"Kalian ngapain lagi?" tanya Anne melihat Rio dan Jordan di ruangan Becky.
"Mereka habis merudung Michael di toilet," sahut Becky.
"Ya ampun." Hanya kata itu yang mampu Anne ucapkan.
"Silakan duduk Miss." Becky mempersilakan Anne untuk duduk.
"Seperti yang sudah kita sepakati saat itu, berarti kali ini kita harus mengambil tindakan tegas terhadap Rio dan Jordan."
"Tapi apa nggak ada keringanan Miss?" tanya Anne.
"Apa Miss Anne mau menanggung resiko jika ada kejadian seperti ini lagi?"
"Jadi kita akan memanggil orang tua mereka lagi Miss?"
"Iya."
Anne menghela napas panjang membayangkan apa yang akan terjadi.
Terdengar bunyi bel masuk dari kejauhan.
"Rio, Jordan, kalian boleh ke kelas sekarang," ujar Becky.
"Miss nggak marahin kami?" tanya Rio sedikit menantang.
Becky tersenyum mendengar ucapan Rio. "Kalian tunggu di kelas ya. Kalau orang tua kalian sudah datang, baru Miss akan memanggil kalian lagi."
Rio dan Jordan meninggalkan ruangan dan berjalan menuju ke kelas.
"Terus Michael sekarang ada di mana Miss?" tanya Anne.
"Ada di UKS bersama Miss Tata."
"Ada yang luka Miss?"
"Sudut bibirnya luka, tapi saya belum dapat laporan dari Miss Tata. Semoga nggak ada luka yang lain."
"Ah lega dengernya. Kalo gitu saya ke kelas dulu Miss." Anne berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan Becky.
Sekitar setengah jam kemudian, Tata datang ke ruang kepala sekolah dan mengetuk pintu.
"Masuk!" ujar Becky dari dalam ruangannya.
"Tan," ujar Tata sambil masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa Ta?"
"Tata ijin mau anter Michael pulang, boleh?"
"Kenapa sama Michael?"
"Dia demam lagi Tan, dan menggigil kedinginan."
"Udah diperiksa di UKS?"
"Udah. Dan kata Miss Dian memang lebih baik dibawa pulang supaya bisa istirahat."
"Gimana keadaan Michael? Apa ada luka lain selain di sudut bibir?"
"Ada beberapa memar di siku tangan dan pinggang Tan."
Becky mengembuskan napas dan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Tante minta tolong urus Michael dulu Ta. Sekarang Tante lagi nunggu kedatangan orangtua tua Rio dan Jordan. Tante beneran nggak tau reaksi mereka akan seperti apa nantinya."
"Iya. Tante tenang aja, fokus dulu untuk urusan Rio dan Jordan. Biar Tata yang urus Michael."
"Makasih ya Ta."
"Kalo gitu Tata pergi dulu Tan. Urusan perpustakaan udah Tata titip ke Silvi."
"Makasih Ta. Kamu hati-hati ya."
"Iya Tan."
Tata berjalan meninggalkan ruangan Becky, kembali ke UKS.
Setibanya di UKS, Tata menghampiri Miki yang terbaring di dipan.
"Miki kita pulang ya," ujar Tata pada Miki.
"Nggak mau," ujar Miki.
"Kenapa nggak mau. Di rumah kan kamu bisa istirahat."
"Tapi kalo di rumah nggak ada Miss Tata," ujar Miki dengan raut wajah sedih.
"Kalo Miss yang anter pulang mau?"
"Mau," sahut Miki cepat.
"Ayo Miss anter pulang," ujar Tata sambil menopang punggung Miki supaya anak itu duduk.
"Pusing Miss," keluh Miki.
Tata membaringkan Miki di dipan dan berpikir sejenak.
"Miss panggil OB dulu ya supaya gendong kamu sampai ke depan."
"Mau sama Pak Beno aja Miss."
"Oke. Kalo gitu Miss panggil Pak Beno dulu. Kamu tunggu di sini."
Tata bergegas keluar dari UKS dan berjalan keluar. Dia mencari mobil Miki di seberang jalan di antara jejeran mobil yang terparkir.
Akhirnya Tata menemukan mobil Miki dan berjalan menghampiri mobil sedan hitam yang terparkir di bawah pohon.
"Pak Beno!” seru Tata sambil mengetuk jendela mobil.
"Ada apa Miss?" tanya Beno yang sudah membuka jendela mobil.
"Tolong bantu saya bawa Miki ke mobil."
"Kenapa sama Den Miki?" Beno langsung membuka pintu dan keluar dari mobil.
"Ceritanya nanti aja Pak. Sekarang kita ke ruang UKS dulu."
Tata berjalan terlebih dahulu, diikuti oleh Beno di belakang. Mereka bergegas menuju ke ruang UKS.
“Den Miki!” seru Beno sambil bergegas menghampiri Miki yang berbaring di dipan. “Aden kenapa?”
“Pusing Pak,” ujar Miki lesu.
“Aden sakit?” Beno menempelkan telapak tangannya di kening Miki. “Kok bisa demam lagi Den? Padahal tadi pagi gapapa.”
“Mau pulang sekarang Mik?” sela Tata. Miki menganggukkan kepalanya.
“Eh tunggu dulu! Itu bibir Aden kenapa? Aden berantem lagi?”
“Bukan begitu Pak.” Tata menyela Beno yang terlihat emosi.
“Terus kenapa Miss?”
“Pak, lebih baik kita bawa Miki pulang dulu. Nanti saya jelaskan di perjalanan.”
Dalam perjalanan menuju ke rumah Miki, Tata menjelaskan secara rinci kejadian yang menimpa Miki di sekolah.
“Oh jadi begitu ceritanya. Tapi kenapa yang namanya Rio nggak dapet hukuman dari sekolah? Ini tuh udah termasuk kriminal lho Miss,” ujar Beno.
“Iya. Bapak tenang aja. Pihak sekolah saat ini sedang menyelesaikan masalah ini. Kita tunggu kabarnya ya Pak.”
Mobil memasuki pekarangan rumah. Beno memang tidak memberitahu Ira. Karena itu Ira terkejut ketika mendengar dari petugas keamanan bahwa mobil yang dikendarai Beno sudah pulang. Ira bergegas keluar dari dapur.
“Oalah! Ada apa sama Den Miki No?!” seru Ira yang terkejut melihat Beno menggendong Miki masuk ke dalam rumah.
“Nanyanya nanti aja Ra. Sekarang bantu aku dulu!” tukas Beno pada istrinya.
Dengan sigap, Ira berlari mendahului Beno menuju kamar. Dia membuka Selimut yang menutupi tempat tidur. Setelah itu Ira mengambil pakaian ganti untuk Miki.
Tidak lama kemudian, Beno datang dan meletakkan Miki di tempat tidur dengan hati-hati.
Tata yang mengikuti dari belakang, duduk di pinggir tempat tidur. Kemudian Tata mulai melepaskan sepatu dan kaos kaki Miki.
“Eh, itu siapa No?” bisik Ira.
“Itu yang namanya Miss Tata Ra. Guru paporitnya Den Miki.”
“Wealah, ternyata cantik banget ya,” gumam Ira.
“Bukan cuma mukanya yang cantik, tapi hatinya juga baik banget Ra.”
“Andai dia yang jadi mamanya Den Miki, aku nggak keberatan deh.”
‘Hush! Jangan ngaco kamu Ra!” sergah Beno.
“Siapa juga yang ngaco. Den Miki pernah doa dan bilang pengen Miss Tata jadi mamanya.”
“Kata siapa?!”
“Darsih. Waktu itu dia denger sendiri Den Miki doanya bilang gitu.”
“Yang bener kamu Ra!”
“Beneran No.”
Tata berjalan mendekati sepasang suami istri yang tengah sibuk berbisik-bisik.
“Pak Beno,” panggil Tata.
“Iya Miss?”
‘Boleh saya minta makanan buat Miki?”
“Oh boleh Miss. Emang Den Miki mau makan?” tanya Ira.
“Iya Bu. Tapi kalo boleh makanannya jangan yang terlalu berminyak, supaya Miki tidak mual.” Tata menjelaskan.
“Oh siap Miss. Tunggu sebentar ya, biar saya ambilkan dulu.”
“Bi, maaf.” Tata memanggil Ira yang baru saja keluar kamar.
“Iya Miss?”
“Itu baju ganti Miki?”
Ira melihat tangannya, dan terkejut ketika menyadari kalau dia masih memegang baju ganti untuk Miki.
“Hehehe …, iya Miss.”
“Sini biar saya yang gantiin,” pinta Tata.
Ira memberikan baju di tangannya pada Tata. Kemudian Tata kembali ke tempat tidur, dan mengganti baju seragam Miki dengan baju bersih dari Ira.
“Kamu diem di sini dulu ya. Miss mau bicara sebentar dengan Pak Beno.”
“Iya Miss.”
“Pak,saya boleh tanya?” ujar Tata pada Beno.
“Boleh. Miss mau tanya apa?”
“Sehari-hari Miki di rumah bersama siapa?”
“Yang paling deket sama Aden ya saya dan Ira Miss. Kami yang mengasuh Aden sejak dia baru berusia tiga hari.”
“Lho emang mamanya ke mana?” tanya Tata tanpa berpikir panjang.
“Mamanya nggak tau ke mana Miss. Terakhir kami melihat dia ketika wanita itu datang dan menyerahkan Miki pada Tuan Jericho.”
“Terus papanya?”
“Tuan itu sibuk Miss. Sampai di rumah malam, dan biasanya Aden sudah tidur. Jadi Aden jarang ketemu sama Tuan. Kalo pun ketemu, paling pagi sebelum Aden berangkat sekolah.”
“Kalo akhir pekan?”
“Biasanya kalo di rumah Tuan bangunnya siang. Kalo nggak, kadang mereka pergi. Tapi kalo di rumah Tuan seringnya diem di ruang kerja.”
“Mereka sering ngobrol Pak?”
“Hm …, jarang juga Miss. Seringnya tuh Tuan ngomelin Den Miki.”
“Memangnya Miki berbuat apa gitu sampe diomelin?”
“Sebenernya sih bukan masalah besar. Den Miki itu cuma pengen deket sama Tuan, tapi Tuannya nggak mau.”
“Miss, ini makanan untuk Den Miki,” ujar Ira yang baru saja masuk ke kamar Miki sambil membawa baki berisi makanan.
“Makasih Bi,” ujar Tata.
“Mik, kita makan dulu yuk,” ujar Tata sambil duduk di tepi tempat tidur.
“Mau disuapin sama Miss,” ujar Miki manja.
Tata mengiyakan permintaan Miki. Dengan telaten dia menyuapi Miki.
“Duh No, aku jadi pengen nangis ngeliat Den Miki,” ujar Ira dengan suara tersendat karena menahan tangis.
“Sama Ra. Baru kali ini aku liat Den Miki tertawa lebar kayak gitu.”
“Semoga keinginan Den Miki yang pengen Miss Tata jadi mamanya terkabul ya No.”
“Iya Ra.”