"Ta!" Yosua memanggil Tata sambil mengetuk pintu kamar.
“Mm …. “
“Ta, bangun! Ini udah jam sembilan.”
“Masih ngantuk Pa!” seru Tata sambil kembali memeluk guling.
Yosua menghela napas mendengar jawaban Tata. Sejak kecil memang Tata cukup sulit untuk dibangunkan, apalagi jika hari libur.
“Tata,” panggil Yosua lagi. “Papa masuk ya.”
Yosua membuka pintu kamar Tata yang memang tidak pernah dikunci. Dia berjalan menghampiri tempat tidur dan duduk di pinggir.
“Ta.” Yosua mengguncang pelan bahu Tata.
“Mm ….” erang Tata yang merasa terganggu.
Melihat Tata yang masih memejamkan mata, Yosua menggelitik pinggang putrinya.
"IH …. Papa ganggu aja deh! Ini kan Sabtu . Jatah Tata bangun siang,” gerutu Tata yang akhirnya membuka mata.
Yosua terkekeh melihat kekesalan Tata.
“Iya, Papa tau Ta. Tapi sebentar lagi Papa udah mau berangkat ke Bogor.”
“Papa mau ke mana?!” seru Tata yang langsung hilang kantuknya.
“Ke Bogor Ta. Kan waktu itu udah bilang sama kamu,” sahut Yosua dengan sabar.
“Ampun!” Tata menepuk jidatnya. “Tata beneran lupa Pa.”
“Kamu tuh kebiasaan lupanya nggak ilang-ilang juga Ta,” ujar Yosua sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ya maaf Pa. Bukan mau sengaja lupa, tapi emang nggak inget,” sahut Tata.
“Sama aja Ta. Ayo mandi sana! Papa tunggu di meja makan, kita sarapan bareng.”
“Iya, iya. Tata mandi.”
Tata turun dari tempat tidur, dan berjalan ke kamar mandi. Setengah jam kemudian Tata menemui Yosua di meja makan.
“Mama mana Pa?” tanya Tata setelah duduk.
“Di kamar, mau siap-siap katanya.”
“Oh ,,,. Emang Mama udah sarapan?”
“Udah, bareng sama Papa.”
Tata tidak membalas lagi ucapan Yosua. Dia malah mengambil selembar roti dan mengolesi dengan selai kacang kesukaannya. Tata makan dalam diam ditemani oleh Yosua.
Sejak kecil, Tata memang kurang dekat dengan Rita. Dia lebih dekat dengan Yosua, bahkan sampai sekarang Tata tidak malu jika pergi berduaan dengan Yosua dan bersikap manja pada Yosua di depan orang. Namun, hubungannya dengan Rita semakin jauh sejak tiga tahun yang lalu, tepatnya ketika Mbak Rika menikah dengan Tommy.
“Ta, Papa boleh minta tolong?” tanya Yosua setelah Tata selesai makan.
“Minta tolong apa Pa?”
“Nanti baik-baik sama Mama ya.”
Tata menatap mata Yosua. Terpancar kekhawatiran di sana. Tata menghela napas panjang sebelum menjawab.
“Iya …. Papa tenang aja.”
“Janji?”
“Pokoknya Papa selesaiin aja urusan Papa di Bogor. Masalah di sini, biar sama Tata.”
Yosua menatap putrinya, dan melihat ketulusan di mata Tata.
“Oke. Kalo gitu Papa berangkat sekarang.”
Yosua beranjak dari kursi. Dia berjalan ke kamar untuk pamit pada Rita. Setelah itu, dia berjalan keluar ditemani oleh Tata yang menggandeng tangannya.
Di teras sudah ada Iwan, karyawan Yosua yang akan menyetir mobil ke Bogor.
“Eh, ada Kak Iwan. Pa kabar Kak?” sapa Tata ramah.
“Baik Ta. Kamu sehat? Gimana kerjaan kamu?” balas Iwan.
“Semuanya baik.”
“Tumben udah rapi, mau ke mana?”
“Hari ini Tata mau jadi supir pribadi Mama,” jawab Tata sambil tersenyum manis.
Iwan tertawa kecil mendengar perkataan Tata.
“Aku jalan dulu ya Ta,” ujar Iwan.
“Iya Kak. hati-hati di jalan. Tata titip Papa ya.”
“Siap Ta.”
Tata mengantar Yosua sampai ke mobil. Sebelum Yosua masuk ke mobil, Tata menahan tangan Yosua.
“Tiati Pa,” ujar Tata sambil memeluk Yosua.
“Iya. Eh kamu mau titip apa?”
“Nggak ada Pa. Tata cuma mau Papa cepet pulang.”
“Iya. Begitu urusan beres, Papa langsung pulang. Kalo ada apa-apa, telepon Papa ya.”
“Siap,” ujar Tata.
Setelah Yosua pergi, Tata masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya. Masih ada waktu satu jam sebelum dirinya harus mengantar Rita. Jadi dia ingin bersantai terlebih dahulu di kamar dan sekaligus mempersiapkan hati untuk bersama Rita beberapa jam ke depan.
Tata merebahkan diri di tempat tidur. Bukan dia tidak sayang kepada Rita. Biar bagaimanapun Rita adalah ibunya, yang sudah melahirkan dan membesarkan dirinya. Namun, hati Tata masih terluka oleh sikap Rita tiga tahun yang lalu yang menurutnya sangat tidak adil.
Ketika jam menunjukkan pukul sebelas, Tata keluar dari kamar. Dia melihat Rita yang sudah siap dan duduk di sofa ruang keluarga.
“Mau jalan sekarang Ma?” tanya Tata.
“Hm.”
Tanpa bertanya lagi, Tata mengambil kunci mobil dan berjalan ke garasi diikuti oleh Karni di belakangnya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Tata menyalakan mesin. Tata menyandarkan badannya di jok dan menghela napas.
“Tuhan, tolong bantu Tata ngelewatin beberapa jam ke depan,” bisik Tata.
Kaca mobil diketuk dari luar. Tata membuka mata dan menoleh ke samping. Tampak Karni sedang berdiri. Tata membuka jendela mobil.
“Ada apa Mbak Kar?” tanya Tata.
‘Mobilnya mau keluar sekarang Mbak?” tanya Karni.
Tata melihat ke depan, Ternyata Karni sudah membuka pintu garasi sekaligus pintu pagar.
“Iya,” ujar Tata.
kemudian Tata mengendarai mobil keluar dari garasi. Dia menunggu sampai Rita masuk dan duduk di sampingnya. Setelah Rita siap, barulah Tata mengendarai mobil keluar pagar dan langsung mengarah keluar kompleks.
“Ini kita mau ke mana Ma?”
“Ke Kafe The Sunshine,” jawab Rita singkat.
Tata mengendarai mobil dalam diam. Untung jalanan tidak terlalu padat, sehingga ketegangan di dalam mobil tidak berlangsung lama. Setelah tiba di tempat tujuan, Tata memarkir mobil.
“Mama duluan aja. Tata mau terima telepon dari Sisi dulu.”
Rita keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia meninggalkan Tata dan langsung masuk ke dalam mencari teman-temannya.
“Hai Rit, apa kabar?” sapa Alice sambil memeluk Rita.
“Baik. Kamu apa kabar?”
“Baik dong. Eh Rit, masih kenal sama dia nggak?” ujar Alice sambil menunjuk kepada pemuda yang duduk di dekatnya.
“Aldi bukan?”
“Tuh, Mama bilang juga apa! Tante Rita pasti ngenalin kamu.”
Maya dan Becky yang sudah datang tertawa mendengar perkataan Alice.
“Segitu senengnya Lis.” goda Becky.
“Iyalah, kan dulu Rita yang paling sering ketemu sama Aldi sebelum gue ikut suami ke Canada.”
“Rit, ke sini sama siapa?’ tanya Maya.
“Sama Tata,” jawab Rita singkat.
“Terus anaknya ke mana?” tanya Becky celingukan mencari Tata.
“Masih di depan. Lagi terima telepon dari Sisi.”
Aldi tertegun mendengar Nama Tata dan Sisi disebut dalam pembicaraan. Dan hatinya perlahan menjadi gembira. “Inikah yang dinamakan takdir,” bisik hati Aldi.
“Eh itu anaknya nongol!” seru Becky.
“Ta! Sini!” seru Becky sambil melambaikan tangan pada Tata.
Tata bergegas menghampiri Becky. Salah satu alasannya tidak menolak untuk mengantarkan Rita adalah karena dia tahu akan ada Maya dan Becky. Minimal dirinya tidak akan kesepian.
“Duduk sini Ta,” ujar Maya sambil menepuk kursi di sampingnya.
“Mau pesen apa Ta?” tanya Maya setelah Tata duduk di sampingnya.
“Eh kalian kenalan dulu dong,” sela Becky pada Tata dan Aldi.
“Apa kabar Ta?” sapa Aldi sambil tersenyum.
“Metong deh gue. Kenapa mesti ada ini orang segala,” gerutu Tata pelan.
Maya tersenyum samar mendengar gumaman Tata.
“Eh, kalian udah saling kenal?” tanya Alice.
“Iya Ma,” jawab Aldi.
“Oh ya? Kapan? Di mana?” tanya Alice antusias.
“Wah, sepertinya kalian berjodoh,” sela Becky sambil tersenyum jahil.
“Ihs, Tante apaan sih!” gerutu Tata.
“Eh, kalian mending duduknya di sana,” ujar Becky sambil menunjuk meja terdekat yang tidak jauh dari tempat mereka.
“Ogah! Di sini aja,” ujar Tata cepat.
“Eh, nggak baik tau ikutan ngerumpi sama tante-tante cantik,” sahut Becky.
Tata mendelik mendengar jawaban Becky.
“Nggak usah pake melotot Ta, ntar Tante kasih SP lho,” goda Becky.
Tata cemberut mendengar perkataan Becky.
“Tante nggak seru ih! Pake ngancem segala.”
Maya dan Becky tertawa mendengar gerutuan Tata.
“Lho emangnya Tata kerja di sekolah kamu May?” tanya Alice.
“Iya. Dan dia punya banyak penggemar di sana,” sela Becky sambil melirik ke arah Aldi.
Benar saja dugaan Becky. Aldi terlihat sedikit terkejut mendengar perkataannya.
“Ta, mending kamu sama Aldi duduknya pindah ya,” ujar Maya lembut.
Akhirnya dengan terpaksa Tata mengikuti saran Maya. Dia duduk di meja sebelah bersama Aldi dan saling berhadapan.
“Kamu kenapa Ta? Kok kayak yang nggak senang ketemu sama aku lagi.”
“Gapapa kok,” jawab Tata singkat.
“Ternyata kamu anaknya Tante Rita,” ujar Aldi.
“Emang kenapa kalo aku anaknya Tante Rita?!”
‘Berarti gampang kalo mau ketemu sama kamu.”
“Duh celaka deh gue,” gumam Tata.
“Kenapa Ta?”
“Nggak, gapapa kok.”
“Kamu kayaknya deket ya sama Tante Maya dan Tante Becky.” Aldi berusaha mencairkan suasana.
“Ah, nggak juga. Biasa aja tuh.”
Untunglah Tata tertolong oleh pelayan yang datang membawakan makanan. Hingga selama beberapa waktu baik Tata maupun Aldi fokus dengan makanan di hadapan mereka.
"Ta," panggil Aldi setelah mereka selesai makan.
"Hm?"
"Aku boleh nanya?"
"Tanya aja. Selama bisa dijawab ya akan aku jawab."
"Kenapa kamu nggak ijinin Sisi kasih nomor kamu?"
"Emang buat apaan?"
"Ya biar bisa komunikasi sama kamu."
"Emang penting?" tanya Tata.
"Kalo buat aku penting."
Tata terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Coba jelasin pentingnya di mana? Karena buat aku sendiri itu nggak penting."
Aldi terdiam mendengar jawaban Tata. Gadis di hadapannya terlihat ramah, akan tetapi sangat sulit untuk didekati. Namun, Aldi bukanlah orang yang mudah menyerah.
"Seperti yang waktu itu pernah aku bilang Ta. Aku ingin kenal kamu lebih dekat lagi. Dan sejujurnya aku ingin punya suatu hubungan yang lebih dekat dari sekarang."
Aldi menatap intens mata Tata. Dia ingin mengetahui bagaimana reaksi Tata mendengar perkataannya.
"Untuk saat ini aku nggak pengen punya hubungan apapun dengan pria. Dan tolong jangan memaksa."
"Kenapa?" tanya Aldi penasaran.
Tata mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia merasa sedikit jengah ditatap seperti itu oleh Aldi.
"Miss Tata!"
Tata menoleh ketika mendengar ada yang memanggil namanya. Dia melihat Miki melambaikan tangan dari meja yang letaknya tidak begitu jauh dari mejanya.
Tata membalas lambaian tangan Miki.
"Eh kamu mau ke mana Mik?" tanya Jericho yang melihat Miki beranjak dari kursinya.
"Mau ke sana sebentar Pa," ujar Miki sambil menunjuk ke arah Tata.
Tanpa menunggu persetujuan Jericho, Miki berlari menuju meja Tata.
"Miss," panggil Miki setelah tiba di meja Tata.
"Hei, kok kita bisa ketemu di sini ya?" ujar Tata.
"Miss ngapain di sini?" tanya Miki sambil memandang Aldi dengan tatapan tidak suka.
"Lagi nemenin mamanya Miss," sahut Tata sambil menunjuk ke meja Rita.
Miki melihat ke arah meja yang ditunjuk Tata. Dia terkejut ketika melihat Becky ada di sana dan sedang menatap dirinya.
"Kok ada Miss Becky?" tanya Miki.
"Iya. Jadi mamanya Miss itu temen sekolah Miss Becky. Dan mereka terus berteman sampai sekarang." Tata menjelaskan dengan sabar.
Aldi yang memperhatikan sejak tadi sedikit dibuat bingung dengan sikap Tata yang begitu santai dan ramah terhadap anak lelaki di depannya. Berbanding terbalik ketika berbicara kepada dirinya.
Jericho yang juga memperhatikan dari mejanya juga dibuat terkejut melihat sikap anaknya yang begitu ceria ketika berbicara dengan staff perpustakaan berkacamata itu.
"Oh," ujar Miki. "Terus itu siapa Miss?" tanya Miki sambil melirik ke arah Aldi.
"Oh …. Om ini anak Tante yang pakai baju merah," ujar Tata.
"Tapi kenapa duduknya sama Miss?!" tanya Miki tidak suka.
"Karena di sana orang tua semua. Masa iya Miss mesti gabung sama tante-tante? Ntar Miss jadi kebawa tua dong."
Miki terkekeh mendengar gurauan Tata.
"Miss, Miki ke Papa dulu ya."
"Iya. Makan yang banyak biar pipinya makin enak buat dicubit," goda Tata.
"Iya," ujar Miki.
"Emang beneran boleh dicubit sama Miss?"
"Boleh. Tapi cuma Miss Tata aja."
"Kok gitu?"
"Karena Miki sayang sama Miss."
Miki berhasil membuat Tata bengong dengan jawaban polosnya.