Bekal untuk Miss Tata

2215 Kata
Pagi ini Miki bangun dengan perasaan senang. Sejak semalam dia sudah membayangkan akan bertemu lagi dengan Tata. Miki duduk di tempat tidur. Dia menutup mata dan berdoa. “Tuhan, Miki sayang sama Miss Tata, dan hati Miki selalu jadi tenang kalo di deket Miss Tata. Boleh nggak Tuhan kasih Miss Tata buat jadi mamanya Miki? Makasih Tuhan. Amin.” Darsih yang hendak masuk ke kamar tertegun mendengar Miki berdoa. “Tuhan, kabulkanlah doa Den Miki,” bisik Darsih yang merasa terharu mendengar doa Miki. Kemudian Darsih masuk ke dalam kamar dan menghampiri tempat tidur. “Tumben udah bangun Den?” tanya Darsih yang pura-pura kaget melihat Miki sudah bangun. “Udah nggak ngantuk Mbak,” jawab Miki. “Mau mandi sekarang Den?” Miki beranjak turun dari tempat tidur, dan berjalan menuju kamar mandi. Tanpa disuruh, Miki mandi dan bersiap tanpa dibantu oleh Darsih. Setelah selesai berpakaian, Miki keluar dari kamar dan menuju ke dapur. "Bibi," panggil Miki. "Iya Den, kenapa?" "Bikin bekelnya dua tempat ya," ujar Miki. "Lho, emang kenapa Den?" tanya Ira yang bingung dengan permintaan Miki. “Miki mau kasih buat Miss Tata.” “Miss Tata? Itu nama Miss yang ngajar Aden?” tanya Ira. “Bukan Bi. Miss Tata itu guru perpustakaan di sekolah.” “Terus kenapa Aden mau kasih bekelnya ke Miss Tata?” tanya Ira penasaran. “Mau kasih aja ke Miss Tata. Soalnya dia baik sama Miki.” “Iya, Bibi bikinin bekelnya dua tempat.” “Bibi bawain Miki apa?” tanya Miki. “Aden mau bekel apa?” tanya Ira balik bertanya. “Nasi goreng aja Bi.” “Oke Den. Siap.” ujar Ira. Miki berjalan menuju lemari es, dan membukanya. Miki mengambil sebutir apel dan membawanya ke Ira. “Bi, Miki mau bawa ini juga.” “Iya Den,” jawab Ira. “Miki tunggu di meja makan ya Bi.” Miki meninggalkan dapur dan menuju meja makan. Dia menarik kursi, dan duduk dengan tenang menunggu Darsih mengambilkan sarapannya. Miki menghabiskan sarapannya tanpa banyak protes. Hal itu tentu saja membuat Ira semakin bingung. “Ada apa ya sama Den Miki?” gumam Ira ketika Miki sudah berangkat ke sekolah. “Aku kayaknya tau Bi,” sahut Darsih yang mendengar gumaman Ira. “Emangnya kamu tau apa sih Dar? Jangan ngada-ngada ah.” “Serius Bi. Tadi aku nggak sengaja denger Den Miki berdoa.” “Berdoa?” “Iya Bi.” “Emang Den Miki doa apa?” “Tadi Den Miki nyebut nama Miss Tata Bi, dan pengen Miss Tata jadi mamanya Aden.” “HAH?!” seru Ira. “Kamu serius Dar?” “Serius Bi. Aku aja sampe kaget.” “Aku jadi penasaran sama yang namanya Miss Tata,” ujar Ira. *** “Anak-anak, sekarang waktunya ke perpustakaan. Jadi bereskan buku-buku dan alat tulis kalian. Setelah itu baris di depan kelas yang rapi,” ujar Anne. “HORE …!” seru anak-anak gembira. Mereka bergegas menyimpan buku dan alat tulis, serta mengeluarkan buku cerita untuk dikembalikan ke perpustakaan, termasuk Miki. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan guru kesayangannya. Miki berjalan sambil bersenandung kecil. Aurel yang kebetulan berjalan di sisi Miki sedikit bingung melihat Miki tingkah temannya itu. “Kamu kenapa?” tanya Aurel. “Nggak kenapa-kenapa,” jawab Miki singkat. “Bohong. Kamu keliatannya seneng banget.” “Berisik ih!” gerutu Miki. Miki mempercepat langkah kakinya dan meninggalkan Aurel di belakang. Begitu tiba di perpustakaan, Miki membuka sepatu dan meletakkan di rak. Miki memasuki perpustakaan sambil mencari-cari sosok Tata, yang ternyata sedang berdiri membelakangi meja kerjanya memperhatikan anak-anak kelas dua yang memasuki ruangan. “Selamat pagi Miss,” ujar Miki pelan ketika melewati meja Tata. Tata mengacak rambut Miki dan tersenyum manis mendengar sapaan anak itu. Miki tersenyum senang ketika Tata mengacak rambutnya. Sentuhan kecil Tata langsung membuat hati Miki tenang. Setelah anak-anak duduk di karpet sambil mengelilingi meja, Tata menepuk tangan untuk menarik perhatian mereka. “Oke Miss mau tanya, kalian masih ingat cara meminjam buku?” “Masih Miss,” jawab anak-anak. “Baiklah, berarti Miss akan panggil nama kalian satu per satu, dan kalian silakan datang ke sini untuk mengambil kartu.” Kemudian Tata mulai memanggil satu per satu murid kelas dua. “Steven.” “Dilan.” “Jordan.” “Aurel.” “Stevanny.” “ Dan terakhir Michael.” Miki bergegas bangun dan berjalan menghampiri Tata. “Miss, buku Miki masih disimpen kan?” tanya Miki dengan suara pelan. Tata menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil. “Kalo gitu Miki nggak usah pilih buku ke meja kan?” “Pilih aja. Nanti kamu tinggal pilih buku cerita mana yang mau kamu bawa pulang.” “Iya Miss.” Miki berbalik meninggalkan Tata untuk memilih buku. Namun, baru tiga langkah, dia kembali berbalik dan berjalan menghampiri Tata. “Miss, Miki mau minta sesuatu boleh?” “Minta apa Mik?” tanya Tata sedikit terkejut. “Miki mau makan bareng lagi sama Miss, boleh?” “EH?!” “Nggak boleh ya?” tanya Miki dengan nada kecewa. “Bukan nggak boleh. Tapi tumben aja. Ada acara apa?” ujar Tata menutupi rasa terkejutnya mendengar permintaan anak itu. “Nggak ada Miss. Miki cuma pengen makan sama Miss aja.” Miki menatap Tata dengan pandangan memohon. Tata menjadi tidak tega untuk menolak melihat tatapan mata Miki yang begitu berharap. “Iya, Miss mau. Pas istirahat?” “Iya. Nanti Miki ke sini ya?” “Iya.” “Makasih Miss.” Setelah itu, barulah Miki memilih buku kemudian membawa bukunya pada Tata. “Jadi kamu mau pinjam yang mana?” tanya Tata. “Yang ini,” ujar Miki sambil menunjuk buku yang kemarin ditunjukkan Tata. “Yakin?” “Yakin Miss,” jawab miki dengan mantap. “Oke. Kalo gitu biar Miss data dulu ya.” Setelah buku yang dipinjam Miki selesai didata, Miki bergegas keluar perpustakaan dan kembali ke kelas. Dia ingin menyelesaikan tugas dari Anne, supaya saat pulang nanti dapat bertemu dengan Tata. Anne yang kebetulan akan masuk ke kelas untuk mengambil buku, terkejut ketika mendapati Miki ada di dalam kelas sendirian dan sedang mengerjakan sesuatu di mejanya. “Lho Michael kenapa kamu ada di sini? Kamu lagi ngapain?”” “Lagi ngerjain Bahasa Indonesia Miss,” jawab Miki sopan. “Lho, bukannya itu bisa dikerjakan nanti di jam terakhir sebelum pulang?” “Miki mau ngerjainnya sekarang Miss. Boleh kan?” “Boleh kok,” ujar Anne yang benar-benar bingung dengan sikap Miki. Biasanya Miki akan selalu menunda tugas yang diberikan hingga waktunya pulang. Dan tugas itu akhirnya akan dibawa pulang. “Memang tugas kamu masih banyak?” tanya Anne penasaran. “Nggak Miss. Ini yang terakhir,” jawab Miki. “Coba Miss lihat,” ujar Anne sambil berjalan menghampiri meja Miki. Anne kembali dibuat bingung, karena hasil pekerjaan Miki. Tulisan yang rapi dan jawaban yang benar semua. “Ini kamu ngerjain sendiri?” tanya Anne tidak percaya. “Iya Miss.” Begitu terdengar bel istirahat berbunyi, Miki bergegas mengambil tas kecil berisi tempat bekalnya. “Miki boleh istirahat Miss?” “Oh boleh. Kamu mau makan?” “Iya Miss.” Anak-anak kelas dua yang lain, memasuki kelas. “Miss kami boleh istirahat?” tanya Steven. “Boleh.” “Miss, bukunya boleh Miki ambil?” “Oh boleh.” Anne menyerahkan buku tulis pada Miki. Setelah menyimpan bukunya di dalam tas, Miki berlari keluar sambil membawa tas bekalnya. Miki berlari menuju perpustakaan. Dia ingin segera memberikan bekal untuk Tata, dan menikmati bersama. “Miss,” panggil Miki dari depan pintu perpustakaan. “Masuk sini,” ujar Tata. Miki masuk ke dalam perpustakaan menghampiri Tata. “Mau makan sekarang?” tanya Tata. “Iya.” “Ayo kita ke taman.” “Tunggu sebentar Miss. Miki ambil sepatu dulu.” Miki berlari untuk mengambil sepatunya kemudian menaruhnya di pintu kaca yang menuju ke taman. Dia berdiri menunggu Tata dengan tidak sabar. Tata mengambil tempat bekal dan botol air, setelah itu dia berjalan menghampiri Miki . “Miss bawa bekal?” tanya Miki saat mereka berjalan bersama menuju kursi. “Iya. Setiap hari Miss selalu bawa bekal.” “Yah …, padahal Miki bawain bekal buat Miss.” “Oh ya? Mana Miss lihat,” ujar Tata setelah mereka duduk. Miki mengeluarkan tempat makan berwarna merah muda, dan menyerahkannya pada Tata. “Wah, lucu banget bentuk nasinya. Yang Miki punya bentuk apa?” tanya Tata. Miki mengeluarkan tempat bekal berwarna biru miliknya dan menyerahkannya pada Tata. “Ini siapa yang bikin?” “Bi Ira.” “Wah, Bibinya Miki hebat lho bisa bikin kayak gini,” ujar Tata. “Miki boleh liat bekal Miss?” “Boleh.” Tata membuka tempat bekal dan menunjukkannya pada Miki. “Itu sayur apa Miss?” “Ini namanya sayur campur. Miki mau coba?” “Nggak ah?” “Kenapa?” “Nggak suka.” “Cobain dikit aja ….” Tata mengulurkan sendok yang berisi sayur campur pada Miki. Dengan terpaksa, akhirnya dia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Tata. “Enak nggak?” tanya Tata. “Enak. Miss yang masak?” “Bukan. Ini masakan papanya Miss.” ‘Terus bekal dari Miki kapan dimakannya?” “Buat nanti siang boleh?” “Boleh, tapi harus Miss yang makan ya.” “Siap. Ayo sekarang kita makan.” Tata dan Miki makan sambil mengobrol . Dan tanpa terasa bel masuk sudah berbunyi. “Yah, bel udah bunyi, tapi bekal kamu belum habis,” ujar Tata melihat bekal Miki baru habis setengahnya. “Buat nanti siang aja ya Miss. Tapi makannya sama Miss lagi.” “Iya. Tapi kamu bilang dulu ya sama Pak Beno.” “Udah bilang kok Miss.” “Kapan?” “Tadi pagi, pas pergi ke sekolah.” ‘Ya udah. Sekarang kamu balik ke kelas ya.” “Iya. Bye Miss.” Dan Tata menepati janjinya pada Miki. Ketika pulang sekolah, Tata kembali menemani anak itu menghabiskan bekalnya. Dia juga memakan bekal yang diberikan Miki sampai habis. Setelah itu Tata mengantarkan Miki sampai ke mobil dan menunggu sampai anak itu pulang. *** “Ta,” panggil Yosua dari depan kamar anaknya. “Iya Pa?” “Papa boleh minta tolong?” ujar Yosua sambil berjalan menghampiri Tata yang sedang duduk di depan komputer. “Apaan Pa?” “Hari Sabtu tolong anterin Mama ketemuan sama teman-temannya ya.” “Tumben. Biasanya kan sama Papa.” “Hari Sabtu Papa ada janji ketemu sama orang dari hotel di Bogor.” “ Oh …. Emang Mama mau dianter sama Tata?” “Ya kalau nggak mau, nggak mungkin Papa ngomong ke kamu, Ta.” “Ya bingung aja. Biasanya milih pergi sendiri atau sama Mbak Rika daripada sama Tata.” “Hush, nggak boleh gitu.” “Tapi emang bener kan Pa,” bantah Tata santai. “Kamu masih marah sama Rika?” “Nggak Pa. Itu masa lalu, nggak perlu diingat lagi.” “Eh, ngomong-ngomong kenapa kamu belum makan?” Yosua mengalihkan pembicaraan. “Tata masih kenyang Pa.” “Emang kamu makan apa?” “Tadi ada murid yang bawain Tata bekal. Tata makan pas siang. Jadi masih kenyang.” “Mana bisa gitu! Sekarang udah malem, kamu mesti makan lagi!” “Tapi Pa ….” Yosua tidak menggubris protes Tata. Dia menarik anaknya untuk mengikuti dirinya. Yosua mendudukkan Tata di kursi makan, dan mengambilkan makanan untuk anaknya. “Makan! Dan harus habis!” ujar Yosua dengan nada tegas. “Tapi ini banyak banget Pa,” keluh Tata. “Jangan protes!” Yosua menatap garang pada Tata. “Nggak usah pake melotot segala Pa. Nggak cocok sama muka Papa,” ledek Tata sambil mulai menyuap. Yosua tertawa mendengar ledekan putrinya. Sebagai seorang ayah, dia tahu putri bungsunya berusaha terlihat tegar dan baik-baik saja. Namun, siapa yang tahu hati terdalamnya. Karena itu, dia berusaha selalu ada untuk Tata. “Udah habis Pa,” ujar Tata. “Gitu dong. Jadi nggak sia-sia kan masakan Papa.” “Tapi Papa harus tanggung jawab. Sekarang perut Tata kayak mau meledak saking kenyangnya,” gerutu Tata sambil mengusap-usap perutnya. “Nggak akan meledak Ta. Kamu lebay ah.” “Ish bahasa Papa kok jadi gaul sih?!” protes Tata. “Biarin dong. Kan harus selalu berjiwa muda,” sahut Yosua tidak mau kalah. “Pa, Tata ke kamar dulu ya.” Tata beranjak bangun dari duduknya, membawa piring kotor ke dapur, serta mencucinya. Setelah itu dia berjalan menuju kamar. “Ta!” panggil Yosua sebelum Tata masuk ke kamar. “Iya Pa?” “Temenin Papa jalan yuk keliling komplek.” “Tumben pengen jalan,” goda Tata. “Biar kamu turunin makanan kamu. Kalo kamu di kamar, pasti nggak lama lagi kamu tidur.” “Iya, iya …. Ayo kita kemon,” ujar Tata. Tata berjalan sambil menggandeng tangan Yosua. Mereka berjalan dengan santai sambil menikmati udara malam dan mengobrol ringan. “Ta, siapa yang ngasih makan siang ke kamu?” “Oh itu. Namanya Michael Kang, murid kelas dua Pa.” “Kenapa bisa sampe bawain kamu bekal?” “Panjang ceritanya Pa.” “Coba ceritain. Papa boleh tau kan?” Tata pun menceritakan awal mula bertemu dengan Miki dan bagaimana Becky meminta tolong dirinya untuk mendekati anak itu. Sampai Miki membawakan bekal untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN