Cokelat untuk Miss Tata

1979 Kata
Senin pagi, Tata yang sudah siap berangkat kerja mencari-cari Yosua. "Pa! Papa!" "Kenapa Ta?!" seru Yosua dari taman belakang. Tata bergegas ke belakang menemui Yosua. "Pa, Tata berangkat dulu ya." "Kamu nggak kepagian?" tanya Yosua sambil melirik jam tangannya. "Nggak. Ada yang mesti Tata kerjain dulu Pa." "Bekalnya udah dibawa?" tanya Yosua. "Udah Pa." "Jangan cuma dibawa Ta, tapi juga dimakan dan dihabisin." "Iya Pa," ujar Tata sambil meringis mendengar teguran Yosua. Tata memeluk Yosua dari belakang, kemudian mencium pipi kiri dan kanan Yosua. "Bye Pa." Tanpa menunggu balasan dari Yosua, Tata segera berlari masuk ke dalam rumah dan terus berjalan sampai ke depan. Karni sudah menunggu di dekat pintu pagar yang sudah dibuka. "Berangkat sekarang Mbak?" tanya Karni. "Iya Mbak," ujar Tata sambil menyalakan motor. "Hati-hati Mbak," ujar Karni ketika Tata mengeluarkan motor. "Iya Mbak. Tata jalan dulu ya." Tata langsung tancap gas dan meninggalkan rumah. Tata mengendarai motor sambil mendengarkan lagu melalui earphone sampai tiba di sekolah yang hanya sekitar lima belas menit dari rumah. Setelah memarkir motor, Tata berjalan memasuki gedung sekolah langsung menuju ke perpustakaan. Di tengah jalan Tata berpapasan dengan Miki. "Hai, selamat pagi Michael," sapa Tata. " Kamu sudah sembuh?" "Udah Miss." "Sekarang kamu mau ke mana?" tanya Tata. "Eng …, mau balik ke kelas," jawab Miki malu-malu. "Lho, emangnya dari mana?" Bukannya menjawab pertanyaan Tata, Miki malah lari meninggalkan Tata. "Lah, ditanya kok malah kabur," gumam Tata. Tata melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan. Setelah menaruh tas dan menyimpan jaket, Tata merapikan rambutnya sebentar kemudian berjalan menuju rak buku ensiklopedi. Tata mencari sebuah buku tentang hewan yang kemarin ingin dipinjam oleh Anne. "Ah, ketemu juga!" seru Tata gembira. Setelah dia mendapatkan buku yang dicari, Tata keluar dari perpustakaan menuju ruang guru untuk doa pagi. "Ne, ini buku yang elo cari." Tata menyerahkan buku ensiklopedi pada Anne ketika dia masuk ke ruang guru. "Oh, makasih Ta." "Masama," ujar Tata sambil duduk di samping Anne. "Eh Ta, tadi Ivan nyariin elo." "Mau ngapain?" "Mana gue tau, Tata …." ujar Anne gemas. "Eh, tadi gue ngeliat Michael." Tata mengalihkan percakapan. "Menghindar aja terus Ta …." dengkus Anne sebal. Tata meringis mendengar sahutan Anne. Baru saja Anne mau bicara kembali, Becky datang memasuki ruang guru. Dan setelah itu semua guru dan staff mengikuti doa pagi dan pengarahan seperti biasanya. *** "Miss." "Ya?" "Miki boleh masuk?" "Boleh dong. Sini." "Kenapa?" "Eng …, Miki punya sesuatu buat Miss." "Apaan tuh?" "Ini Miss." Miki mengulurkan sebatang cokelat Tobleron pada Tata. "Ini buat Miss? Dalam rangka apa?" "Iya Miss," ujar Miki tersipu malu. "Kenapa kasih ke Miss?" Tata mengulang pertanyaannya. "Pengen ngasih aja. Miss nggak suka?" "Suka dong. Tapi, kamu tau kan kalo sebenernya guru itu nggak boleh terima hadiah dari murid." "Tau Miss. Tapi kalo nggak ada yang tau boleh kan?" "Boleh sih. Berarti rahasia kita berdua dong?" Miki menganggukkan kepalanya. Miki memperhatikan kesibukan Tata menulis di buku besar. "Miss lagi sibuk?" "Nggak juga. Kenapa? Eh kamu nggak makan bekal?" "Nanti aja Miss, pas istirahat kedua." "Kenapa gitu?" "Miki masih mau di sini." "Tapi kalo kamu nggak makan, nanti sakit lagi," sahut Tata. "Miki belum laper Miss. Tadi pagi dikasih sarapannya banyak banget sama Bi Ira." "Tapi kan tetep harus makan. Ibaratnya kayak ponsel yang harus diisi ulang baterainya. Begitu juga tenaga kamu." "Miss sendiri kenapa nggak makan?" "Belum laper." "Sama. Miki juga belum laper." Tata tertawa mendengar bantahan Miki. Ternyata anak ini dapat berkomunikasi dengan baik, bahkan mampu membalikkan perkataan. "Miss boleh tanya sesuatu?" tanya Tata. "Boleh Miss." "Miki nama panggilan kamu?" "Iya Miss." "Lucu juga nama panggilan kamu. Kenapa bukan Mike?" "Bi Ira bilang waktu itu emang diajarin sebut Mike, tapi nggak bisa-bisa. Malah jadinya Miki." "Ohh …, begitu toh." "Miss juga boleh panggil aku Miki." "Serius?" Miki mengangguk. "Tapi cuma Miss yang boleh panggil Miki, yang lain nggak boleh." "Kok gitu?" "Miki juga nggak tau. Tapi di sini rasanya tenang kalo lagi sama Miss." Tata tertegun mendengar perkataan anak itu. Tata bingung harus menjawab apa. Untunglah bel masuk menyelamatkan situasi Tata. "Eh, bel masuk tuh. Kamu masuk kelas ya. Belajar yang baik. Pulang sekolah, kalau belum dijemput ke sini aja," ujar Tata. "Beneran boleh Miss?" tanya Miki dengan mata berbinar. "Iya." "Kalo gitu nanti pulang sekolah, Miki ke sini lagi ya. Dadah Miss." "Bye Michael." Miki langsung berlari meninggalkan perpustakaan dengan senyum lebar di wajahnya. Begitu juga saat Miki tiba di kelas, senyum lebar masih menghiasi wajah kekanakan Miki. Anne mengerutkan kening melihat hal itu. "Itu anak kenapa?" gumam Anne di hati. Sedangkan di perpustakaan, Tata tersenyum kecil mengingat obrolannya dengan Miki. "Itu anak lucu juga. Sebenernya dia itu anak yang baik dan manis. Sayang kurang perhatian dari orang tuanya," desah Tata. "Kebiasaan kamu ngomong sendiri belum sembuh juga Ta?" tanya Becky yang baru masuk ke perpustakaan. "Eh Tante. Tumben ke sini. Ada apa Tan?" "Pengen ngobrol aja Ta. Kamu lagi sibuk?" "Nggak. Tante mau ngobrol apa?" "Masalah perpustakaan Ta." "Kenapa sama perpustakaan?" "Gini, Tante sama Tante Maya berencana menambah satu staff perpustakaan buat bantu kamu." "Memang ada yang kurang sama kerjaan Tata, Tan?" "Nggak. Cuma kami berdua mikirnya kalo kamu akan fokus ke anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus, otomatis perpustakaan akan sedikit terganggu. Contohnya kayak minggu lalu. Waktu kamu ikut pertemuan, perpustakaan jadi tutup dan jadwal peminjaman juga ikut terganggu." "Terus Tante maunya gimana?" "Kalo kita menambah satu staff perpustakaan, maka perpustakaan bisa terus jalan, walaupun kamu sedang tidak ada." "Terus tugas Tata gimana?" "Kamu tetep mengerjakan tugas di sini, dibantu oleh staff yang baru." "Sudah ada calonnya Tan?" "Sudah. Namanya Silvia, baru lulus kuliah. Dan Tante juga ingin minta tolong kamu untuk observasi Silvia Ta. "Iya Tan." "Oh iya, gimana dengan perkembangan Michael? Ada kemajuan?" "Belum sih. Kan kemarin ini Michael nggak masuk karena sakit. Baru hari ini lagi dia masuk." "Ngomong-ngomong Tante udah ambil keputusan buat Rio?" "Pihak sekolah akan memanggil orang tua Rio. Kami akan berbicara tentang kemungkinan Rio mendapatkan konseling dari Miss Yunita." "Sebenernya yang perlu dapet konseling itu orang tuanya Rio Tan, terutama mamanya," celetuk Tata. "Hush! Kamu ini Ta." "Lho, Tata kan bicara sesuai dengan kenyataan yang ada," bantah Tata. "Iya, Tante paham. Tapi apa mereka setuju? Yang ada dia malah akan makin marah ke kita." "Kalo orang nggak mau merubah cara berpikirnya, ya susah Tan." "Eh ngomong-ngomong, mama kamu gimana?" "Baik Tan. Masih sibuk sama resep baru kuenya yang laris manis," ujar Tata. "Tante udah lama nggak ketemu sama Rita. Jadi kangen ngumpul-ngumpul lagi..." Becky menggantung kalimatnya karena teringat akan suatu kejadian yang membuatnya jarang menghubungi Rita. "Kenapa nggak janjian ketemu dan pada ngumpul Tan." "Boleh juga tuh ide kamu. Ya udah, kalo gitu Tante balik dulu." "Ah …, Tata tau. Pasti mau ngajakin Mama dan yang lain ngumpul, iya kan?" tanya Tata tanpa beban. "Ihs, kepo aja deh." "Bukan kepo Tan. Daripada ngubungin mereka satu-satu, kenapa nggak bikin grup aja? Lebih simpel kan?" "Iya,iya. Kamu tuh kadang bawel banget sih Ta. Kayak mama kamu aja." Tata terdiam dan tidak membalas perkataan Becky. Tiba-tiba hatinya terasa begitu hampa. *** Ketika jam pelajaran berakhir, Miki bergegas keluar. Tujuannya adalah ruang perpustakaan. Dia ingin mengobrol lagi dengan Tata. Miki merasa nyaman ketika berada di dekat Tata. Sentuhan dan perhatian Tata memberikan sensasi hangat, berbeda dengan yang dia rasakan saat bersama Bi Ira atau yang lain. Karena itulah tanpa Miki sadari, dia mulai tergantung secara emosional dengan sosok Tata. Sampai di depan pintu perpustakaan, dengan berani Miki mengetuk pintu yang sedikit terbuka sambil melongokkan kepalanya ke dalam. "Eh kamu, sini masuk." Tata melambaikan tangannya kepada Miki. Miki berjalan cepat menghampiri meja Tata sambil tersenyum lebar. "Miki boleh duduk di sini Miss?" tanya Miki sambil menunjuk kursi di depannya. "Boleh. Duduk aja." Miki melepas tas sekolahnya dan meletakkannya di lantai berkarpet, kemudian barulah dia menarik kursi di depannya dan duduk. Dia memandang wajah Tata dengan senyum lebar yang masih menghiasi wajahnya. Tata tertawa mendapatkan perlakuan manis dari bocah di hadapannya. Namun, hati kecilnya terasa sedikit sakit. Tata tahu anak ini sangat kekurangan kasih sayang, bahkan mungkin juga pelukan hangat dari keluarganya. "Kamu sudah makan?" tanya Tata lembut. "Udah Miss." "Habis nggak bekalnya?" tanya Tata lagi. Miki menggelengkan kepalanya. "Lho, kenapa nggak habis?" "Kenyang Miss." "Coba mana bekalnya? Miss mau liat." Miki mengambil tasnya dan mengeluarkan tas bekal yang tadi dia masukkan ke dalam tas. Kemudian dia menunjukkan pada Tata. "Ini masih banyak banget lho sisanya," protes Tata. "Miki nggak pengen makan Miss." "Nggak boleh gitu Miki, nanti kamu bisa kena sakit mag. Ayo dihabisin dulu." Kembali Miki menggelengkan kepalanya. "Kenapa nggak mau?" "Eng …, kalo makan kan nggak boleh di sini," ujar Miki. Tata menghela napasnya. "Ya udah, makannya di luar. Miss temenin. Tapi harus dihabisin dan makannya harus cepet." "Iya miss," jawab Miki bersemangat. "Ayo ikut sama Miss," ujar Tata sambil beranjak berdiri. "Ke mana Miss?" "Ada deh. Rahasia," ujar Tata sambil tersenyum jahil. Tata berjalan ke dekat Miki, kemudian meraih tangan anak itu dan mengajaknya berdiri. Dengan terpaksa Miki mengikuti Tata sambil membawa tas bekalnya. Tata membawa Miki ke taman belakang melalui pintu keluar yang ada di perpustakaan. Salah satu alasan Tata betah bekerja di sini, karena adanya taman yang letaknya terpencil ini. Kebetulan ada pintu keluar melalui perpustakaan. Jadi ketika dia merasa penat, dia selalu datang ke tempat ini. Tata mengajak Miki duduk di kursi yang memang ada di sana. "Ayo duduk," ujar Tata setelah menarik salah satu kursi untuk Miki. Miki menuruti perintah Tata. Setelah bocah itu duduk, barulah Tata menarik kursi untuk dirinya sendiri dan duduk. "Ayo mana bekalnya?" Miki mengeluarkan tempat bekal dan membukanya. "Kenapa kamu bekalnya sama nugget?" tanya Tata yang sejak di perpustakaan penasaran ingin bertanya. "Nugget kan enak Miss." "Kenapa nggak ada sayurnya?" tanya Tata. "Nggak suka." "Ihs, padahal sayur itu enak lho," ujar Tata. "Emang Miss suka makan sayur?" "Suka dong." "Sayur apa aja?" "Ehm …, apa ya?" ujar Tata sambil mengerutkan kening. "Kayaknya suka semua deh. Eh, ayo sambil dimakan bekalnya." Miki pun menuruti perintah Tata. Dia mulai makan sambil terus memandangi wajah Tata. Setelah makanannya habis, Tata membantu Miki membereskan tempat bekal. Kemudian mereka kembali ke perpustakaan. "Miki suka baca?" tanya Tata setelah mereka duduk. "Suka Miss." "Suka baca buku apa?" "Apa ya?" Miki mencoba mengingat. "Komik, sama majalah anak." "Wah bagus dong. Kalo Miss paling suka sama karyanya Enid Bylton." "Itu buku apaan Miss." "Sini ikut, biar Miss tunjukkin." Tata berjalan ke rak buku yang berisi buku-buku fiksi, kemudian menyerahkan buku Lima s*****n karya Enid Bylton. "Ini." Tata menyodorkan buku tersebut pada Miki. "Miki boleh pinjem Miss?" "Boleh, tapi besok ya pas jadwal kelas kamu dateng ke sini." "Nggak bisa sekarang?" "Nggak boleh Mik. Kan harus sesuai aturan." "Tapi nanti kalo diambil sama temen duluan gimana?" tanya Miki dengan raut wajah kecewa. "Miss bisa simpenin dulu buat kamu. Besok kamu bisa ambil di Miss, gimana?" "Mau. Janji ya Miss?" "Iya." Terdengar pintu diketuk dari luar. "Ya?" ujar Tata sambil berjalan menghampiri pintu untuk melihat siapa yang datang. "Permisi Miss," ujar Beno. "Iya Pak? Nyari Miki?" "Iya Miss. Den Miki ada di sini?" tanya Beno sambil melihat ke dalam perpustakaan. "Ada Pak. Tunggu sebentar." Baru saja Tata akan memanggil Miki, bocah itu sudah terlebih dahulu tiba di samping Tata. "Iya Pak?" ujar Miki. "Aduh Aden …! Bapak sampe pusing nyariin Aden dari tadi. Udah keliling sekolah, tapi nggak ketemu juga. Untung ada yang ngasih tau kalo Aden ada di sini," ujar Beno. "Maaf Pak," sahut Miki pelan. "Lho, emang kamu nggak bilang dulu sama Pak Beno Mik?" tanya Tata. Miki menggelengkan kepalanya. "Aduh maaf Pak, saya nggak tau," ujar Tata merasa bersalah. "Gapapa Miss. Saya tenang kalo Den Miki di sini mah," ujar Beno. "Miki sekarang pulang dulu ya. Miss juga sebentar lagi mau pulang." "Tapi besok Miki boleh ke sini lagi?" "Boleh, asal bilang dulu sama Pak Beno." "Iya Miss." "Ayo Den, kita kemon," ujar Beno. "Tunggu sebentar Pak. Miki ambil tas dulu." Miki meninggalkan Beno dan Tata untuk mengambil tasnya. Kemudian dengan hati yang gembira, Miki meninggalkan perpustakaan bersama Beno.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN