Keesokan paginya, seperti biasa setiap pukul setengah enam pagi Darsih datang ke kamar Miki.
Tiba di kamar, Darsih menghampiri tempat tidur Miki untuk membangunkannya.
"Den," panggil Darsih.
Namun Miki tidak bereaksi mendengar panggilan Darsih.
"Den," panggil Darsih lagi.
Darsih curiga melihat Miki yang hanya diam. Perlahan dia mendekati tempat tidur dan memperhatikan Miki dengan seksama.
Karena curiga, Darsih menyentuh tangan Miki, terasa panas. Buru-buru Darsih méraba kening Miki.
Darsih langsung berlari keluar kamar menuju ke dapur.
"Bibi!" Darsih menghampiri Ira yang sedang mengaduk adonan pancake untuk sarapan.
"Ono opo toh Dar? Dateng-dateng bikin ribut aja?"
"I-itu Bi, badannya Den Miki panas," ujar Ira dengan napas tersengal-sengal.
"Eh?!"
"Beneran Bi. Coba Bibi liat sendiri."
Ira langsung meninggalkan dapur dan berlari ke kamar Miki.
Ira mèraba kening Miki. Dan memang benar panas.
"Den bangun!" Ira menepuk-nepuk pipi Miki.
Miki bergerak sedikit dan langsung mengerang. "Argh."
"Aden kenapa?" tanya Ira bingung.
"Pusing Bi," keluh Miki.
"Aden kenapa nggak panggil Bibi semalam?"
"Nggak bisa bangun. Badan Miki sakit semua," keluh Miki.
Ira menghela napas panjang.
"Dar, tolong bawain segelas air hangat sekarang!" Ira memberi perintah melalui intercom yang ada di meja nakas.
"Baik Bi."
Selesai menghubungi Darsih, Ira membuka laci nakas dan mengeluarkan termometer. Kemudian dia menaruh termometer di ketiak Miki..
"Duh Aden! Kok bisa panasnya sampe segini?" keluh Ira ketika melihat hasil termometer. 39°C.
Tidak lama kemudian Darsih datang membawakan segelas air hangat di atas baki, dan memberikannya pada Ira.
Ira duduk di pinggir tempat tidur. Dia mengangkat kepala Miki dan menyangga dengan tangannya.
"Sekarang Aden minum dulu ya." Ira mendekatkan gelas berisi air ke mulut Miki.
"Udah Bi."
"Lagi Den. Aden harus banyak minum, biar panasnya bisa turun."
Dengan terpaksa Miki meminum air sampai habis.
"Aden makan ya, udah gitu minum obat."
"Nggak mau."
"Kalau pancake?"
"Tapi perut Miki rasanya nggak enak Bi."
"Tetep harus makan Den. Kalo gitu Bibi bikinin dulu ya. Nanti dibawa ke sini."
Ira membaringkan Miki ke tempat tidur. Setelah itu dia beranjak bangun.
"Dar, tolong tungguin Den Miki dulu. Bibi mau bikin pancake dulu."
"Iya Bi."
"Mbak, Miki mau duduk."
"Tunggu sebentar, biar Mbak tambahin bantal dulu supaya Aden duduknya bisa nyaman."
Darsih merangkul pundak Miki, dan mengangkatnya sedikit. Setelah itu dia menunjukkan bantal menjadi lebih tinggi. Barulah Darsih meletakkan kepala Miki lagi.
"Udah enak Den?"
"Udah Mbak."
Ira datang membawa sepiring pancake yang baru matang.
"Den, ini pancake nya. Bibi udah kasih madu yang banyak."
"Tapi mulut Miki pahit Bi," keluh Miki.
"Bibi suapin ya. Aden mesti makan biar cepet sembuh."
"Biar sama aku aja Bi," ujar Darsih sambil mengulurkan tangannya.
"Yo wis. Bibi mau kasih tau Tuan dulu."
Baru saja Ira menutup pintu kamar Miki, Jericho datang menghampiri Ira.
"Bi, Miki mana? Kok belum keliatan?"
"Baru aja Bibi mau bilang. Den Miki demam Tuan."
Tanpa banyak tanya, Jericho masuk ke dalam kamar anaknya. Dia melihat Miki yang duduk bersandar di atas kepala tempat tidur.
"Papa mau ke mana?" tanya Miki.
"Mau ke sekolah kamu," jawab Jericho singkat.
Jericho menyentuh kening Miki.
"Sudah diukur pake termometer Dar?" tanya Jericho.
"Sudah Tuan, sama Bi Ira."
"Berapa?"
"Kata Bi Ira 39° Tuan."
Jericho menghela napas panjang. Kesal melanda hatinya. Namun, ingin marah juga percuma rasanya melihat keadaan Miki yang sakit.
"Maaf Pa," ujar Miki.
"Habisin makanan kamu, terus minum obat. Setelah itu istirahat."
Hanya itu kalimat yang diucapkan Jericho pada Miki. Setelah itu dia berjalan meninggalkan kamar dan menuju ke ruang keluarga.
"Bu, Tuan sudah ada di ruang keluarga," ujar Imas salah satu pelayan di rumah itu yang bertugas membersihkan rumah pada Ira.
"Iya."
Ira segera menyiapkan secangkir kopi untuk Jericho.
"Tuan, ini kopinya." Ira meletakkan secangkir kopi di meja.
"Bi, saya mau ke sekolah Miki. Dari sana saya langsung ke kantor. Kalau ada apa-apa langsung hubungi saya."
"Baik Tuan."
"Oh iya, kalau Miki mau minta makan sesuatu, kasih aja Bi. Uang yang saya kasih masih ada?"
"Masih Tuan."
Jericho mengambil dompet di saku belakang celana, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan menyerahkannya pada Ira.
"Tapi Tuan, kan uang yang kemarin dikasih sebelum Tuan pergi ke Singapura masih ada," ujar Ira.
"Gapapa Bi, pegang aja."
"Iya Tuan. Masih ada lagi Tuan? Kalo nggak ada, Bibi mau ke dapur."
"Silakan Bi."
Jericho menikmati kopi sambil menonton berita di televisi.
Setelah kopinya habis, Jericho mengambil tas kerjanya, dan berjalan keluar.
"Mau berangkat sekarang Tuan?" tanya Beno yang sedang mengelap mobil yang akan dipakai Jericho.
"Iya Pak. Saya titip Miki."
"Baik Tuan."
Jericho masuk ke dalam mobil, kemudian pergi meninggalkan rumah. Dia selalu mengendarai sendiri mobilnya, kecuali jika dirinya lelah atau harus ke bandara, barulah dia meminta Beno untuk menyupiri mobilnya.
Pikiran Jericho melayang mengingat hari di mana Serafin datang dan menyerahkan Miki yang baru berumur tiga hari.
"Ini anak kamu!" ujar Serafin sambil menyerahkan Miki kepadanya.
Jericho menerima Miki dan menggendongnya. Bayi mungil yang lucu dan menggemaskan. Perlahan Jericho menyentuh wajah Miki dengan jarinya. Menelusuri wajah anak itu dengan perasaan haru dan bahagia. Anaknya, darah dagingnya.
"Mulai sekarang kita nggak punya hubungan apa-apa lagi! Tolong secepatnya urus surat perceraian kita!"
"Apa kamu nggak mikirin anak kita Fin?" tanya Jericho yang masih berusaha membuat Serafin berubah pikiran.
"Dia bukan anak gue Jer!"
Setelah mengatakan itu, Serafin pergi meninggalkan dirinya dan Miki. Itu terakhir kalinya Jericho melihat Serafin.
Tidak lama setelah proses perceraian mereka selesai, dia mendengar kabar Serafin menikah dengan pria kaya raya yang berbeda dua puluh tahun lebih tua dari Serafin dan tinggal di Singapura.
Tiba di sekolah Jericho memarkir mobil, kemudian dia berjalan menuju ruangan kepala sekolah.
Jericho mengetuk pintu ruangan yang kebetulan terbuka.
"Oh Pak Jericho," ujar Becky dari dalam kantor. "Silakan masuk Pak." Becky berjalan menghampiri pintu.
"Terima kasih," ujar Jericho.
"Selamat pagi Pak Jericho," ujar Becky sambil menjabat tangan Jericho.
"Selamat pagi juga Miss."
"Silakan duduk Pak."
Becky mempersilakan Jericho duduk di sofa. Setelah Jericho duduk, barulah Becky ikut duduk tepat di samping Jericho, di sofa tunggal.
"Bisa kita mengobrol sebentar sebelum orang tua yang lain hadir?" tanya Becky.
"Silakan."
"Maaf sebelumnya, ini Miss Tata staff perpustakaan."
"Selamat pagi," sapa Tata ramah.
"Pagi." Jericho menjawab singkat.
"Ihs, gayanya sok dingin banget. Menyebalkan." Tata menggerutu dalam hati melihat sikap Jericho.
"Kalau boleh tau, kenapa dia ada di sini Miss? Kenapa seorang Staff perpustakaan harus ikut pertemuan?" tanya Jericho sambil menunjuk ke arah Tata dengan dagunya.
Becky menghela napas pelan melihat sikap Jericho yang terkesan arogan.
"Maaf Pak. Tapi Miss Tata ini yang kebetulan waktu itu melihat kejadiannya."
"Oh …," ujar Jericho dengan nada suara yang sengaja dipanjangkan.
Pintu ruangan kembali diketuk. Anne melongokkan kepala ke dalam ruangan.
"Silakan masuk Miss," ujar Becky dari dalam.
"Permisi Miss," ujar Anne.
Anne mempersilakan masuk para orang tua yang berada di belakangnya untuk masuk.
"Oh, silakan duduk," ujar Becky pada orang tua Rio, Jordan, dan Dilan.
Anne menghampiri Tata yang duduk di kursi dekat meja kerja Becky.
"Ta, itu bapaknya Miki?" bisik Anne setelah duduk di sebelah Tata.
"Hm."
"Jutek amat mukanya," desis Anne lagi.
"Hm."
"Gue mules nih Ta," bisik Anne.
"Sana ke toilet!" desis Tata.
"Bukan mules mau ke kamar mandi. Gue tegang ini."
"Oh …." desis Tata dengan muka jahil.
"Baiklah Bapak dan Ibu sekalian. Terima kasih karena sudah hadir di sini. Seperti yang Bapak dan Ibu ketahui, tujuan pemanggilan kalian adalah untuk membicarakan masalah yang terjadi kemarin."
Setelah itu Becky mulai menceritakan kronologis kejadian, dibantu oleh Tata yang kebetulan memang mendengar ketika Rio dan kedua temannya, terutama Jordan mengancam Miki. Dan bagaimana siangnya Tata jugalah yang menemukan mereka di taman belakang.
"Kenapa harus Rio terus yang disalahkan Miss?!" ujar Desi, ibunya Rio dengan nada tinggi. "Bisa aja kan murid baru itu yang mulai duluan dan bikin anak saya jadi emosi!"
"Maaf Ibu Desi, tapi harap berbicara dengan nada yang sopan!" tegur Becky tegas.
"Maaf saya menyela," ujar Anne. "Sebagai wali kelas Rio, saya yang selalu bertemu paling banyak dengan Rio selama di sekolah. Dan memang dari awal tahun ajaran sampai hari ini, memang Rio yang lebih dahulu mengganggu Michael."
Baru saja Anne selesai berkata-kata, orang tua Rio langsung membantah dan tidak terima. Akhirnya terjadilah perdebatan yang cukup serius.
Tata memijat pelipisnya. Kepalanya terasa pusing mendengar para orang tua yang tidak mau menerima ketika anak-anak mereka mendapatkan sanksi dari sekolah.
Hanya pria menyebalkan itu yang tetap diam sepanjang pertemuan berlangsung. Namun, raut wajahnya menjadi keras dan tatapan matanya yang semakin tajam ketika mendengar apa yang sudah dilakukan oleh Rio dan kedua temannya.
Ketika pertemuan selesai, dan para orang tua dan Anne sudah pergi meninggalkan ruangan, Becky menghela napas panjang dan memijat pelipisnya yang terasa berat.
"Minum dulu Tan," ujar Tata sambil meletakkan secangkir teh hangat di hadapan Becky.
"Makasih Ta."
"Tan, Tata ke perpustakaan dulu ya."
"Oh iya, silakan."
Tata meninggalkan ruangan Becky dan kembali ke perpustakaan.
***
Setelah jam pelajaran berakhir, Anne meninggalkan kelas dan mencari Tata di perpustakaan.
"Ta," panggil Anne dari depan pintu.
"Oy. Masuk Ne," ujar Tata.
Anne memasuki perpustakaan dan berjalan menuju meja Tata. Dia menarik kursi yang terletak di seberang Tata dan duduk dengan nyaman.
"Gimana kelas hari ini?" tanya Tata.
"Lumayan Ta."
"Gimana Michael?"
"Kan dia nggak masuk. Tadi kata bokapnya itu anak demam."
"Eh, serius Ne?"
"Masa iya gue boong?"
"Elo nggak telepon?"
"Mau, tapi ntaran lagi," ujar Anne. "Tapi jujur Ta, gue takut itu anak kenapa-kenapa."
"Kenapa-kenapa gimana maksud lo?"
"Ya gue takut itu anak sakit karena efek kemarin. Kan kemarin Rio nendangin dia."
"Jangan mikir buruk dulu Ne. Positif thinking aja. Mungkin emang cuma demam biasa."
"Semoga Ta. Gue rada ngeper ngeliat bokapnya. Mukanya itu lho …."
"Hush!"
"Emang tadi elo nggak liat muka itu orang?"
"Liat sih."
"Gue bener kan?"
"Nggak juga Ne. Kita kan nggak tau apa yang dia rasain. Mungkin dia begitu karena berusaha menutupi perasaan dia yang sebenernya."
"Nggak tau ah," ujar Anne. "Eh tapi apa Michael nggak tertekan punya bokap kayak itu orang?"
"Elo tuh Ne."
"Tapi gue serius Ta. Kalo sampe Michael kenapa-kenapa karena kejadian kemarin, gue nggak berani bayangin reaksi bokapnya Michael."
Tata termenung mendengar perkataan Anne. Dia jadi teringat kejadian di kantor tadi. Di mana orang tua Rio begitu ngotot membela anaknya dan tetep kekeuh kalau Rio tidak bersalah.
Bagaimana kalau sampai papanya Michael pergi ke Rumah Sakit dan membuat laporan visum?
Tanpa sadar Tata menjambak rambutnya karena bingung.
"Argh!" seru Tata.
"Elo kenapa Ta?" tanya Anne yang terkejut mendengar jerit pelan Tata.
"Pusing kepala gue."
"Karena?"
"Gapapa Ne."
"Mending kita cari jajanan yuk," ujar Anne.
"Boleh juga. Gue lagi butuh yang pedes-pedes biar otak gue cenghar lagi."
"Baso?" tanya Anne.
"Nggak ah. Lagi pengen yang kriuk-kriuk Ne, tapi harus pedes."
"Ah, gue tau. Keripik setan aja Ta."
"Boleh juga tuh. Tapi kan jauh Ne."
"Pesan pake ojol dong Ta. Gimana sih elo," dumel Anne.
Tata meringis mendengar omelan Anne.
"Gue kadang bingung ma elo Ta."
"Bingung kenapa?"
"Kok elo bisa lulus S2 dengan nilai bagus, tapi kadang elo rada telmi."
"Ih …, s***s lo Ne."
"Lah kenyataan Ta. Makanya gue mikir, elo pada dasarnya emang pinter, atau elo lulus karena dosen pada kasian ma elo."
"Kunyuk lo!"