Rahasia Miki Aman

1783 Kata
"Miss Tata, bisa tolong antar Michael sampai ke mobil?" tanya Becky. "Bisa Miss." “Tolong ya Miss. Saya perlu bicara empat mata dengan Miss Anne mengenai masalah ini.” “Baik Miss,” ujar Tata. Tata berjalan menghampiri Miki dan duduk di sofa di samping anak itu.  “Kamu bisa berdiri dan berjalan?” tanya Tata pada Miki. “Bisa Miss,” jawab Miki dengan suara lemah. "Ayo, Miss bantu kamu berdiri."  Tata berdiri terlebih dahulu, kemudian mengulurkan tangannya pada Miki. Miki meraih tangan Tata dan berusaha bangun perlahan karena rasa sakit di sekujur tubuhnya.  Dengan hati-hati, Tata memapah Miki berjalan keluar dari ruangan kepala sekolah menuju ke bagian depan sekolah di mana para penjemput menunggu murid-murid keluar. “Sakit? Mau duduk dulu?” tanya Tata ketika Miki merintih. Miki menganggukkan kepala. Tata mendudukkan Miki di bangku kayu yang ada di lorong depan sekolah. Tata duduk di sebelah Miki. Tata menarik kepala Miki mendekat, dan diletakkannya kepala anak itu di bahunya. Setelah beristirahat sekitar lima menit, Tata kembali memapah Miki sampai ke depan gedung sekolah.  Beno yang sudah lama menunggu Miki keluar, sangat terkejut melihat Miki yang berjalan keluar sambil dipapah dan dalam keadaan terluka. “Ya Tuhan! Aden kenapa?” tanya Beno panik melihat keadaan Miki yang babak belur. “Pak, paniknya ditunda dulu. Tolong bantu saya bawa Michael ke mobil,” ujar Tata. “Eh, iya Miss. Maaf saya kaget dan panik Miss.” ujar Beno tidak enak hati. “Gapapa Pak. Wajar kok kalau Bapak kaget.” Tata memaklumi kepanikan Beno. “Miss, biar Den Miki saya gendong.” Beno langsung mengambil miki. Dengan bantuan Tata, Beno menggendong Miki di punggungnya sampai mereka tiba di mobil.  Beno menekan kunci mobil. Setelah kunci pintu terbuka secara otomatis, beno membuka pintu mobil bagian belakang dan meletakkan Miki dengan hati-hati. “Miss, makasih atas bantuannya,’ ujar Beno. “Sama-sama Pak,” jawab Tata. “Kalau begitu saya pamit dulu Miss,” ujar Beno sambil menundukkan kepalanya. “Silakan Pak. Oh iya, sampai di rumah, tolong Michael dikasih makan dan minum obat ya Pak. Siapa tahu Michael demam.” “Baik Miss.” Beno masuk ke dalam mobil, dan mengendarai mobil menuju ke rumah. “Aduh Den, kenapa bisa sampe kayak gini?” ujar Beno sambil matanya menatap spion tengah. Miki hanya diam. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Miki memejamkan matanya karena merasa sedikit mual. Beno yang khawatir melihat keadaan Miki, mengambil ponsel yang dia letakkan di dashboard mobil, dan menghubungi Ira. “Ra.” “Ada apa No. Kenapa suara kamu kayak gitu? Kamu kenapa?” “Bukan aku Ra, tapi Den Miki.” “Den Miki kenapa?” “Habis baku hantam lagi Ra. Kali ini parah Ra.” “Parah gimana maksud kamu?!” “Babak belur Ra.” “Kamu sungguhan?” “Serius Ra.” “Terus sekarang kamu di mana?” “Di jalan. Sekitar dua puluh menit lagi aku sampe di rumah. Tolong suruh Darsih siapin pakaian ganti Den Miki, habis itu suruh dia nunggu di pintu utama.” “Iya, iya.” Setelah sambungan telepon terputus, Ira segera mencari Darsih. “Darsih! Dar! Kamu di mana?!” teriak Ira sedikit panik. “Iya Bi? Kenapa teriak-teriak gitu? Ada apa toh Bi?” “Cepetan kamu ke kamar Den Miki. Siapin baju ganti, handuk kecil, betadine, dan perban. Jangan lupa siapin tempat tidur Aden sekalian.” “Ada apa sama Den Miki, Bi?” “Bibi juga kurang jelas Dar. Tadi Pamanmu cuma bilang Den Miki habis berkelahi dan babak belur.” “Ya Tuhan!” seru Darsih sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. “Cepetan Dar. Sebentar lagi mereka sampe.” “Iya Bi.”  “Oh iya Dar, habis itu kamu tunggu mereka di pintu utama ya.” “Iya Bi.” Darsih bergegas melakukan perintah Ira. Setelah semua siap, Darsih menunggu dengan gelisah di depan pintu utama. Begitu melihat mobil yang dikendarai Beno melewati pintu gerbang, Darsih berteriak memanggil Ira.  “Bi! mereka dateng!” Ira tergopoh-gopoh berlari menuruni undakan rumah dan menunggu mobil berhenti. “Ya ampun Den!” seru Ira yang benar-benar terkejut melihat keadaan Miki. “No, kita mesti gimana ini? Tuan pasti tahu, dan pasti ngamuk.” “Jangan mikirin Tuan dulu. Mending bantuin aku bawa Den Miki ke kamar. Kamu juga Dar!” Beno membopong Miki memasuki rumah, dan langsung dibawa ke kamar anak itu. Beno merebahkan Miki di tempat tidur dengan perlahan.  Setelah itu Darsih dan Ira yang mengambil alih. Darsih membuka sepatu dan kaos kaki yang dikenakan Miki, sedangkan Ira mengganti baju seragam Miki. “Dar, kamu ke dapur, ambilin makanan dan obat penurun panas buat Den Miki,” ujar Ira memberi perintah pada keponakannya. “Iya Bi.” Darsih bergegas keluar dan melakukan perintah Ira. “No, kita mesti gimana? Yang kayak begini nggak mungkin Tuan nggak tau.” “Aku juga bingung Ra.” “Pihak sekolah pasti bakalan ngomong sama Tuan. Yang aku takutin kalo sampe Tuan tau yang kemaren itu No. Tuan pasti bakal marah besar.” “Nah itu dia Ra. Dari tadi aku juga mikirin hal yang sama. Bisa habis kita semua dimarahin Tuan.” “Bi,” panggil Miki dengan suara pelan.” “Iya Den?” ‘Miki haus.” Ira segera menuangkan air minum ke dalam gelas yang memang selalu ada di kamar Miki. “No, tolong bangunin Den Miki.” Beno mendudukkan Miki dan memberikan gelas berisi air putih pada Miki. “Udah,” ujar Miki. Beno memberikan gelas pada Ira, sementara dia membaringkan Miki ke tempat tidur. ”Bi, ini makanannya Den Miki.” “Kamu aja yang nyuapin Dar. Bibi sama Paman mau keluar dulu.” “Iya Bi.” “Den, makan dulu ya. Habis makan, obatnya langsung diminum. Bibi sama Pak beno mau keluar dulu.” “Iya Bi.” Ira menarik tangan Beno supaya keluar dari kamar, dan membawa suaminya ke dapur.  “Mau apa lagi toh Ra?” “Mau mikir No. Kita mesti siap-siap kalo sampe Tuan tahu dan marah.” “Mikirnya nanti dulu ya Ra. Kepalaku mumet* banget Ra.” *mumet = pusing. “Kamu mau makan No?” tanya Ira. “Nggak selera Ra. Tolong bikinin aku kopi aja.” Ira melakukan permintaan Beno.  “Eh, ngomong-ngomong siapa yang ngobatin Den Miki?” tanya Ira sambil meletakkan cangkir berisi kopi di hadapan Beno. ‘Guru Ra.” “Guru yang ngajar Den Miki?” “Bukan Ra. Kalo gurunya Aden, aku tau. Kalo yang tadi aku belum pernah liat. Orangnya cantik Ra, pake kacamata dan keliatannya baik Ra." Tepat saat itu Darsih datang dengan membawa piring kotor bekas Miki makan. “Den Miki udah tidur Dar?” tanya Ira. "Tadi pas aku tinggal udah hampir pules Bi."   “Lho kok makannya nggak habis?” “Kenyang katanya Bi.” "Biarlah. Ntar begitu Aden bangun, dikasih makan lagi. Kamu nggak lupa kasih minum kan?" “Ya nggak Bi, udah minum obat juga.” “Yo wis* kalo gitu. Kamu diem aja di kamar Aden, tungguin di sana. Takut ada apa-apa.” *Yo wis : ya udah “Iya Bi. Aku taruh piring dulu.” Darsih meletakkan piring bekas makan di tempat cuci piring, kemudian kembali ke kamar Miki, menemani majikan kecilnya yang tidur dengan gelisah. Darsih sedih melihat keadaan Miki. Awalnya dia memang tidak menyukai Miki karena sikap anak itu yang suka marah-marah. Namun, perlahan timbul belas kasih di hatinya setelah mengetahui seperti apa kehidupan Miki sebenarnya. "Aden cepet sembuh ya," bisik Darsih. *** Beno sedang beristirahat di kamar ketika terdengar suara panik Ira. “No! Tuan pulang!”  “Yang bener Ra?” Beno langsung duduk di kasur.  Hilang sudah rasa penat yang dia rasakan mendengar berita dari istrinya. “Bener No. Dan mukanya Tuan nyeremin banget. Duh mesti gimana ini.” “Tenang dulu Ra. Kita tunggu aja.” “BI IRA! PAK BENO!” “ Tuh denger suara Tuan. Duh tamat deh riwayat kita No.” "Kita hadapi aja Ta. Berdoa aja semoga Tuan nggak tau masalah yang kemarin." "Semoga No." Sepasang suami istri itu berjalan menemui Jericho yang sudah menunggu di ruang keluarga. “Iya Tuan?” jawab Ira dan Beno berbarengan. "Pak Beno tau apa yang terjadi sama Miki tadi di sekolah?" tanya Jericho dengan nada datar. "Kalo Aden terluka, saya tau Tuan. Tapi kalo kenapa nya, saya kurang paham." "Kenapa nggak langsung hubungin saya?!" "Maap Tuan. Saya keburu panik pas ngeliat Den Miki." Jericho mengacak-acak rambutnya. Sejak pihak sekolah meneleponnya dan memberitahu kalau Miki terlibat perkelahian, emosi sudah menguasai Jericho.  Apalagi mendapat kabar kalau besok dia harus menghadap ke sekolah. "Sekarang Miki di mana?" tanya Jericho. "Sedang tidur di kamarnya Tuan, ditemani sama Darsih." Kali ini Ira yang menjawab. Jericho berjalan meninggalkan ruang keluarga. Dia menuju kamar Miki. Niatnya ingin memarahi Miki karena terlibat perkelahian lagi. Namun, begitu sampai di kamar dan melihat keadaan anaknya, semua rasa marah dan kesal lenyap seketika. Jericho duduk di pinggir tempat tidur dan menyentuh sudut bibir Miki yang bengkak dan terluka. Kemudian tangan Jericho berpindah ke tangan Miki yang terdapat memar. Disentuhnya setiap memar yang ada dengan rasa sakit yang teramat besar di dàdanya. Jericho mengepalkan tangan menahan rasa sesak dan marah yang bercampur menjadi satu di dàdanya. Ketika Jericho beranjak dari tempat tidur, dia melihat Beno dan Ira yang berdiri tidak jauh darinya. Jericho berjalan menghampiri mereka. Dia menatap tajam pada kedua pelayan kepercayaannya. "Kalian berdua adalah orang yang paling saya percaya di rumah ini. Jadi tolong beritahu saya kalau terjadi sesuatu sama Miki." "Maafkan kami Tuan," ujar Beno. "Saya menitipkan Miki pada kalian karena saya percaya sama kalian berdua. Kalian sudah saya anggap sebagai keluarga, karena kalian sudah bersama-sama saya sejak dulu." "Maaf Tuan, kami tadi beneran panik ngeliat Den Miki. Yang ada di pikiran kami ya ngobatin Aden dulu." "Sudahlah." Jericho berkata sambil berjalan meninggalkan kamar Miki. "No, kok Tuan nggak ngomong apa-apa tentang yang kemarin? Apa Tuan nggak tau?" ujar Ira setelah Jericho keluar. "Kayaknya gitu Ra. Lega aku," desah Beno sambil memegangi dàdanya. "Semoga Tuan nggak akan pernah tahu No. Aku kasian sama Den Miki." "Sama Ra. Aku rasa Aden jadi Begini ya karena Tuan juga. Coba Tuan mau lebih perhatiin Aden, rasanya nggak akan begini." "Iya sih. Biar gimana kan Aden masih kecil, masih butuh perhatian dari orang tuanya. Lha ini udah nggak ada ibu, Tuannya juga dingin sama Aden." "Coba ya kalo Tuan mau nikah lagi, pasti Den Miki nggak akan kesepian lagi," ujar Beno. "Ngawur kamu No." "Eh aku serius Ra. Apalagi kalo istrinya kayak Miss yang tadi tolongin Aden, aku setuju banget Ra." "Emang kenapa sama Miss yang tadi kamu liat?" "Entah Ra. Cuma kok hatiku adem aja waktu ngeliat dia mapah Aden." "Makin ngawur kamu No."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN