Berkelahi Lagi dengan Rio

2241 Kata
Pagi ini Miki bangun dengan suasana hati yang sangat baik. Miki senang karena semalam dapat menikmati waktu bersama Jericho. Dan yang terpenting, papanya tidak sedikitpun memarahi dia. Miki melihat baju yang dipakainya. Ternyata dia memakai piyama. “Siapa yang gantiin baju Miki?” ujarnya bingung. Sambil memikirkan siapa yang mengganti bajunya, Miki berjalan menuju ke kamar mandi. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, dan nampaklah Darsih. “Eh tumben Aden sudah bangun,” ujar Darsih yang terkejut melihat Miki yang berdiri di depan kamar mandi. “Pagi Mbak Dar,” sapa Miki ramah. “Eh tumben Aden nyapa aku,” gumam Darsih bingung. “Aden mau mandi sekarang?” tanya Darsih. “Iya Mbak.” “Mbak siapin dulu ya air panasnya.”  Darsih bergegas ke kamar mandi dan menyalakan kran air serta mengatur suhu air panas untuk Miki. “Sudah Den. Sekarang Aden sudah bisa mandi.” Miki masuk ke dalam dan mulai mandi, sedangkan Darsih menyiapkan seragam sekolah yang akan dikenakan oleh Miki. Selesai mandi dan merapikan diri, Miki keluar kamar bersama Darsih yang membawakan tas sekolah majikan kecilnya menuju ruang makan.  “Wah …, Aden udah mandi?” tanya Ira. “Udah Bi.” “Gitu atuh tiap hari, Bibi kan jadi seneng liatnya.” Miki meringis mendengar perkataan Ira. Hatinya senang disebut pintar oleh Ira. “Bi, Miki mau minum s**u aja ya,” ujar Miki. “Kalau ketauan sama Tuan nanti Aden dimarahin lagi,” ujar Ira. ‘Tapi Miki nggak laper Bi.” “Pagi itu wajib sarapan Mik,” ujar Jericho yang mendengar perkataan anaknya barusan. “Iya Pa,” jawab Miki. Dengan wajah ditekuk, Miki duduk di kursi makan dan menunggu Ira menyiapkan sarapan untuk dirinya. Beruntung sarapan pagi ini adalah roti panggang yang diolesi madu kesukaan Miki, jadi dia dapat dengan cepat menghabiskan sarapannya. “Den, tas sekolah dan tas berisi kotak makan dan botol minumnya udah Mbak taruh di mobil ya,” ujar Darsih. “Iya Mbak. Makasih.” Setelah Miki menghabiskan s**u, dia beranjak dari kursi makan menghampiri Jericho yang duduk di ruang keluarga. “Pa,” panggil Miki. “Hm.” “Miki ke sekolahnya dianter sama Papa ya,” pinta Miki. “Nggak bisa Mik. Hari ini Papa banyak kerjaan.” “Kalo jemput bisa kan Pa?” rengek Miki. “Papa sibuk Mik. Lagian nanti siang Papa ada rapat sampe sore,” tolak Jericho. “Sekali aja Pa,” pinta Miki dengan suara memelas. “Mik, lebih baik kamu berangkat sekarang. Nanti kesiangan, jalanan macet.” “Iya Pa.” Miki berjalan meninggalkan Jericho dengan wajah tertunduk. Sampai di mobil, Miki langsung masuk tanpa menyapa Beno yang berdiri di sisi pintu mobil. “Den Miki kenapa lagi?” tanya Beno dalam perjalanan ke sekolah. “Tadi di rumah mukanya ceria, kok sekarang cemberut?” “Kesel sama Papa.” “Emangnya Tuan Jericho kenapa?” “Nyuruh Miki sarapan. Udah gitu nggak mau anterin Miki ke sekolah. Padahal Miki kan juga pengen ngerasain diantar dan dijemput sama Papa.” “Wah, kalau masalah sarapan, Bapak setuju sama Tuan Den. Aden itu perutnya harus diisi, supaya bisa belajar dengan baik.” ‘Tapi Miki kan nggak laper Pak,” bantah Miki. “Iya, Bapak paham Den,” ujar Beno sabar. “Kalau masalah anter jemput, mungkin Tuan emang nggak bisa Den. Kan papanya Aden banyak kerjaannya. “Cuma sekali ini aja Pak. Miki pengen tau rasanya dianter jemput sama orang tua. Andai Miki punya mama, pasti tiap hari dianter jemput kayak anak yang lain.” Beno langsung terdiam mendengar perkataan Miki. Dia dapat merasakan kesedihan dan rasa kesepian Miki. Selama ini hanya dirinya dan Ira yang benar-benar mengasuh majikan kecilnya sejak anak itu lahir. Karena itulah baik dia maupun Ira sangat menyayangi Miki seperti anak sendiri. Apalgi pernikahannya dengan Ira tidak membuahkan keturunan. “Sabar ya Den. Dan jangan lupa buat terus berdoa supaya keinginan Aden bisa terkabul.” *** “Anak-anak, sekarang kalian akan ke perpustakaan. Simpan buku dan alat tulis kalian. Setelah itu berbaris yang rapi di depan kelas.” “HORE …!” seru anak-anak dengan suara keras. “Ayo berbaris yang rapi. Tidak saling dorong!” ujar Anne di depan pintu kelas. Setelah anak-anak berbaris dengan rapi dan sudah tidak ada yang bersuara lagi, Anne memeriksa sekali lagi apakah ada anak yang belum baris. “ Ingat ya di perpustakaan kalian tidak boleh ribut, dan harus mengikuti aturan.” “IYA MISS,” jawab anak-anak. Anne memimpin barisan berjalan menuju ke perpustakaan. Miki yang berjalan di baris ketiga dari belakang tidak menyadari kalau Rio sengaja bertukar tempat dengan anak yang tepat berada di belakang Miki. “Aduh!’ seru Miki yang hampir terjatuh karena ada yang dengan sengaja mendorongnya. Miki menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang mendorongnya. Dia melihat Rio dan kedua temannya tertawa mengejek melihat dirinya yang hampir jatuh. “Kenapa sih kalian ganggu aku terus?!” ujar Miki kesal. “Gue nggak suka sama elo!” “Emang salah aku apa?” “Gara-gara elo sekarang Aurel nggak mau temenan sama gue. Dan jadi banyak temen-temen yang nggak suka sama gue!” “Itu kan bukan salah aku!” “Salah elo lah! Kalo elo nggak sekolah di sini, Aurel pasti mau temenan sama gue!” “Kenapa kamu nggak tanya langsung sama Aurel, kenapa dia nggak mau temenan lagi sama kamu.” “Pokoknya liatin aja! Gue bakal bikin elo nyesel udah sekolah di sini!” “RIO! DILAN! JORDAN! MICHAEL! kalian kenapa masih berdiri di sana!” ujar Anne. “Iya Miss.” Tata yang kebetulan habis dari ruang TU mendengar semua percakapan antara Rio dan Miki. Dia menghela napas panjang sebelum melanjutkan langkah kakinya menuju ke ruang perpustakaan. “Ne, rasanya bakal ada tsunami lagi di kelas elo,” gumam Tata prihatin memikirkan Anne. Miki masuk ke dalam perpustakaan dan berjalan menuju meja yang masih kosong. Namun, baru beberapa langkah memasuki perpustakaan, tangannya ditarik oleh Aurel “Kamu digangguin lagi sama mereka?” tanya Aurel pada Miki. “Bukan urusan kamu. Sana pergi, jangan deket-deketin aku terus!” Miki menyentakkan tangannya sehingga terlepas dari genggaman Aurel, dan berjalan menjauhi gadis cilik itu. “Kenapa muka kamu sedih Rel?” tanya Tata. yang baru saja masuk ke perpustakaan. “Michael marah sama aku Miss. Dia bilang jangan deketin dia terus. Padahal Aurel cuma mau jadi temennya Michael.” “Sabar ya Aurel Cantik. Nanti dia juga bakalan mau temenan sama kamu,” hibur Tata. “Iya Miss.” Tata berjalan ke tengah ruang perpustakaan, kemudian menepuk tangannya keras-keras. “Anak-anak, tolong dengarkan Miss sebentar,” ujar Tata pada murid-murid kelas 2B yang sudah berada di ruang perpustakaan. “Hari ini kalian boleh memilih dan meminjam buku-buku yang sudah Miss letakkan di meja,” ujar Tata sambil menunjuk meja yang dimaksud. “Iya Miss,” jawab anak-anak. “Ingat ya peminjaman buku untuk kelas 2B adalah setiap hari Selasa. Jadi kalian harus ingat untuk membawa buku yang sudah kalian pinjam tiap Selasa untuk ditukar dengan buku yang baru. Mengerti?” “Mengerti Miss.” “Oke, kalau begitu silakan memilih buku yang kalian suka. Setelah itu bawa ke meja Miss.” Anak-anak berlari kecil menuju meja yang terdapat buku-buku yang sudah disiapkan Tata. Mereka sibuk memilih buku yang disuka. Setelah itu membawanya pada Tata untuk didata tanggal peminjaman dan pengembalian. “Kenapa ngeliatin Miss terus?” tanya Tata pada Miki sambil membetulkan kacamatanya yang melorot turun. Miki menggelengkan kepalanya, tetapi ada sisa senyum di sudut bibirnya. “Kamu senyum? Ada yang lucu kah?” tanya Tata penasaran. “Maaf Miss,” ujar Miki malu-malu. “Ih gitu. Masa nggak mau bilang sama Miss apa yang lucu?” Tata berpura-pura merajuk. Senyum Miki kini terlihat nyata. Dia merasa sangat senang melihat cara Tata berbicara dan suara Tata yang lembut. “Eh malah beneran senyum. Kasih tau Miss dong …?” “Miss cantik.” ujar Miki malu-malu. *** Bel pulang sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Kelas pun sudah sepi. Miki sedang membereskan buku ketika Rio dan Jordan menyeretnya keluar kelas menuju ke taman belakang yang dekat dengan perpustakaan. “Kalian mau apa sih?! Kenapa bawa aku ke sini?!” tanya Miki kesal. “Hari ini gue mau kasih elo pelajaran karena waktu itu udah berani ngelawan gue?!” ujar Rio dengan sinis. “Emang kamu mau apa?” tanya Miki masih berusaha menahan emosinya. “Bukan urusan Elo. Pokoknya hari ini gue mau bales perbuatan elo!” “Aku nggak mau berantem. Jadi jangan pancing aku!” “Elo pikir gue takut sama ancaman elo?” ledek Rio. “Kamu pikir aku takut sama kalian?! Kalo berani majunya satu-satu!” Akhirnya emosi Miki terpancing juga. ”Jordan, Dilan, pegangin dia!” Rio memberi perintah pada kedua temannya. “Beraninya main keroyokan!” seru Miki marah. Sebelum Jordan dan Dilan berhasil menangkap Miki, anak itu berkelit dan menyengkat kaki Jordan hingga anak itu jatuh tersungkur. “Aku nggak punya urusan sama kamu. Jadi jangan coba-coba bikin aku marah!” Miki memperingati Dilan. Selama ini Dilan memang tidak ikut merudung Miki seperti kedua temannya. Karena itu, Dilan langsung menyingkir ke pinggir mendengar peringatan Miki. “Eh Dilan, kenapa malah minggir?! Cepetan tangkep dia!” seru Rio marah. “Aku nggak mau ikutan Rio. Aku nggak mau diomelin sama Miss Becky lagi,” ujar Dilan. “Dasar pengecut!” teriak Rio marah. Rio maju menerjang Miki. Mereka berdua jatuh dan bergulingan di rumput. Sama-sama saling memukul. Hingga di satu kesempatan, Miki berhasil menduduki tubuh Rio dan memukuli Rio sekuat tenaga, melampiaskan rasa kesal yang selama ini dipendam Miki. Jordan yang sudah berdiri, berlari untuk menolong Rio. Dia mendorong Miki hingga jatuh. Setelah terbebas, Rio langsung berlari menghampiri Miki yang baru saja akan bangkit berdiri. Dengan curang, Rio menendang perut Miki keras-keras. dan terus menendangi Miki yang hanya bisa menutupi wajahnya yang sempat terkena tendangan Rio dua kali. “BERHENTI!!!” seru Tata. Rio langsung berhenti menendang dan kaget melihat Tata yang bergegas menghampiri mereka. Jujur, Rio takut terhadap Tata. Guru yang tidak pernah marah, akan tetapi sangat tegas itu. “Kalian ini!” Tata berjongkok di samping Miki dan membantu anak itu untuk berdiri. Tata memeluk bahu Miki dan menatap pada Rio dan Jordan dengan tatapan tajam. “Miss tidak akan banyak bicara sama kalian. Sekarang ikut sama Miss. Kita selesaikan di ruangannya Miss Becky.” “I-iya M-miss,” ujar Rio dan Jordan. “Kamu bisa jalan Michael?” tanya Tata lembut. “B-bisa Miss,” jawab Miki menahan sakit di bagian perutnya. “Kalian berdua jalan duluan!’ perintah Tata pada Rio dan Jordan. “Dilan! Bantu Miss,” ujar Tata pada Dilan yang masih berdiri di pinggir taman.” Dilan berlari menghampiri Tata dan membantunya memapah Miki. Mereka berlima berjalan menuju ke ruangan kepala sekolah. Sampai di depan pintu ruangan Kepala sekolah, Tata mengetuk pintu yang tertutup. “Silakan masuk!” ujar Becky dari dalam. Tata membuka pintu lebar-lebar supaya dapat memapah Miki. “Ada perlu apa Miss Ta ….” Becky tidak jadi melanjutkan perkataannya karena melihat Tata masuk sambil memapah Miki yang dalam keadaan babak belur, diikuti oleh Rio dan kedua kawannya. “Lagi?!” tanya Becky. Tata hanya bisa menganggukkan kepala. “Miss Tata, tolong hubungi Miss Anne. Minta dia segera datang ke sini.” “Baik Miss.” Tata mendudukkan Miki di sofa yang ada di ruangan, kemudian mengambil ponsel dan menghubungi Anne. “Halo Miss Anne.” “ ….” “Miss Anne tolong datang ke ruangan Miss Becky sekarang juga ya.” “....” “Sekarang ya Miss. Ditunggu.” “ ….” “Sudah Miss Becky.” ‘Miss, tolong ambilkan obat di kotak.” Becky menunjuk ke arah kotak obat yang tergantung di dinding. “Baik Miss.” Tata sedang mengambil obat serta kapas, ketika pintu diketuk dan Anne masuk ke dalam ruangan. “Kalian lagi?!” seru Anne antara kaget dan kesal. “Ya Tuhan …, Michael kamu kenapa jadi kayak gitu?” Anne benar-benar terkejut sekaligus khawatir melihat keadaan Miki. “Duduk dulu Miss Anne,” ujar Becky tenang. Becky sendiri beranjak dari kursi kerjanya dan berjalan menuju sofa. Dia memandangi ketiga anak yang kerap membuat masalah sejak mereka kelas satu. “Dilan! Coba ceritakan apa yang terjadi!” Becky berbicara dengan tenang. “Sebentar Miss,” sela Tata. “Miss Anne, tolong obati Rio.” Tata menyerahkan botol betadine dan kapas pada Anne. “Oke. Sekarang kamu boleh cerita,” ujar Becky pada Dilan. Sementara Dilan menceritakan kejadian dari awal, Tata dengan telaten membersihkan luka Miki dengan alkohol, kemudian memberikan betadine pada luka Miki dan menutupnya dengan perban. Setelah itu barulah Tata mengoleskan salep untuk memar Miki setelah diseka dengan air bersih terlebih dahulu. “Miss benar-benar sudah habis kata menghadapi kalian berdua,” ujar Becky sambil menatap Rio dan Jordan bergantian. “Apalagi saya Miss,” ujar Anne sambil menghela napas panjang. “Perbuatan kalian kali ini tidak dapat Miss toleransi lagi. Secepat mungkin Miss akan memanggil orang tua kalian berempat dan memberikan sanksi untuk kalian.” “Jangan Miss!” seru Rio dan kedua temannya panik. “Kemarin ini Miss sudah memberi kalian peringatan, tetapi kalian tidak mendengarkan. Jadi, terima saja konsekuensi dari perbuatan kalian.” “Mbok ya di sekolah itu belajar, bukannya malah asik berkelahi kayak gini. Kalau udah kayak gini, baru nyesel kan.” Tata berkata dengan lembut, tapi begitu tajam di telinga Miki, Rio, Jordan, dan Dilan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN