Hari Senin sore Jericho tiba di rumah setelah perjalanan bisnisnya ke Singapura. Dia membawakan banyak oleh-oleh untuk Miki. Ketika berjalan memasuki ruang utama, Jericho melihat Ira yang sudah berdiri menunggu dirinya.
"Miki di mana Bi?" tanya Jericho.
"Ada di kamarnya Tuan."
"Selama saya pergi apa dia membuat masalah?"
"Nggak Tuan," ujar Ira. "Untung memar Aden yang di pipi udah ilang. Kalo nggak bisa berabe ini. Semoga beneran nggak ketauan," ujar Ira dalam hati.
"Tumben banget. Biasanya tiap saya nggak ada di rumah, ada aja masalah yang dia buat."
"Kali ini semua baik-baik aja Tuan."
"Ya udah. Saya ke kamar dulu Bi. Mau mandi dulu."
"Iya Tuan."
"Oh iya bilang sama Miki, saya mau ajak dia makan malam bareng. Suruh dia siap-siap."
"Baik Tuan,” ujar Ira.
Setelah Jericho masuk ke dalam kamar, Ira bergegas mencari Darsih.
“Dar, kamu ke kamar Den Miki. Bilang sama Aden untuk ganti baju dan siap-siap. Tuan Jericho mau ajak Den Miki pergi makan di luar.
“Baik Bi.”
Darsih segera menuju ke kamar Miki untuk memberi tahu dan membantu Miki berganti pakaian. Setelah mengetuk pintu, Darsih masuk ke dalam kamar dan menghampiri Miki yang sedang menggambar di meja..
"Den, ada pesan dari Tuan Jericho. Katanya Aden disuruh ganti baju dan siap-siap. Tuan mau ajak Aden makan malam di luar." Darsih menyampaikan pesan yang diterimanya dari Ira.
"Emang Papa udah pulang?" tanya Miki sambil mendongak menatap Darsih.
"Udah Den."
"Sekarang Papa di mana?"
"Kata Bi Ira lagi mandi Den."
Miki bangkit berdiri dan berlari melintasi kamar menuju ke pintu.
"Eh Aden mau ke mana?! seru Darsih kaget. “ Ganti baju dulu Den."
Miki menghentikan larinya, dan berbalik badan menuju lemari pakaian. Darsih yang sedang menyiapkan baju, menyerahkannya pada Miki.
“Ini baju dan celananya Den.”
Miki bergegas mengganti baju, setelah itu langsung berlari keluar kamar untuk menemui Jericho.
"Bi, Papa mana?"
"Kayaknya masih di kamar Den. Bibi belum lihat Tuan keluar."
Miki tertunduk lesu. Dia kangen pada Jericho. Kali ini papanya pergi cukup lama, dan Miki merasa sedikit kehilangan.
Miki berjalan menuju ke ruang tamu untuk menunggu Jericho. Dia menyalakan televisi untuk mengusir rasa bosan. Tidak lama kemudian Darsih datang membawakan tas selempang yang selalu dipakai Miki ketika bepergian bersama Jericho.
"Kamu udah siap?" tanya Jericho.
"Udah Pa."
"Kalo gitu kita berangkat sekarang."
Miki berdiri dan berjalan mengikuti Jericho dari belakang. Sebenarnya Miki ingin sekali memeluk Jericho, akan tetapi dia takut papanya akan marah.
Sampai di mobil, Miki tidak langsung masuk. Dia menatap pada Jericho.
“Kenapa nggak masuk?” tanya Jericho.
“Miki boleh duduk di depan sama Papa?”
“Boleh,” jawab Jericho singkat.
Miki segera membuka pintu mobil bagian depan, dan duduk dengan tenang. Tidak lama Jericho ikut masuk ke dalam mobil.
“Kenapa nggak pake sabuk pengaman?”
“Lupa Pa.”
Miki segera memakai sabuk pengaman. Mobil yang dikendarai Jericho meninggalkan rumah dan menyusuri jalan. Suasana malam hari tampak menarik untuk Miki karena banyak lampu menghiasi jalanan kota Jakarta.
"Gimana sekolah kamu?"
"Biasa aja Pa."
"Kamu nggak bikin masalah kan?" Miki menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Bagus. Papa seneng kalo kamu jadi anak baik dan tidak membuat masalah."
“Iya Pa.”
“Papa nyekolahin kamu supaya kamu jadi anak pinter dan sukses kayak Papa, bukan jadi preman seperti waktu kamu kelas satu kemarin.”
“Iya Pa.”
“Coba kamu bikin Papa bangga dengan prestasi belajar kamu Mik. Bisa?”
“Nggak tau Pa,” jawab Miki lirih.
“Kamu nggak usah jawab, tapi buktikan dengan hasil nyata.”
"Iya Pa," jawab Miki dengan terpaksa.
Suasana menjadi canggung karena tidak ada bahan obrolan lain. Miki pun kembali melihat suasana malam dari jendela mobil.
"Kita mau ke mana Pa?" tanya Miki penasaran.
"Ke Ancol. Kamu suka seafood kan."
"Suka Pa."
Tidak lama kemudian, mobil memasuki rumah makan yang menyajikan hidangan laut kesukaan Jericho.
"Ayo turun Mik," ujar Jericho setelah memarkir mobil.
Miki mengikuti perintah Jericho, dan masuk ke dalam rumah makan bersama-sama.
Jericho memilih meja yang dekat dengan jendela besar. Setelah menarik kursi untuk Miki, Jericho memilih duduk berseberangan dengan anaknya.
Pelayan memberikan dua buku menu pada Jericho.
"Pilih makanan yang kamu mau Mik," ujar Jericho sambil memberikan buku menu yang satu pada anaknya.
"Iya Pa."
Setelah memilih makanan, Miki iseng mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat makan. Tiba-tiba matanya tertuju pada dua meja di depannya.
Miki melihat Tata sedang makan bersama seorang perempuan.
"Ta, ada anak ngeliatin elo terus tuh," ujar Sisi yang duduk di sebelah Tata.
"Mana?" tanya Tata yang sedang asik mengupas udang bakar.
"Itu yang pake kaos warna putih bergaris hitam yang duduk bareng bokapnya."
Tata mengikuti arah yang ditunjuk Sisi. Tata kaget melihat Miki yang sedang menatap dirinya.
"Lho itu kan Michael," ujar Tata.
"Siapa? Murid lo?"
"Michael. Bukan murid gue kali. Gue kan nggak punya murid."
"Ah susah ngomong sama elo. Maksud gue itu anak sekolah di tempat elo kerja?"
"Nah itu baru bener Si. Iya dia murid kelas dua."
"Lucu juga. Itu bokap Michael? tanya Sisi.
"Kurang tau. Gue belum pernah ngeliat bokapnya Si."
"Terus ngapain dia ngeliatin elo terus?"
"Nggak tau. Ngefans kali sama gue."
Sisi menghela napas mendengar jawaban sahabatnya. Selalu seperti itu, Tata selalu menjawab asal jika sedang makan. Tapi bukan Sisi namanya jika menyerah menghadapi Tata.
"Eh, Aldi nanyain elo terus Ta. Dia minta nomor elo. Gue kasih nggak?"
"Nggak usah Si. Nggak penting juga kan."
"Dia kayaknya naksir berat sama elo Ta."
"Berapa kilo?" tanya Tata.
"Apanya berapa kilo?" tanya Sisi bingung.
"Kan tadi elo bilang dia kayaknya naksir berat sama gue."
"Mulai kumat kan gelonya!" gerutu Sisi.
Tata teringat kembali pertemuannya dengan Aldi di resepsi pernikahan kolega Om Handoko Sabtu yang lalu.
"Sisi? Tata? Kalian diundang juga?" tanya Aldi. "Kalian temannya Frans atau Rina?"
"Gue nggak kenal sama mereka," ujar Tata. "Tuh dia yang kenal." Tata menunjuk kepada Sisi.
"Pengantin cewek nya anaknya temen bokap gue," ujar Sisi.
"Oh. Kalo saya kenal sama pengantin cowoknya, dia teman kuliah saya.
"Si, gue makan dulu ya. Laper banget." Tata meninggalkan Aldi dan Sisi.
Tata berjalan ke tempat makanan-makanan dan mulai memilih mana yang akan dinikmati terlebih dahulu. Setelah mengambil makanan, Tata berjalan ke balkon dan mulai makan.
"Kenapa sendirian di sini Ta?" tanya Aldi.
"Di dalam terlalu ramai," ujar Tata dengan mulut penuh makanan.
Aldi tersenyum melihat wajah Tata yang terlihat sangat lucu sekaligus semakin menarik di matanya.
"Saya seneng bisa ketemu sama kamu lagi."
"Oh ya?" ujar Tata. “Tapi saya nggak.” kali ini Tata menjawab dalam gumaman kecil.
"Iya, saya serius."
“Berapa persen?”
“Eh? Maksudnya apa?” tanya Aldi sedikit bingung mendengar jawaban Tata.
“Kan tadi kamu bilang serius seneng ketemu saya? Berapa persen seriusnya?”
“Hahaha ….” Aldi tertawa keras mendengar jawaban Tata. “Kamu ternyata lucu juga ya.”
“Badut kali lucu,” gerutu Tata.
“Maaf, bukan begitu maksud saya.”
“Gapapa juga sih,” sahut Tata acuh.
"Saya boleh tanya sesuatu?"
"Nanya aja, kan nggak dilarang."
"Kamu kerja di mana Ta?"
"Di suatu tempat."
“Itu saya juga tahu, tapi kan ada bentuk bangunan dan nama perusahaannya. Nggak mungkin juga kan kamu kerja di hutan.”
“Boleh juga tuh usulnya,” celetuk Tata.
“Emang di hutan kamu mau kerja apaan?”
“Banyak lah. Ngambilin kayu, metikin buah, nebang pohon, berburu, masih banyak lagi lah.”
“Bercita-cita jadi Tarzan Ta?”
‘Ih nggak mau. Saya kan perempuan, masa jadi Tarzan.”
“Hahaha ….” Kali ini Aldi tertawa sangat keras.
Ternyata gadis yang sudah mencuri hatinya sejak pertama bertemu memiliki selera humor yang baik. Juga tidak jaim. Terlihat dari caranya makan yang apa adanya dan tidak berusaha makan dengan gaya yang dibuat-buat.
“Balik ke topik Ta, kamu kerja di mana sih?”
“Mau ngapain tahu sih? Mau nyatronin tempat kerja saya?”
“Pengen tahu aja Ta. Saya sejujurnya pengen tahu semua tentang kamu,”
“Buat?” sela Tata.
“Saya suka sama kamu sejak kita ketemu pertama kali Ta. Jadi wajar kan kalo saya mau tahu tentang gadis yang saya suka.”
“Wajar sih, tapi kalo yang disukanya nggak punya perasaan yang sama gimana dong?”
“Ya saya akan berusaha supaya kamu akhirnya punya perasaan yang sama seperti saya.”
“Woi! Diajak ngobrol malah ngelamun!” ujar Sisi sambil memukul tangan Tata.
“Sori, sori.”
“Elo belum jawab Ta. Gue kasih nggak nomor elo ke Aldi?”
Hilang sudah selera makan Tata. Dia membasuh tangannya di wadah air yang disediakan untuk mencuci tangan sebelum menjawab Sisi.
“Menurut lo, gue mesti gimana Si? Waktu kemarin, dia udah terang-terangan bilang suka sama gue. ”
“Elo maunya gimana?”
“Nggak tau Si. Gue beneran bingung.”
“Bingung apa takut?” tembak Sisi.
“Pulang aja yuk.”
Sisi menuruti keinginan sahabatnya. Mereka beranjak berdiri dan meninggalkan meja, berjalan menuju kasir.
Ketika melewati meja tempat Jericho, tiba-tiba Miki meraih tangan Tata.
“Miss Tata,” ujar Miki dengan senyum menghiasi wajahnya.
“Hei, ketemu kita di sini,” sapa Tata dengan ramah.
“Miss udah selesai makannya?”
“Iya nih.”
“Sekarang mau pulang?”
“Iya. Miss duluan ya Michael. Sampai ketemu besok di sekolah.”
“Iya Miss.”
Sebelum berlalu, Tata menganggukkan kepalanya pada Jericho.
“Itu siapa?” tanya Jericho.
“Miss Tata Pa.”
“Guru kamu?”
“Bukan. Miss Tata guru perpustakaan,” jawab Miki.
“Oh.”
Tidak lama kemudian, makanan yang dipesan Jericho datang. Dan mereka menikmati makanan dalam diam.
“Udah kenyang?” tanya Jericho pada anaknya.
“Udah Pa.”
“Kalau begitu kita pulang.”
Jericho beranjak berdiri diikuti Miki di belakang. Di dalam mobil, Miki yang kekenyangan, mulai merasa mengantuk. Dia mencoba menahan kantuk, tetapi akhirnya tertidur juga. Jericho yang melihat hal itu, menepikan mobilnya. Kemudian dia menurunkan posisi kursi Miki hingga Miki dapat tidur dengan nyaman.
Di balik sikap dingin Jericho, jauh di dalam hatinya dia sangat menyayangi Miki, putra semata wayangnya. Namun, dia juga berusaha menjaga hatinya sendiri untuk tidak terluka semakin dalam. Wajah Miki memang mirip dengan dirinya. Namun, lesung di pipi Miki serta senyumannya, selalu mengingatkan dirinya pada Serafin, wanita yang sudah memberinya anak. Namun, yang dengan tega meninggalkan dirinya dan Miki demi lelaki lain yang lebih kaya darinya delapan tahun yang lalu.
Luka yang diberikan Serafin sangat dalam. Dan itu membuatnya bersumpah untuk tidak pernah lagi jatuh cinta. Rasa sakit di hatinya, membuat dirinya menjadi dingin dan selalu memandang wanita hanya menginginkan materi semata.
Setibanya di rumah, Jericho membopong Miki dan membawa anak itu ke kamar. Ira yang melihat hal itu, bergegas membukakan Pintu kamar, dan menarik selimut yang menutupi tempat tidur Miki.
Jericho membaringkan Miki dengan hati-hati agar anaknya tidak terbangun. Setelah itu, dia melepaskan sepatu Miki yang dikenakan Miki.
“Bi, tolong ambilkan baju tidur Miki.”
“Baik Tuan.”
Ira berjalan menuju lemari pakaian, serta mengambilkan baju untuk Miki.
“Mana bajunya Bi?” tanya Jericho.
“Sama saya aja Tuan,” ujar Ira.
“Biar saya yang gantiin. Bibi istirahat aja, ini udah malam.”
“Bener gapapa Tuan?” tanya Ira tidak enak hati.
“Iya.”
“Kalau begitu, saya pamit istirahat Tuan.”
Jericho mengganti baju Miki dengan baju tidur. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati dan penuh kasih. Hanya di saat anaknya tidur, Jericho berani menunjukkan perasaan sayangnya.
“Maafin Papa ya Mik,” gumam Jericho sambil mengelus rambut anaknya.
Jericho memandangi wajah polos Miki saat tidur. Begitu lugu dan menggemaskan. Perlahan Jericho mendekatkan wajahnya, kemudian dia mencium kening dan pipi Miki.
Setelah puas memandangi Miki, Jericho beranjak dari kamar Miki dan menuju kamarnya sendiri. Jericho mengganti baju dengan baju tidur, membersihkan wajah, dan menggosok gigi. Barulah dia menuju ke tempat tidur berukuran besar dan merebahkan diri.
Melintas wajah Serafin. Senyum manis wanita itu yang dulu membuatnya jatuh hati dan tergila-gila. Gadis cantik yang menjadi idola di kampus, dan banyak pria yang mengejarnya.
Dulu dia sangat bangga ketika Serafin akhirnya memilih dirinya dari sekian banyak pemuda di kampus yang mengejar gadis itu. Hingga dia mengabaikan semua peringatan dari teman-temannya bahkan orang tuanya sendiri.
Hingga akhirnya peristiwa itu terjadi, dan hancurlah semua mimpi dan hidupnya. Menyesal pun percuma. Nasi sudah menjadi bubur dan keadaan tidak dapat diubah kembali.