Miki keluar dari ruangan kepala sekolah dengan perasaan senang.
"Ternyata namanya Miss Tata," gumam Miki saat berjalan menuju kelas.
Tanpa Miki sadari, dia berjalan dengan senyum menghiasi wajahnya. Ketika tiba di depan pintu kelas, Miki mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Siapa?" tanya Anne sambil menoleh ke pintu.
"Masuk Michael, dan langsung duduk."
Miki berjalan menuju mejanya. Ketika melewati meja Aurel, gadis cilik itu menahan tangan Miki.
"Michael kamu gapapa?" tanya Aurel.
Miki melepaskan tangan Aurel dan terus berjalan sampai ke mejanya.
Suasana hati Miki menjadi baik sejak bertemu dengan Tata. Dia mengerjakan semua tugas dengan baik. Bahkan dirinya tidak merasa lapar, walaupun tidak makan sepanjang hari, juga tidak merasakan sakit di pipinya akibat tinju Rio.
Anne sedikit heran melihat tingkah Miki yang begitu tenang. Tadinya Anne sudah berpikir akan sulit melalui hari ini. Namun, kekhawatirannya tidak terbukti.
Ketika bel pulang berbunyi, Miki menunggu sampai semua anak keluar dari kelas, barulah dia meninggalkan kelas.
"Den Miki kenapa?" tanya Beno kaget melihat penampilan Miki.
"Gapapa Pak," ujar Miki sambil memalingkan wajahnya.
"Aden nggak jujur. Aden berantem lagi ya?" tanya Beno penasaran.
"Tapi bukan Miki yang duluan Pak."
Beno menghela napas panjang. Empat hari lagi Jericho akan kembali dari perjalanan bisnis. Beno khawatir melihat memar di wajah Miki.
"Jangan bilang ke Papa ya Pak," ujar Miki setelah berada di dalam mobil.
"Iya Den."
"Janji?"
"Bapak janji nggak akan ngomong Den. Tapi gimana sama yang lain?"
Miki terdiam mendengar jawaban Beno. Dia tidak ingin Jericho mengetahui dirinya habis berkelahi lagi, dan melihat kemarahan Jericho. Sepanjang perjalanan pulang, Miki terus memikirkan bagaimana caranya agar papanya tidak tahu kejadian di sekolah.
"Aden kenapa?" tanya Darsih panik melihat keadaan Miki.
Miki menatap Darsih sekilas, dan tidak menghiraukan pertanyaan pengasuhnya itu. Sampai di kamar, dia langsung mengganti seragamnya dan menaruh di keranjang pakaian kotor.
Setelah mencuci tangan dan kaki, Miki naik ke tempat tidur. Badannya terasa sakit akibat tersungkur saat di sekolah.
"Den," panggil Darsih yang sudah berdiri di sisi tempat tidur."
"Mau ngapain?!"
"Itu, mau kasih salep ke pipi Aden."
"Nggak mau."
"Biar Mbak olesin ya Den, supaya rasa nyerinya berkurang," bujuk Darsih.
Miki duduk di tempat tidur dan membiarkan Darsih mengoleskan salep di pipi dan lutut.
"Aden habis berkelahi ya?" tanya Darsih.
"Kalo iya emang kenapa?!"
"Berkelahinya mungkin enak Den. Tapi setelah berkelahinya yang nggak enak," ujar Darsih. "Lihat memar yang Aden punya, ini pasti nggak enak banget rasanya."
Darsih mulai berani mengajak Miki bicara, karena beberapa waktu belakangan sikap Miki pada dirinya mulai berubah menjadi lebih baik.
"Awas kalo Mbak ngomong ke Papa!"
"Iya Den." Darsih membuat gerakan mengunci bibirnya pada Miki.
Selesai mengolesi salep, Darsih mengambil pakaian kotor Miki dan membawanya keluar kamar.
Selesai menaruh pakaian kotor di ruang cuci, Darsih menemui Ira yang sedang beristirahat di dapur.
"Bi," panggil Darsih.
"Opo meneh Dar?"
"Bi, kayaknya Den Miki habis berantem deh. Soalnya pipi kiri dan lutut nya memar."
"Yang bener kamu Dar?!"
"Aku serius Bi. Kalo nggak percaya liat aja sendiri."
Ira langsung bergegas menuju kamar Miki, dan masuk ke dalam kamar tanpa permisi. Dia menghampiri Miki yang berbaring di tempat tidur.
"Den Miki berantem lagi?" tanya Ira tanpa basa-basi.
"Iya Bi. Tapi bukan Miki yang duluan."
"Aduh Aden, kenapa berantem lagi?"
"Karena dianya duluan Bi."
"Emang dia ngapain?"
"Bilang Miki anak aneh sejak hari pertama sekolah. Tapi Miki diem dan nggak balas Bi. Tadi dia nyengkat Miki sampe jatuh, terus bekalnya jadi tumpah semua. Kan jadi kesel."
"Terus Aden belum makan dari tadi?"
"Belum."
"Oalah Den, kenapa nggak turun ke bawah?"
"Mikinya nggak laper Bi."
"Mana bisa begitu! Kalo sakit gimana? Bibi juga yang bakalan repot."
"Ntar aja Bi, Miki ngantuk."
"Nggak bisa! Pokoknya sekarang ikut Bibi ke bawah! Aden harus makan."
"Ntar aja ya Bi. Miki beneran ngantuk," ujar Miki dengan nada memelas.
"Bibi gendong aja ya!" ancam Ira.
"Nggak mau!"
"Kalo nggak mau digendong, buruan turun sekarang."
Dengan malas Miki mengikuti Ira berjalan ke ruang makan.
"Tunggu sebentar, biar Bibi ambilin nasinya dulu."
"Emang Bibi masak apa?"
"Bibi masak semur ayam kesukaan Aden."
Miki menunggu Ira datang membawakan nasi, semur ayam, dan tumis brokoli di atas baki.
"Ayo dimakan Den," ujar Ira.
Setelah berdoa, Miki mulai makan.
"Den, Bibi boleh tanya nggak?" ujar Ira. Miki mengangguk sebagai jawaban, karena mulutnya penuh dengan makanan.
"Tadi kan Aden cerita disengkat sama dia. Dia itu siapa Den?"
"Rio Bi," jawab Miki setelah menelan makanannya.
"Ooh …. Terus siapa yang misahin pas Aden berantem?"
"Miss Anne."
"Terus?"
"Miki kapan makannya Bi, kalo ditanyain terus?"
"Eh iya. Maap atuh. Sok makan lagi Den," ujar Ira.
Miki meneruskan makannya sambil menyingkirkan potongan brokoli ke pinggir.
"Den kenapa sayurnya nggak dimakan?"
"Nggak enak Bi."
"Eh, sayur kan bagus buat bàdan Aden."
"Nggak mau! Nggak enak!"
"Kan Aden belum nyoba, masa udah bilang nggak enak?"
Hilang sudah selera makan Miki. Dengan perasaan kesal, Miki bangun dan pergi meninggalkan ruang makan.
"Eh Aden mau ke mana?"
"Ke kamar!"
"Ih, habisin dulu makannya Den."
"Nggak mau. Udah kenyang!"
"Yah …, ngambek lagi deh."
"Lagian kamu maksain banget sih. Pelan-pelan Ra, ntar juga mau kok makan sayur."
"Kamu ini No. Kalo nggak dilatih dari kecil, ya susah nantinya."
"Kan aku bilang pelan-pelan Ra. Apalagi suasana hatinya lagi nggak baik, ya nggak salah kalo Den Miki ngambek."
"Susah ngomong sama kamu No. Lah kamu nggak pernah ngerasain ngurus anak sih," gerutu Ira.
"Daripada marah-marah, mending tolong bikinin aku kopi Ra."
"Ugh, kenapa nggak bikin sendiri aja sih?! Aku lagi sebel sama kamu No!"
"Ih, punya hobi kok marah-marah terus," gerutu Beno melihat kelakuan istrinya.
Ira meninggalkan Beno. Dia mengambil salep dari kotak obat dan membawanya ke kamar Miki.
"Den, itu memarnya Bibi kasih salep dulu ya."
"Udah tadi sama Mbak Darsih."
"Itu kan tadi. Sekarang ya beda lagi Den."
"Nggak mau Bi. Ntar aja."
"Jangan entar-entar terus Den. Itu memar udah harus sembuh sebelum papa Aden pulang."
"Bibi jangan nyebut Papa terus, bikin Miki takut tau. Dari tadi Miki lagi mikir, gimana caranya supaya Papa nggak tau dan semua yang di sini nggak ngomong ke Papa."
"Makanya sini biar Bibi olesin salep."
Dengan terpaksa, Miki duduk dan membiarkan Ira mengoleskan salep di pipi dan lututnya.
"Bi, bantuin Miki mikir dong. Gimana caranya biar Papa nggak tau."
"Iya, ntar Bibi bantuin mikir," ujar Ira.
***
Tata sedang mendata buku-buku perpustakaan yang baru ketika ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari Sisi.
Sisi : ta, sibuk nggak?
Tata langsung membalas pesan Sisi.
Tata : lumayan
Tata : kenapa?
Sisi : gue telp yak
Tanpa menunggu balasan, Sisi langsung menghubungi Tata.
"Ih, ini orang. Dibilang lagi sibuk malah telepon," gerutu Tata.
"Ada apaan telepon gue?" tanya Tata.
"Sabtu temenin gue ke kondangan dong."
"Siapa yang kawin?"
"Nikah Ta, nikah. Bukan kawin."
"Sama aja kali."
"Beda dong."
"Beda apa nya Si?"
"Rapor Bahasa Indonesia lo berapa sih?"
"Udeh ah. Buruan bilang siapa yang nikah? Gue lagi ada kerjaan tau."
"Anaknya sohib bokap sekaligus temen bisnis."
"Kenapa elo yang dateng? Kan bokap lo ada."
"Bokap besok cabut ke HK."
"Jiah, bilang ma Om Handoko, ke HK nya setelah Sabtu gitu."
"Elo kalo ngomong seenak udel banget sih. Bokap kan pergi buat bisnis, mana bisa seenaknya."
"Kan elo tau gue paling males dateng ke acara-acara kayak begono Si."
"Temenin gue lah Ta. Elo mau apa, gue kasih deh, asal temenin gue pas Sabtu."
"Yakin lo? Apa aja yang gue minta bakal elo kasih?"
"Iye. Tapi temenin gue yak."
"Iye,iye. Elo jemput gue kan?"
Baru saja Tata mematikan telepon dari Sisi, pintu perpustakaan dibuka. Tata melihat siapa yang datang.
"Masuk sini Ne."
"Lagi sibuk nggak Ta?"
"Kenapa gitu?"
"Gue numpang ngadem di sini ya. Kepala gue cenat-cenut."
"Pasti gegara Rio cs."
"Ho oh Ta. Mimpi apa gue kebagian mereka bertiga di kelas gue. Kenapa mereka bertiga nggak dipisahin aja sih kelasnya?!" Anne menumpahkan kekesalannya.
"Tapi memang begitu aturannya kan? Murid dari kelas satu yang naik ke kelas dua biasanya nggak dipecah-pecah. Nanti di kelas tiga baru dipecah."
"Iya sih. Cuma jadinya merepotkan kalo kebagian yang model Rio cs," dumel Anne.
"Tapi sebenernya itu bagus buat elo Ne. Kinerja lo bakal makin bagus kalo elo sukses nanganin mereka."
"Udah ah. Gue males bahas mereka. Mending ngomongin yang lain."
"Elo udah makan belum?" Tata mengalihkan pembicaraan.
"Boro makan Ta. Rasa laper gue sirna entah ke mana."
"Gue laper. Kita cari makan yuk. Gue nggak selera sama menu catering hari ini."
Tata sengaja mengajak Anne makan, agar emosi dan rasa kesal Anne mereda. Walaupun sebenarnya dia tidak lapar.
"Emang elo mau beli apaan?"
"Sepertinya baso Mang Uju enak juga," ujar Tata.
"Hayu lah. Siapa tau habis makan baso otak gue langsung cenghar lagi."
Anne langsung bangun dari tempatnya duduk dan berjalan keluar perpustakaan.
"Dasar Anne. Giliran nyebut baso langsung semangat," gumam Tata sambil tertawa kecil.
Tata berjalan berdampingan dengan Anne menuju gerbang sekolah. Di seberang jalan banyak tulang makanan yang berjualan. Mereka menempati sekeliling taman umum yang berada tepat di depan sekolah.
"Kalian berdua mau ke mana?" tanya Ivan ketika berpapasan dengan Tata dan Anne di gerbang sekolah.
"Mau beli baso. Elo mau ikut Van?" tanya Anne.
"Wah, saya baru beli siomay. Tapi bolehlah ikut. Sekalian nemenin kalian."
"Nemenin kalian apa biar bisa deket sama Tata?" goda Anne.
"Nah itu maksud saya Ne. Kok kamu pinter sih."
"Itu sih gampang Van. Kan tertulis jelas di muka elo."
"Dikata muka gue buku kali," gerutu Ivan.
Tata tersenyum mendengar gerutuan Ivan. Mereka bertiga menyeberangi jalan yang memang agak sepi karena jarang dilalui oleh kendaraan.
"Mang, beli baso komplit nya dua ya."
"Makan di sini atau bungkus Miss?"
"Bungkus aja Mang."
"Miss Tata ke mana aja? Udah lama nggak beli basonya Mamang."
"Ada kok Mang," sahut Tata ramah.
"Mang, yang saya kasih sambel dan dukanya yang banyak ya," pinta Anne.
"Siap Miss."
"Semua jadi berapa Mang?" tanya Anne.
"Tiga puluh ribu Miss."
"Eh saya ambil pangsit gorengnya dua bungkus Mang," ujar Tata.
"Oh berarti jadi tiga puluh lima Miss."
Tata membuka dompet dan hendak mengambil uang. Namun, Ivan terlebih dahulu memberikan uang pada Mang Uju.
"Ini uangnya Mang." Ivan menyodorkan selembar lima puluh ribuan kepada Mang Uju.
"Ye, kenapa jadi elo yang bayar Van? Kan kita jadi nggak enak," ujar Anne sambil tersenyum centil.
"Gapapa. Biar saya yang traktir."
"Wah, sering-sering aja traktir kita Van."
"Boleh, selama Tata nggak keberatan," ujar Ivan.
"Tuh denger Ta. Kapanpun Ivan selalu siap traktir elo," goda Anne.
Mereka bertiga berjalan menyeberangi jalan kembali ke sekolah.
"Ya kali gue nggak punya malu Ne."
"Mumpung gratisan Ta," goda Anne lagi.
Tata menyentil jidat Anne dengan keras. Gemas dengan kelakuan temannya yang kerap hilang urat malunya itu.
"AW! Sakit tau!"
"Biar elo waras lagi Ne."
"Gue ini waras Ta. Sangat waras," sahut Anne.
"Van, makasih ya traktirannya," ujar Tata yang tidak memedulikan gerutuan Anne.
"Sama-sama Ta."
"Makan bareng aja sekalian di kelas gue Van," ujar Anne.
"Emang boleh?"
"Apa sih yang nggak boleh buat elo Van?"
Anne sengaja memberikan kesempatan pada Ivan untuk bisa mendekati Tata. Dia sangat berharap Tata mau membuka diri memberi kesempatan pada Ivan.