Berkelahi dengan Rio

1957 Kata
"Den Miki," panggil Darsih sambil mengguncang pelan bàdan Miki. "Den," panggil Darsih lagi. "Apaan sih?!" gerutu Miki. "Ini sudah jam setengah enam Den. Bangun ya, biar nggak terlambat ke sekolah," ujar Darsih takut-takut. Miki yang merasa terganggu dengan kehadiran Darsih menjadi marah. "KELUAR!" jerit Miki kesal. Darsih langsung lari terbirit-b***t keluar kamar dibentak oleh Miki.  "Den Miki udah mandi Dar?" tanya Ira yang melihat Darsih kembali ke dapur. "Belum Bi." "Kenapa kamu malah ke sini? Bukannya suruh Den Miki mandi." "Tadi Aden teriak nyuruh aku keluar Bi," jawab Darsih. "Terus kamu keluar?!" "Iya Bi." "Kamu ini Dar." Ira menggelengkan kepala melihat kelakuan Darsih. Ira menghentikan kegiatannya menggoreng nugget dan sosis untuk bekal Miki dan pergi ke kamar majikan kecilnya. "Den bangun yuk, udah jam enam lho. Nanti Aden terlambat ke sekolah," ujar Ira sambil menarik selimut yang menutupi bàdan Miki. "Miki nggak mau sekolah Bi!" "Harus Den. Nanti kalau Papa tau, Bibi yang dimarahin." "Kalo Bibi nggak ngomong, Papa nggak akan tau Bi." "Iya. Tapi kan ada pelayan yang lain. Kalo mereka ngomong ke papanya Aden gimana? Bukan cuma Bibi yang bakal dimarahin. Semua akan kena omel sama papa Aden." Dengan kesal, Miki duduk di tempat tidur dan menatap marah pada Ira. "Marahnya jangan ke Bibi Den," ujar Ira dengan tenang. "Terus ke siapa?!" "Ke kasur boleh, ke baju juga boleh. Ke mana aja boleh, asal bukan ke orang lain." "Bibi aneh," gerutu Miki. "Biarin dibilang aneh. Yang penting kan Bibi sayang sama Aden." Miki turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian, Miki keluar dari kamar dan berjalan ke ruang makan. Darsih yang melihat Miki sudah mandi dan siap berangkat, menghampiri Miki. "Sarapan dulu Den," ujar Darsih. "Berisik!" Miki berjalan ke dapur mencari Ira. "Bi, Miki mau minum s**u aja," pinta Miki. "Boleh. Tapi bekalnya harus habis ya." "Emang Miki bekal apa?" "Nugget dan sosis Den." "Ada saus tomat dan mayonaise nya?" "Ada dong. Janji dihabiskan ya Den." "Iya Bi." Ira mengambil gelas di lemari pantry. Kemudian dia menuangkan s**u untuk Miki yang langsung diminum sampai habis. "Bi, mana Pak Beno? Miki mau pergi sekarang." "Tunggu sebentar. Bibi panggilin dulu." "Miki tunggu di depan ya Bi." Darsih mengikuti Miki dari belakang sambil membawakan tas sekolah. Setelah Beno datang, Miki membuka pintu belakang mobil dan masuk.  Beno mengantarkan Miki sampai di depan sekolah dan membiarkan anak itu masuk sendiri ke dalam sekolah. Miki berjalan tanpa semangat menuju ke kelasnya. Dia tidak menyadari kalau Rio dan kedua temannya sedang berdiri menunggu dirinya lewat. "Eh, ada orang aneh lewat," ujar Rio pada Jordan dan Dilan dengan nada mengejek. "Iya. Bisanya cuma diem doang. Nggak punya mulut kali," timpal Jordan. "Betul," ujar Rio. "Orang aneh …. Orang aneh …." Rio terus mengatakan itu dengan nada mengejek sampai Miki masuk ke dalam kelas. "Hei, kalian bisa berhenti nggak ngejek Michael?" ujar Steven, ketua kelas 2B. "Kenapa? Nggak boleh?" tanya Rio dengan nada menantang. "Kalo kalian begini terus, aku laporin sama Miss Anne," ujar Steven. "Dasar tukang ngadu!" bentak Rio. "Biarin, daripada kamu yang selalu mengganggu!" balas Steven. "Awas kalo berani lapor sama Miss Anne," ancam Rio sebelum duduk di kursinya. Suasana hati Miki yang sudah buruk sejak pagi, semakin buruk mendapatkan ejekan dari Rio. Namun, dia berusaha menahan emosinya karena ingat pesan Jericho untuk tidak mencari masalah di sekolahnya yang baru. Ketika bel istirahat berbunyi, Miki mengambil kotak makannya dan berjalan menuju luar kelas. Dia bermaksud memakan bekalnya di taman kecil yang terletak tidak jauh dari perpustakaan. "ADUH!" pekik Miki yang jatuh tersungkur karena disengkat oleh Rio. Tempat makan yang dibawa Miki jatuh dan isinya berserakan di lantai luar kelas. Miki bangkit berdiri dan menatap Rio dengan tatapan benci. "Kenapa kamu sengkat saya?!" tanya Miki dengan amarah yang mulai tidak terkendali. "Suka-suka gue dong." ejek Rio. "Emang elo mau apa?" tantang Rio sambil berkacak pinggang. Miki menatap baju seragamnya yang kotor serta isi bekalnya yang berserakan. Miki tidak dapat menahan rasa marahnya. Dia berjalan menghampiri Rio dan mendorong dengan sekuat tenaga hingga Rio jatuh terjengkang ke belakang. "Oh, elo berani ngelawan gue?!" bentak Rio pada Miki setelah berdiri kembali dibantu oleh Jordan dan Dilan. "Jordan, Dilan, pegangin dia!" Kedua teman Rio melakukan perintah Rio. Mereka memegangi tangan kanan dan kiri Miki. Sekuat tenaga Miki berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Jordan dan Dilan, tetapi dia kalah tenaga. Rio datang menghampiri Miki dan langsung meninju pipi Miki sekuat tenaga. Anne yang sedang berjalan menuju kelas, heran melihat kerumunan di depan kelasnya. Dia bergegas menghampiri kerumunan tepat ketika Rio sedang meninju pipi Miki. "RIO! HENTIKAN!" Anne berkata dengan keras. Rio langsung berhenti dan menjadi pucat seketika melihat siapa yang datang. "Kenapa kalian berkelahi?!" tanya Anne datar. Tidak ada satupun dari keempat anak yang terlibat perkelahian menjawab pertanyaan Anne. "Michael kenapa baju kamu kotor?!" Miki hanya diam dan menatap ke lantai. "Kenapa kalian diam?!" tanya Anne yang mulai gusar melihat kebisuan mereka. "Ada yang tahu kejadian sebenarnya?!" tanya Anne pada anak-anak yang berkerumun. "Rio duluan Miss," jawab mereka serempak. Anne menghela napas kesal. Rasa pening langsung melanda kepalanya mendengar perkataan anak-anak. Apa yang dia takutkan terjadi juga. Tepat di hari kedua puluh dia mengajar di kelas 2B di tahun ajaran ini, akhirnya Rio membuat masalah dan berkelahi dengan Michael, siswa yang baru pindah ke sekolah ini. "Kalian berempat ikut Miss." Anne berkata datar. Anne membawa keempat anak yang terlibat insiden menuju ke ruang kepala sekolah. Ketika hampir tiba, dari kejauhan Anne melihat Tata yang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah. "Kenapa mereka?" tanya Tata yang berpapasan dengan Anne di dekat ruang kepala sekolah. Anne menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Tata. "Yang gue takutin kejadian juga Ta," bisik Anne. "Maksud lo?" bisik Tata. Dengan tangannya, Anne membuat gerakan saling meninju. "Ampun Gusti." Tata menepuk jidatnya setelah melihat gerakan tangan Anne. "Miss Becky ada Ta?" "Ada. Masuk aja." "Temenin gue Ta," bisik Anne. "Buat apaan?" tanya Tata bingung. "Gue takut nggak bisa kontrol emosi Ta," ujar Anne lirih. Tata yang merasa kasihan kepada Anne, berbalik ke arah ruangan Becky, kemudian mengetuk pintu. "Masuk!" ujar Becky dari dalam. Tata membukakan pintu untuk Anne, dan membiarkan Anne masuk terlebih dahulu bersama Miki, Rio, Jordan, dan Dilan. "Ada apa Miss Anne?" "Ini Miss," ujar Anne sambil mendorong keempat anak yang bermasalah ke hadapan Becky. "Ada apa dengan mereka?" tanya Becky datar sambil melepas kacamata yang dia pakai. Anne menceritakan secara singkat insiden yang terjadi saat istirahat. "Rio!" Becky menyebut nama Rio dengan nada suara tegas. "Coba jelaskan sama Miss apa yang terjadi." Rio yang ketakutan tidak berani menjawab pertanyaan Becky. Dia hanya diam dan menundukkan kepala, begitu juga kedua temannya. Hanya Miki yang berani menatap Becky. "Kenapa diam saja?!" tanya Becky dengan suara tenang, akan tetapi terdengar menakutkan bagi anak-anak. "Ingat apa yang pernah Miss katakan Rio? Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab!"  Rio mengangkat kepalanya dan melihat pada Becky. Bibirnya gemetar menahan rasa takut. "Kalian masih ingin diam? Kalau seperti ini terus, Miss akan memanggil orang tua kalian." "Jangan Miss!" seru Rio, Jordan, dan Dilan bersamaan. "Kenapa jangan? Kalian takut?" tanya Becky dengan suara lunak. "Baiklah. Miss kasih kesempatan sampai jam pulang sekolah. Jika kalian tidak ingin orang tua kalian tahu, datang pada Miss sebelum jam pulang sekolah dan ceritakan yang sebenarnya." "Tapi Miss, saya nggak ikutan ngejek Michael," ujar Dilan dengan suara pelan. "Semua boleh meninggalkan ruangan ini, kecuali Michael. Dan Miss tunggu sebelum pulang sekolah!" Anne membawa Rio, Jordan, dan Dilan keluar ruangan. "Miss Tata, tolong tinggal sebentar," pinta Becky ketika dia melihat Tata juga hendak meninggalkan ruangan. "Baik Miss," ujar Tata. Kemudian Tata menarik kursi yang ada di hadapan Becky, dan menyuruh Miki duduk. Barulah Tata menarik kursi untuk dirinya sendiri. "Boleh Miss tanya sesuatu?" Becky bertanya pada Miki sambil menatap dalam pada anak itu. Miki menganggukkan kepalanya. Dia tidak dapat menjawab, hatinya terlalu senang karena akhirnya mengetahui nama Tata. "Tolong ceritakan apa yang terjadi." Miki diam dan duduk dengan gelisah. "Kalau kamu diam terus seperti ini, bagaimana Miss bisa membantu kamu." "Miki cuma nggak mau dibilang tukang ngadu." "Ketika kamu menceritakan apa yang terjadi sama kamu, itu namanya bukan mengadu." "Tapi kalo Miki cerita, apa Miss bakal percaya? Dan apa Miss bisa bikin Papa nggak marah sama Miki?" tanya Mini dengan polos. "Selama yang kamu ceritakan adalah kebenaran, Miss pasti percaya." "Kalo Papa gimana Miss?" "Miss perlu mendengarkan cerita kamu terlebih dahulu. Miss juga perlu tahu mengapa kamu begitu takut sama papa kamu." "Coba kamu ceritain dulu," sela Tata sambil mengambil tangan Miki dan menggenggamnya hangat. "Inget Michael, kejujuran itu sangatlah penting," ujar Becky lembut. "Tapi Miki nggak pernah bohong Miss." "Kalau begitu, ceritakan." Akhirnya Miki menceritakan semuanya. Mulai dari Rio yang sering mengejeknya sejak hari pertama sekolah hingga kejadian tadi. Becky dan Tata menyimak semua cerita Miki dengan penuh perhatian. Tata yang memang pada dasarnya memiliki hati lembut, merangkul bahu Miki dengan lembut. "Wah, mereka keterlaluan banget sih!" ujar Tata sedikit kesal setelah mendengar penuturan Miki. "Miss Tata!" ujar Becky memperingati. "Maaf Miss. Saya terbawa suasana," ujar Tata sopan. "Kenapa kamu tidak melapor pada Miss Anne?" tanya Becky. "Buat apa?" tanya Miki. "Agar Miss Anne dapat mengambil sikap dan menegur mereka." "Memangnya Miss Anne bakal percaya sama Miki?" "Eh kok kamu ngomongnya gitu?" sela Tata gemas. "Ada alasannya kamu berkata begitu Michael?" "Karena Miss di sekolah yang dulu tidak percaya sama omongan aku!" Miki menjawab dengan penuh emosi. "Memang di sekolah yang dulu kamu juga sering diejek oleh teman-teman kamu?" tanya Becky. "Iya." "Karena masalah apa?" cecar Becky. "Karena Miki nggak punya mama dan karena papa nggak pernah antar jemput Miki," ujar Miki dengan polos. "Emang mama kamu ke mana?" tanya Tata. "Nggak tau. Miki nggak pernah liat ada foto Mama di rumah. Bibi dan yang lain juga nggak pernah jawab kalo Miki tanya tentang Mama." Becky menyimak dan menyerap semua perkataan Miki. Dan dia mulai dapat mengambil sedikit kesimpulan dari cerita Miki. "Oke. Miss rasa cukup sampai di sini. Kamu bisa kembali ke kelas." "Miss bakal ngomong ke Papa?" "Untuk saat ini belum. Tapi kalau sampai terjadi lagi hal seperti tadi, Miss akan memanggil papa kamu." "Iya Miss." "Ta," panggil Becky ketika Miki sudah keluar ruangan. "Iya Tan," sahut Tata. "Sepertinya ada tugas baru buat kamu," ujar Becky. "Lagi?" tanya Tata sambil membetulkan kacamatanya yang merosot. "Yup. Dan sepertinya yang kali ini cukup berat Ta." "Michael?" tanya Tata. "Iya. Tante mohon bantuan kamu lagi." "Tante mau Tata gimana?" "Dekati Michael, dan lakukan sama seperti yang kamu lakukan ke Cathy dulu." "Ah …, Tante. Kenapa nggak Anne aja. Dia kan wali kelas Michael," ujar Tata. "Nggak semua orang bisa Ta." "Bedanya sama Tata apa Tan?" "Entah Ta. Dari kecil, kamu memang beda. Kamu bisa dengan mudahnya bikin orang nyaman sama kamu dan bikin mereka nempel sama kamu." "Termasuk Tante?" goda Tata. "Bukan cuma Tante Ta. Emang kamu pikir kenapa Tante Maya segitu ngototnya nyemplungin kamu di sini?" "Entah. Kalo emang pengen Tata kerja di sini, kenapa coba harus jadi staff perpustakaan, bukan jadi BK sesuai ilmu yang Tata pelajarin." "Karena kalau di perpustakaan, kamu itu bisa dengan mudahnya mengenal semua anak-anak Ta. Sedangkan kalau jadi BK, ruang lingkup kamu terbatas." "Emang ada bedanya Tan?" "Adalah. Ketika kamu jadi BK, kamu akan disibukkan dengan konseling  dan semua hal yang berhubungan dengan murid-murid yang datang ke kamu. Sedangkan di perpustakaan, tugas kamu jauh lebih mudah sehingga kamu bisa punya cukup waktu untuk mengenal anak-anak yang memang membutuhkan perhatian khusus dari kamu." "Udah ah, Tata jadi makin pusing. Sekarang coba jelasin apa aja yang mesti Tata lakuin ke Michael. Batas-batas apa yang boleh dan tidak." Becky menjelaskan kepada Tata hal apa yang harus dilakukan. "Taman belakang seperti biasa ya Tan, jadi milik Tata." "Silakan. Toh taman itu memang jarang ada yang datengin karena letaknya yang terlalu dekat dengan perpustakaan." "Doakan Tata ya Tan," ujar Tata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN