Sampai di kedai es krim Bima, Andin langsung berlari turun setelah sebelumnya membayar taksinya. Cewek itu mengernyit saat tahu kedai itu terlihat sepi. Ehm...bahkan tak ada satu pegawai pun disana. Akhirnya, dengan memberanikan diri, Andin melangkah masuk sambil memegang erat tali tasnya. Kedua matanya menatap ke sekitar, barangkali menenukan Bima. Tapi ia tetap tak menemukan cowok itu. "Bima?" Panggilnya. Ia menoleh saat mendengar suara dari salah satu ruangan disana. Ia kemudian mendekat, mengetuk pintunya pelan. "Bim, lo di dalem?" Tak ada jawaban dari dalam sana. Andin pun memilih untuk membuka pintu itu--yang ternyata tidak terkunci. Ia mendorongnya, lalu kedua matanya membelalak kaget saat menemukan Bima tergeletak tak sadarkan diri di lantai. "Bima! Astaga lo kenapa, Bim?" Ia me

