bc

Cahaya Cinta Zidhiana

book_age18+
601
IKUTI
1.7K
BACA
revenge
sex
goodgirl
sporty
sweet
genius
feminism
friendship
school
virgin
like
intro-logo
Uraian

Kontes Menulis Innovel II - The Girl Power

Zidhiana adalah seorang gadis pintar dan cantik yang bermain dengan perasaannya sendiri. Ketika cinta pertamanya itu datang mendekat dari seorang Brama Prasetya, pria yang ditaksir semasa sekolahnya, dia malah pergi meninggalkannya agar tidak menyakiti perasaan pria pujaan hatinya itu. Karena Dias telah hadir sebelumnya di kehidupan Zidhiana. Ternyata malah Dias yang mengkhianatinya.

Dua tahun kemudian, Zidhiana dipertemukan kembali dengan Bram. Kini pria pujaan hatinya itu mempermainkannya untuk membalas rasa sakit hatinya yang lalu. Namun, cinta Zidhiana kepada Bram mampu bertahan hingga 8 tahun. Sampai akhirnya ia harus benar-benar melepaskan Bram yang telah menikah diam-diam dan membohonginya.

Zidhiana memutuskan untuk pergi jauh dari kota yang telah memberikannya banyak kenangan bersama Bram. Dengan modal dari usahanya selama bekerja, dia bertekad untuk kembali menunjukkan bahwa ia adalah wanita yang tangguh dan berhasil mengembangkan usahanya di kota penuh kenangan itu. 

Lagi dan lagi mereka dipertemukan kembali? Bagaimana perasaanya terhadap Bram?

Happy Reading  🥰

chap-preview
Pratinjau gratis
Tipe Pria Idaman
Masih dengan deru nafas terengah-engah serta keringat bercucuran membasahi kening dan bajunya. Akhirnya rerumputan di lapangan itu menjadi tumpuan terakhir peristirahatannya. Merilekskan otot kedua kakinya yang selalu setia menemani mengelilingi lapangan selama seminggu ini, hanya untuk mencapai tujuan sang pemilik kaki. Topi berwarna navy melekat di kepalanya yang terselip rambut diikat rapi. Ini menjadi ciri khas untuk menutupi identitasnya saat berlari mengelilingi lapangan itu. Gadis itu tidak mau dikenali oleh orang-orang yang sedang bermain bola atau pun siswa lainnya di sana. Karena dari awal tujuan utamanya adalah untuk melatih otot kaki dan pernafasannya. Zidhiana adalah seorang gadis yang kini berusia 17 tahun selalu memprioritaskan prestasi dibandingkan hatinya. Terlahir dengan sifat mandiri sehingga ia berani mengambil segala resiko atas keinginannya sendiri. Menjadikannya sebagai pribadi yang keras dan selalu autodidak dalam meraih prestasinya. Dia mampu mengendalikan semua kemampuannya dengan menciptakan rumus sendiri untuk mempermudah menyelami ilmu yang dipelajarinya. Aku harus bisa mencapai nilai olah ragaku dengan baik untuk minggu depan, bathin Zidhiana mengutarakan setiap usai berlari mengelilingi lapangan bola itu sebanyak dua kali putaran. Tak heran jika dia selalu meraih nilai terbaik di sekolah dasar hingga saat ini di bangku sekolah menengah atas. Namun, hingga detik ini juga ia masih belum menemukan cinta pertamanya walaupun Dias telah mengisi hatinya selama enam bulan terakhir ini. Baginya cinta pertama itu adalah sesuatu yang sangat berkesan di relung hatinya. Dia duduk terpaku mengamati rerumputan hijau yang telah ditumbuhi putri malu disela-selanya. Kini rerumputan liar itu sebagian besar sudah terpapras rapi oleh mesin rumput. “Sepertinya akan ada acara upacara gabungan di lapangan ini,” gumam gadis itu. Karena terlalu fokus dia tidak menyadari, ada seorang pria menepuk pelan bahunya untuk membuyarkan lamunannya. Tanpa basa basi pria tersebut langsung duduk tepat di samping kirinya, lalu memandang ke arah yang sama seperti yang ia lakukan. “Koq ngelamun? Hati‐hati looh tiap sore sendirian gini dengan pandangan kosong. Kamu anak pantai, kan?” tebaknya meyakinkan. Sebutan kata anak pantai adalah untuk mengartikan asal sekolah Zidhiana yang dekat dengan pantai. Karena di kotanya saat itu hanya memiliki tiga sekolah menengah atas dengan sebutannya yang khas yaitu anak pantai, anak gunung, dan anak lapangan. Mungkin kata itu lebih mudah diingat bagi mereka dalam perkenalan. Zidhiana tersenyum memandang pria itu. “Iya aku anak pantai,” jawabnya singkat. “Kenalin, aku Icko anak lapangan. Kamu?” uluran tangannya ikut menyapa. “Aku Zidhiana, panggil aja Zi,” timpalnya menjabat tangan Icko. Pria itu ingin sekali mengulik tujuan gadis itu setiap sore hari ke lapangan ini. Karena ia tidak pernah melihat sebelumnya anak pantai sendirian seperti apa yang dilakukan olehnya. “Ngapain kamu tiap sore lari keliling lapangan gini Zi?” selidik Icko penasaran. “Aku cuma latihan otot kaki dan pernafasanku aja sih. Buat persiapan ambil nilai olah raga minggu depan," jelas Zidhiana. Icko menatapnya heran. “Nyampe segitunya ya?” “Ya bener, kalo nggak latihan kayak gini, aku pasti nggak bisa lari sempurna nyampe garis finish kayak semester yang lalu.” Alasan gadis itu latihan memang sedikit ngoyo, terlalu berlebihan dalam berusaha mencapai nilai memuaskan. “Ini lapangan kayaknya mau buat upacara besok ya, lihat aja rumputnya udah dirapiin gitu,” ungkap Zidhiana. Mengalihkan pembicaraan di antara mereka. “Kayaknya iya sih, buat upacara Hari Pahlawan. Pasti rame nih pada ngumpul upacara bersama. Kamu ikut juga?” Tampak sedikit alisnya menukik sebelum menjawab. “Belum tau sih, biasanya kami dipilih untuk perwakilan dari sekolah aja.“ Pria itu manggut-manggut mengerti. Tidak mungkin sekolah akan mengirim semua murid upacara di sini, pikirnya. “Oh ya Ko, udah sore ni. Aku cabut duluan ya," pamitnya. Gadis itu tersenyum, kemudian berlalu meninggalkan lapangan itu. Momen inilah yang paling ditunggu-tunggu para siswa. Dimana upacara ini akan mempertemukan mereka dengan berbagai murid perwakilan dari beberapa sekolah mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas, beberapa instansi pemerintah, dan swasta. Lapangan ini telah menjadi saksi bisu ajang cuci mata selama bertahun-tahun dan tetap setia menyimpan rahasia itu. Termasuk rahasia pertama Zidhiana melihat sesosok pemilik manik mata dingin itu. *** Teet.. Teet.. Teet.. Bunyi bel sekolah yang begitu klasik memanggil seluruh siswa siswi untuk berkumpul di lapangan sekolah. Pengumuman akan disampaikan oleh guru pembina kesiswaan nantinya. Murid-murid berhamburan keluar dan berbaris sesuai arahan ketua kelas. Disana juga terlihat Zidhiana bersama sahabat kecilnya, Rasty. Sahabat yang terjalin erat ketika mereka duduk di sekolah dasar hingga di sekolah menengah atas ini. Rasty dan Zidhiana sering menghabiskan waktu bersama dalam suka maupun duka. Namun, Zidhiana lebih tertutup dalam hal pribadi dibandingkan Rasty yang lebih enjoy menghadapi masalah pribadinya. Kata Rasty kalau dipendam sendiri tidak baik untuk kesehatan. Pantas saja Rasty lebih gendut dibandingkan Zidhiana yang kutilang itu. Seandainya mereka berjalan bergandengan bersama, ibarat angka sepuluh. Zidhiana angka satunya dan Rasty adalah angka nolnya. Oemjih, ada‐ada aja yang bisa mengibaratkan persahabatan mereka berdua. Rasty jugalah yang telah mengenalkan Zidhiana dengan Dias. Seorang pria yang berhasil menaklukkan hatinya yang sulit ditembus. Setelah semua murid berkumpul dan berbaris dengan rapi. Di ujung gedung yang terpasang mikropon telah berdiri seorang guru yang akan memulai berbicara. Hal ini biasa dilakukan agar mempermudah dalam memberikan pengumuman kepada para siswa. “Anak‐anak, besok ada upacara memperingati Hari Pahlawan. Diwajibkan mengikuti upacara untuk seluruh siswa kelas XI pukul 7.30 WIB sudah hadir di lapangan Hang Lekir. Memakai seragam putih abu‐abu lengkap,” perintah pembina kesiswaan sebelum membubarkan seluruh siswa di lapangan. Sekolah ini terletak jauh dari kota, tidak ada kendaraan umum yang melintas dan mereka mau tidak mau menunggu bis sekolah datang. Hanya siswa yang menggunakan kendaraan pribadi yang bisa pulang terlebih dahulu. Sekitar 100 meter dari sekolah, terdapat pantai yang terkenal dengan pasir putihnya. Ada beberapa siswa berjalan menuju arah pantai untuk menikmati hembusan angin sepoi‐sepoi di bawah pohon Kelapa dan Cemara. Lebih tepatnya menimati alam seraya menunggu bis sekolah yang akan menjemput. Sekolah ini pula menjadi pilihan Zidhiana karena jauh dari keramaian dan juga dekat dengan alam. Di bawah pohon Akasia yang tumbuh begitu rindang tak jauh dari depan pintu gerbang sekolah terlihat banyak siswa duduk sambil mengobrol. Tampak dua siswi asyik bersenda gurau sambil menunggu bis putih yang dikendarai oleh pak supir berkacamata hitam dan berkumis tipis melenting ala pak Radennya itu. “Yes ... Pasti besok kita bisa cuci mata di lapangan nih, Ras. Lumayan kan bisa lihat cowok‐cowok cool,” ujar Zidhiana. Terkekeh geli menggoda sahabatnya. “Ya ampuuun ... Aku kaduin aa' Dias looh klo macam‐macam," ancam Rasty sambil menjewer kuping gadis itu. “Aduh sakit Ras,, Nggak macam‐macam koq Ras, cumaaa ... Nungguin yaa jawabannya," ledeknya. Cengiran kuda yang didapati Rasty melihatnya. Rasty memutar bola matanya bosan. “Ngomong koq nanggung," gerutunya. Zidhiana semakin ingin mengusili sahabatnya yang mulai tersulut emosinya. “Cuma punya gebetan satu aja gitu dari siswa lapangan.” Rasty tak habis pikir tentang gelagat Zidhiana yang absurb saat ini. “Terus Dias mau dikemanain Zi?” protesnya. “Ya tetep laah, kan jarang ketemu. Yang penting kan nggak ketahuan, pinter bagi rumus. Eeh.. bagi waktu dink". Tidak sampai disitu, dia meneruskan celotehannya agar sahabatnya mendukung ide gilanya itu. “Seperti biasa, entar kalo udah dapet gebetan, aku cariin juga buat kamu. Mau ya, mau yaa?" Memasang jurus puppy eyesnya. Rasty kehabisan kata‐kata. Ia hanya bisa mengiyakan dengan memajang mimik wajah sewotnya. Zidhiana POV Andai kamu tau Ras, sampai saat ini aku belum bisa menganggap Dias lebih dari seorang kakak. Entahlah ... apa karena waktu kita bertemu hanya seminggu sekali, saat week end saja. Atau mungkin juga pintu hatiku belum terbuka untuk Dias. Kembali ingatanku dengan sosok pria berkulit putih, berahang tegas, sorot manik netra hazelnya yang tajam membuat aku sangat menyukainya. Badannya juga yang lumayan atletis karena hobinya berolah raga. Dia adalah seorang pria yang pintar sekali mengambil hatiku dari tingkah kekonyolannya. Nada bicaranya yang khas di pendengaranku bergaya aksen Sunda. Oleh karena itu aku memanggilnya Aa' Dias. Semua keistimewaan yang ada pada diri Dias ternyata belum cukup bagiku. Aku sangat ingin pria yang mampu mengimbangiku, berwawasan luas, dan dapat berbagi denganku. Bukan berarti juga pria kutu buku adalah tipeku, melainkan pria yang memiliki ketertarikan dalam ilmu pengetahuan yang diimbangi cinta. Aku dan Dias terpaut beda umur tujuh tahun. Saat ini aku berusia 17 tahun dan Dias akan memasuki usia ke 24 tahun. Dias adalah teman dari pacar Rasty yang sama‐sama bekerja di perusahaan pelayaran swasta. Bedanya kantor Dias berada di pulau Batam yang jaraknya bisa ditempuh selama 20 menit untuk ke kotaku, Bintan. Sedangkan Jack pacarnya Rasty, kantornya tak jauh dari pelabuhan di mana dia bekerja di kota ini. Jadi hampir setiap hari mereka bisa bertemu sapa. Jarak umur Jack dan Rasty juga sama seperti aku dan Dias. Entah kenapa gadis seusia kami bisa menyukai pria yang lebih matang. “Hallooo ... Mau pulang nggak? Malah ngelamun kayak kodok nungguin hujan," kejut Rasty membuatku terkesiap. “Sekarang musim panas keleeess. Yang bener itu--- " Belum sempat meneruskan kata‐kataku, Rasty langsung menarik tanganku menuju pintu bis yang telah di sesaki olah para siswa. Sepertinya aku akan berdiri karena sebagian besar kursi sudah diisi oleh para siswa yang telah menunggu di pinggiran pantai tadi. Sangat beruntungnya Rasty mendapat satu kursi kosong paling depan di samping pak Raden. Terlintas dipikiranku untuk menemui Rifai teman sekelasku yang baik hati dan menjunjung tinggi nilai pertemanan, apalagi teman cewek. “Brow, bisa geser dikit nggak? Boleh ya numpang duduk dikit," pintaku. Mengeluarkan jurus memelas andalanku. “Ya udah sini duduk, aku yang berdiri," ujar Rifai mempersilahkanku. “Makasih banyak ya brow, emank temen paling menjunjung tinggi nilai perikemanusiaan," godaku. Rifai si hitam manis ini adalah teman sekelas kami. Kami duduk bersebelahan, aku diapit oleh Rasty dan Rifai. Di antara temen‐temen cowok di kelas kami, Rifai adalah salah satu siswa yang berprestasi juga. Terdengar suara lagu Kenangan Terindah yang membuat suasana sunyi di dalam bis. Mungkin semua penumpang sedang menikmati lirik dari alunan musik pop tersebut. Pak Raden tau saja lagu ini bikin baper semua murid di dalam bis siang itu. Tiba‐tiba terdengar suara teriakan dari arah depan. “Ayo semua angkat tangannya ke ataaaass. Suaranya manaaa...," teriak Rasty. Mengencangkan lagu Kenangan Terindah tersebut. ... Bila yang tertulis untukku Adalah yang terbaik untukmu 'Kan kujadikan kau kenangan Yang terindah dalam hidupku Namun takkan mudah bagiku Meninggalkan jejak hidupmu Yang t'lah terukir abadi Sebagai kenangan yang terindah ... (Samson, Kenangan Terindah) Semua siswa secara kompak mengangkat tangan mereka ala konser akbar, bernyanyi mengikuti lirik lagu tersebut. Lagu ini begitu lekat mendalam artinya bagi kami. Ini adalah konser musik ala bis sekolah pak Raden yang akan menjadi kenangan terindah untukku. Mungkin sampai kami tamat nanti, kenangan saat pergi dan pulang bersama akan menjadi cerita di masa tua.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
65.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook