Mario terus menggenggam erat tangan sang istri yang terasa dingin dan gemetar. Kedua nya tengah duduk di ruang tamu rumah Barry dengan Barry dan Mala yang duduk menghadap ke arah mereka. "Dia...Lyora?" Mala angkat suara. "Ya, dia anak kita." sahut Barry. "Ini Mama, nak." kata Mala lalu. Sukma hanya tersenyum kecil, sangat kecil bahkan hampir mata nya tetap menatap tajam ke arah dua orang itu. Padahal tangannya sudah mendingin layaknya beku digenggaman Mario. "Dua puluh tahun lebih saya hidup, saya tidak pernah merasa punya Mama." celetuk Sukma. Mala yang mendengar itu tersenyum kecut. "Bukannya anda baru saja marah karena dia tiba tiba mengakui saya sebagai anaknya?" Sukma menyebut Barry dengan kata 'dia' membuat Barry ikut sedih dibuatnya. "Saya tidak pernah memaksa kalian berdua

