Arman masih saja memandangku. Aku pun membalasnya. Aku membalikkan tubuhku dan meninggalkannya. Kakiku terus melangkah. Kini aku harus menghadapi semua musuhku. "Midas. Kau ini ke mana saja? Aku menunggumu. Aku bawakan semua perlengkapan. Ana mengatakan kau akan tinggal di rumah sakit ini. Kau harus membawa baju dan semuanya. Untung saja kau memiliki sepupu yang pintar dan tanggap sepertiku. Hmm ... terima ini." Roy tiba-tiba datang mengejutkan. Dia membuatku hampir saja terkena serangan jantung. Tapi, dia membuatku senang. Aku masih ada yang memperhatikan selain Ana. Kau selalu saja memperhatikanku. Terima kasih semuanya. Kau memang selalu mengerti apa kebutuhanku. Roy terkekeh pelan melihatku. Dia kemudian semakin tertawa, hingga menekan perutnya. Aku terpaku melihatnya. Kenapa dia

