bc

Sentuhan Midas

book_age18+
637
IKUTI
4.6K
BACA
doctor
tragedy
genius
like
intro-logo
Uraian

Midas lelaki tampan kaya raya, yang terusir dari rumahnya karena dianggap tidak bisa memimpin perusahaan rumah sakit terbesar di kota akibat kelemahannya tidak bisa berbicara.

Tekadnya untuk menjadi seorang Dokter, dilaluinya dengan berbagai cara walaupun penolakan dan ejekan selalu saja dia terima.

Kejeniusan Midas, membuat dia akhirnya bisa menjadi, “Sang Legenda” menggantikan posisi kakeknya.

Sentuhan jemari Midas, bisa membuat sang penderita menikmati kehidupannya kembali. Hingga akhirnya Midas merebut apa yang menjadi haknya.

“Semua menjadi milikku, kembali.”

Ikuti kisah, Sentuhan Midas. Cerita yang sangat menginspirasi. Penuh dengan intrik, tragedy, action.

Kelemahan, bukan akhir dari segalanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Sentuhan Midas
“Berikan alat itu!” Tangan itu, bergerak dengan cekatan. Sebuah luka yang sama sekali tidak bisa disembuhkan menurut ahli pengobatan dari tujuh Negara, kini berada dalam tugasnya. “Basahi dalamnya!” Beberapa mata terus mendampinginya, memandang serius apa yang dia lakukan. Segumpal darah yang membuat tubuh seakan lumpuh, akhirnya terangkat. Perlahan pisau kecil itu membelah. Semua terlihat jelas. Jemarinya terus bermain di dalam untuk membasmi semua penyakit itu. Semua mata semakin menyorot tegang, menunggu detik-detik terakhir jarum dengan benang jahit menembus kulit perut sosok yang masih terlelap dalam mimpi berharap nyawanya terselamatkan. “Semua sudah selesai,” jawabnya singkat. “Kau kembali, sang Legenda.”   *** Empat elemen alam tidak pernah terlepas dari ruang dan waktu. Manakala semua hal terpenting dalam kehidupan itu berbaur di udara, melajulah kakiku menembus mundur masa lalu silam, tiba di lorong rumah sakit Kota Jakarta. Kedua mataku terpaku melihat sosok wanita yang melahirkanku terbaring lemas. Diriku yang berumur tujuh tahun saat itu, hanya bisa menatapnya tanpa berbuat apapun. Aku mengamati tubuhku yang bercahaya, melihat kembali masa sedih yang menyangkut pikiranku. Masa di mana aku kehilangan seorang Ibu. Tangan kurus diselimuti kulit berkerut, perlahan melambai ke arahku. “Sentuhlah mereka, Midas.” Hatiku bergetar. Kedua mataku tersorot tajam. Hingga cahaya putih bersosok wanita melambai ke arahku. Kini aku terseret masuk ke dalam kabut putih, berputar dan, “Hah!” Aku terbangun dalam mimpi buruk namun nyaman. Melihatnya tiada sekali lagi dengan sebuah pesan yang membelitku. “Midas, waktunya kau keluar. Semua menunggumu,” ucap Roy saudara sepupu yang sangat dekat denganku. Dia selalu saja membuka pintu kamar tanpa mengetuknya. “Jangan melamun. Bangun, lalu pakai jas itu. Kau tahu sendiri mereka tidak suka menunggu.” Dia bergeming kaku menatapku yang masih belum beranjak. “Midas!” teriaknya sekali lagi. Aku terkekeh membuatnya kesal. Dia melemparku dengan handuk yang terselampir di sandaran kursi. Dengan sigap aku menangkapnya. Kini jarinya menunjuk tepat di wajahku. “Lakukan, atau aku akan memandikanmu, dasar!” Dia pergi dengan menggeleng. Aku memutuskan untuk beranjak dari ranjang mewah berukuran cukup besar yang selalu membuat tubuhku melepas penat dari kecil. Melangkah pelan menatap cermin yang memantulkan bayangan diriku. Aku mengamati tubuhku yang tinggi dan sangat atletis. Ketampananku juga sangat maksimal. Semua mata memandangku sempurna. Satu hal yang salah dari diriku, adalah kelemahanku. Aku berjalan memasuki kamar mandi untuk menghilangkan kegerahan. Air hangat sudah menyegarkan semua kulitku. Sembari menikmati gemericik air yang masih setia membasahi tubuhku, aku menunduk berpikir. Ada banyak hal yang harus aku lakukan. Apakah aku bisa melakukannya? Pesan yang selalu aku dapatkan ketika bermimpi? Aku menoleh, terkejut bukan kepalang. Roy bersedekap menatapku. “Kenapa kau malah melamun, Midas?” tanyanya menyodorkan setelan jaz yang harus aku pakai. Aku membalas tatapannya, kemudian menerimanya. Handuk putih dengan serabut lembut dia lempar dengan cepat. Kali ini aku gagal menangkapnya. “Aku menunggumu di sana. Lima menit, itu waktumu.” Aku tertawa kecil. Roy menggeleng berlalu dari kamarku. Balutan jas hitam mahal sudah menghiasi tubuhku. Kini aku siap keluar dari dalam untuk menghadapi mereka yang menentangku. Mencoba membuatku tersingkir. Udaranya terasa angker. Kakiku melangkah memasuki ruangan hampa dipenuhi tatapan tajam mengarah kepadaku. Kini aku berdiri di antara mereka yang menungguku keluar dari silsilah keluarga. “Midas, duduklah.” Paman tertua mempersilahkanku. Kursi berbahan emas, milik almarhum ayahku kini aku kuasai. Namun aku memutuskan berdiri dan tidak mendudukinya. Aku menganggukkan kepala untuk memulai apa yang menjadi tujuan mereka. “Midas, kami keluarga besar telah bersepakat untuk tidak menerimamu. Kami akan memberikanmu kehidupan yang layak. Kau hanya perlu menikmati kehidupanmu dan memiliki keluarga. Semua keperluanmu akan kami cukupi sampai kapanpun.” Dengan tegas Paman berkata. Kepalaku masih tegak menatapnya. Semua orang dalam diam menunggu jawabanku. “Midas, ini akan sangat memalukan bagi kami. Memiliki kepala perusahaan dengan kelemahan yang kau dapat, bisa berdampak buruk bagi kami.” Bibi kembali menegaskan pembicaraan. Tidak ada penyelamat. Aku hanya benar-benar menginginkan kehadirannya. “Midas, tolonglah. Kami bergantung kepadamu. Kau tidak bisa memimpin perusahaan itu.” Paman mendekat, menepuk pundakku. Mereka semua masih menungguku. Kedua mataku sejenak memejam. Memutar waktu untuk mengingat pesan wanita yang melahirkanku. Seiring detik berjalan, kelopak mataku terbuka, bibirku melepas senyum. Anggukan kepala menandakan persetujuan, seketika membuat mereka tersenyum saling berpelukan. Kecuali sepupuku yang hanya diam menatapku berlalu. Dapat aku lihat dengan jelas wajahnya. Tampak tegang. Aku melepaskan dasi, meletakkan di atas meja. Berpenampilan resmi sudah bukan aturanku. Aku sudah kehilangan semua harta saat dokumen yang disodorkan Paman aku tanda tangani. Semua itu tidak aku butuhkan. Biarkanlah saja mereka masuk dengan keserakahan. “Midas,” kata Roy menahanku melangkah keluar dari ruangan. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya memastikan. Aku menepuk jemarinya yang masih menempel di pundak kananku. Anggukan dengan senyuman aku berikan. Perlahan dia melepasnya. “Jaga dirimu, Midas.” Pesan yang akan aku ingat untuknya buatku. Kakiku terus melangkah keluar dari rumah yang menemaniku sejak kecil. Sejenak aku berdiri di hadapan bangunan kokoh bergaya klasik dengan ukuran sangat luas saat benar-benar keluar. Sedikit ingatan bahagia membuatku menarik napas. Aku tidak akan pernah menolehkan pandanganku lagi ke belakang. Masa depan, itulah tujuanku sekarang. “Tuan Midas, kami akan mengantar, Anda.” Pengawal setia yang selalu berada di sebelahku bertahun-tahun lamanya menatap sendu. Aku menganggukkan kepala untuk membuatnya lega. “Midas, tunggu! Kau melupakan ranselmu.” Roy menyodorkan ransel berisi semua keperluanku. Dengan tatapan tegang, dia melepaskan jaket kesayangannya. Jemarinya terus bergerak melekatkan jaket itu ke tubuhku. “Aku akan mencarimu,” ucapnya singkat menahan linangan itu. Kakiku melangkah meninggalkan tempat kenangan masa kecil. Putaran waktu masa bahagia kehidupanku kini sirna. Satu hal yang harus mereka ketahui. Mengusirku, berarti bencana. Kelemahanku, adalah kelebihanku. Kini aku biarkan semua melakukan itu. Akan ada masa, di mana aku berhak atas semua dengan apa yang aku raih, dan itu mutlak. Midas, akan mendapatkannya kembali. Seiring sinar matahari yang sudah menyeruak gagah menyirami jalanan, aku melihat semua arah, memikirkan apa yang perlu aku lakukan. Pertama-tama aku harus mencari tempat tinggal untuk diriku sendiri. Tanpa aku sadar, kakiku melangkah jauh tanpa arah menuju kota. Di depan gedung bertingkat, aku duduk sendirian di bangku besi yang terpancang di halamannya. Kedua mataku menatap semua arah. “Berhenti!” teriak sosok pemuda mengejar laki-laki berjaket hitam dengan topi membawa sebuah koper hitam kecil. Aku spontan berdiri menarik kuat kerah bagian belakang, saat dia mendekat ke arahku. Laki-laki itu kini dalam genggamanku. “Kau, jangan ikut campur masalah ini!” ucapnya tegas. “Ini sangat penting buat anakku. Dia membutuhkan makan!” katanya sekali lagi menatapku tajam. Aku masih dengan kuat menahannya. Dia menggeleng cepat saat seseorang yang mengejarnya semakin mendekat. “Jangan lepaskan dia!” Sembari menahan napasnya yang terengah-engah, pemuda itu menarik sebuah koper hitam miliknya. Dia menghembuskan napas merasa lega mendapatkan miliknya kembali. Kini dia berdiri tegak, memperlebar senyuman ke arahku. “Kita akan membawanya ke kantor polisi.” Aku menggeleng cepat membuat dia sontak mengangkat kedua tangan. Kerah yang masih dalam cengkeramanku secepatnya aku lepas. Tawananku kini terlepas dan lari terbirit-b***t. “Kau melepaskannya? Dia adalah maling, Tuan …” Dia semakin menatapku, menungguku menyebutkan sebuah nama. Ransel yang semula terselempang di punggung, aku lepaskan. Resleting hitam yang menutupnya aku buka perlahan. Secarik kertas dengan sebuah ballpoint emas peninggalan Ayah aku keluarkan. Wajah sosok di hadapanku terlihat mengernyit heran dengan apa yang akan aku lakukan. Segera kutorehkan tinta hitam itu di atas permukaan kertas putih bertuliskan namaku, ‘Midas’. Lembaran itu aku sodorkan kepadanya. Dia perlahan menerima dengan pandangan kaku. “Midas? Namamu, Midas?” Aku mengangguk cepat. “Jadi kau …” tanyanya dengan mengangkat ibu jari kanan yang terangkat tepat di wajahku. Bibirku melempar senyum, membuatnya mendengus. “Jadi kamu tidak bisa berbicara?” desaknya kembali membuatku mengangguk. Dia duduk manis sambil menarik lenganku agar aku mengikutinya. Kini kami duduk bersebelahan. “Aku melihatmu, sepertinya kau anak orang kaya. Aku seorang psikiater. Ini koper berisi semua dokumen rahasia pasienku. Untunglah kau menyelamatkannya. Namaku Reynard. Kau bisa memanggilku, Rey.” Dia menyodorkan telapak tangannya untuk berjabat tangan. Aku meringis sebentar, lantas menerimanya. “Aku bisa berbicara dengan bahasa isyarat. Kau tahu sendiri, aku bersekolah untuk memahami semua perasaan pasienku. Salah satunya seperti dirimu, Midas.” Baiklah, aku berbicara dengannya menggunakan bahasa isyarat. Tidak memiliki tujuan, itulah yang aku katakan pertama kalinya. Entah dia mau menerimaku apa tidak, itu urusan nanti. Tiga detik. Aku menunggu respons dari wajahnya yang mulai sedikit memberikanku petunjuk. Matanya yang mengernyit, kembali melebar. To the point itulah aku. Tanpa kompromi. “Ikutlah. Itu adalah tugasku untuk membalas budi. Untung saja aku bisa membaca watak seseorang. Kau tidak seperti penjahat.” Aku menyengir, menerima jabatannya kembali. “Kalian, berhenti!” Aku menarik lengan Rey. Tubuhnya hanya sebatas pundakku. Aku semakin mempercepat langkah, meninggalkan jauh-jauh pemuda yang menjadi tawananku saat beberapa jam lalu. Rey hanya berjalan diam mengikuti setiap langkahku. “Kalian, tidak akan aku biarkan lolos!” teriak mereka kurang lebih lima orang. Dia sudah membawa beberapa temannya. Berpura-pura tuli, seakan tidak ada suara yang memanggil-manggil, itulah yang aku lakukan untuk menghindar. “Midas, kenapa kita berada di jalanan sepi?” bisik Rey cemas mengamati semua arah. Aku menghentikan langkah saat tepat di bawah jembatan tanpa mata memandang. Rey menangkap cepat ransel yang aku lempar ke arahnya. “Apa kau akan melawan mereka, Midas?” Dia tercengang saat aku mengatakan, iya. “Midas, mereka sangat banyak!” bisiknya pelan namun tegas. Tanpa menjawabnya, aku menghampiri mereka. Aku mengedarkan pandangan, sejenak menengadahkan kepala, menatap langit yang sudah setengah gelap. Gemuruh mulai terdengar. “Midas!” Suara Rey kembali terdengar. Aku mulai mengepalkan kedua tanganku. Kelima preman di hadapanku sudah siap dengan kayu yang akan mereka lemparkan. Aku melawan mereka satu persatu. Keahlianku dalam hal bela diri bisa dengan mudah membuat mereka tumbang mencicipi tanah yang sudah basah. Rintik hujan mulai berjatuhan. Air yang menderas sudah bercampur cairan merah pekat yang keluar dari lobang hidung salah satu dari mereka akibat pukulanku. Rey hanya menatapku dengan pandangan tegang berharap aku menyelesaikan dengan cepat. Lima orang dengan wajah lebam kini terlentang di tanah. Aku berdiri mengatur napas sembari menatap jutaan rintik yang semakin menghujam deras menerpa tubuhku. “Midas! Kita pergi!” Rey menarikku. Dia mengamati semua arah mencari tempat paling aman untuk berteduh. Sebuah rumah tua terlihat samar. Dia semakin menarik lenganku. Kami menerabas derasnya hujan untuk pergi ke sana. “Kita duduk di sana.” Kami meringkuk di pojok sambil terus menatap awan bercampur kilat. “Midas, aku berterima kasih. Kau memang hebat. Apa rencanamu? Apakah kau memiliki tujuan?” Aku menghela napas, menahan tubuhku yang sedikit menggigil. Rey terus menatapku. Kini aku membalas tatapannya. Mengatakan kepadanya, jika aku memiliki impian. Sebuah pesan yang akan aku lakukan. Ibuku selalu mengatakan, “sentuhlah mereka Midas”. Menyembuhkan semua penyakit yang mereka derita. Kepintaran yang aku miliki bisa membuat itu sangat mudah. Itulah impianku sejak kecil. Membuat mereka terbebas dari penderitaan. “Apakah kau ingin menjadi …” Aku menganggukkan kepala. “Bagaimana caranya?” Rey kembali menanyakan hal yang selalu membuatku lemas seketika. Namun aku selalu bertekad kuat dengan kelemahanku. Pasti ada cara. Aku harus mencari uang yang sangat banyak untuk meraihnya. Bantulah aku. “Membantumu?” Rey diam. Di kembali menatap hujan yang berkelip terkena sinar lampu penerang jalanan. Dia terus memandang kosong ke depan sembari bertopang dagu. Berjalannya waktu, aku berharap dia bisa memberikan jawaban walaupun terkesan singkat. “Kini aku sangat tahu kenapa kau bernama Midas. Apa kau tahu siapa Midas?” Aku mengernyit menatapnya. Sedikit gelenganku membuat kedua alisnya terangkat. Dia terkekeh pelan. Kini salah satu tangannya memegang pundak kananku. “Midas. Raja dalam mitologi Yunani. Dia adalah figur yang terkenal karena kemampuannya untuk mengubah semua yang ia sentuh berubah menjadi emas. Namanya sentuhan Midas atau sentuhan Emas.” Rey menarik napasnya sebelum akhirnya dia berkata, “Sentuhan Midas. Kau akan menyentuh semua rasa sakit itu menjadi sembuh dan menghasilkan banyak sekali uang. Kau lelaki sangat hebat dengan cita-citamu. Aku akan membantumu, Midas.”  Terima kasih, Rey.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.3K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

JANUARI

read
50.5K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
641.2K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook