KEKUATAN

1522 Kata
Keberuntungan berpihak kepadaku. Sang penyelamat yang selama ini aku cari, datang seketika saat aku membutuhkannya. Rey dengan serius mengendarai mobil sedan lumayan mewah memutari jalanan Kota Jakarta. Semua lampu berkelip menghiasi kota malam hari. “Midas, kau akan melakukan apa setelah ini? Kau sangat tahu. Untuk menjadi seorang penyelamat membutuhkan uang yang sangat banyak.” Sesekali dia melirikku sebelum kembali menatap jalanan. Mencari emas. Itu yang akan aku pikirkan. Pandanganku kembali mengedar ke semua arah. Kehidupan keras penuh peristiwa. Aku akan memulainya besok. Aku akan menggunakan kekuatanku untuk mencari semua uang itu. “Kekuatan?” Rey terperanjat saat aku menepuk pundaknya dan mengatakan rencanaku. “Kekuatan apa yang kau punya, Midas?” tanyanya mengernyit.  Aku mengepalkan kedua tanganku. Dia masih menggeleng tidak mengetahui maksudku. Seni bela diri aku pelajari dari Kakek sejak berumur tujuh tahun. Dia pemilik sebuah rumah sakit terbesar di Kota Jakarta. Keahlian bela diri dia dapat saat menuntut ilmu kedokteran di Cina. Salah satu temannya memiliki Kuil Saolin di sana. Aku sangat cepat mempelajarinya ketika semua gerakan dalam hitungan detik Kakek perlihatkan. Satu hal yang selalu membuatku pasrah. Kelemahanku selalu saja mendapat penolakan dalam hal apapun. Bahkan dari keluargaku sendiri. Kakek memiliki gelar luar biasa. Dia bisa menyembuhkan penyakit kanker ganas seorang gadis yang sudah divonis mati. Tangan ajaib kakekku membuatnya hidup sampai sekarang. “Kau masih tidak membuatku mengerti, Midas. Baiklah, ini rumahku.” Sebuah rumah sangat luas dengan bangunan bertingkat. Rey ternyata sangat kaya. Dia bergegas turun dari mobilnya. Perasaanku sangat tidak enak melihat pintu rumahnya terbuka. Halaman penuh dengan mobil didampingi beberapa pengawal. Rey, apa kau mengalami masalah? Aku berjalan, berdiri di sebelahnya. Dia masih saja tidak menjawab perkataanku. Tanpa menutup pintu, dia membiarkan kunci mobilnya masih terpasang, berlari tergesa-gesa masuk ke dalam. Aku menyusulnya. Berharap kemungkinan buruk tidak akan terjadi. “Jangan, aku mohon!” teriak Rey di depan pintu. Pemandangan itu bisa terlihat dengan jelas saat kami memasuki ruangan. Sekelompok orang bertubuh besar dan garang mengitari seorang wanita berbalut busana hitam menyambut kami dalam keheningan. Wajahnya sangat dingin membuat Rey kehilangan kata. “Owh, kamu datang tepat waktu, mantan suamiku.” Wanita itu berjalan menyambut Rey dengan senyuman lebar. Dalam kesunyian, suaranya menggema. “Amelia. Harusnya kau tidak datang kemari! Kau boleh membuatku menderita, asal jangan menyentuh Putri!” “Dia anakku, dan akan selamanya seperti itu! Ben, buat dia bertekut lutut!” Mata Amelia mengikuti mata seorang laki-laki bertato dengan jangkung berkemeja hitam melayangkan tangan kanannya ke wajah Rey. Aku tidak akan membiarkannya. Amelia terpaku kepadaku. Aku masih dengan kuat menahan tangan kekar yang akan membuat wajah Rey lebam. Aku tidak ingin melakukan ini sebenarnya. Masalah yang sebaiknya tidak bisa aku ikuti semakin dalam. “Jangan ikut campur!” teriaknya mengarahkan salah satu tangannya ke arah semua pengawal yang masih berdiri tegak kini mendekatiku. “Midas. Dia sangat berkuasa. Kau sebaiknya jangan ikut campur dengan masalahku. Bawa anakku, dan pergilah dari sini. Hanya itu yang bisa kau lakukan. Aku mohon.” “Apa yang terjadi, Ayah?” jeritan Putri pecah. Dia sepertinya keluar dari persembunyiannya. Amelia tersenyum melihat anak perempuannya. Namun tidak dengan Rey. Dia berdiri mengambil vas bunga dan melempar cepat mengenai punggung Amelia. “Prang!” “Midas, bawalah dia pergi!” Salah satu pengawal mendekati Rey dari belakang. Aku menarik tangan yang masih dalam cengkeramanku. Menghantam lututnya dengan kaki kananku. Jeritannya menghempas kesunyian. Secepatnya pukulanku menampis pisau yang akan menggores wajah Rey. “Putri, lari!” teriak Rey menghampiri Amelia yang sudah mengeluarkan senapan dari punggungnya. Rey semakin melotot melihatnya. “Jangan!” Aku berlari kencang mendahului Rey. Kakiku menendang perut pengawal paling besar diantara mereka. Tanganku menyambitkan asbak di atas meja tidak jauh dari posisiku. Mata lawan seketika memuncratkan darah segar. Kerah bagian belakang Rey aku tarik dengan tangan kanan. Seketika tangan kiriku mendorong tubuh Amelia yang akan mengarahkan peluru itu tepat di jantung Putri. “Dor!” “Tidak!” teriak Rey semakin memecah. Aku merebut senapan itu saat tubuh Amelia tersungkur ke lantai. Kini aku menodongkan pistol itu tepat ke arahnya. Untung saja aku tepat waktu membuat peluru di tangan Amelia meleset. “Dor!” Pandanganku teralihkan saat melihat seorang laki-laki mendadak datang menembakkan peluru ke lengan kanan Rey. “Tenanglah. Dengar Tuan Rey yang selalu dianggap dermawan dan hebat. Aku … pada dasarnya tidak suka mengotori peluruku untuk tubuh itu. Tapi kau yang lebih dahulu melakukan perlawanan. Dia, anak itu harus kami bawa. Jika tidak, kehidupan ini akan sulit kami terima.” Lelaki itu menarik tubuh Amelia untuk berdiri. Aku masih menodongkan pistol ke arah mereka dengan tatapan tajam. “Kau, siapapun dirimu. Aku tidak akan melepaskanmu. Kali ini kau lolos. Tapi … tidak untuk ke depannya,” ucapnya sambil menunjukkan jarinya tepat di wajahku. Aku tidak mengerti dengan situasi yang kali ini membingungkan. Mereka semua memakai masker gas. Rey masih saja tergeletak di lantai menahan lengannya yang semakin bersimpuh darah. Putri memeluk Rey dengan teriakan histeris. “Aku akan kembali, Rey,” ucap Amelia kemudian berlalu bersama mereka semua kecuali lelaki itu yang melemparkan benda kecil. Dia membalikkan tubuh dengan cepat keluar dari rumah. Beberapa detik ledakan diikuti bau menyengat, menyesakkan d**a terhirup. Gas beracun! Aku menarik Putri. Mengarahkan dirinya untuk menaiki punggungku. Dia mengangguk dan melakukan dengan cepat. Umurnya yang masih sepuluh tahun membuatku mudah membawanya. Rey aku papah dengan kuat. “Midas, dia mengunci semua pintu. Kamar Putri. Kita ke sana. Ada jalan rahasia,” kata Rey menahan perih di lengannya. Aku bergegas membawa mereka ke lantai dua. Keringatku keluar deras. Aku harus menahan napas beberapa menit untuk menahan gas ini. Ceklek! “Pintu terkunci,” kata Rey lemas. Aku menurunkan tubuh Putri yang mulai berkeringat. Dengan cepat aku mendobrak pintu kokoh itu berkali-kali. Napasku yang mulai sesak aku tahan. Mereka sudah saling berpelukan dengan wajah pucat. Aku harus bisa membukanya dengan cepat. Aku terus menghempaskan tubuhku untuk menembusnya. “Midas … larilah,” rintih Rey. Aku tidak mau menyerah. Rasa sakit disekujur tubuhku akibat hempasan kuat tetap aku tahan. Kini aku sejenak berdiri. Memejamkan kedua mataku. Kekuatan aku kumpulkan perlahan. “Emosi tidak akan menyelesaikan semuanya. Ambil semua elemen alam. Rasakan dalam hatimu, dan hentakkan.” Pesan Kakek yang tidak akan pernah aku lupakan. Kedua mataku terbuka. Aku melompat kembali mendobrak pintu yang akhirnya terbuka. Rey dan Putri sudah tidak sadarkan diri. Aku membawa Putri, meletakkan di atas ranjangnya. Menyusul Rey. Pintu kamar Putri aku tutup sangat rapat. Tirai yang terpasang aku tarik keras untuk menutupi semua sela mencegah gas itu menebar. Semua ruangan tidak menunjukkan jalan rahasia. Yang aku tahu hanya ada jendela kamar terbuat dari kaca. “Prang!” Lemparan kursi yang aku arahkan seketika membuatnya pecah. Kini aku menarik semua tirai kembali. Aku sambung dengan cepat. Sesaat hembusan napas bercampur sedikit gas aku keluarkan. Menuruni lantai dua dengan membawa dua orang sekaligus, ini sangat berat. Aku mulai membangunkan putri yang sedikit terbangun. Dia perlahan membuka kedua matanya. “Om …,” lirihnya. Aku menepuk pundakku. Dia mengangguk dan paham dengan perintahku. Putri segera naik di punggungku. Aku mengikatnya dengan sisa tirai. Perlahan aku mencengkeram tirai yang sudah aku sambung untuk menuju halaman yang terlihat tinggi dari jendela. “Om, bagaimana dengan Ayah?” Aku tidak menjawabnya dan mulai menuruni pelan menggunakan tirai yang aku sambung dan mengikatnya di pagar balkon. Tanah sudah semakin dekat. Aku selamat membawanya. Kedua mataku menatap Putri setelah dia melompat turun dari punggungku. Aku mengarahkan tanganku ke atas. Dia mengangguk dan paham jika memang aku akan mengambil Rey. Sekuat tenaga aku kembali mencengkeram kain tirai. Pergelanganku yang terasa perih, aku tahan hingga aku kembali menuju kamar. Rey masih tidak sadarkan diri. Aku mengangkatnya, meletakkan tubuh lemasnya di punggungku. Kali ini aku mengikat tubuhnya dengan sprei yang aku tarik hingga terlepas. Secepatnya aku menuju balkon meraih tirai yang masih terikat, dan menuruninya. Putri menatap kami dengan gelisah. Aku perlahan berusaha mencapai tanah. Buliran keringat sudah mengucur deras. Pergelangan tangan ini tetap aku tahan. Perlahan kakiku menapaki tanah. Putri beranjak dari duduknya. Dia berlari membantuku. “Om, kita naik mobil menuju ke rumah sakit.” Putri mengarahkan tangannya menuju garasi. Aku mengangguk. Tubuh Rey kembali kuangkat. Putri berlari mendahuluiku. Dia menekan tombol di sebelah pintu garasi. Secara otomatis pintu itu terbuka. Kami berlari memasukinya. Putri membantuku meletakkan tubuh Rey di kursi belakang. “Om, kunci itu ada di dalam. Di atas meja sebelah ruang keluarga.” Aku menahan napas, kembali masuk ke dalam rumah melewati pintu yang tersambung garasi. Sebuah kunci tergeletak dengan bandul warna merah. Aku seketika menyambar, membawanya keluar. “Om, kita menuju ke rumah sakit.” Mobil aku kemudikan dengan kencang. Putri dengan cepat memasang sabuk pengaman di kursi depan. Rey mulai tersadar. Aku bisa melihatnya dari kaca spion. Dia berusaha mengangkat tubuhnya. “Ayah, kau sudah sadar!” teriak Putri menolehkan pandangan ke belakang. “Jangan ke rumah sakit. Jika kita ke sana, akan sangat bahaya. Kita menuju ke apotek. Belilah obat dan jarum untuk menjahit.” “Tapi kita membutuhkan dokter, Ayah!” “Putri, dia bisa melakukannya. Midas, Aku mempercayaimu. Aku memiliki uang yang sangat banyak. Aku bisa membantumu, Midas!” Aku hanya mengetahui dasar pengobatan saat Ayah dan Kakek mengajarkanku. Namun aku akan mencobanya kepada, Rey. Aku akan melakukannya, Rey
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN