Bertemu Ana

1161 Kata
Aku masih mengendarai kencang. Kedua mataku serius menatap jalanan, sekaligus mencari toko obat. Rey semakin merintih kesakitan. Untung peluru itu hanya mengenai permukaan kulitnya. Jika aku sedikit saja terlambat untuk mendorongnya, dia pasti sudah tidak bernyawa. Alam masih berpihak kepadanya. “Om, itu toko obat!” teriak Putri membuatku menghentikan mobil dengan mendadak. “Om, kau bisa membunuh kami,” ucap Putri dengan napasnya yang tersenggal. Dia spontan menahan tubuhnya saat aku spontan menekan pedal rem. “Midas, kau gunakan kartu ini.” Rey masih saja berusaha mengeluarkan dompet dari saku celananya. Dia menahan sakit, sembari membongkar isi dompetnya. Jemari kanannya memberikanku sebuah kartu. Namun aku menggeleng. Bagaimana bisa aku menggunakan kartu yang berlumuran darah? Aku memiliki persediaan uang di tas. Ini pemberian sepupuku, Roy. Mungkin kau simpan dulu kartu itu. Rey mengangguk, dan menurutiku. Putri masih saja menarik napas panjang melihat kondisi, Rey. Aku menatap, dan memegang pundaknya. Jaga ayahmu, selama aku pergi. Aku mengandalkanmu. Kau sangat hebat. Putri hanya sedikit mengerti bahasa isyaratku. Namun dia menganggukkan kepala, membuatku sedikit lega. “Om, cepatlah!” pintanya membuatku spontan mengangguk cepat. Aku membuka pintu mobil, berlari cepat masuk ke dalam apotek. “Argh!” teriak seorang wanita menggunakan baju putih. Aku tidak sengaja menabraknya, membuat semua obat yang berada di dalam genggamannya berserakan di lantai. “Dokter Ana, apa kau baik-baik saja?” Seorang laki-laki seketika itu berlari menghampiri kami. Dia memicingkan kedua matanya ke arahku. Aku sangat paham. Dia pasti membenciku. Aku sedikit menatapnya. Dia ternyata Kepala Apoteker bernama Sarman. Aku melihat nama yang tertempel di d**a kanannya. “Tidak masalah,” kata Ana nama dokter itu yang hampir terjatuh karena diriku. Sepertinya dia seumuranku. Aku memandangnya tanpa henti. Baju putih yang dipakai Ana, membuatku terpaku. Itu adalah baju impianku yang kini terlihat jelas. Baju berwarna putih yang biasa digunakan seorang dokter. Baju kebesaran terindah yang selalu aku impikan untuk memilikinya. Kedua mataku masih menatapnya dari atas sampai bawah. Ketika aku kembali mengarahkan pandangan kepada kedua mata coklat miliknya, baru aku sadari jika tingkahku pasti sangat kurang ajar. Memandang wanita dengan aneh. Sontak kepalaku menunduk untuk mengambil satu obat yang masih tersisa di lantai. Namun dia juga spontan mengambilnya. Telapak tangan kami saling bersentuhan. Aku segera mengangkat kedua tanganku sembari tersenyum. “Tidak masalah,” jawab singkat Ana. Aku mengangguk, kemudian berdiri. Namun lenganku tertahan sesuatu. “Bro. Minta maaf dengannya! Kau hanya diam tanpa berkata. Apa kau bisu?” Sarman menatapku tajam. Namun yang dia katakan benar. Aku kembali menatap Ana yang kini berdiri membalas tatapanku. Tangan kanan aku ulurkan kepadanya untuk berjabat tangan. “Kau benar-benar kurang ajar. Katakan maaf kepadanya!” bentak Sarman sekali lagi. Aku sejenak memejamkan kedua mata, lalu menggeleng. Aku harap Ana bisa mengerti dengan keadaanku. “Kau--” “Hentikan!” sela Ana saat Sarman akan melayangkan pukulannya. “Kau … baiklah, aku mengerti. Apa yang kau butuhkan? Aku bisa membantumu untuk berbicara dengan mereka.” Aku menarik napas lega. Aku sangat tahu jika Ana pasti mengerti. Dia terlihat cerdas. Kami meninggalkan Sarman begitu saja yang masih bergeming tidak mengerti. Aku tidak menghiraukannya. Ana mengambil secarik kertas. Dia memberikannya kepadaku. Aku tersenyum, lalu menuliskan apa yang aku butuhkan. Jarum, benang terbaik, anti septik, kasa, cairan steril, obat penghilang nyeri. Semua aku tulis dengan lengkap. Aku sangat mengingat semua keperluan ini saat Kakek dengan tersenyum selalu memintaku untuk membantunya ketika menjahit pasiennya. “Kau seorang dokter?” tanya Ana sembari mengernyit. Aku menggeleng, masih saja memasang senyuman. Aku tidak mau dia mencurigaiku. “Lalu, untuk apa semua obat itu?” tanya Ana sekali lagi memastikan. Temanku Aku berusaha menjawabnya. Dia mengarahkan tangan kepada pegawai untuk mengambil semua keperluanku. Sarman masih saja menatapku tajam. Aku berusaha tenang dengan situasi ini. “Baiklah, ini semua keperluanmu.” Ana memeriksa semua keperluanku saat pegawai memberikannya, lalu memberikannya kepadaku. Aku mengeluarkan uang dari tas ransel yang berhasil aku selamatkan saat kejadian mengerikan di rumah Rey. Hatiku yang sangat resah, masih saja aku tahan. Aku tidak mau mereka mencurigaiku. Aku segera membayarnya, dan bergegas keluar dari sini. Terima kasih Ana mengangguk saat aku mengucapkan itu. Aku melewati Sarman yang masih saja berdiri memasang tatapan tegang. Kakiku melangkah cepat menuju mobil. Putri menarik napas lega melihatku kembali. “Om, cepatlah!” Rey, telanlah obat ini untuk mengatasi nyeri. Aku melupakan air mineral. Di dalam sangat rumit. Pokoknya, telan saja obat itu. Rey mengikuti apa yang aku sarankan. Ketika aku menatap kemudi, aku melihat Ana berlari ke arahku. Ini tidak boleh terjadi. Aku menyalakan mesin, segera melesat. Dia bergeming melihatku. Aku sangat paham. Dia pasti mencurigaiku. Aku masih menatapnya dari kaca spion. Semoga saja dia tidak berpikiran macam-macam. “Midas, kita akan menuju vila.” Rey semakin lemas. Putri menundukkan kepala dengan wajah sendu. Aku tidak bisa membiarkan mereka seperti ini. Mobil aku lesatkan kencang sesuai arahan Rey yang sudah lemas. Dalam pikiranku yang kacau ini, aku terus berusaha tenang. Untung saja jalanan sepi. Dalam waktu tiga puluh menit, kami sampai di desa kecil. Rey memiliki vila yang cukup mewah di sini. Rey, bertahanlah! Aku memberikan Putri keperluan menjahit yang sudah aku beli. Dia segera keluar dan menekan tombol kode untuk membuka pintu. Sementara aku memapah Rey sampai ke dalam kamar saat pintu terbuka. Putri, bantu ayahmu membuka baju. Aku akan mensterilkan tangan, kemudian mulai menjahit lukanya. Putri menganggukkan kepala. Aku segera masuk ke dalam kamar mandi, berdiri di depan wastafel sembari menatap cermin. Aku akan mempraktekkan ilmu dari Ayah dan Kakek untuk pertama kalinya. Apakah aku bisa? Atau aku justru akan melukainya? Aku menarik napas, berusaha menenangkan pikiranku. Kuhembuskan perlahan. Baiklah, aku akan melakukannya. Putri. Kau bisa membantuku? Masih dengan terisak, Putri mengangguk. Kini aku memulainya. “Midas. Aku mempercayaimu,” ucap Rey lemas. Satu hal yang terpenting, aku akan menutup lukanya dengan penjahitan kulit dengan benar di tepi luka. Itu yang dikatakan ayahku saat itu. Sarung tangan sudah menutupi sepuluh jemariku. Perlahan aku mulai membersihkan luka agar steril. Benang itu mulai aku masukkan ke dalam jarum. Perlahan aku menusukkan ke lengan Rey. “Argh …,” rintihnya. “Ayah, bertahanlah. Aku mohon,” pinta Putri dengan terisak. Aku akan menyelesaikan sedikit lagi, Rey Dia mengangguk, menahan linangan air mata yang terus keluar. Aku harus menutup luka ini tidak terlalu kencang. Semua ada ukuran dan itu akan aku lakukan. Luka itu perlahan mulai tertutup rapi dengan benang yang aku tusukkan. “Om, kau sudah menyelesaikannya. Apa kau seorang, dokter?” tanya Putri menatapku yang masih terpaku membawa benang yang sudah terpotong dari kulit Rey. “Dia akan menjadi seorang dokter, Putri,” jawab Rey lemas namun tersenyum. “Midas, kau pergilah ke Universitas Kedokteran Marajaya milik temanku. Aku memiliki brankas di bank. Aku akan menuliskan surat kuasa untukmu menggunakan uang itu. Terima kasih kau sudah menyelamatkanku.” Kelemahan, bukan segalanya. Satu nyawa tidak sengaja aku selamatkan. Ilmu yang aku dapat dari orang tuaku tidak pernah sepele. Sedikitpun mereka memberikannya, itu adalah berkah, karena kini aku paham, ilmu itu bisa membuatku menolong orang lain. Sentuhlah dia, Midas. Aku akan melakukannya, Ibu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN