Menuju Kampus

1358 Kata
Kedua mata itu, masih saja mengusikku. Aku merasakan hal aneh. Apa karena dia mengenakan pakaian dokter hingga membuatku memikirkannya? Sebaiknya aku tidak mengisi otakku dengan hal yang tidak perlu. Malam sangat singkat. Kedua mataku masih saja berjaga. Putri memeluk Rey di ranjang. Sepertinya keadaan Rey semakin membaik. Wajah pucatnya menghilang. Aku harus membuatkan sarapan buat mereka. Dengan cepat aku melangkah menuju dapur, membuka almari es dan tidak menemukan apapun. Apa yang harus aku lakukan? “Ada minimarket dekat sini. Berangkatlah bersama Putri. Dia akan menunjukkannya.” Rey berada di belakangku. Aku tidak percaya melihatnya. Rey, kau masih sangat lemah. Jangan bergerak. Sebaiknya kau kembali ke tempat tidur. “Aku baik-baik saja. Ini masih terlalu pagi. Kau bisa ke pasar untuk membeli telor dan sayuran.” Aku tersenyum, memapah Rey menuju ranjangnya kembali. Diam di sini, dan jangan bergerak. Aku akan segera datang. “Apakah kau akan seperti ini dengan semua pasienmu? Dasar, dokter galak!” Aku kembali terkekeh mendengar ejekan Rey. Namun dia tidak aku hiraukan lagi. Aku meninggalkannya begitu saja. Dengan cepat keluar rumah untuk menuju pasar. Udara masih sangat dingin. “Tolong!” teriak seseorang membuatku terkejut. Dia membawa anaknya sambil berlari. Semua orang hanya melihat dan tidak membantunya. Tanpa berpikir lagi, aku berlari menghampirinya. Anak itu mengalami sesak napas. Aku menarik wanita yang menggendongnya. Dia terkejut, melihatku melakukan itu. “Biarkan aku mengatasinya!” Ana? Dokter wanita yang aku temui saat itu? Dia mengernyit melihatku. “Kau …,” tunjuknya kepadaku. “Ikuti aku, dan bawa anak itu,” ucapnya tergesa-gesa. Aku membawa anak itu menuju mobilnya. Ana membuka pintu belakang. Aku merebahkan tubuh anak itu yang sudah lemas karena tidak bisa bernapas di kursi belakang. Kedua mataku tidak terlepas dari Ana. Dia sangat cekatan memeriksa anak itu. Dia pasti dokter yang hebat. Ibu anak itu menunggu dengan cemas, begitu juga semua orang, hingga, “Hah!” Napas anak itu mulai tertata dengan baik. Wajahnya tidak pucat lagi. Ana membuka tas hitam yang berisi obat-obatan di jok depan. Dia memilih beberapa kapsul. “Berikan kepada anakmu. Minumlah semua obat ini tiga kali sehari, nanti dia akan sembuh. Dia alergi dengan makanan. Apa yang dia makan?” tanya Ana membuat sang ibu terdiam kaku. Mulutnya masih terkunci tidak berkata apapun juga. Ana masih mengamatinya dengan serius. “Baiklah jika kau tidak ingat. Sekarang, pulang dan obati anakmu. Jaga dia dengan baik,” ucap Ana pelan dengan senyuman secerah awan. Aku sangat damai melihatnya. Hingga aku tidak menatap lainnya. Hatiku bergemetar. Jiwaku sangat tenang ketika senyuman itu hadir di wajahnya. “Hmm, ada yang salah denganku?” Lamunanku teralihkan dengan nada tegasnya sembari berkacak pinggang. Aku meringis dan menggaruk kepalaku yang tidak terasa gatal. Aku sangat salah tingkah dibuatnya. “Rumahmu di sini?” tanyanya kembali. Di sana rumah kakakku. Dia menganggukkan kepala. “Baiklah, selamat berbelanja,” ucapnya melambai dan berjalan meninggalkanku. Aku masih bergeming menatap kepergiannya. “Om!” teriakan tidak asing mengejutkanku. Putri ada di belakangku. “Om. Ayah sangat khawatir. Om sangat lama. Ayo belanja dan pulang,” kata Putri dengan melotot ke arahku. Aku tersenyum lalu menggandengnya. Kita masuk ke dalam pasar membeli sayuran dan semua keperluan. Sepanjang perjalanan aku sangat resah. Semua arah aku amati. Aku tidak mau hal tidak terduga terjadi. Rey dan Putri adalah buronan penjahat. Aku sangat khawatir jika mereka menemukan kami. Aku terus menggenggam erat tangan Putri hingga kami sampai di depan rumah. “Om. Aku sangat lapar. Om bisa masak?” Putri sangat lucu jika mulutnya cemberut seperti kerucut. Aku menganggukkan kepala. Aku sama sekali tidak bisa memasak. Kehidupan mewahku tidak pernah membiarkanku untuk menyentuh dapur. Namun jika sekedar menggoreng telor, aku bisa melakukannya. “Gawat. Om tidak bisa melakukannya,” ejek Putri dan menggantikanku saat aku kebingungan memecahkan telor. “Anak Sultan, mana bisa memasak,” kata Rey tiba-tiba datang. Kami tersenyum bersama dan menikmati sarapan indah yang tidak pernah aku lakukan. Sepanjang hidupku sejak kehilangan kedua orang tuaku kemudian Kakek, aku sangat kesepian. Bahkan aku selalu saja memakan makanan di ruangan luas sendirian. Kini aku sangat bahagia memiliki keluarga. Harta tidak membuat bahagia semua orang. Keluarga adalah segalanya. *** Rey menarikku ketika aku masih mencuci semua piring. Dia membawaku menuju kamar. Brankas yang terletak di belakang lukisan dirinya bersama Putri, dia buka. Rey mengeluarkan kartu dan beberapa gepok uang. “Kau pergilah ke Universitas Marajaya. Aku sudah menghubungi mereka jika kau kan datang. Lakukan semua yang mereka mau. Tunjukkan kehebatanmu. Kau akan masuk.” Apakah kau mengatakan jika aku tidak bisa berbicara, Rey? “Aku tidak akan mengatakan hal yang tidak perlu aku katakan. Apa kau paham?” Bagaimana jika mereka tidak menerimaku? “Yakinkan mereka,” jawaban singkat Rey membuatku yakin dengan diriku. Aku segera menuju kamar mandi dan membersihkan diriku. Aku terkejut saat melihat kemeja putih dan celana kain tertata rapi di atas ranjang untuk aku pakai. Ternyata Putri yang menyiapkannya. Umurnya baru saja sepuluh tahun, namun dia sangat pandai. Aku segera memakainya. Hari ini aku sangat bersemangat. “Apa Om akan melamar sebagai dokter?” tanya Putri mengejutkanku. Aku menganggukkan kepala sembari membenarkan dasi. Putri menarik kursi, lalu menaikinya dan menarik kerah bajuku. Dia dengan cekatan membantuku. Dia sangat pandai melakukannya. “Om sepertinya sudah mengetahui tentang pengobatan, padahal Om belum sekolah. Siapa, Om?” Putri bersedekap di atas kursi dan menatapku tajam setelah merapikan dasiku dengan baik. Aku memeluknya, kemudian mengusap rambutnya. Dia semakin marah dan kesal. “Om! Aku ini wanita!” ucapnya tegas. Aku terkekeh, dan dia memelukku. “Om hati-hati, ya. Pulang dengan cepat,” katanya persis seperti ibuku. Aku meraih tas dan semua keperluan. Rey memberikanku sebuah buku kecil. Aku menerimanya, segera memasukkan ke dalam tas. “Hati-hati, Midas.” Aku meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja, segera keluar rumah. Kakiku melangkah, membuka pintu mobil dan segera duduk di kursi kemudi. Ibu. Doakan aku. Ini adalah jalanku untuk meraih cita-cita. Aku harap kau bisa melihatku. Kelemahan bukan akhir segalanya. Aku segera melesat, berjalan mengikuti peta di layar ponsel. Dalam waktu enam puluh menit, aku sampai di gerbang Universitas Marajaya yang sangat mewah dan megah. Jantungku sangat berdegup kencang. Aku harus bisa mengaturnya dengan baik. Baiklah. Aku akan masuk dan menemui mereka. Aku keluar dari mobil, mengamati semua arah. Puluhan siswa kedokteran menggunakan baju putih membuat kedua mataku berbinar. Aku ingin sekali memakainya. Dengan bersemangat, mulailah aku melangkah untuk mencari ruangan Dokter Subiakto. Sebuah nama yang tertulis di pesan ponselku saat Rey mengirimkannya. Namun aku tidak bisa menemukannya, dan sangat mustahil aku bisa menanyakan kepada semua siswa. Apakah mereka bisa mengetahui bahasa isyarat? Tapi aku harus mencobanya. Aku berlari menemui salah satu siswa laki-laki dengan perut buncit berkaca mata tebal. Dia mengernyit melihatku menghampirinya. “Apa?” tanyanya singkat dengan tatapan aneh. Kau tahu ruangan Dokter Subiakto? “Oh, tidak bisa bicara?” tanyanya memastikan. Aku menganggukkan kepala dengan pelan. Aku selalu berusaha menerima semua orang yang berkata seperti itu. Semua itu adalah resiko yang harus aku hadapi. “Pojok kanan, belok kiri. Nanti ada ruangan di sebelah kanan. Ada tulisannya. Paham?” katanya. Aku tersenyum dan melambai kemudian berlalu. Aku berlari saat seseorang akan keluar dari ruangan yang akan aku tuju. Napasku terengah-engah. Dia menatapku dari atas hingga bawah. “Kau, keponakan Rey?” tanyanya. Aku menganggukkan kepala dengan cepat. “Baiklah, ayo masuk.” Ruangannya sangat besar. Aku duduk di kursi hitam tepat di hadapannya. Dia menerima semua dokumen yang berisi dataku saat aku menyodorkannya. Aku sudah lama mempersiapkannya. “Jadi, kau bisa melakukan tes, saat pembukaan nanti sekitar seminggu lagi.” Dia masih saja mengamati semua data dan nilaiku. “Hmm. Lalu, aku lihat kau memiliki nilai yang sangat bagus di sekolah.” Dia masih mengamati dengan sangat serius semua dokumen dan ijazahku saat terakhir bersekolah di sekolah khusus. Namun dia mengernyit saat membaca nama sekolah khusus yang berada di atas ijazah. “Kau … maksud aku …,” tunjuknya di atas dokumen sembari mengangkatnya tepat di hadapanku. “Kau tidak bisa berbicara?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk pelan. Dia menggelengkan kepala dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. “Kau menghabiskan waktuku,” ucapnya mengejutkanku. “Mana bisa seseorang yang bisu bisa menjadi dokter?” Aku bergeming kaku mendengarnya. "Keluar!" ucapnya keras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN