Berpura-pura

1318 Kata
Semua ini sudah aku duga. Rey tidak mengatakan yang sebenarnya, dan dia membuatku terkena bentakan hebat dokter ini. "Kenapa diam saja? Aku mau kau keluar! Apa yang aku katakan kurang membuatmu mengerti?" Dia semakin melotot ke arahku. Pandangan tajam itu dia sajikan dengan kejam. Aku berusaha mengatur hatiku. Rey mengatakan jika aku harus membuat mereka yakin jika aku harus diberikan kesempatan. Aku bisa melakukannya. Beri aku kesempatan. Aku akan membuktikan jika aku memang layak memperoleh gelar itu. Dokter itu semakin menggeleng keras. Kini dia berdiri dan memukul telapak tangan itu di atas meja. “Brak!” Suaranya sangat keras. Kedua telingaku bergetar seketika. Dia semakin menekanku dengan pandangan itu. Kedua matanya memerah menandakan amarah. "Bagaimana bisa kau menggunakan bahasa isyarat untuk berhubungan dengan pasien? Bahkan aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang kau katakan. Jadi ... jangan pernah membuat sekolah ini tercemar dengan kehadiranmu." Aku akan membuktikan jika diriku layak. "Tolong jangan mempersulit keadaan. Aku memintamu dengan hormat. Silahkan pergi dari sini. Masih banyak pekerjaan yang bisa kau lakukan. Namun tidak untuk menjadi dokter." Dia berjalan menghampiriku. Tangannya menarik tubuhku yang memang lebih kekar dan tinggi darinya. Namun aku tidak bisa melakukan apapun. Dia benar-benar mengusirku. Aku terlempar keluar dengan menyedihkan. Dia kembali keluar meletakkan semua dokumenku di kursi tunggu, kemudian berlalu dengan kesal. Penolakan ini lebih menyakitkan daripada perlakuan semua keluargaku yang mengusir dari rumahku sendiri. Aku perlahan merapikan semua dokumen dan ijasahku. "Kenapa sedih? Seperti orang kejepit saja. Tersiksa. Pengin bunuh diri?" Suara tiba-tiba datang, terdengar di belakangku. Aku terperanjat dan segera menolehkan pandangan. Pemuda gendut berkaca mata yang aku temui dan memberitahukanku ruangan Dokter Subiyakto, berada di hadapanku. Dia duduk menatapku sambil mengunyah keripik kentang. "Kamu mau jadi dokter? Mana bisa. Semua universitas sudah jelas akan menolakmu. Jelaskan bagaimana kau akan berbicara dengan pasien jika kau tidak bisa berbicara. Kau akan kesulitan. Lebih baik menyerah saja." Aku terdiam dan duduk di sebelahnya. Pikiranku memutar. Apa yang dia katakan memang benar. Aku tidak bisa menjadi dokter. "Dokter Subiyakto! Ada siswa sesak napas!" teriak seseorang tiba-tiba datang. Dia kebingungan. Aku berdiri, dan berusaha mengatakan jika sang dokter tidak ada di ruangan. Namun dia malah mendorongku. "Woi! Dia gak ada, Bro! Ayo kita ke sana saja dan bantu dia!" ucap pemuda itu yang aku belum ketahui namanya. Kami bertiga berlari menuju seberang kampus. Ternyata seseorang yang sesak itu ada di luar kampus. Kami terus berlari menuju seseorang yang sudah tergeletak di depan toko seberang jalan kampus dan wajahnya sangat pucat. Semula aku pikir seseorang yang mengalami sesak napas itu berada di dalam kampus. Ternyata adalah penjual gorengan yang dari pagi tadi aku lihat berjualan di depan kampus dengan sangat sehat. Namun sekarang dia tergeletak dengan mulut yang sedikit berbusa. Sepertinya dia mengalami sesak napas karena ada sesuatu yang terganjal di kerongkongannya dan itu yang membuat dia seperti itu. Aku menarik pemuda gendut itu yang ternyata bernama Rahman. Dia akan menepuk punggung lelaki yang masih sesak napas. Aku menggeleng keras. Jaket yang menempel di tubuhku aku buka dengan cepat. Aku menyangga kepalanya. Kemudian, aku menekan sedikit dadanya. Detakan jantung masih normal. Dia sepertinya keracunan sesuatu yang berbahan kimia, hingga membuatnya muntah dan berbusa. Aku harus membuatnya muntah, lalu dia akan mengeluarkan semua apa yang ditelannya. Secepatnya aku membuka tas, mencari air. Semua tisu aku keluarkan. Rahman menghubungi ambulan. Sementara laki-laki satunya lagi hanya diam menatapku. Dia terus mengamatiku dengan saksama. Aku malah semakin salah tingkah jika dia terus melihatku dengan sangat serius. Namun sepertinya ambulans yang sudah dihubungi Rahman akan datang sangat lama itu bisa membuat dia kehilangan nyawa. Aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan lelaki ini. “Apa yang kamu lakukan dengan tisu itu?” tanya Rahman menampis tanganku yang akan mengelap semua busa yang ada di mulutnya berbusa itu, namun tidak terlalu banyak. Semua itu aku lakukan karena bisa membuatnya kembali bernapas. Jika di dalam mulutnya kosong, itu akan memberikan leluasa pada dirinya bernapas dengan baik. Namun bagaimana aku bisa menjelaskan itu kepada Rahman? “Aku seorang dokter dan biarkan aku yang melakukannya. Kau jangan malah membuat lelaki ini akan kesakitan. Untuk apa tisu Itu? Sudah singkirkan semuanya.” Aku menurutinya karena dia seorang dokter. Namun aku sudah pasti kan dia akan salah jika terus menepuk-nepuk punggungnya. Itu akan membuat dia semakin sesak napas. Jangan menepuknya. Kau akan membuat dia tidak bisa bernapas dan itu sudah jelas. Apa Yang Kau pelajari selama ini? Aku memberitahukannya dengan bahasa isyarat. Entah dia mengetahuinya atau tidak. Namun sepertinya dia paham dan menghentikan gerakannya. “Lalu apa yang harus aku lakukan? Ini adalah pelajaran yang selama ini aku pelajari dengan baik. Siapa kau berani menegurku?” Tanpa banyak bicara aku tetap menyangga kepalanya, kemudian aku membersihkan busa yang sedikit keluar dari mulutnya itu. Dadanya aku tekan. Bagian kepalanya sedikit aku angkat, dan itu aku lakukan berulang-ulang hingga dia akhirnya batuk, kemudian memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya. Seperti dugaanku dia keracunan obat. Karena aku melihat warna kuning berbau kimia di sana. Lelaki yang bersama pedagang gorengan itu segera mengambil air dan menyiramkan ke semua muntahan agar jalanan terlihat bersih kembali. Kini pemuda penjual gorengan itu bisa bernapas. Aku segera memberikannya sebotol air. Dia meneguknya hingga habis. Dalam beberapa menit ambulan datang. Beberapa suster yang berada di dalam segera membawanya untuk menuju ke rumah sakit. Aku sangat lega melihatnya. Sementara Rahman hanya diam menatapku. “Ayo kita cuci tangan,” ajak Rahman menarik lenganku. Aku berjalan mengikutinya untuk mencuci tangan di dalam minimarket yang terdapat wastafel di sana. “Emang kau benar-benar tahu tentang pengobatan?” tanya Rahman sembari mengusap semua tangan dengan sabun. Ayah dan kakekku adalah seorang dokter. Mereka selalu mengajariku sejak kecil apa itu pengobatan dan bagaimana caranya. Entahlah, aku bisa dengan cepat mempelajari itu semua. Namun kau tahu sendiri aku tidak bisa berbicara dan itu membuatku sangat kesulitan untuk memperoleh gelar itu. Sebuah gelar yang memang sangat aku impikan. “Midas?” Aku tidak percaya melihat Ana berada di hadapanku. Ini kebetulan atau aku memang berjodoh dengannya? Karena ketika aku melihat dirinya, detakan jantungku selalu cepat berjalan, seolah-olah hatiku sangat bahagia jika menatap wajahnya yang secerah awan itu. Dengan cepat aku menghampirinya, lalu memberikan senyuman tampanku. Entah tampan atau tidak, yang jelas aku akan berusaha ramah kepadanya. Namun Ana seperti kebingungan dan mengamati semua arah. Aku tidak mengerti dengan apa yang mau dia mau lakukan. “Kau bersama seseorang Midas? Apa kau memiliki seorang kekasih? Aku perlu jawaban itu sekarang juga.” Ucapan Ana yang seketika membuatku melotot. Aku tidak percaya mendengarnya. Aku menggeleng sembari meringis. “Syukurlah kalau begitu.” Syukur? Rahman di sebelah, menatapku sambil mengangkat kedua tangannya. Dia melihat arah keluar minimarket, melihat seorang pemuda yang memanggil-manggil nama Ana. “Ada yang mencarimu, Nona,” kata Rahman semakin membuat Ana kebingungan. “Midas. Ikutlah denganku. Aku membutuhkan bantuanmu,” ucapan Ana seketika menarik lenganku dan dia semakin mengeratkan tangannya. Jantungku semakin berdetak kencang, namun aku merasa senang dia melakukan itu. Namun ini cukup membingungkan buatku. “Ana. Aku sudah mencarimu kemana-mana. Kau jangan menjauh lagi dariku. Aku ini adalah tunanganmu! Kau harus mengerti itu, Ana.” “Maafkan Aku! Sekarang kau harus tahu kenapa aku selalu menolak dirimu. Aku sudah punya kekasih.” “Kekasih? Siapa itu? Apakah dia?” Lelaki itu menunjukkan jarinya tepat di wajahku. Aku semakin merasakan firasat buruk akan terjadi. Namun sepertinya aku harus diam saja dan mengikuti drama ini. “Iya. Dia adalah kekasihku,” jawab Ana lantang sembari melirikku dengan tersenyum. Dia menarik lenganku untuk berpura-pura menjadi kekasihnya. Walaupun ini hanya sebatas kepura-puraan, aku tidak  masalah dan menerimanya begitu saja. Jika aku membantunya, siapa tahu kita bisa berteman baik. “Buktikan jika kau memang kekasihnya.” Perkataan lelaki itu yang membuatku terpaku. “Baiklah aku akan membuktikannya.” Tidak aku sangka Ana menatapku, lalu berjinjit. Tubuhnya hanya sebatas pundakku. Dia memandangku, mendadak menarik wajahku. Apa yang mau dia lakukan? “Midas, cium aku,” bisiknya pelan. “Aku mohon …,” ucapnya dengan tatapan pengharapan. Aku … baiklah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN