Hari Mengejutkan

1516 Kata
Tidak aku sangka, Ana menarik leherku. Dia mulai mengecupku. Seketika aku memejam. Bibirnya menyentuhku. Ini adalah ciuman pertamaku. Tentu saja aku sangat bergetar. Apalagi Ana sedikit membuka bibirnya. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kedua mataku sedikit melirik Rahman, dan dia menggelengkan kepala, kemudian menurunkan jempolnya. Aku paham dia mengatakan jika aku adalah laki-laki dengan ciuman yang sangat buruk. "Hahaha. Kau berpura-pura, Ana. Aku adalah laki-laki dan tentu saja mengetahuinya. Ciuman itu sangat kaku. Ana, ayolah. Kita harus menjalin hubungan baik untuk kebaikan kedua keluarga kita. Kita harus bersama. Dan tentu saja kau sangat paham jika aku sangat mencintaimu, Ana." Ana melepaskan bibirnya. Dia menarik napas panjang, kemudian menatapku dengan menggeleng pelan. Wajahnya menunduk. Aku melihatnya, jika dia sudah kehilangan akal untuk membohongi lelaki yang memaksanya itu. Aku terdiam dan berpikir lelaki itu sangat mengetahui jika kami memang hanya berpura-pura karena aku sama sekali tidak membalas ciuman itu. Lalu apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menciumnya seperti seorang pasangan kekasih? Rahman beralan mendekati kami dan menepuk pundakku. Dia mengedipkan salah satu matanya. Perasaanku mengatakan bahwa Rahman akan melakukan sesuatu hingga membuat lelaki itu mempercayai jika aku adalah pacar Ana. "Midas. Lelaki yang sangat menghargai wanita dan tentu saja tidak pernah memperlihatkan sesuatu yang terlalu vulgar di depan semua orang. Aku adalah saksi mereka. Aku katakan kepadamu wahai lelaki, jika mereka ini adalah memang benar sepasang kekasih tanpa harus membuktikan apapun kepadamu." Rahman membuat lelaki itu terdiam, lalu melotot ke arah Ana yang menganggukkan kepala. Rahman menatapku dan sedikit menggelengkan kepalanya, memberikan isyarat jika aku harus melakukan sesuatu terhadap Ana. Aku sangat kebingungan dengan apa yang Rahman isyaratkan itu. Namun sepertinya dia melirik lengan Ana yang masih berkacak pinggang. Apakah aku harus memeluknya? Baiklah, aku akan melakukan demi Ana agar dia terbebas dari lelaki yang sudah menatapnya sangat tajam dan ingin menerkamnya. Aku tidak ingin hal itu terjadi kepada Ana. Perlahan aku menarik lengan Ana dan memeluknya sembari tersenyum. Ana seketika terperanjat dan menatapku kaku. Namun setelah beberapa detik dia membalas senyumanku. Wajah dengan senyuman itu memang sangat cantik dan indah. Aku semakin terpana melihatnya. Tapi aku harus menjaga harga diriku karena ini hanya berpura-pura. "Baiklah, kali ini aku melepaskanmu, Ana. Tapi tidak untuk lain kali. Selamat tinggal, kita akan bertemu kembali," ucap lelaki itu dengan tegas kemudian membalikkan tubuhnya, lalu berjalan masuk kembali ke dalam mobil sport berwarna kuning dan memang sangat mewah. Aku menduganya jika mereka sangat kaya. Karena mengingatkanku kepada mobil yang diberikan Ayah pada saat ulang tahunku saat itu. "Midas. Maafkan aku yang sudah dengan mendadak membuatmu untuk mengikuti apa yang ingin aku lakukan. Sekali lagi aku minta maaf dan aku akan membalas apapun untuk membalas itu. Aku menggeleng sembari tersenyum dan mengulurkan tanganku. Tidak masalah Aku sangat senang melakukannya. "Jadi kalian sudah saling mengenal? Tetapi tidak berhubungan?" Spontan kami menggelengkan kepala dengan keras saat Rahman memberi kami pertanyaan barusan. Ana kembali menatapku dan mengamati tubuhku dari atas sampai bawah. Dia kemudian melirik dokumen yang berada di genggamanku. "Kau ingin melamar menjadi seorang dokter di Universitas Marajaya?" tanya Ana membuatku mengingat dengan penolakan mengerikan yang aku alami hari ini. Iya benar. Aku ingin melamar di sana. Namun, sepertinya aku tidak beruntung dan mereka menolakku. "Tentu saja kau akan mendapat penolakan keras dari mereka. Aku akan memikirkan cara untuk membuatmu masuk ke dalam sebuah universitas. Kau menguasai pengobatan dengan sangat baik. Apakah sebelumnya sudah belajar, Midas?" Ayah dan kakekku yang selalu memberikan aku ilmu itu ketika mereka merawat pasien di kediamanku. Entah kenapa jiwa ku meronta dan ingin sekali seperti mereka. Apalagi saat aku melihat mereka menyelamatkan beberapa nyawa dan tanpa meminta imbalan apapun kepada mereka. Itulah sebenarnya tujuan hidupku. Aku ingin semua sakit itu hilang dengan sentuhan jemariku. "Itu sesuatu yang sangat luar biasa. Baik, aku akan membantumu. Namun aku tidak bisa berjanji apapun untukmu, Midas. Kau tahu sendiri jika seorang dokter dengan kelemahan seperti itu, tidak pernah aku temukan selama ini. Dan kau adalah yang pertama kalinya." Terima kasih Ana. Aku mengerti. Terima kasih perhatianmu. Namun, aku akan berusaha sendiri. Kau lebih baik berkonsentrasi dengan kehidupanmu. "Jadi kau tidak mau menerima bantuanku?" Ana terkejut, memberikanku tatapan aneh. Aku kebingungan menghadapinya. Jika dia mengatakan dengan suara keras dan pandangan itu, spontan tubuhku lemas. Aku tidak bisa membuat dia marah. Itu sangat menyiksaku. "Sudah. Kalian kok malah berdebat. Nanti akan dipikirkan bagaimana cara untuk membuat Midas bisa memasuki universitas. Kebetulan aku mengenal kepala mahasiswa di sana. Kita akan mencari pendukung Midas, agar dia bisa mendapat suara, lalu kepala rekstor bisa memikirkannya. Bagaimana?" Seketika aku terdiam mendengar saran Rahman yang sangat bagus. Tidak aku sangka hari ini bertemu dengannya, dan itu sangat membuatku beruntung. Aku sangat berterima kasih kepada Rahman. Namun sesuatu kembali datang dan mengejutkan kami bertiga. "Oh, jadi aku bisa menemukanmu di sini, midas? Tidak aku percaya aku melihatmu dengan sangat jelas. Aku mendengar ucapan dari beberapa dokter di dalam universitas itu. Mereka membicarakan jika ada seseorang yang akan melamar menjadi salah satu mahasiswa kedokteran. Lalu aku menemukanmu di sini. Dan tentu saja itu adalah dirimu seperti dugaanku saat berada di dalam sana." Tidak aku sangka Roy sepupuku berada di hadapanku. Aku sangat senang melihatnya. Aku segera mendekatinya dan memeluknya dengan erat. "Apa kau memang benar-benar melamar di universitas ini? Siapa yang sudah merekomendasikannya kepadamu, Midas? Tentu saja kau tidak akan diterimanya. Aku akan membawamu ke sebuah universitas kecil yang ada di pedesaan. Mungkin di sana kau bisa memperoleh sesuatu. Paling tidak kau harus mencobanya dulu di suatu tempat yang sangat kecil dan membutuhkan dokter sebagai sukarelawan." Kali ini apa yang dikatakan Roy memang benar. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa masuk ke dalam universitas kedokteran . Baiklah Roy, aku mau kita pergi ke sana sekarang juga. Saat aku mengatakan sesuatu, Roy terdiam menatap Ana dengan sangat serius. Dalam hatiku mengatakan, jika dia tertarik dengan Ana saat ini. Jika itu terjadi, sudah jelas aku akan sangat mengalah dengannya.  "Midas, kamu memiliki teman? Apakah kau tidak akan memperkenalkannya kepadaku?" "Namaku Rahman dan aku adalah salah satu mahasiswa kedokteran di universitas itu." Dengan cepat Rahman menyela Roy yang akan berjabat tangan dengan Ana. Dia sepertinya sangat mengetahui jika Ana menarik simpati Roy. Sementara aku yakin jika Rahman mengetahui jika aku juga tertarik dengan Ana. Namun, kali ini dia sepertinya mendukungku. Terpaksa Roy membalas jabatan Rahman. Namun, kedua matanya masih melirik Ana yang hanya terdiam dan menatapnya. Aku sangat merasa tidak enak melihat Ana. Dia sepertinya tidak menyukai dengan situasi kondisi yang saat ini ada di hadapannya. Lebih baik aku menghindar dan membiarkannya dia pergi. Ana. Aku harus pergi bersama Roy. Dia adalah sepupuku. Kamu harus menjaga dirimu dengan baik. Sampai ketemu lagi. Ana menarik napas panjang, kemudian menatapku dengan tersenyum. "Aku akan menghubungimu, Midas. Aku akan membuatmu menjadi seorang dokter dan bersekolah di universitas yang sangat tinggi seperti diriku. Kau tunggu saja nanti." Perkataan Ana yang membuatku terperanjat seketika. Aku tidak bisa mengatakan apapun. Mulutku sepertinya terkunci. Itu adalah suatu janji yang sangat membuat diriku melayang. Apalagi diucapkan dari wanita yang sudah membuatku bergetar. Namun, aku harus memupuskan perasaan itu. Ana hanya ingin membantuku dan dia tidak mempunyai perasaan apapun denganku. Ana aku tidak tahu harus berkata apa dengan janjimu itu. Ucapan terima kasih yang hanya bisa aku berikan kepadamu. Semoga harimu bahagia. Ana terenyum kemudian melambaikan tangannya dan berjalan meninggalkan kami yang hanya terdiam menatapnya sampai berlalu. "Kau sangat beruntung, Midas. Dia adalah wanita yang sangat cantik." Roy masih saja mengamati Ana yang kini benar-benar menghilang dari pandangan kami. "Baiklah. Aku juga akan pergi dan aku sangat lapar. Ini waktunya untuk pulang dan makan malam. Semoga kita bertemu lagi, Midas. Jika kau membutuhkanku, kau bisa mendatangi universitas ini dan bertanya di mana Rahman dokter terhebat itu berada." Rahman tersenyum dan melambaikan tangannya meninggalkan kami berdua yang masih terdiam. Aku menarik lengan Roy, seketika membuatnya menatapku dengan tajam. Apakah terjadi sesuatu yang buruk dengan perusahaan ayahku? Seperti dugaanku Roy menggelengkan kepalanya. Sesuatu yang sangat mengejutkan pasti telah terjadi. "Kita akan membicarakan nanti. Sekarang sebaiknya aku segera membawamu ke sebuah universitas itu. Kita akan segera mendaftarkan dirimu. Aku harapkan kau bisa menjadi dokter yang baik seperti paman dan kakek." Kami segera berjalan menuju mobil Roy. Namun seseorang dengan tubuh garang sudah berdiri memutari mobil Roy. Aku sama sekali tidak mengenal mereka, walaupun sebenarnya sangat tidak asing dengan penglihatanku. "Aku sepertinya tidak mengenal semua pengawal itu. Apakah kau mengenalnya, Midas?" Sudah aku duga jika Roy memang tidak mengenalnya. Kami terus berjalan hingga sampai tepat di depan mobil Roy. "Sangat mengejutkan akhirnya aku bertemu denganmu, wahai anak muda. Kita sangat berjodoh." Kedua mataku melotot tajam, tidak percaya melihat sosok laki-laki yang sangat tidak asing. Ini sangat buruk. Sebuah bencana akan terjadi. Aku tidak bisa membiarkan dia menyakiti Roy. Aku berjalan cepat berdiri di hadapan Roy yang sangat kebingungan menghadapi situasi mengejutkan ini. Aku yang menjadi sasaran kalian. Biarkan lelaki di hadapanku ini pergi. Kalian bisa melakukan apapun denganku. "Sangat kasihan sekali. Ternyata kau adalah seorang yang sangat lemah. Hamm, sangat menarik melihat seorang tidak bisa berbicara akan memasuki universitasku. Tapi aku bisa membantumu. Katakan di mana Rey dan Putri berada, aku akan memasukkanmu ke sekolah itu saat ini juga." Aku semakin terjepit dalam masalah ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN