Menghindari Musuh

1711 Kata
Hari ini adalah kesialan buatku bertemu dengan musuh Rey di saat aku akan bersama Roy pergi menuju ke sebuah tempat yang bisa menerima aku menjadi seorang dokter. Namun, sepertinya itu tidak akan terwujud aku harus melawan mereka. Aku tidak ingin Roy mengalami masalah. "Jika kau tidak mau mengatakannya, terpaksa aku harus membawamu ke suatu tempat dan menyiksamu." Aku tidak percaya dia mengatakan hal itu sambil melirik Roy yang berada di belakangku. Ini adalah suatu hal yang sangat buruk. Aku tidak bisa membiarkannya. Aku juga tidak bisa memberitahukan posisi Rey dan Putri. Satu-satunya cara yang bisa menyelamatkanku adalah kabur dari sini, dan itu yang harus aku lakukan. Entahlah dia bisa mengerti tentang bahasa isyarat atau tidak. Sebaiknya, aku berbicara dan mencoba untuk berkomunikasi dengannya. Atau melakukan negoisasi agar Roy bisa terbebas. Jangan bawa-bawa Roy. Dia tidak bersalah dan tidak ada hubungannya dengan ini. Biarkan dia pergi dan kau bisa membawaku, atau melakukan apa saja yang kau inginkan. "Apa? Ternyata kau bisu? Hahaha, tidak aku percaya. Tentu saja kau tidak bisa menjadi seorang dokter. Kau, cacat!" Tidak aku sangka dia ternyata bisa mengetahui bahasa isyarat walaupun terakhirnya berakhir dengan kalimat yang sangat tragis mengejekku seperti itu. Namun, aku berusaha menerimanya. Karena itu adalah kenyataan yang harus aku hadapi. Sekarang yang harus aku lakukan adalah menghindar dengan cepat. Aku perlahan mundur sejenak, memegang telapak tanganku kepada Roy yang terdiam kaku mengamati kami. Aku sedikit menolehkan pandangan kepadanya, lalu mengangkat salah satu alisku hingga membuat Roy mengernyit. Semoga saja dia paham dengan apa yang akan aku lakukan. Roy, ayo lari! Aku berteriak kencang. Roy terkejut mendengarnya.Tanpa berbicara lagi aku menarik Roy dan berlari cepat menuju ke arah mobilnya. “Midas siapa dia?" teriak Roy sambil berusaha dengan cepat membuka pintu mobilnya. Lelaki yang sudah menjadi musuh Rey itu terus mengejarku bersama Roy. Namun, kami berhasil sedikit menjauh dari mereka hingga akhirnya kami masuk ke dalam mobil. Roy segera menyalakan mesin mobil, kemudian melesat, menerabas mereka yang segera minggir di saat mobil Roy dengan kencang menyusuri jalanan yang mereka lewati. "Midas! Kenapa kau baru keluar dari rumah sudah mempunyai musuh? Kau seharusnya tidak mencampuri urusan orang lain dan mengurusi dirimu sendiri yang sangat ribet itu." Roy terus mengomel di dalam mobil sambil mengendarai dan menatap tajam jalanan. Aku sangat paham jika dia terkejut melihat hal ini. Ceritanya sangat panjang dan aku tidak bisa menjelaskan sekarang. Lebih baik kau segera mengendarai dan kabur dari dua mobil yang mengikuti kita. Apakah kau bisa melakukannya Roy? "Tentu saja aku tidak bisa melakukannya! Tapi semua ini harus aku lakukan. Midas, apa kau sadar sudah membawaku ke lubang buaya? apa yang sudah terjadi?!" Aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang, apa yang harus kita lakukan? Kita harus ke mana? Pertanyaanku tanpa henti. Roy kembali mengamati jalanan dengan sangat serius. Dia pun juga tidak tahu harus ke mana. Aku menolehkan pandangan ke kaca spion dan melihat dua mobil sudah mengejar kami. Ini sangat membahayakan. Bahkan sekarang nyawa kami mungkin tidak akan selamat, karena aku melihat mereka mengeluarkan sebuah senjata api. Ini sangat gawat. "Tidak bisa aku percaya, mereka mengeluarkan senjata api. Sebaiknya kita menuju ke jalan yang sangat sepi. Jika senjata api itu meleset dan mengenai mobil lain, pasti akan memakan korban. Jika itu terjadi, kita menjadi buronan dan itu akan sangat buruk." Apa yang dikatakan Roy memang benar. Ini adalah hariku yang sangat buruk. Pertama, aku harus berpura-pura menjadi kekasih Ana, lalu ditolak mentah-mentah oleh Universitas karena aku lelaki cacat, dan sekarang dikejar penjahat seperti film action. "Midas. Aku memiliki cara. Kita sebaiknya pergi ke pawai. Di sana banyak sekali orang." Aku terkejut mendengar perkataan Roy. Bukankah tadi dia mengatakan kita harus menuju jalan yang sangat sepi agar tidak memakan korban? Roy bukankah kau mengatakan kepadaku jika kita harus menghindari kerumunan orang karena mereka membawa senjata api. Untuk apa kita ke pawai? "Kita bisa lari ke sana, Midas. Sekarang, kita akan mencari cara untuk keluar dari mobil ini, lalu berganti mobil." Berganti mobil? Sudahlah. Lebih baik aku mengikutimu saja. Masih dengan bergemetar, Roy mengendarai dengan sangat kencang. Lalu kami melewati jalanan yang cukup sepi. Dor! Tembakan semakin terdengar. Mereka terus melakukannya hingga membuat ban salah satu mobil kami meletus. Roy bagaimana ini? Apakah kau bida mengendarai mobil ini? Ban itu meletus dan kita pasti akan celaka! "Diam dan jangan berbicara, Midas. Aku sedang memikirkan cara. Kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Lebih baik kau diam saja dan mengikuti apa rencanaku." Perkataan Roy yang tentu saja aku percaya dan memang seharusnya seperti itu. Aku terdiam masih menunduk. Sedangkan Roy mengendarai mobilnya juga ikut menundukkan kepala. Aku harap dia bisa melihat jalanan dengan sangat baik. Dor! Semua lesatan itu membuatku terkejut dan sedikit panik. Namun, tidak aku pungkiri Roy sangat ahli dalam hal mengemudi. Itu dia lakukan karena seingatku dia sering mengikuti lomba balap mobil. Dan aku lupa akan hal itu. "Apa kau lupa aku sering melakukan balap mobil? Dan tentu saja aku bisa mengendarainya dengan lebih baik. Sekarang kita akan menuju ke gudang itu, lalu kau buka pintu mobil dan melompatlah. Apa kau mengerti Midas?" Bagaimana denganmu. Apakah kau juga ikut melompat? Aku tidak akan melakukannya jika kau tidak melakukan! Ide yang sudah Roy katakan kepadaku sangatlah bodoh. Bagaimana bisa kita melompat dalam keadaan seperti ini? Tentu saja kita akan segera mati. Namun, dia masih ngotot untuk melakukan apa yang sudah direncanakan. "Midas! Kau ini selalu saja melawan. Aku akan melompat di arah yang berlawanan. Kita bertemu di pawai dan hubungi aku." Kenapa kita tidak bisa pergi bersama Kenapa kita harus terpisah? "Dengan terpisah kita bisa selamat, Midas. Aku sangat tahu jika mereka mengejarmu mereka membutuhkanmu untuk mengrtahui posisi temanmu itu. Jika kita bersama, tentu saja mereka akan menemukan temanmu, dan itu sangat membahayakanmu. Namun, jika mereka menemukanku, mereka tidak akan menemukan apapun dan kalian bisa segera pergi. Jangan lupa, pergilah dan jangan kembali ditempat yang sama. Apa kau mengerti Midas?" Perkataan Roy yang sangat panjang itu sangat membahayakan dirinya. Bagaimana jika dia disekap lalu disiksa untuk mengakui apa yang tidak dia ketahui. Tentu saja aku tidak mau dia melakukan itu atau berkorban akan hal ini. Dia tidak seharusnya turut campur dalam masalah ini. Roy. Aku tidak akan pernah membiarkannya. Biarkan saja mereka menangkapku dan nelepaskanmu. Kau tidak bisa seperti itu. Mereka bisa saja menyekapmu. "Begini saja. Kau melarikan diri, dan aku mengalihkan perhatian. Namun, aku akan pergi ke kantor polisi agar mereka tidak menangkapku. Aku akan bilang kepada aparat itu jika seseorang yang sudah gila telah mengajarku. Bukankah itu ide yang cukup bagus?" Kali ini aku menyetujui apa rencana yang Roy katakan dan tentu saja ini adalah hal yang sangat bagus. Menghubungi polisi adalah satu-satunya cara yang bisa kita lakukan, dan itu sangat aman untuknya. Baiklah aku akan menyetujuinya. Lalu, kapan aku bisa keluar dari mobil ini dan melompat? Roy masih saja mengamati jalanan. Dia menuju ke lapangan dengan rumput alang-alang yang cukup tinggi, hingga masuk ke sebuah gudang yang sangat kotor dengan pintunya terbuka lebar. mungkin itu adalah tujuannya. Untung saja pintu itu terbuka. Jika tidak, kita pasti akan meberobos paksa, dan itu sangat membahayakan. "Hitungan ketiga kau harus melompat Midas. Dengarlah dan jangan pernah menunda untuk melompat. Apa kau dengar itu? Karena aku sudah mengantisipasi jarak dan semuanya. Kau harus melakukannya tepat waktu. Dengarkan aku dan jangan takut. Anggap saja ini adalah sebuah permainan." Bagaimana bisa aku menganggap ini adalah sebuah permainan. Tentu saja aku sangat ketakutan. Kejadian ini adalah pertama kalinya bagiku mengalaminya. Biasanya aku selalu saja berada di rumah dan tidak pernah mengetahui hal luar. Namun, ketika aku baru saja terusir dari rumah dan mengetahui bagaimana kehidupan luar, ternyata memang sangat mengerikan. "Midas sudah semakin dekat. Kau akan melompat Ingat, hitungan ketiga kau harus melompat. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Lalu kau harus berlari menuju ke pawai itu. Apa kau mengerti?" Entahlah apa yang harus aku lakukan. Melakukan itu, atau masih saja berada di mobil ini dan menyerahkan diri kepada mereka. "Midas! Kau jangan melamun saja. Cepat jawab dan katakan jika kau mengerti! Lihatlah mereka! Berkali-kali melesatkan peluru. Jika kita berada di mobil ini, kita akan dengan cepat terbunuh. Midas!" Teriakan Roy yang membuatku tersadar dari lamunan. Aku kembali fokus untuk berpikir. Baiklah, aku akan melakukannya. Dan, semoga saja apa yang Roy rencanakan akan berhasil. Aku akan melompat Roy. Cepat katakan, kapan aku melakukannya. Roy menganggukan kepala dan kembali jalanan. Kami terus melaju kencang melewati rumput alang-alang dan tentu saja mobil yang mengejar itu tidak bisa melihat kami dengan sangat jelas karena tertutup rerumputan yang menghalangi pandangan mereka. "Midas. Kita semakin dekat. Baiklah satu, dua, tiga! Midas lompatlah!" Aku membuka pintu mobil dengan segera dan melompat. Tubuhku berguling dengan sangat kencang menerabas semua kerikil dan rumput alang-alang yang sangat tinggi itu, apalagi membuat kulitku merasa gatal. Kedua mataku terus memejam masih menahan rasa sakit tubuhku saat terus bergelinding hingga berhenti karena menabrak sebuah batu yang menghalangi tubuhku. Kepalaku terbentur hingga mengeluarkan sedikit darah. Namun, aku masih tersadar dan bisa memfokuskan pikiranku kembali. Dengan cepat aku berdiri, segera berlari menuju ke kerumunan orang yang menikmati pawai yang diadakan 1 tahun sekali. Aku sangat berharap jika Roy selamat dan bisa bertemu denganku kembali. Di mana Roy? Perasaanku sangat tidak enak. Bagaimana jika dia bergelinding lalu pingsan dan mereka menangkapnya? Ini memang sebuah rencana yang sangat buruk. Namun, bagaimana jika aku tidak melakukannya, maka kita juga akan tertangkap. Roy, di mana kau? Aku harus mencarinya, atau aku harus melarikan diri saja? Ini sangat rumit. Aku terus berlari memutari semua arah. aku semakin masuk ke kerumunan orang yang terus tertawa dan menikmati pawai. Hingga aku melihat seseorang yang melintas di hadapanku dengan menggunakan jaket persis mirip Roy. Roy? Syukurlah itu dirinya. Aku akan mengejarnya. Kakiku melangkah cepat untuk mengejarnya. Aku melewati semua kerumunan ini. Kehilangan dirinya, itulah yang aku rasakan. "Midas?" Tidak aku sangka Ana berada di hadapanku. ini semakin rumit. Jika dia berada di dekatku, dia juga akan terlibat dalam masalah ini. "Midas, kita harus bicara." Ana menarikku mendadak, dan membawaku ke pojok jalanan yang cukup sepi. Aku semakin kebingungan. Masalah bersama Roy dan penjahat itu belum selesai, sekarang aku harus mengikuti Ana. "Midas. Aku ... aku hanya ingin meminta maaf. Aku tadi sangat tidak sopan denganmu. Perlakuanku sangat bodoh. Aku memikirkan hal itu seharian, dan aku ingin meminta maaf kepadaku. Midas? Apa kau mendengarku?" Aku masih tidak bisa memfokuskan pikiranku. Apa yang harus aku lakukan? "Hmm ... tertangkap kau!" "Gawat!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN