Aku semakin kebingungan. Apalagi Ana ada di sebelahku. Sekarang aku terjebak dengan keadaan rumit. Lelaki itu menemukanku. Bagaimana dengan Ana. Dia sudah ikut andil dalam masalahku.
“Midas. Siapa mereka?” tanya Ana tidak aku jawab. Dia aku tarik agar berada di belakangku.
“Hmm. Jadi punya pacar. Baiklah, sepertinya aku sangat beruntung. Jika kau tidak berbicara, aku akan menangkap gadis itu dan menangkapnya.”
Jangan lakukan itu. Bawalah aku saja.
"Hahaha tidak mungkin aku melakukannya. Sekarang katakan di mana Rey dan Putri. Jika kau mengatakannya, aku akan melepaskan kalian dan tentu saja kau selamat. Begitu juga dengan wanita cantik yang berada di sebelahmu itu."
Aku sangat kebingungan tidak mengerti harus berkata apa. Sementara Ana masih mengernyit dan mengamatiku dengan tatapan ketakutan. Semua itu terpampang jelas di wajahnya.
"Midas. Apakah kau mengalami sebuah masalah dengan seseorang? Lihatlah, mereka sangat menyeramkan. Tato itu benar-benar memperlihatkan jika mereka seperti seorang mafia. Kau mengalami masalah atau mengalami hutang? Aku bisa membantumu."
Aku tidak mengalami hutang dan apapun. Namun, aku tidak bisa memberitahukanmu sekarang. Ini masalah yang sangat rumit dan sebaiknya kita segera kabur dari sini. Itu yang harus kita lakukan.
"Bagaimana caranya kita kabur? Mereka membawa beberapa pengawal yang sangat banyak dan mengamati kita. Apalagi kita tidak bisa melewati mereka dengan mudah."
"Apa yang kalian bisikkan?!" teriakannya yang sangat keras. Aku dan Ana terperanjat, lalu terdiam seketika. Ana masih saja berada di belakang tubuhku. Kedua mataku mengamati semua arah dan aku terus berpikir bagaimana caranya untuk kabur dari sini.
Hingga aku melihat tong sampah yang bisa aku naiki untuk pijakan melompat di tembok itu dan aku bisa berlari dengan cepat. Namun, bagaimana dengan Ana? Apakah dia bisa melakukan apa yang aku lakukan? Sepertinya aku harus mencobanya bersama dia.
"Katakan cepat! Di mana Putri berada, karena aku tidak mau membuang waktuku yang sangat sia-sia ini!"
Lelaki itu sudah mengarahkan tangannya kepada beberapa pengawal yang sudah siap maju untuk menyerangku. Ana semakin ketakutan mencengkeram kaosku dari belakang.
"Cepat ambil wanita itu dan siksa dia. Agar lelaki bisu itu mau mengatakan di mana Putri berada!"
Ucapannya yang sangat keras membuatku ketakutan seketika. Namun, aku harus melawan itu. Aku menarik tubuh Ana dan memandangnya.
Kamu lihat tong sampah itu! Segera lari ke sana dan melompatlah ke tembok itu. Aku akan menyusulmu dari belakang. Tapi, sebelumnya aku harus menghalangi mereka dan mengalihkan perhatian. Apa kau dengar aku, Ana?
"Midas. Bagaimana jika mereka menangkapmu? Lihatlah mereka sudah membawa kayu untuk memukulmu. Aku tidak bisa meninggalkanmu."
Ana dengarkan aku, dan lakukan. Aku akan menyusulmu. Aku berjanji.
Aku mendorong Ana agar dia melakukannya. Ana menggelengkan kepala dengan kedua matanya yang mengernyit sangat cemas melihatku.
Ana Pergilah!
"Jangan biarkan mereka lolos! Cepat tangkap mereka berdua! Terutama wanita itu!"
Aku menghalangi semua laki-laki yang akan menangkap Ana. Mereka memukulku dengan sebuah kayu dan membuat sekujur tubuhku sangat sakit. Namun, aku terus melawan dan berusaha terlepas dari mereka. Saat aku melihat Ana sudah melompati tembok, aku segera merebut salah satu kayu dari tangan mereka. Lalu, membalasnya dengan cepat. Untung saja aku sangat menguasai beberapa teknik bela diri dan memenangkan ini semua. Lelaki itu terus mengamatiku dengan tatapan tajam.
"Kalian sangat bodoh. Kenapa kalah dengan lelaki bisu seperti itu!" ucapnya kemudian merogoh kantong jasnya dan aku merasa itu adalah sebuah senjata api yang akan dilesatkan ke arahku. Jika mengenaiku, aku bisa sangat terluka dan mungkin aku kehilangan nyawa.
Dengan cepat aku berlari menaiki tong sampah itu dan, "Door!" Dia melesatkan senjata apinya ke arahku. Untung saja meleset mengenai tembok. Aku berhasil melompat tembok dan melihat Ana masih menungguku di bawah. Aku menggandengnya dengan cepat dan membawanya berlari jauh.
"Midas katakan kepadaku! Mereka siapa, kenapa mereka mengejarmu seperti itu? Apakah kau seorang buronan?"
Ana masih saja berteriak menanyakan hal yang tidak bisa aku jawab sekarang ini. Kali ini aku tidak menghiraukannya dan terus berlari berusaha menghindar dari kejaran mereka.
"Midas kau menyakiti tanganku dan aku tidak kuat lagi untuk berlari. Napasku sudah sangat tersendat."
Aku baru sadar jika Ana memang seorang gadis yang sangat mungil. Mengikuti aku berlari, tentu saja itu akan membuatnya sangat kelelahan.
Ana aku akan menggendongmu. Aku meminta izin.
"Midas! Apa yang kau lakukan?" tanya Ana terkejut saat aku menggendongnya.
Dengan cepat aku menggendong Ana dan membawanya berlari. Aku melihat sebuah pertunjukan menarik salah satu dari pawai. Rumah hantu yang dipenuhi dengan orang dan pastinya cukup gelap di sana. Sebaiknya aku masuk agar bisa terhindar dari mereka dan mencari jalan keluar bersama gerombolan orang itu.
Semua orang memandangku karena aku menggendong Ana. “Midas, lepaskan aku. Mereka semua memandang kita.” Aku segera menurunkan Ana saat dirinya menepuk pundakku.
Dengan cepat aku menarik dan menggenggam erat telapak tangannya. Lalu, aku memandangnya dan berkata, Ana kita harus berada di dalam gerombolan itu. Namun, kau tetap saja harus menggenggam erat tanganku. Kita tidak boleh berpisah. Apakah kau paham?
"Aku mengerti Midas. Mereka sudah mendekati kita. Lihatlah, mereka membawa senjata kayu yang bisa membunuh atau mengenai orang di sekitar kita. Ayo kita segera masuk dan cepat mencari jalan keluar."
Aku menganggukkan kepala, kemudian segera berjalan bergabung dengan semua orang yang menjerit ketika melihat hantu yang diperankan oleh seseorang di dalam.
Keadaan di dalam rumah hantu itu sangat gelap. Aku bersama Ana terus mengamati sekitar dan mencari jalan keluar. Hingga kami menemukan sebuah almari, yang dilewati seseorang saat masuk ke dalamnya. Itu pasti adalah jalan keluar pintas yang sudah disediakan panitia di dalam.
"Midas aku tahu kau juga melihatnya dan itu pasti jalan keluar. Ayo kita segera ke sana," kata Ana dengan cepat menarikku, lalu kami keluar dari gerombolan dan segera membuka almari itu.
"Memang benar ini jalan keluar panitia. Midas. Ayo kita segera masuk."
Dengan cepat kami berjalan memasukinya, namun panitia yang berdandan seperti hantu berada di dalam terkejut melihat kami. Tentu saja mereka pasti akan menegur kami.
"Siapa kalian? Apa kalian tidak tahu jalan ini adalah ruangan panitia? Keluarlah dari sini karena kalian akan mengganggu kami!"
"Maafkan kami, Mas. Pacarku Ini perutnya sakit. Jadi kami bergegas untuk keluar dan mencari jalan pintas. Kami melihat seseorang masuk ke sini dan aku pikir aku bisa melewatinya dengan cepat. Kasihan dia."
Ana menginjak kakiku. Spontan aku terkejut. Tapi aku paham dengan rencananya. Seketika aku memegang perutku. Memasang wajah melas dengan merintih kesakitan, dan mereka semua mengamatiku sangat serius.
"Jadi pacarmu ini sakit?" tanya mereka sekali lagi memastikan. Aku semakin menekan perutku dan menundukkan kepala, untuk memperlihatkan jika aku memang benar-benar sakit.
"Aku ingin segera keluar dari sini dan mencari dokter. Dia punya asam lambung yang sangat parah. Aku takut jika terlambat menolongnya akan bisa membuatnya pingsan. Bagaimana jika itu terjadi? Lihatlah, tubuhnya sangat besar. Kita tidak bisa membawanya."
"Lewatlah sini karena ini jalan keluar. Kalian bisa keluar dari sini dengan cepat. Pergilah, dan segera bawa dia ke dokter. Wajahnya sudah pucat."
Aku lega akhirnya bisa keluar dengan cepat dari sana. Ana menarikku terus menuju ke parkiran mobil, dan masuk ke dalam mobilnya. Kami berdua di dalam mengatur napas yang tidak beraturan.
Ana sebaiknya kita bertukar tempat duduk. Aku yang akan mengemudikan mobil ini. Aku akan keluar dan kau bergeser ke sini. Apa kau mengerti?
Ana menganggukkan kepala. Dia segera mengikuti apa yang aku katakan. Dengan cepat aku mengamati semua arah, memastikan aman. Aku segera membuka pintu mobil, berjalan cepat memutari separo tubuh mobil ini dan kembali masuk ke kursi kemudi.
Mobil yang Ana miliki cukup mewah. Aku rasa dia adalah anak orang kaya. Dengan cepat aku menyalakan mesin, lalu melesatkan mobil untuk pergi dari sana. Kami berdua merasa lega bisa lolos dari kejaran para penjahat itu. Walaupun sebenarnya aku memikirkan keadaan Roy. Apakah dia bisa lolos, atau tertangkap?
Aku tidak mengetahui nomor ponselnya yang baru. Bagaimana bisa aku mengetahui keadaannya? Menghubunginya saja aku tidak tahu harus ke mana.
"Midas. Sekarang katakan apa yang sudah terjadi? Kenapa kau seperti ini? Dikejar-kejar oleh penjahat mafia menakutkan. Apakah kau mengerti, Midas? Mereka akan dengan mudah membunuhmu!" ucap Ana cemas dengan keras. Aku sedikit tersenyum. Tidak aku sangka, dia memperhatikanku.
Seseorang telah menyelamatkanku, Ana. Dan mereka ada hubungannya dengan penjahat itu. Aku harus menyembunyikan mereka agar tidak tertangkap pria itu. Keadaannya sangat rumit. Aku tidak bisa menceritakan semua kepadamu.
Untung saja Ana seorang gadis yang sangat cerdas. Aku bisa berbicara dengan bahasa isyarat menggunakan satu tangan, karena aku harus mengemudi. Dia mengamati dengan menganggukkan kepala, menandakan mengerti ucapanku.
"Aku paham dengan apa yang kau katakan. Namun, sepertinya kau harus menghubungi polisi agar mereka melindungimu. Paling tidak kalian mendapatkan perlindungan."
Itu tidak mungkin terjadi, Ana. Sekarang lebih baik aku mengemudi dengan serius agar bisa menjalankan mobil ini. Kita akan menuju rumahmu dan kau aku pastikan aman.
Aku terus melajukan mobil ini dengan kencang. Ana memberikan petunjuk dan kami akhirnya sampai di sebuah rumah yang sangat megah. Aku terkejut melihatnya. Apalagi di depan rumah Ana terdapat palang nama seorang dokter yang cukup terkenal. Ternyata memang dia kaya raya. Keluarganya adalah seorang dokter. Aku merasa minder kepada Ana.
"Lalu kau mau naik apa, Midas? Bawalah mobil ini dan kita besok akan ketemu lagi di suatu tempat. Aku mohon kau mau menerimanya."
Tidak mungkin aku melakukan itu. Bagaimana jika kedua orang tuamu menanyakan di mana mobilmu? Mereka pasti sudah mendengar suara mesin mobil ini. Sudah, lebih baik kau masuk dan aku akan segera pergi. Kita akan segera bertemu jika memang berjodoh. Selamat tinggal Ana.
"Midas! Kenapa kau seperti itu?!" Teriakan Ana yang tidak aku hiraukan. Aku segera keluar dari mobil dan berlari cepat agar dia tidak bisa mengejarku. Kakiku terus melaju ke depan, tidak tahu harus ke mana. Hingga aku melihat kerumunan orang tidak jauh dari posisiku.
Kenapa mereka, dan ada apa? Aku sebaiknya pergi ke sana untuk melihatnya.
Dengan cepat aku berlari menerabas semua orang yang masih terdiam kaku. Kedua mataku melotot, saat melihat seorang laki-laki tua menekan perutnya tergeletak di tanah.
Apakah kalian tidak bisa memanggil dokter?
Aku bertanya kepada semua orang yang masih hanya menatap lelaki tua itu dengan bahasa isyarat. Namun, mereka menggeleng tidak paham dengan apa yang aku maksudkan.
Tanpa bicara lagi aku melepaskan jaket dan melipatnya, untuk menyangga kepalanya. Aku menekan perutnya dan ternyata sangat kaku. Dia mengalami asam lambung dan ini memang sangat parah. Dia harus segera menuju ke rumah sakit.
Aku mengamati semua arah. Sopir taksi yang tiba-tiba melintas. Dengan cepat aku segera berlari menghadangnya. Dia menghentikan mobil dengan sangat mendadak dan memberikan tatapan tajam ke arahku.
"Woi Mas! Kau mau mati? Aku bisa menabrakmu tahu enggak! Sialan!"
Umpatan keras yang tidak aku hiraukan. Aku mendekatinya, lalu memberikannya beberapa lembar uang yang aku keluarkan dari dompet.
Dia spontan tersenyum dan asik menghitung uang itu. Sementara aku kembali mendekati lelaki tua yang terus merintis kesakitan, kemudian mengambil jaketku dan memapahnya masuk ke dalam taksi.
Aku menepuk pundak Sopir itu kemudian menganggukkan kepala, lalu mengarahkan tanganku ke depan.
"Ke rumah sakit maksud kamu?" tanya sopir taksi itu. Aku menunjukkan jemariku ke depan, dia mulai menyalakan mesin dan melesat.
"Tolonglah perutku sangat sakit. Aku tidak kuat menekannya. Apakah kau bisa?"
Lelaki tua itu tiba-tiba berkata dan aku menganggukkan kepala. Aku kembali merebahkan tubuhnya, menyangga kepalanya dengan jaket yang sudah aku ambil tadi. Lalu aku membuka kemejanya dan menekan perut yang kaku itu.
"Aku akan menahan napasku berkali-kali sampai aku bisa menahan rasa sakit itu. Apakah kau mengerti?"
Tanya lelaki tua itu dan aku kembali menganggukkan kepala. Aku sangat tahu jika dia menekan perut kaku seperti batu itu, nanti lama-kelamaan jika aku menekannya dengan pelan, dan terarah secara baik, maka rasa kaku itu akan menghilang dan dia bisa bernapas lega sampai kita menuju rumah sakit.
Dengan cepat aku melakukannya. Lelaki tua itu mengernyit melihatku heran.
"Kau sangat cekatan sekali. Apakah kau seorang dokter?" tanyanya dengan suara yang sangat lemas. Aku menunjukkan jariku ke mulutku sendiri agar dia menutup mulutnya dan tidak berbicara.
Aku terus melakukan apa yang dia katakan hingga kami sampai di rumah sakit. Dengan cepat aku keluar dari mobil untuk memanggil suster yang segera mendorong brankar menuju taxi. Lelaki tua itu segera aku bantu untuk menaikinya.
Suster segera memasukkan dia ke ruangan gawat darurat untuk memeriksanya. Hingga dalam beberapa menit, suster itu Kembali keluar dan memanggilku. Aku berjalan cepat menemui Suster itu.
"Mas keluarganya?" tanyanya dengan serius.
“Dia adalah dokter terkenal. Dia mencarimu. Katanya, hanya kau yang bisa menyembuhkannya.”
Apa?