Semakin Membingungkan

1426 Kata
Perkataan suster yang tidak masuk akal.Jadi laki-laki tua yang aku selamatkan itu adalah seorang dokter? Lalu kenapa dia mencariku dan mengatakan jika hanya aku yang bisa menyembuhkannya? "Mas jangan melamun. Dokter itu nyawanya dalam bahaya. Mendingan kamu masuk segera pakai baju kamu. Karena mas tidak bisa berkeringat seperti ini untuk masuk ke dalam. Banyak bakteri." Aku menganggukan kepala kepada suster. Dia segera berjalan dan aku mengikutinya dalam langkah. Aku terus berpikir apa yang dokter itu inginkan dariku. Kenapa harus aku yang melakukannya? Di sini banyak sekali dokter dan mereka lebih berpengalaman dari pada aku. Kenapa harus aku? "Mas masuk ke sini lalu membersihkan diri, Mas. Kemudian pakai baju itu, ya. Jangan banyak berpikir karena kami membutuhkan Mas saat ini. Juga aku hanya memberikan waktu kurang dari 5 menit apa. Mas mengerti?" Aku mengerti suster Suster itu mengernyit kemudian mengamatiku dari atas sampai bawah saat aku memberitahukan dia dengan bahasa isyarat. "Maafkan aku menanyakan hal ini. Apa kau tidak bisa berbicara?" Pertanyaan yang tentu saja terlontar dengan jelas di mulut Suster itu dan aku sudah mengiranya. Pasti dia akan terkejut saat aku mengatakan, iya. "Itu tidak masalah yang penting kamu tahu apa yang akan kamu lakukan nanti di dalam. Cepatlah dan jangan terlalu lama. Ingat, waktumu kurang dari 5 menit. Aku tunggu di kamar pojok lorong itu. Apa kau mengerti?" Aku mengerti suster. Suster itu berjalan meninggalkanku seperti itu. Entahlah ini apa yang akan terjadi. Aku tidak mengerti. Namun, sebaiknya aku memakai baju ini dan segera melakukan apa yang sudah dikatakan tadi. Paling tidak aku bisa menyelamatkan satu nyawa jika memang aku harus melakukannya. Sebenarnya aku tidak menyangka akan memakai baju operasi. Ini di luar dugaanku. Belum menjadi seorang dokter, tapi sudah mengenakan baju untuk mengoperasi seseorang. Apakah ini benar? "Mas. Kenapa lama sekali? Aku kan sudah bilang jangan terlalu lama. Kasihan dokter itu. Dia sangat menunggumu." Aku terperanjat saat Suster itu tiba-tiba masuk. Untung saja aku sudah berpakaian. Kemudian aku membalikkan tubuhku dan berjalan mendekatinya. Maafkan saya suster. Saya sudah siap. Ayo kita segera berangkat. Suster menganggukkan kepala tanpa berbicara apapun. Kami pun berjalan berdua menuju sebuah pintu yang cukup berbeda dengan lainnya. Dia segera mendorong pintu itu kemudian masuk ke dalam. Alangkah terkejutnya aku melihat lelaki tua itu berbaring tidak berdaya. Beberapa suster dan dokter muda ataupun tua, masih dengan sibuk menekan perutnya. "Dokter, ini laki-laki yang Anda inginkan. Dia berada di sebelahku," kata Suster itu membangunkan lelaki tua yang masih merintih kesakitan. "Tolong kau tekan perutku seperti apa yang kamu lakukan tadi di dalam mobil. Biarkan mereka melakukan tugasnya untuk melihat hasil yang sudah terdeteksi." Bukankah semua dokter ini hebat? Bukankah semua alat ini hebat untuk mendeteksi penyakit apapun? Kenapa harus aku yang harus melakukannya? "Karena aku menginginkan kamu yang melakukannya. Apa kamu ngerti?" Puluhan mata yang berada di dalam ruangan menatapku dengan melotot. Tentu saja mereka melakukannya. Aku ini bisu dan tidak bisa berbicara. Apalagi di hadapanku adalah seorang dokter yang cukup terkenal. Tapi, dia mempercayai penyakit dalam tubuhnya kepadaku? Ini memang benar-benar tidak masuk akal. Namun, sepertinya aku harus mencobanya. Perlahan aku mulai menyentuh perut lelaki itu. Aku merabanya dengan arah sesuai rasa sakit yang dia derita. Saat dia merintih dengan keras, tiba-tiba aku merasakan sebuah benjolan kecil di sana. Aku tidak menekannya, hanya memastikan di pinggirannya seperti memegang sesuatu di atas permukaan, namun ada sesuatu di dalamnya. Kita harus meraba hanya untuk mengerti bentuk di dalamnya. Ini ajarkan oleh kakekku ketika dia meraba orang yang terkena batu ginjal di perutnya. "Dokter, benjolan itu. Sebuah bukatan kecil terlihat dengan jelas. Anda harus menjalani operasi dokter. Penyakit ini tidak ganas dan sebaiknya kita segera melakukannya," kata salah satu Dokter saat dia melihat dengan jelas layar yang menunjukkan sesuatu benjolan di sana. Aku bisa menarik napas lega melihatnya. Memang itu tidak ganas karena masih berwarna putih. Dia bisa selamat. Aku senang melihat hal itu. "Mas, lebih baik kamu segera keluar dan mengganti pakaianmu kembali karena dokter akan segera mengoperasi," kata Suster menarikku keluar ruangan. Sementara yang lainnya hanya diam menatapku heran. Entahlah apa yang dipikirkan mereka Aku mengerti. "Oh ya, Mas. Satu lagi, jangan pergi ke mana-mana, ya. Kau harus tetap di sini karena takutnya nanti dokter akan terbangun dan mencarimu. Lebih baik kau menunggui dokter itu berada di kamarnya yang sudah kami siapkan nanti." Aku terdiam tidak mengerti harus mengatakan apa. Aku sudah pergi sangat lama meninggalkan Putri dan Rey. Mereka pasti cemas. Bahkan aku tidak menghubungi mereka sama sekali. Ponselku terjatuh dan aku tidak tahu harus ke mana. Nomor ponsel mereka saja aku tidak ingat. Suster itu terus mengamatiku dengan wajah yang penasaran karena melihatku kebingungan. Kakiku terus berjalan mondar-mandir sembari memegang kepala memikirkan apa yang harus aku lakukan. Bagaimana caranya agar aku bisa menunggunya di sini, namun menghubungi Rey. Perasaanku benar-benar kacau. Aku takut lelaki penjahat itu pergi ke sana lalu melakukan suatu hal yang tidak aku duga kepada Rey dan Putri. Ini benar-benar membuat kepalaku rasanya mau pecah. "Mas. Kenapa kamu berjalan mondar-mandir seperti itu?" Aku pun menghentikan langkahku mendadak, kemudian mendekati suster itu dan menatapnya. Apakah suster bisa mengetahui bahasa isyarat? Suster itu menggeleng pelan, lalu kembali menatapku. "Jika kau mengatakannya dengan sangat perlahan, mungkin aku bisa paham apa yang kau maksudkan," jawabnya membuatku sedikit lega. Aku memiliki keluarga dan mereka menungguku "Jadi kau memiliki sebuah keluarga. Apakah benar seperti itu?" Aku mengangguk dengan tersenyum. Akhirnya dia paham apa yang aku katakan. Ini membuatku lega. "Baiklah Mas. Aku mengerti mereka menunggumu dan kau harus pulang. Hmm, lalu apa yang harus aku lakukan untuk mengatakan pada dokter itu? Dia pasti mencarimu." Bagaimana jika kau aku berikan nomor ponsel dokter itu. Aku akan menghubunginya segera. Apakah itu ide yang cukup baik? "Wow, tentu saja. Kamu memang sangat cerdas. Aku lihat kamu sangat berpengalaman sekali menjadi seorang dokter. Apakah kau dokter?" Aku menggeleng sambil meringis. Tentu saja aku bukan dokter. "Kau sangat hebat Mas. Tapi sayangnya aku tidak bisa berbicara. Andaikan saja kau bisa mengatakan semuanya dengan mudah. Kau pasti bisa menjadi dokter yang sangat hebat. Sekarang aku pinjam punggungmu dulu. Aku mau menuliskan nomor ponsel dokter itu. Apa kau mengerti?" Aku menganggukkan kepala kemudian membalikkan tubuhku. Suster itu sepertinya mengeluarkan sebuah bolpoin dan kertas. Dia menempelkannya ke punggungku untuk menuliskan nomor yang bisa aku hubungi. "Midas. Kenapa kau melakukan itu? Apa yang suster itu lakukan?" Ana Sosok wanita dengan menggunakan pakaian dokter pada tengah malam berada di rumah sakit mengejutkanku. Dan, itu adalah Ana. Kenapa dia berada di sini saat malam hari? "Dokter Ana Maafkan saya. Pemuda ini sudah menyelamatkan Dokter Albert." "Apa?" Ana sangat terkejut mendengar suster itu mengatakannya. Namun, aku yang lebih terkejut melihat kedatangan Ana. Bagaimana mungkin? Apakah dia sekarang berjaga di sini ini. Saat ini sudah sangat malam. Apa yang harus dilakukan Ana? Dia menatapku dengan tatapan yang tidak seperti biasanya. Aku sudah duga dia marah. Kenapa dia seperti itu? "Aku yang akan memberikan nomor ponsel dokter Albert. Sebaiknya kau bekerja saja suster," kata Ana sedikit tegas. Suster segera menganggukkan kepala, lalu tersenyum ke arahku dan pergi begitu saja. Cara Ana mengamati Suster itu berbeda dengan biasanya. Pandangan itu kaku, dipenuhi sorotan aneh. Kedua matanya yang jelas-jelas menunjukkan kekesalan. Semua itu terpampang di wajahnya. Sepertinya aku harus mendekatinya dan menjelaskan apa yang sudah terjadi. Aku tidak ingin melihat wajah cantiknya berubah seperti itu. "Midas. Seharusnya kau pulang dan kembali kepada keluargamu. Kenapa kau ada disini dengan suster seperti itu? Apakah dia pacarmu atau bukan?" Aku menggeleng dengan pelan.Kenapa Ana menghakimiku seperti ini? Ana Kenapa kau ada di sini. Kau tahu sekarang tengah malam? "Tentu saja aku berada disini. Aku seorang dokter dan aku akan membantu siapa saja yang membutuhkanku selama 24 jam, dan itu yang aku lakukan. Kau yang seharusnya berkata kepadaku kenapa kau ada di sini." Ucapannya sangat tegas. Aku semakin kebingungan apa yang harus aku lakukan. Ana mengintimidasiku seperti ini. Tapi, sepertinya aku menyukainya. Aku lihat dia memiliki kecemburuan kepadaku. Apakah memang seperti itu? Ah, sepertinya tidak. Itu hanya pemikiranku saja. Loh Ana! Kenapa kau menarikku seperti ini. Kita mau ke mana? Ana tiba-tiba menarikku dengan wajah yang sangat kesal.Dia membawaku menuju belakang rumah sakit. Sangat sepi sekali di sini. Aku terus mengamati sekitar, tidak ada orang sama sekali. Apa yang aku harus lakukan berdua saja dengan wanita yang sangat marah berkacak pinggang di hadapanku? Kenapa dia seperti itu? Ini membingungkan. "Midas. Sekarang katakan, apa hubunganmu dengan suster itu!" Bentakan Ana dengan sangat keras sambil menunjukkan jemarinya tepat di wajahku "Midas! Aku tidak suka kamu melihat suster itu! Apa kau mengerti? Aku tidak menyukainya!" Teriakan Ana yang semakin menjadi. Dia tiba-tiba menangis di hadapanku lalu, membalikkan tubuhnya. Ana apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN