Aku tidak mengerti apa yang Ana katakan. Dia sangat marah dan tiba-tiba menangis kemudian sediikit mendorong tubuhku dengan wajah yang dipenuhi amarah.
Ana. Tenanglah. Jangan seperti ini. Apa yang terjadi? Kau kenapa?
"Aku tidak mau kau dekat dengan siapapun, dan jangan pernah membahayakan dirimu sendiri. Aku tidak tenang berada di rumah. Aku selalu saja gelisah memikirkanmu, Midas. Pesaraanku tidak menentu. Itulah yang terjadi ketika aku melihat diirmu bersama dengan suster itu.Tiba-tiba aku sangat marah Aku tidak tahu dengan perasaanku sendiri."
Ini benar-benar rumit. Aku sangat capek dan aku ingin segera pulang. Banyak sekali masalah hari ini yang aku hadapi. Namun, aku tidak bisa melihat Ana seperti ini. Apa yang harus aku lakukan? Aku bukan siapa-siapa dan aku tidak bisa berbuat sesuatu untuknya.
"Maafkan aku Midas. Aku sudah membuat kesalahan dengan berbuat seperti ini kepadamu. Kau sebaiknya pulang dan menemui keluargamu. Aku yang akan menjaga dokter Albert. Aku akan memberitahukan di mana posisimu ketika dia mencarimu nanti. Aku tidak mengerti dan belum tahu apa yang terjadi dengan dokter Alberth. Aku akan memeriksanya."
Terima kasih Ana. Tapi aku minta kau jangan menangis seperti itu. Aku tidak akan bisa tenang. Aku akan pergi ke sini lagi setelah aku menemui Rei dan Putri. Tolonglah jangan mempersulit keadaanku.
Ana terdiam menatapku. Dia mendekatiku dan sedikit berjinjit untuk lebih menatapku dari dekat. Aku tidak mengerti apa yang akan dia lakukan. Namun, aku kenapa menyukai jika dia melakukan itu? Bahkan aku terhipnotis dengannya. Aku tidak bisa bergerak ketika dia melakukannya seperti itu.
"Midas. Tolonglah mengerti apa yang aku rasakan. Kau laki-laki dan sepertinya kau harus tahu," kata Ana yang masih membuatku menggeleng tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkannya. Aku masih saja kebingungan. Tapi, sebaiknya aku segera pergi.
Baiklah aku harus pergi. Aku harap kau bisa menjaga dokter Albert dengan baik, karena aku tidak bisa melakukannya. Selamat tinggal, Ana.
Ini benar-benar sangat rumit. Ana melihatku dengan kedua matanya yang berlinang air mata. Sementara suster itu mengatakan jika aku harus berada di kamar dokter Albert. Dia harus mengetahui diriku saat terbangun dari sadarnya setelah melakukan operasi.
Entahlah apa yang sudah terjadi menimpaku. Belum lagi ditambah penjahat itu yang akan membunuh semua orang yang dekat denganku. Padahal aku tidak ada hubungannya dengan mereka. Sepertinya aku sudah terjun ke dalam masalah Rey dan Putri.
Aku harap mereka baik-baik saja dan aku harus melindunginya karena aku akan melakukan itu.
Sekarang yang aku pikirkan adalah apa yang harus aku naiki untuk pulang. Aku tidak punya kendaraan dan aku meninggalkan mobil Rey begitu saja di kampus. Apalagi posisinya sudah sangat jauh. Sementara rumah Rey dan Putri juga sangat jau. Ini benar-benar luar biasa. Hari ini aku sangat beruntung dengan semua masalah yang aku hadapi. Sebaiknya aku menaiki bus dan bertanya di mana jalur menuju ke rumah Rey.
Permisi Pak. Apakah bus ini melewati pedesaan persawahan yang kira-kira berjarak 2 km dari sini?
"Jadi bisu?" tanyanya singkat dan aku menganggukkan kepala. Semoga saja dia paham dengan apa yang aku tanyakan.
"Oh, jadi mencari desa yang berada di sana. Tahu-tahu. Aku mengerti apa yang kamu katakan. Sudah, masuk sana."
Keberuntungan memang berpihak kepadaku. Dan, ternyata bus itu memang menuju ke sana. Dengan cepat aku segera menaikinya. Sebaiknya aku duduk di kursi bangku bagian belakang. Aku sangat mengantuk. Untung saja tas ranselku masih saja setia berada di belakang punggungku. Jadi aku tidak perlu kesulitan untuk membayar dan memenuhi semuanya.
Dalam sekejap aku sudah melihat pedesaan yang aku tinggali. Aku sangat senang sekali, hingga bus itu berhenti di pojok jalanan dan aku segera turun secepatnya.Kakiku berlari menuju rumah karena ingin sekali melihat keadaan Rey dan Putri. Aku harap mereka baik-baik saja.
"Om! Kenapa kok lama sekali? Om kelihatannya sangat berantakan. Ada apa sih?"
Putri berlari keluar rumah menyambutku ketika dia melihat dari jendela. Aku sangat lega dia baik-baik saja. Aku segera memeluknya.
Putri kita masuk. Bagaimana keadaan ayahmu?
"Ayah sangat mengkhawatirkan Om. Ini sudah hampir tengah malam. Tapi, Om juga belum pulang. Untunglah Om baik-baik saja. Hmm ... sepertinya aku lihat Om mengalami sebuah masalah. Om berkeringat dan sangat berantakan, apalagi baju Om sangat kotor. Om kenapa?"
"Midas! Kau ini kenapa? Syukurlah kau baik-baik saja. Kau tahu, aku sudah hampir saja terkena serangan jantung memikirkanmu tidak datang juga. Apa yang sudah terjadi, Midas?"
Rei sangat kebingungan melihatku berantakan seperti ini. Dia melotot, kemudian mengamatiku dengan saksama.
Aku bertemu dengan laki-laki itu, Rey. Untungnya aku bisa lolos. Ceritanya sangat panjang, Rey. Kita sebaiknya harus pergi dari tempat ini. Mereka akan menemukan kita.
"Apa? Mereka sudah menemukanmu? Kurang ajar! Hah, kau benar. Kita tidak bisa tinggal di sini. Kita akan pergi besok sangat pagi sekali. Sekarang, kau lebih baik istirahat Midas. Aku melihat kau sangat lelah. Pastinya kau mengalami banyak masalah hari ini."
Kau benar hari ini sangat rumit. Namun, satu hal yang aku pikirkan. Kamu tahu, aku bertemu dengan dokter wanita itu. Tapi dia tiba-tiba menangis dan mengatakan aku tidak boleh dekat dengan suster. Apa yang dia maksud Rey?
"Dokter wanita yang pernah bertemu dengan kita, lalu menangis kau mendekati suster?"
Rey kembali bertanya kepadaku dengan mengernyit. Aku mengangkat kedua tanganku, sambil mengangkat salah satu alisku karena aku tidak mengerti.
Justru aku bertanya kepadamu Rey. Kenapa kau malah menanyakan itu padaku?
"Kau ternyata sangat polos dan tidak mengerti wanita. Jawabannya sangat mudah. Midas dia itu cemburu melihatmu bersama dengan suster itu. Gitu aja nggak ngerti kamu, Midas."
Aku spontan terdiam ketika mendengar perkataan Rey barusan. Mana mungkin Ana memiliki perasaan seperti itu kepadaku?
Rei pikiranmu itu tidak mungkin terjadi. Ana itu anak orang kaya dan keluarganya dokter terkenal. Tidak mungkin dia memiliki perasaan seperti itu kepada laki-laki bisu. Dia bisa mencintai laki-laki sempurna, atau seorang dokter tampan yang bisa dijadikan sebagai pendamping. Ah, kau ada-ada saja.
"Wanita itu peka terhadap perasaan. Dia tidak akan mempedulikan bagaimana ketampanan fisik seseorang. Jika sudah suka, ya suka. Kamu saja yang polos tidak mengerti. Midas ... Midas."
Aku hanya menggelengkan kepala. Sudahlah biar saja Rey berpikiran seperti itu. Yang jelas aku masih tidak mengerti. Aku hanya ingin merebahkan tubuhku di atas ranjang dan segera mandi sebelumnya.
"Midas tunggu!"
Rey memanggilku dengan mendadak. Aku menghentikan langkah kemudian menatapnya. Kali ini wajahnya sangat serius. Apa yang sudah terjadi?
"Bagaimana dengan dokter itu. Apakah kau sudah melamar menjadi mahasiswa. K diterima atau bagaimana? Aku lupa menanyakannya. Kau tidak menceritakan kepadaku dan malah menceritakan yang lain."
Rei apa yang aku ceritakan itu sangat penting dan ini menyangkut nyawa kita. Sudah, kau jangan memikirkan universitas itu karena itu tidak penting. Sudahlah aku mau istirahat saja. Selamat tinggal
"Tidak Midas. Kau pasti mengalami hal yang sangat buruk dengan penolakan. Karena dokter itu menghubungiku dan sangat marah aku sudah mengirim mahasiswa dengan kelemahanmu. Aku minta maaf. Aku akan mencari cara lain agar kau bisa diterima di sana."
Rei. Kau tidak perlu melakukan itu. Sudahi saja. Aku akan mencari jalan lain. Sekarang lebih baik kau memikirkan dirimu sendiri dan keselamatan Putri.
"Midas. Aku akan tetap berusaha membantumu. Apa kau mengerti? Kau setuju atau tidak terserah. Sudahlah masuk kamar sana! Bersihkan dirimu dan Istirahatlah. Kita besok pagi harus pergi dari rumah ini."
Aku menggelengkan kepala kemudian masuk ke dalam kamar. Dengan cepat aku membuka bajuku, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Air shower hangat ini sudah membuatku kembali segar. Namun, aku terus berpikir tentang perasaan Ana dan keselamatan Rey bersama Putri. Untuk diriku sendiri, aku sudah tidak mempedulikannya. Semua Universitas pasti tidak akan menerimaku menjadi mahasiswa di sana. Sudah jelas aku pasti ditolak, dan aku harus menerima takdirku ini. Menjadi seorang dokter mungkin hanya angan-angan yang tidak bisa kuraih dan itu akan aku terima dengan ikhlas.
Secepatnya aku mengganti pakaianku dengan yang bersih, kemudian menaiki ranjang. Perlahan aku menutup kedua mataku, dan beristirahat. Itulah yang harus aku lakukan untuk mengumpulkan tenaga besok pagi agar aku bisa melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.
Matahari mulai bersinar menyapa wajahku yang seketika terbangun.
Apa aku kesiangan. Seharusnya aku bangun pagi-pagi sekali. Bagaimana dengan Rey?
Aku segera melompat menuruni ranjang, berlari keluar, dan syukurlah aku bisa bernapas lega. Rey dan Putri sedang membuat sarapan.
"Halo Pemuda molor. Gimana perasaanmu? Apakah sudah tidur nyenyak?"
Aku tersenyum saat Rey mengatakan itu.
"Om segeralah mandi. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu."
Putri dengan tersenyum segar menyapaku. Aku menganggukan kepala dan segera masuk ke dalam kamar. Dengan cepat aku menggunakan pakaian yang sudah sangat bersih tergeletak di atas meja. Pasti Rey yang sudah melakukannya. Entahlah apa yang harus aku perbuat kepadanya. Dia sangat baik kepadaku.
Kami bersama akhirnya melakukan sarapan. Kami menyantap semua masakan yang sudah disiapkan Rey. Ternyata dia lelaki idaman. semua masakannya sangat lezat.
"Makanlah dengan cepat. Kita akan segera pergi dari sini," kata Rey sembari menarik napas panjang. Wajahnya terlihat sangat gelisah.
Dengan sangat cepat aku menelan semua makanan itu. Beberapa koper yang sudah tersedia di depan pintu itu sudah siap. Mungkin itu adalah semua keperluan yang akan dibawa Rey untuk pergi dari sini. Aku baru mengingat. Bukankah aku membawa mobil Rey. Lalu, kita akan menaiki apa?
Rei Aku meninggalkan mobilmu di parkiran universitas itu. Apa yang akan kita gunakan, Rey?
"Kau tidak melihat dua mobil berada di bagasi? Ada satu mobil aku tutup dengan terpal dan itu mobil kesayanganku. Mobil antik yang sudah lama tidak aku pakai. Kemarin aku memanggil seseorang untuk memperbaikinya dan sekarang kita bisa menggunakannya. Kau jangan berpikiran berat. Aku pasti sudah mempersiapkan semuanya. Aku ini orang kaya dan mempunyai banyak uang. Apa kau mengerti?"
Syukurlah Rey mengatakan itu. Perasaanku lega. Aku kembali menyantap semua masakan ini dengan cepat. Putri melirikku dengan tersenyum, dan aku membalasnya. Kemudian aku menepuk-nepuk kepalanya, membuat dia menggeleng kesal.
"Aku bukan anak kecil lagi, Om. Kenapa sih gitu terus?" ucapnya jengkel kepadaku. Namun, aku tetap tersenyum melihatnya.
Ponsel Rey tiba-tiba berdering. Aku sangat ketakutan. Rey hanya menatapnya dengan mengernyit. Aku segera berdiri mendekatinya, kemudian melihat layar. Yang ada di sana hanya nomor tidak dikenal yang sudah menghubunginya.
Siapa Rey? Siapa yang sudah menghubungimu? Kenapa kau tidak mengangkatnya?
Pertanyaanku yang tidak segera dijawab oleh Rey. Dia masih terdiam mengamati sebuah nomor khusus yang sangat cantik, dan tentunya nomor itu sangat mahal.
Rey. Apakah universitas yang kemarin aku datangi itu milik penjahat itu? Karena dia mengatakan seperti itu. Apakah dia yang menghubungimu?
"Midas. Berhentilah berbicara. Aku sedang berpikir dan aku sepertinya sangat mengenal nomor ini. Iya! Ini adalah nomor dokter Albert. Dokter langgananku yang sangat hebat itu. Dia memiliki sebuah universitas besar. Kenapa dia menghubungiku? Padahal aku tidak merasa sakit dan tidak menghubunginya."
Dokter Albert? Aku sudah menolongnya kemarin ketika dia akan dioperasi. Aku masuk ke dalam ruangan itu dan dia memintaku untuk menekan perutnya.
"Apa? Midas. Apa yang kau maksudkan?"
Ceritanya sangat panjang Rey. Dan, tidak mungkin aku menceritakan. Nanti aku ceritakan ketika kita melakukan perjalanan.
"Sudahlah diam. Sebaiknya aku mengangkat ponsel ini. Semoga saja Ini suatu keberuntungan untukmu, Midas."
Apa maksudmu Rey?