Aku melihat Rey hanya menganggukan kepala dan tersenyum, kemudian sedikit kegirangan setelah menerima telepon dari Dokter Albert.
Rasa penasaran yang aku rasakan tentu saja luar biasa. Dia tertawa seperti itu aku cukup senang. Namun, apa sebenarnya yang sudah dia dengar hingga dia seperti itu?
"Om. Ayah kenapa itu? Aneh, ketawa-ketawa sendiri setelah menerima telepon dari seseorang. Aku kok jadi cemas."
Putri mendekatiku dan aku memeluknya, lalu mengelus-elus kepalanya.
Jangan khawatir Putri. Ayahmu baik-baik saja. Yang terpenting dia terlihat senang.
"Hmm, tapi Om. Aku tidak suka lihatnya. Ayah, kenapa sih?" teriak Putri tidak mendapat respon dari Rey.
Putri, kau harus menyelesaikan sarapanmu. Om akan dekati ayah.
Jawaban yang paling pas aku berikan kepada Putri. Walaupun aku tetap saja penasaran. Rasanya ingin aku tanyakan sekarang saja.
Aku melepaskan pelukanku. Putri kembali lagi duduk di meja sambil menatap ayahnya yang masih mengangguk-anggukan kepala sendiri. Aku melangkah perlahan mendekatinya, kemudian mengernyit di depannya.
Rey malah melambaikan tangan, kemudian membalikkan tubuhnya dan tidak ingin melihatku. Apa yang sebenarnya dia lakukan itu sangat menyebalkan. Sudahlah aku lebih baik tidak memperhatikannya. Biarkan saja dia melakukan itu.
Akhirnya setelah beberapa menit dia menutup ponselnya. Wajahnya masih saja terlihat sumringah. Kakinya melangkah mendekatiku dan menarik tubuhku hingga berdiri di hadapannya. Lalu kedua tangannya memegang pundakku dan menatapku dengan tatapan yang sangat serius. Ini sangat menakutkan buatku. Apa yang sudah terjadi? Semoga saja dia mengatakan hal baik kepadaku saat ini.
"Baiklah Midas, sekarang dengarkan aku. Dia adalah Dokter Albert pemilik universitas kedokteran terbaik di kota ini, dan dia menyukaimu. Aku sudah mengatakan kepadanya jika kau ingin sekali menjadi dokter. Namun, semua universitas menolak kamu. Apakah kau paham itu?"
Serius, aku masih tidak paham dengan apa yang dia katakan. Namun, sedikit kata yang aku dengar yaitu Dokter Albert pemilik universitas kedokteran itu sangat membuatku senang. Apakah dia mau menerimaku sebagai mahasiswa? Sebaiknya Rey segera melanjutkan apa yang dia katakan.
Rei jangan berbelit. Tolong katakan yang sebenarnya. Apa yang terjadi?
"Dia menghubungiku tadi, mengatakan kalau kau sudah menolongnya dan aku mengatakan semuanya. Tentu saja dia mau menerimamu sebagai mahasiswanya. Apa kau dengar itu? Makanya aku tertawa sendiri setelah mendengarnya karena aku sangat bahagia. Kau saja sama Putri yang aneh-aneh berpikiran tidak jelas seperti itu. Sudah, sekarang kau sebaiknya bersiap, karena dia sudah menunggumu di rumah sakit. Kita akan pergi dari sini. Aku akan menyewa sebuah apartemen kecil dan kau segera menuju kesana. Apa kau mengerti Midas? Malah melongo tidak jelas."
Aku sangat kaku. Jantungku berdetak kencang. Rasanya aku tidak bisa lagi menumpu tubuhku yang cukup lumayan tinggi ini. Aku terduduk lemas tidak percaya pada Rey. Seharusnya aku kegirangan. Tapi, aku malah merasakan sesuatu yang sangat berat aku tumpu. Apakah ini pertanda baik atau malah buruk? Akhirnya aku bisa menjadi mahasiswa kedokteran di universitas yang paling bagus. Ini adalah sesuatu yang tidak kusangka sama sekali.
"Midas. Jangan melongo kayak begitu! Seperti lihat hantu saja. Ayo cepat, Kamu harus berkemas. Kita harus pergi dari sini, dan tentu saja kau harus bertemu dengan dia tepat waktu. Dia, Dokkter Alberth itu orang yang sangat disiplin, dan tidak suka menunggu. Apakah jelas?"
Maafkan aku Rey. Aku sangat terkejut. Baik, aku akan melakukan apa yang kamu lakukan. Ini memang benar-benar di luar dugaanku Rey.
"Rezeki itu datangnya tidak dikira-kira Midas. Kau itu beruntung. Kau orang baik, makanya hidumu selalu beruntung. Jadilah orang yang baik dan jangan pernah mengingkari itu."
Beruntung bagaimana, Rey? Aku kemaren mendapatkan penolakan keras. Bahkan mereka melempar semua dokumenku, Rey.
"Hmm, maafkan aku Midas. Tidak aku sangka dokter langgananku itu memperlakukanmu seperti itu. Lupakan saja. Yang penting, sekarang ada jalan keluar. Jangan terus melongo. Mandi sana! Aku tidak mau menunggu lama!"
Aku tersenyum dengan bersemangat melakukan apa yang Rey katakan dalam sekejap. Kami bergegas dan segera masuk ke dalam mobil, untuk melesat menuju ke kota.
Kita akan ke mana Rey. Kau katanya mau menyewa sebuah apartemen?
"Kita akan menuju Universitas Dokter Albert. Tapi sebelumnya aku akan menyewa apartemen di salah satu langgananku. Kita harus menyewa sebuah apartemen yang cukup mewah. Pengawalan di sana sangat ketat. Tidak mungkin mantan istriku itu bisa menangkapku di sana. Hmm, sepertinya kita juga tidak bisa berkeliaran di sana."
Aku terus mengendarai dan mengikuti arah yang Rey berikan padaku. Hingga dia menunjukkan sebuah gedung bertingkat yang cukup mewah. Pasti sangat mahal menyewa sebuah apartemen di sana. Aku baru sadar ternyata Rey sangat kaya.
"Ayah. Apakah Ibu akan menemukan kita di sana? Aku sangat yakin Ibu menyukai kemewahan dan tentu saja dia akan menemukanku. Aku tidak mau dibawanya. Dia selalu saja bersama lelaki itu. Dia itu seram Ayah. Biasanya, dia mengamatiku dengan sangat aneh. Aku sangat takut, Ayah."
Rey menolehkan pandangannya ke belakang. Dengan cepat ia mengulurkan tangannya, segera menggenggam erat telapak tangan Putri. Rupanya mereka berdua saling bertatapan dengan wajah penuh ketakutan. Aku sangat cemas akan hal ini. Entahlah apa yang terjadi di antara mereka. Namun, yang aku rasakan adalah ini semua ada hubungannya dengan Putri sebagai ahli waris. Siapa mereka dan kekayaan mereka seperti apa, masih belum aku tanyakan. Sepertinya aku tidak boleh ikut campur.
"Midas. Masuklah ke parkiran loby itu, dan kau tunggu di sini. Aku akan menggunakan jaket dan topi. Aku akan membayar, lalu ketika aku melambaikan tangan, kau segera mengambil Putri dan berlari menghampiriku. Biarkan saja barang kita di dalam mobil, karena aku akan memanggil pelayan apartemen untuk membawanya. Kau paham, Midas?"
Aku paham Rey.
Entah kenapa aku sangat ketakutan. Tidak memperlihatkannya kepada Putri, itu yang harus aku lakukan. Tentu saja Putri wajahnya terlihat pucat. Dia duduk di kursi belakang sendirian dengan bergemetar. Aku melambaikan tangan agar dia mendekatiku. Lalu, aku menarik tubuhnya hingga kini dia duduk di sebelah kursiku. Senyuman selalu aku perlihatkan kepada Putri.
Kenapa Rey sangat lama? Aku sangat cemas dengan hal ini. Semoga saja kita bisa segera keluar dari sini dan tidak ketahuan oleh para penjahat itu.
"Om. Apakah kemarin Om dikejar oleh lelaki itu, Om? Apakah mereka akan mengejar kita, Om? Aku sangat takut terjadi hal buruk dengan Ayah."
Dengan sangat cemas aku menggelengkan kepala. Dan, sepertinya berbohong itu adalah sesuatu hal yang sangat baik untuk aku lakukan kepada Putri. Dia tidak boleh cemas karena akan mengganggu jiwanya.
Satu hal yang membuatku semakin terkejut. Saat aku menolehkan pandanganku di kaca spion sebelah kanan, aku melihat seseorang yang sangat mirip dengan pengawal lelaki yang sudah bersama dengan seorang penjahat itu.
Mantan istri Rey?