Tidak aku percaya ternyata itu adalah istri Rey. Apa yang harus aku lakukan? Dia menemukan kita? Sekarang aku harus mengalihkan pandangan Putri agar tidak melihat ibunya.
Seorang Ibu yang seharusnya mencintai anaknya. Tapi ini mereka saling bermusuhan dan membunuh. Semua ini sesuatu yang sangat tidak masuk akal.
Aku harus berpikir apa yang akan aku lakukan jika aku keluar, lalu Rey melambaikan tangan kepadaku. Tentu saja dia akan mengetahuinya. Apa yang dilakukan istri Rey di sini?
Putri dengarkan aku! Apa kau mengetahui nomor ponsel ayahmu?
Putri menggelengkan kepala. Tentu saja dia tidak punya ponsel. Rey tidak mengizinkannya karena takut Putri akan mendapatkan teror dari mantan istrinya. Lalu bagaimana caranya aku menghubungi Rey. Aku harus mencegah dia tidak keluar dan melambaikan tangannya. Duh, sangat gawat. Nyawa mereka terancam.
Putri ayahmu sudah terlalu lama. Om akan pergi ke sana dan menanyakannya. Om ingin kau berada di sini tidak keluar sama sekali. Dengarkan Om. Jangan keluar! Om tidak mau kau terlihat banyak orang, karena akan sangat membahayakan dirimu.
"Tapi, Om. Bagaimana jika aku di sini sendirian dan mereka menangkapku? Aku sangat takut.
Kamu aman, Putri. Tidak akan yang ada yang menangkapmu. Sekarang yang terpenting, Putri menuruti apa yang Om katakan.
Akhirnya Putri tersenyum menganggukkan kepala. Aku merasa lega melihatnya.
Kedua mataku melirik kaca spion, memastikan mantan istri Rey tidak ada di sekitarku. Aku mengamati semua arah dengan sangat saksama.
Baiklah keadaan sudah sangat aman. Kunci aku tekan supaya aku bisa keluar dari mobil, mengendap untuk menemui Rey agar tidak menunjukkan dirinya.
Secepatnya kakiku melangkah masuk ke dalam loby mengamati semua arah. Di mana Rey dan aku tidak menemukannya. Apa yang sudah dilakukan?
Siapa yang bisa mengetahui bahasa isyarat? Mungkin resepsionis itu bisa mengatakannya kepadaku semua. Harus aku coba.
Apakah ada lelaki di sini yang bernama Rey. Dia ingin menyewa sebuah apartemen dan aku adiknya. Di mana dia? Apakah Nona bisa memberitahukan saya.
Resepsionis itu mengernyit memandangku. Teman di sebelahnya menepuk pundaknya dan menggelengkan kepala. Aku tahu jika ini tidak boleh ditanyakan. Semua data tamu adalah pribadi. Aku sangat mengerti karena dulu aku sering bersama Ayah menginap di sebuah apartemen mewah seperti ini dan itu adalah yang terjadi.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa memberitahukan, Anda. Jadi, lebih baik Anda menghubungi dia ... kakak, Anda. Maksudnya menemuinya, lalu melakukan janji temu sendiri. Terima kasih. Semoga itu yang bisa saya katakan dan membantumu."
Sudah aku duga resepsionis ini tidak akan memberitahukanya. Aku membalikkan tubuh dan tetap mengamati semua arah. Kakiku melangkah cepat. Aku melihat sesuatu dan menarik perhatianku. Toilet! Iya, aku akan memeriksa toilet. Itu adalah hal yang akan aku lakukan pertama kali. Pasti dia berada di sana.
Rey di mana kamu? Kenapa kamu menghilang? Apakah dia sebenarnya mengetahui istrinya ada disini? Kenapa aku tidak berpikiran seperti itu. Aku pastikan itu yang sudah terjadi.
Aku kembali berlari menuju ke mobil. Rey pastilah sudah berada di sana. Itu yang harus aku lakukan.
Rey .... kau di mana?
Resepsionis itu mengernyit memandangku. Teman di sebelahnya menepuk pundaknya dan menggelengkan kepala. Aku tahu jika ini tidak boleh ditanyakan. Semua data tamu adalah pribadi. Aku sangat mengerti karena dulu aku sering bersama Ayah menginap di sebuah apartemen mewah seperti ini, dan itu adalah yang terjadi.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa memberitahukan, Anda. Jadi, lebih baik Anda menghubungi dia ... kakak, Anda. Maksudnya menemuinya, lalu melakukan janji temu sendiri. Terima kasih. Semoga itu yang bisa saya katakan dan membantumu."
Sudah aku duga resepsionis ini tidak akan memberitahukanya. Aku membalikkan tubuh dan tetap mengamati semua arah. Kakiku melangkah cepat. Aku melihat sesuatu dan menarik perhatianku. Toilet! Iya, aku akan memeriksa toilet. Itu adalah hal yang akan aku lakukan pertama kali. Pasti dia berada di sana.
Rey di mana kamu? Kenapa kamu menghilang? Apakah dia sebenarnya mengetahui istrinya ada disini? Kenapa aku tidak berpikiran seperti itu. Aku pastikan itu yang sudah terjadi.
Aku kembali berlari menuju ke mobil. Rey pastilah sudah berada di sana. Itu yang harus aku lakukan.
Rey ....
Aku menghentikan langkah. Rey ternyata keluar dari toilet. Kepalaku terasa memutar. Perkiraanku ternyata tidak tepat.
Aku mendekatinya. Dia melotot tajam ke arahku. Aku menghentikan langkah. Rey ternyata keluar dari toilet. Kepalaku terasa memutar. Perkiraanku ternyata tidak tepat.
Aku semakin mendekatinya. Dia menggeleng masih saja melotot tajam ke arahku.
"Midas. Bukannya kamu aku suruh untuk menunggu Putri. Kenapa kau di sini? Kau ini bagaimana? Jangan pernah meninggalkan aku sendirian. Akan sangat berbahaya."
Dia sangat marah menatapku tajam sambil mengangkat kedua tangannya. Kepalanya menggeleng tidak mengerti apa yang aku lakukan ketika mendekatinya.
Tanpa menjawabnya, aku menarik tubuh Rey lalu bersembunyi di balik tanaman yang cukup tinggi. Jemari telunjukku, aku arahkan ke kanan tepat menunjukkan mantan istrinya yang sudah memasuki loby. Rey melotot terkejut tidak percaya melihatnya.
"Apa? Dia ada di sini? Apa yang harus aku lakukan, ini tidak bisa aku biarkan."
Aku menggelengkan kepala, lalu aku menunjukkan ke arah pintu samping di sebelah tempat resepsionis. Sepertinya itu adalah jalan keluar yang harus kita lalui. Kita tidak akan tertangkap jika Rey bersamaku berhasil melewatinya.
"Sebaiknya kita pergi ke sana Midas. Ayo, jangan kita tunda lagi. Putri sendirian di mobil. Aku tidak mau terjadi apapun dengannya."
Kami berlari menuju ke sana tanpa menolehkan pandangan sedikit pun. Kami terus berlari, dan berlari hingga akhirnya bisa mencapai mobil. Secepatnya aku masuk dan duduk di kursi kemudi. Rey membuka pintu belakang dan memeluk Putri yang sangat terkejut melihat ayahnya datang. Putri menangis karena ketakutan saat dia sendirian berada di dalam mobil. Tanpa berpikir panjang aku menyalakan mesin dan harus pergi dari sini. Tempat ini tidak aman buat mereka.
Aku melesatkan mobil. Di dalam mobil kami mengatur napas dan berusaha mengatur hati kami yang tidak karuan.
"Midas, kita menuju kontrakan saja. Jika tinggal di sana, mungkin akan aman."
Mencari ke mana, Rey? Apa kau bisa melihat internet dan menemukannya? Atau kita akan ke kampus, kita tinggal di asrama kampus. Tapi kita harus ke rumah sakit menemui Dokter Alberth dan meminta ijin. Kau mengenalnya sangat baik, Rey. Berbicaralah kepadanya.
"Kali ini kau benar, Midas. Kita sebaiknya menuju ke sana. Mereka tidak akan pernah mengira kita berada di sana. Sekarang kita ke rumah sakit dulu."
"Ayah. Apa ada Ibu, tadi? Kenapa kita melarikan diri lagi, Ayah? Bukankah kita akan menginap di apartemen itu?"
"Iya. Ibumu menemukan kita, Putri. Sekarang Ayah pastikan kau aman. Saran Om Midas sangat baik. Kita akan menuju kampus."
"Ayah, aku takut," ucap Putri pelan. Dia memeluk Rey. Aku cemas melihatnya.
Aku semakin melesatkan mobil ini. Dalam sekejap kami sampai di rumah sakit.
"Midas. Aku akan menghubungi Dokter Alberth. Setelah itu kita masuk."
Aku menganggukkan kepala. Aku berharap mendapatkan kabar yang baik dari dokter Alberth.
Putri masih saja tidak melepaskan pelukan kepada Rey. Aku sangat cemas melihat anak kecil berusia 10 tahun harus menjalani kehidupan seperti ini. Sampai kapan kita akan melarikan diri dari penjahat itu? Tentu saja pasti mereka tidak hentinya mencari kami dengan menelusuri setiap sudut kota. Asrama kampus itu mungkin tempat paling aman untuk sementara. Mereka tidak akan pernah berpikiran untuk memeriksanya, dan itu satu-satunya cara yang harus kita lakukan.
Rey Bagaimana? Apakah Dokter Itu sudah memberikan jawaban?
"Yah. Dia sekarang menunggu kita untuk masuk ke dalam kamarnya. Asistennya tadi yang menerima panggilanku. Sekarang dia berangsur sangat baik. Sebaiknya kita segera menuju ke sana, Midas."
Kami bertiga masuk ke rumah sakit mewah di mana Dokter Alberth di rawat. Pelayanan di sana sangat maksimal. Aku semakin mengingat dengan rumah sakit kekuargaku. Hah ... aku harus melupakannya.
"Ini kamarnya, Midas. Aku yakin. Ini nomor kamar yang tertulis di pesan ini."
Perlahan aku mengetuk pintu berwarna hitam. Memang sangat berbeda dengan lainnya. Sepertinya ini kamar spesial.
Ceklek!
Seseorang membukanya. Aku menarik napas panjang. Semoga saja, ini adalah pertanda baik.
Ana?