Menuju Kampus Impian

1244 Kata
Ana? Dia ada di dalam kamar? Aku ... aku benar-benar tidak menyangka. Wajahnya sepertinya memerah. Melihat dirinya, hatiku sangat nyaman. Tidak aku sangka, berjodoh dengannya. "Midas, syukurlah kau baik-baik saja." Senyuman maksimal aku perlihatkan. Keringatku perlahan mengucur. Padahal ruangan ini sangat dingin. Melihatnya sama saja membuat aku lemas. Jatuh hati? Apakah seperti itu? "Woi, senyum-senyum sendiri. Jangan mempermalukan aku. Ayo! Temui dokter itu. Lihatlah, dia memandangmu aneh. Dari tadi diam saja kaya patung," ucap Rey mendadak, menepuk pundakku. Aku terperanjat malu. Spontan tanganku menggaruk-garuk kepala. Padahal tidak terasa gatal. Rey tersenyum saat menatap Ana. Dia kemudian melirikkan bola mata ke arahku. Pasti Rey tahu jika aku menyimpan rasa kepada Ana. Pandangannya sangat jelas saat gurat dahinya terlihat. "Dokter Alberth. Aku Reynard. Yang berada di telpon tadi pagi aku. Apakah Anda berkata sungguh-sungguh? Midas ... hmm, maksud aku ... laki-laki yang berada di sampingku ini tidak bisa ..." "Aku tahu." Dokter itu berkata tegas, memotong kata Rey. Aku saling menatap dengan Rey. Tumbukan tatapan cemas, terlihat di wajah kami. "Ana. Aku mau kau mengurus semua data Midas. Bukankah itu namamu?" Aku menganggukkan kepala dengan cepat. Tidak aku sangka dokter itu memanggil Ana kemudian menyebutkan namaku. Ini semua sangat mengejutkan. Rey di sebelahku hanya diam menatap dokter itu. Sementara Putri perlahan mendekatiku, lalu menggenggam erat tanganku. Hatiku berdetak kencang. Apa yang sebenarnya dokter itu inginkan dariku? Apakah dia ingin membantuku masuk ke dalam Universitas, atau hanya ingin membalas budiku. Entahlah, ini sangat membingungkan. Sebaiknya aku menunggu dia mengatakan apa yang ingin dia lanjutkan. "Midas kau sudah membantuku. Kemarin aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kau lakukan. Sentuhanmu itu sangat pas. Aku memiliki banyak murid seorang dokter yang sudah aku ajari dengan benar. Namun, aku tidak pernah melihat mereka melakukan apa yang kamu lakukan. Sepertinya kau sangat berbakat sekali." Dokter Alberth mengamatiku. Dahinya mengkerut dalam. Dia seperti berpikir keras tentang ingatannya. "Hmm, aku sangat hafal dengan sentuhan itu. Aku dulu mempunyai seorang teman," ucapnya menarik napas panjang. "Tapi ... ia pergi dengan cepat. Wajahnya mirip sekali denganmu. Apakah artinya itu suatu kebetulan?" Dokter Alberth kembali terdiam. Kedua bola matanya menunduk ke bawah. Aku sangat yakin dia mengingat seseorang mirip seperti diriku. Semoga saja itu sebuah pertanda baik untukku. "Ana, apa kau bisa membantu Midas untuk masuk sebagai salah satu siswa di Universitas 'ku?" Bagai tersambar petir. Hatiku rasanya meledak. Jiwaku menyeruak. Aku seperti lahar yang keluar dari gunung berapi. Aku tidak bisa berkata apapun. Ini sangat luar biasa. "Artinya. Om Midas akan menjadi seorang dokter? Apakah seperti itu?" Putri tiba-tiba bertanya dan Rey melangkah ke depan mendekati dokter Albert yang menatapnya heran. "Dokter, maafkan. Apakah yang Anda katakan memang benar? Anda tahu sendiri Midas sangat menginginkan hal itu. Jadi aku harap ini benar-benar yang sesungguhnya terjadi. Aku tidak mau berharap sangat banyak, lalu kemudian kami harus kecewa jika sesuatu yang kami dengar ini tidak benar-benar terjadi. Berikan kepastian itu, Dokter" "Apakah aku terlihat berbohong?" Ucapan singkat Dokter Albert membuatku sangat lega. Itu sebuah jawaban yang cukup. Ana tersenyum menatapku dan memberikan jempolnya. Sepertinya dia juga sangat bahagia. Aku tidak tahu harus berkata apa. Ini adalah sebuah keajaiban yang aku alami hari ini. "Aku akan mengurusnya, Dokter. Semua akan aku lakukan sekarang. Midas, kita akan menuju kantor dan mengurus semuanya," kata Ana bersemangat. Rey menepuk pundakku. Senyuman terus mengembang. Putri melompat kegirangan. Perlahan aku mebdekati Dokter Alberth. Aku harus mengatakan sesuatu. Dokter aku berterima kasih kau sudah mempercayakan semuanya kepadaku. Ini sebuah kepercayaan yang luar biasa yang bisa kau berikan kepadaku. Aku akan bersungguh-sungguh melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Menjadi seorang dokter itu tidak mudah. Apalagi aku tidak bisa berbicara. Tekad itu bisa aku buktikan. Kelemahan dalam diriku tidak bisa menghalangiku untuk mendapatkan sesuatu. "Saya percaya. Sebaiknya kau memegang semua perkataanmu, Midas. Sekarang ikuti Ana. Lakukan semua yang seharusnya engkau lakukan. Jangan membuang waktumu untuk hal-hal yang tidak perlu. Kau harus belajar dan memperbaiki semua sentuhanmu itu. Sentuhanmu bisa menyelamatkan semua orang termasuk dirimu. Ini bukan hutang budi. Namun, ini sebuah kewajiban yang harus aku lakukan untuk mengangkat seorang pemuda yang ingin sekali menjadi seorang dokter dan aku yakin kelemahan bukan akhir dari segalanya. Bukankah begitu?" "Dokter, ini benar-benar sangat luar biasa. Semoga Anda segera sembuh dan bisa melakukan aktivitas kembali. Aku sangat berterima kasih kau sudah membantu temanku, Midas. Ini sangat luar biasa. Temanku ini sangat baik hati. Dia sangat pantas menjadi seorang dokter. Kau harus mempercayainya." "Aku mempercayaimu," balas singkat Dokter Alberth. "Midas. Kita akan ke kampus dan ikuti aku." Ana menarikku tiba-tiba. Rey menatapku heran. "Eh. Kenapa ditarik sih?" Putri menahan Ana. Dia membuat semua orang terkejut. "Aku tidak suka dia dekat ama, Om!" teriak Putri. Dia memelukku dengan erat. Sepertinya Putri cemburu. Aku harus menenangkannya. Putri. Kak Ana akan membantu Om untuk mendaftar. Putri ama Ayah dan Om berjanji akan bersama Putri nanti. Bagaimana? "Tapi aku tidak suka melihatnya! Wek!" Ana akhirnya memperlihatkan senyuman dan mendekati Putri. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan 2 permen yang membuat Putri akhirnya tersenyum. "Ini permen yang sangat enak. Kau tahu, aku membelinya khusus untukmu, gadis kecil." Putri dengan cepat menerimanya dan mereda begitu saja. Aku sangat lega melihatnya "Midas. Kau bisa tinggal di apartemen kampus. Di sana ada ruangan kamar yang sudah kusiapkan. Kau bisa mengajak Rey bersama Putri untuk tinggal di sana. Aku sangat paham dengan masalah yang kalian hadapi." Rey menganggukkan kepala. Dia tersenyum merasa lega. Apa yang dia inginkan kini terwujud. Pasti dia menceritakan kepada dokter semua yang sudah dialami Rey. Sepertinya mereka sangat akrab. Namun, aku tidak mau mencampuri urusan mereka dengan menanyakan bagaimana bisa mereka berteman secepat ini? Yang akan aku pikirkan sekarang hanya ingin menjadi seorang dokter dengan baik dan meneruskan cita-cita Ayah dan kakekku dari dulu. Ana menggerakkan kepalanya. Aku keluar dari kamar bersamanya. Rey menarik kursi dan duduk didekat ranjang. Mereka saling mengobrol. Putri menikmati permen yang ana berikan di pangkuan Rey. Ana menutup rapat pintu kamar. Dia masih saja menarikku ke sudut ruangan. "Midas. Kita akan satu kampus. Aku menjadi siswa kejuruan spesialis bedah. Kita akan sering bertemu di sana. Sekarang, ikuti aku ke sana. Bagaimana?" Bagaimana dengan Rey dan Putri? "Mereka akan ke sana nanti. Biarkan mereka menyusul." Apakah kau tidak membutuhkan dokumenku? "Tentu saja aku membutuhkannya. Apa kau mekbawanya?" Ada di dalam mobil. Aku bisa mengambilnya. "Baiklah, tunggu apa lagi?" Aku berjalan bersama Ana menuju parkiran. Untung saja kunci mobil aku bawa. Sekali tekan, mobil itu terbuka. Tas ransel yang aku tinggalkan di kursi depan aku ambil segera. Ini semua nilai dan ijasah terakhirku. Semoga saja cukup untuk kau gunakan. Hanya ini yang bisa aku berikan kepadamu, Ana. Ana menerima sodoran dokumen pribadiku. Perlahan dia membukanya, mengamati setiap lembar dengan saksama. "Luar biasa. Nilaimu fantastis, Midas. Aku tidak menyangkanya." Ana masih saja memeriksanya. Dia menatapku, mengamatiku dari atas sampai bawah. "Kau tidak bisa seperti ini jika menemui semua dokter itu. Kau harus rapi. Kita akan ke toko membeli baju." Ana menarikku. Tentu saja aku mengikutinya. Ini adalah hari terbaik buatku. Kami berjalan menuju parkiran belakang. Ana. Aku harus memberikan kunci ini kepada Rey. "Baiklah, kita akan kembali ke kamar. Eh!" Ana terpeleset. Aku dengan sigap menangkap tubuhnya. Untung saja itu aku lakukan. Jika tidak, dia pasti sudah tersungkur di tanah. Tapi ... aku ... kenapa seperti ini? Wajahnya sangat dekat denganku. Kedua mata itu, semakin indah jika terlihat sangat dekat. Aku .... tidak tahan. Aku ... tidak sengaja menciumnya dan itu spontan aku lakukan. Wajahnya sangat cantik berada dekat dengaku. Aku tidak tahan dan melakukannya. Aku ... apa yang aku lakukan? "Midas, jangan lepaskan." Apa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN