Bertemu Kepala Kampus

1006 Kata
Aku ... aku tidak percaya melihat Ana dan diriku berciuman? Kenapa bisa begini? Ini adalah hal kedua kalinya aku dan dia melakukannya. Suatu mukjizat, atau ini suatu hal yang sangat buruk. Yang aku ketahui, dia adalah anak orang kaya dan aku tidak punya apapun. Jika kita menjalin hubungan, bagaimana nantinya? Ini tidak bisa diteruskan atau terjadi. Namun ... Ana semakin menciumku. Dia menarik tengkuk leherku. Ini benar-benar di luar dugaanku. Kami saling melumat satu sama lain. Aku ... aku terhipnotis dengannya. Baiklah. Aku akan mengikuti irama bibirnya. Sangat nikmat. Jantungku berdetak. Sepertinya memang aku jatuh cinta. Dan ... dia pun sama. Aku akan mengakhiri ciuman ini. Perlahan aku melepaskan bibirku. Dia memelukku. Aku menarik napas, berusaha mengatur hatiku. Ana, maafkan aku. Ini tidak sengaja. "Midas, aku ... menyukaimu. Aku menikmati ciuman itu. Aku sangat kesal jika kau didekati wanita lain. Midas ... aku .... aku mencintaimu." Bagai petir menyambar jantungku. Dicintai wanita yang sangat tidak aku duga? Apa yang harus aku lakukan? Ana. Kita akan membicarakan nanti. Lebih baik, sekarang kita segera menuju kampus. Aku mohon. "Apa kau tidak menyukaiku? Apakah aku tidak pantas untukmu? Midas katakan!" Bukan. Ini adalah hal yang sangat membuatku terkejut. Kau adalah wanita yang sangat luar biasa. Bagaimana mungkin kau mencintaiku yang tidak memiliki apapun? Ana, aku mohon, mengertilah. Aku harus menyelesaikan beberapa masalah. Kita akan membicarakan nanti. Ini sangat mengejutkan. Kau adalah wanita luar biasa. Siapa yang tidak menyukaimu. "Apakah kau menyukaiku? Aku hanya ingin satu jawaban. Memang terlihat konyol. Seorang wanita menyatakan cintanya terlebih dahulu, dan ini yang pertama buatku." Aku spontan memeluknya. Hatiku tidak tahan. Dia terlihat sangat cantik, membuatku terpana. Apalagi memperlihatkan wajah musamnya. Aku tidak bisa membiarkannya. Ingin rasanya aku melindunginya. Aku mencintaimu, Ana. Kedua bola mata Ana membesar. Dia kembali menarik wajahku dan menciumku. Aku membiarkannya. Aku menikmatinya. Kami kembali saling melumat. Sekarang, bawalah aku ke kampus. Jika aku menjadi dokter hebat, mungkin kedua orang tuamu bisa menerimaku dengan baik. Ana menganggukkan kepala. Kami berjalan cepat kembali ke kamar. Rey terkejut melihatku yang memerah. Dia sedikit tersenyum dan menggeleng. "Aku akan menyusulmu ke kampus. Jangan lupa berikan nomor kamar yang sudah siap." Rey menerima sodoran kunci mobil. Putri berlari memelukku. Dokter Alberth hanya diam memandang kami dengan wajah sedikit tersenyum. Baiklah, aku pergi, Rey. Putri, jaga ayahmu. Jangan sampai hilang. "Woi, emang aku apaan sampai hilang. Pergi sana," ucap Rey memelukku. Aku melambaikan tangan, begitu juga dengan Ana. Kami segera berjalan cepat menuju mobil Ana. Kali ini aku yang mengemudi. Hari ini benar-benar di luar dugaan. Masuk kampus dan dicintai wanita impianku. Tidak aku percaya sama sekali. Dalam sekejap, pagar hitam tinggi dengan gedung mewah terlihat. Yang lebih indah adalah, semua nahasiswa kedokteran terlihat di sana. Aku harus bisa seperti itu. "Midas. Kita akan menemui rektor. Ayo." Ana menarikku dengan senyuman hangatnya. Aku membalasnya. Ini benar-benar membuatku bersemangat. Kami akhirnya memasuki sebuah gedung yang sangat megah. Langit-langitnya bernuansa klasik. Banyak sekali mahasiswa berseliweran di sana. Dan, aku lihat sepertinya mereka adalah para anak-anak orang kaya yang akan menjadi seorang dokter. Sedikit minder, itulah yang aku rasakan. Sudahlah, aku akan mengabaikan hal itu. "Jangan pernah berpikiran apapun, Midas. Yang penting apa yang akan kau lakukan. Jadilah orang yang baik dan memiliki prestasi. Itu yang harus kau pikirkan. Tidak perlu mempedulikan apa yang kau lihat. Memang mereka adalah anak orang kaya. Aku tahu apa yang ada dipikiranmu." Jadi kau sekarang seorang penyihir, bisa melihat apa yang aku pikirkan? "Hahaha. Mungkin saja." Sedikit lelucon yang Ana berikan membuatku hilang dari rasa frustasi. Sebenarnya aku sangat berdebar. Namun sekarang semua itu hilang seketika. Aku terus berjalan hingga sampai di depan ruangan yang cukup berbeda dengan lainnya. Tanpa sadar, Ana menggandengku. Kami seperti orang berpacaran. Apakah memang seperti itu? Ana melepaskan tanganku dengan wajah memerah. Dia sedikit memaling karena malu melihatnya. Aku pun merasakan hal yang sama. Tapi sepertinya aku harus memutuskan perasaan itu. Yang terpenting aku harus masuk dan menunjukkan kepada semua rektor jika aku pantas menjadi mahasiswa di sini. Aku tidak mau mengecewakan Dokter Albert yang sudah membantuku sampai sejauh ini. Dengan nekad merekomendasikan diriku. Semoga saja tidak terjadi hal buruk. "Kamu siap, Midas. Ayo kita masuk. Jangan berpikiran apapun. Mereka semua sangat baik. Percayalah padaku." Aku menganggukan kepala berusaha mempercayai perkataan Ana. Tentu saja mereka sangat baik dengannya. Dia adalah wanita yang sangat cerdas dan kaya raya. Sedangkan aku? Ini benar-benar membuatku sangat bergetar. "Selamat siang semua. Maafkan saya mengganggu. Saya ingin menemui Rektor di sini. Apakah Dokter Albert sudah memberikan pesan?" Pertanyaan Ana kepada salah satu pegawai yang tersenyum dengan sangat sumringah. Sepertinya Ana memang benar-benar populer. "Ya benar, Dokter Albert sudah menghubungiku dan aku menunggu kalian. Ayo segera Ikuti aku. Ketua Rektor sudah menunggu kalian" Perkataan wanita itu yang sangat melegakan hatiku. Ana kembali menarik telapak tanganku dan kami berjalan menuju ke sudut ruangan. Pintu hitam dengan kuat, kokoh, terbuka lebar. Seseorang yang cukup tua kira-kira seumuran dengan ayahku tersenyum melambaikan tangan agar kami mendekatinya. Aku berjalan masuk mendekatinya. Namun, ada sesuatu yang aneh dengannya. Dia menatapku dengan sangat tajam. Ini pertanda buruk. Bahkan Ana mengernyit heran melihatnya. "Tidak aku percaya. Leonidas? Apakah ini dirimu?" Perkataannya yang sangat mengejutkan. Dia kenal kakekku? "Aku melihat hantu di sini? Kau ... sangat mirip dengan sahabatku, sekaligus seniorku. Sang Legenda." Jantungku berdetak tidak karuan. Ini sangat di luar dugaan. Ana menatapku dan melihatku dengan saksama. Dia menarik wajahku dan berbisik, "Midas, lihatlah pigora di atas kursi kerjanya. Ada sebuah foto dan itu adalah Profesor Leonidas. Seorang dokter Legenda. Dia sangat dikagumi, dan menjadi pujaan semua dokter di sini. Apa kau mengenalnya?" "Kau siapa? Wajahmu benar-benar mirip. Apakah kau memang ada hubungannya dengan Leonidas?" tanya Rektor itu sekali lagi. "Midas. Jangan diam saja. Kau sebaiknya mengatakan semua pertanyaannya. Tapi ... aku lihat kau memang sangat mirip dengan foto itu. Midas ... jelaskan ..." Lelaki tua itu berjalan mendekatiku. Dia memegang pundakku, semakin menatapku. Kedua matanya mengamatiku dengan saksama. "Ini benar-benar luar biasa. Aku melihat sang legenda kembali. Leonidas, kau ... benar-benar berenikarnasi? Berbicaralah anak muda. Siapa dirimu?" Leonidas adalah kakekku. "Kau ... kau bisu?" tanyanya terkejut dan aku menunduk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN