Mereka ternyata kenal dengan kakekku dan aku tidak menyangka foto kakekku ada disini. Bahkan mereka memasangnya di dalam pigura dengan sangat besar. Pinggiran pigura yang berada di sekelilingnya terbuat dari emas? Aku memang tahu juga kakekku adalah dokter yang sangat hebat. Tapi, untuk terkenal seperti ini dan menyebutkan dia adalah sang legenda, ini pertama kalinya yang aku dengar.
"Kau tidak bisa bicara?" tanya Rektor itu sekali lagi dan aku menganggukkan kepala dengan pelan.
Dia menarik napas panjang kemudian sedikit mengusap wajahnya yang berkeringat, lalu duduk di kursi. Dia terus menggerakan jemarinya di atas meja. Aku tahu, dia pasti berpikir apa yang harus dia lakukan untukku. Sementara dia mendapatkan perintah dari dokter Albert pemilik dari universitas ini. Jika aku berada di posisinya, mungkin aku juga akan sangat kebingungan.
Ana kemudian menatap Rektor itu. Dia berjalan mendekati kepala Universitas itu, kemudian menarik kursi dan duduk di depannya.
"Pak ini perintah dokter Alberth. Dia sudah menyelamatkan dokter Alberth. Dia bisa belajar dengan baik di universitas ini. Jangan ragukan apa yang diperintahkan oleh dokter. Aku sendiri melihatnya. Dia memiliki sebuah bakat sama seperti kakeknya."
"Kamu tahu sendiri Ana. Sangat mustahil menjadikan mahasiswa kedokteran namun tidak bisa berbicara. Bagaimana dia berkomunikasi dengan pasien nantinya? Bagaimana dia menjelaskan semua penyakit itu?"
"Dia bisa memiliki asisten dan aku siap menjadi asisten itu."
"Jaga leluconmu itu Ana. Kau ini sekarang adalah dokter yang sangat handal. Bahkan dia saja belum sekolah. Bagaimana mungkin senior menjadi asisten junior? Jangan berkata suatu hal yang tidak masuk akal."
Perdebatan sengit terjadi dan aku merasa tidak enak berada di antara mereka. Ana masih terus membelaku. Dia melakukan hal itu karena mencintaiku. Dia baru saja mengungkapkan perasaannya dan kami berciuman.
Aku berjalan mendekati Ana lalu menepuk pundaknya. Dia spontan mengangkat wajahnya ke arahku dan aku membalasnya dengan anggukan bercampur senyuman.
Tidak perlu membelaku, Ana. Aku sangat berterima kasih kau melakukan itu kepadaku. Namun, semua para dokter yang memutuskan. Aku hanya bisa mengatakan kepadamu, Tuan, bahwa aku sangat semang Anda memberikan kesempatan untuk menjadi mahasiswa di Universitas besar ini. Untuk berhubungan dengan pasien, aku akan memikirkan sebuah cara.
Perkataan yang aku berikan membuat sang rektor itu terdiam. Dia menarik napas panjang lagi, kemudian menghembuskannya dan mengambil ponsel yang berada di atas meja. Dia menghubungi seseorang dan aku tidak tahu itu siapa.
"Siapkan satu nama. Berikan dia tempat yang khusus di antara lainnya. Ini adalah perintah Dokter Albert dan aku harus melakukannya. Jangan menanyakan hal apapun kepadaku. Ini adalah perintah."
Ana menarik lenganku sambil terduduk. Aku menundukkan kepala untuk menatapnya. Dia tersenyum dan aku pun juga demikian. Akhirnya aku berhasil membuat diriku sendiri bisa bersekolah di sini. Ini adalah sebuah takdir yang sangat menakjubkan.
Ana menyodorkan semua dokumen kepada sang rektor. Dia menerimanya masih dalam diam tidak berucap sama sekali. Lembar demi lembar diperiksa dengan sangat teliti dan baik. Sesekali dia membenarkan kaca matanya yang sedikit bergeser. Namun saat ia membuka halaman kelima, dia melotot tajam. Aku tahu itu adalah semua nilai pelajaranku saat aku masih bersekolah dan semua adalah sempurna.
"Tidak ada cacat sama sekali dinilai ini. Kau sepertinya memang sangat cerdas. Baiklah, dokumen ini akan aku simpan. Sekarang kau menjadi mahasiswa di sini. Aku akan memasukkan dirimu di sebuah kelas mahadiswa baru. Besok kau harus datang dan itu adalah kelas pertama bagi dokter pemula. Jadilah yang terbaik di sana. Semua akan dilakukan dengan cara praktek. Dan ... kau sebaiknya tidak mengangkat tangan jika sang dosen menginginkan kau berbicara. Atau ... kau harus menulisnya apa yang ada dipikiranmu. Pakailah semua cara itu, yakinkan jika kamu itu adalah mahasiswa terbaik. Satu lagi, kamu jangan sampai di bully. Aku tidak mau ada kecemburuan sosial di universitas ini, karena ini universitas terbaik. Apa kau mengerti?"
Mengerti, Tuan.
"Midas. Nama yang sangat bagus. Baiklah. Selamat tinggal dan nikmati hari-harimu."
Ana spontan berdiri dari duduknya, lalu menyodorkan telapak tangannya. Sang rektor membalasnya dan aku menyusul Ana melakukan hal itu. Kami berdua keluar dari ruangan itu dengan wajah sumringah. Tentu saja aku sangat bahagia. Yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya agar mereka percaya aku bisa menjadi dokter yang hebat menggantikan kakek dan ayahku yang ternyata adalah sang legenda.
Aku menarik lengan Ana yang sedikit berjalan mendahuluiku. Spontan langkahnya terhenti dan menolehkan pandangannya, menatapku dengan sangat serius.
"Ada apa Midas? Kau sepertinya sangat khawatir?"
Kita sebaiknya duduk di kursi penunggu dan aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu sedikit saja.
Ana menganggukkan kepalanya. Kami segera berjalan menuju kursi yang terletak di tengah ruangan megah kampus. Kursi itu adalah tempat khusus untuk para mahasiswa yang sedang bersantai.
Aku harus membawa Rey dan Putri untuk tinggal bersamaku di kampus asrama kedokteran. Apakah itu bisa? Aku tahu ini sangat konyol dan aku selalu saja meminta bantuanmu. Sepertinya itu yang harus aku lakukan. Aku tidak bisa membiarkan mereka berada di luar, sementara para penjahat itu mencari mereka. Akan sangat membahayakan nyawa mereka terutama Putri. Aku tidak mau terjadi hal buruk kepada mereka.
"Aku tahu dan aku sudah memikirkannya," jawab Ana. Dia membelai pipiku dengan senyuman. Aku menarik napas seketika. " Lalu, kita akan masuk ke dalam menyiapkan sebuah kamar. Aku memikirkan tempat yang tidak pernah mahasiswa datangi. Kamar itu sudah cukup tua. Aku akan memanggil seseorang untuk merapikan dan sedikit memperbaikinya. Kau bisa masuk saat malam tiba. Sekarang kau harus membawa Putri dan Rey keluar dari kamar dokter Albert. Karena aku tidak mau para penjahat itu menemukan mereka di sana. Kesembuhan Dokter Albert adalah segalanya."
Aku sudah memberikan pesan kepada Ret saat berada di mobil tadi. Dia harus keluar dari sana sekarang. Rey sedang berada di sebuah hotel yang sangat kecil dan murah. Bahkan semalam saja tidak sampai seratus ribu. Biarkanlah dia di sana untuk menunggu semuanya menjadi siap. Aku sangat resah melihat mereka berdua harus berpindah-pindah tempat seperti ini. Padahal Rey memiliki uang yang sangat banyak.
"Kau jangan berpikiran berat karena ada aku disini. Semua akan baik-baik saja," ucap Ana kembali tersenyum sangat cantik.
Aku sedikit lega dan kembali tersenyum. Ana mengajakku ke sebuah asrama dan banyak sekali mahasiswa kedokteran berseliweran di sana. Namun, kami terus berjalan hingga menuju ke pojok lorong terdapat sebuah pintu yang cukup tua. Beberapa orang sudah berada di sana untuk memperbaikinya. Ana dengan cepat melakukannya, dan aku baru sadar jika dia sangat berpengaruh di dalam Universitas ini. Setiap kami lewat, semua mahasiswa mendudukkan kepala. Ana dokter yang sangat hebat hingga disegani di kampus.
Waktu berjalan cukup singkat. Sebuah kamar sudah siap aku gunakan. Selama menunggu, aku bersama Ana berkeliling memutari universitas untuk melihat apa saja yang berada di sana. Aku menghafalkan semua tentang letak kampus yang akan aku datangi nantinya. Aku kembali sangat bahagia, apalagi saat malam tiba. Rey sudah datang bersama Putri dan kami menempati kamar yang sudah disiapkan.
Sebuah kamar yang cukup luas untuk kami bertiga tempatu dan sangat rapi. Semua ini berkat Ana. Aku sangat berterima kasih kepadanya.
Ana hari sudah sangat malam dan kau seharian menemaniku. Sebaiknya kau pulang. Aku tidak ingin orang tuamu mencarimu ke mana-mana.
Spontan Aba memelukku. Ini sesuatu yang sangat indah terjadi. Namun aku harus memikirkan semuanya. Dia adalah anak orang kaya dan pastinya kedua orang tuanya akan sangat marah jika saat aku berkenalan dengan mereka ternyata, Ana menyukai seseorang tidak bisa berbicara. Untuk saat ini aku mengabaikan hal itu.
"Ana, kenapa kau berpelukan dengannya? Ingat, kau tunanganku!"
Gawat!